(BAB 27)

1139 Words
Gue menatap Lian nanar sekarang, ucapannya barusan sama sekali gak bisa gue bantah, alasan Bunda sama Mas Ali gak setuju hubungan gue sama Lian karena memang mereka mau yang terbaik untuk gue, mereka mau gye bahagia tapi setelah menuruti keinginan mereka, nyatanya gue juga gak bahagia sama sekali, bukannya gue bahagia seperti harapan mereka tapi gue malah seolah semakin tersiksa dengan keadaan gue sendiri sekarang, berusaha melupakan orang yang gue cintai, narik diri menjauh kaya gini, semuanya gue lakuin kenapa? Karena gue mengikuti keinginan keluarga gue, keinginan yang mereka pikir akan membuat gue lebih bahagia ternyata malah membuat gue semakin menderita. "Kak! Apa Kakak mau terus hidup kaya gini? Apa hubungan kita gak mungkin di perjuangkan sama sekali? Kakak bahkan belum nyoba tapi gimana bisa Kakak ngambil keputusan sesuka hati maya gini? Pergi dan menghindar dari Lian gak akan menyelesaikan apapun Kak." Lanjut Lian seolah sangat frustasi dengan gue, tatapan Lian sekarang siap untuk nelan oran hidup-hidup, gergi dan menghindar memang gak akan menyelesaikan masalah apapun tapi setidaknya gue punya waktu untuk menenangkan perasaan gue sendiri, gue pindah bukan untuk menghindar tapi untuk nyari waktu terbaik, gue mau memikirkan diri gue sendiri lebih dulu, gue gak harus didesak atau bahkan selalu dituntut untuk mengikuti keinginan orang lain. "Udahlah Ian, Kakak udah capek ngebahas masalah kaya gini, lagian semuanya juga udah gak ada solusi yang lain lagi, Kakak bukan menghindar tapi Kakak butuh waktu, cuma itu jadi jangan mikir aneh-aneh atau berencana ngelakuin hal aneh-aneh, gak ada yang harus dibahas lagi sekarang, semuanya udah cukup jelas untuk kita berdua, kamu dengan hidup kamu dan Kakak dengan hidup Kakak sendiri." Gak ada gunanya gue sama Lian terus berdebat kaya gini, keputusan gue gak akan berubah, gue akak tetap dengan keputusan awal gue, berhenti ngajar di kampus dan gue akan pindah ke rumah lama gue. "Kalau Ian gak mau ngikutin rencana Kakak gimana? Kak! Ian beneran gak bisa ngukutin mau Kakak kali ini, Ian akan tetap berjuang untuk perasaan kita sekarang, kalau memang Bunda sama Mas Ali menolak hubungan kita berdua, Ian akan minta Mas Rian untuk bantu ngomong sama keluarga Kakak, bukannya Mas Rian cukup dekat dengan mereka? Kalau Mas Rian yang ngomong Lian yakin keluarga Kakak pasti bakalan mempertimbangkan lagi, mereka mungkin akan berubah pikiran dan setuju dengan hubungan kita berdua, bukannya itu patut kita coba?" Tanya Lian yang sukses membuat gue makin sakit kepala, apa Ian gak tahu perasaan Mas Rian ke gue gimana? Apa Mas Rian belum cerita apapun sama Lian tentang perasaannya? "Itu gak akan membantu sama sekali Ian, lagian apa kamu belum cerita apapun sama keluarga kamu? Apa mereka setuju? Setidaknya sama Mas Rian, apa Mas Rian juga gak nanya atau cerita apapun?" Tanya gue gelagapan tapi jujur gue sangat penasaran dengan jawaban yang mungkin gue dapatkan dari Lian sekarang, kalau memang ternyata Mas Rian belum ngomong atau nanya apapun sama Lian, alasannya apa? Kenapa Mas Rian belum ngomong apapun sama Lian padahal dia udah tahu perasaan gue sama Lian itu gimana? Bukannya sekarang Mas Rian jauh lebih mencurigakan? Reaksinya tenang banget, ini aja udah aneh banget menurut gue. "Kenapa Lian harus nanya sama Mas Rian? Ini perasaan Lian sendiri jadi kenapa Mas Rian harus tahu? Memang Kakak berharap Mas Rian akan ngomong apa? Apa ada yang Ian gak tahu sekarang?" Tanya Ian balik seolah gak yakin dengan pertanyaan gue barusan, Ian malah memperlihakan tatapan mecurigakannya ke gue, Lian menatap gue seolah nunjukin kalau ada yang salah dengan gue barusan, apa Ian beneran gak tahu perasaan Masnya itu ke gue gimana? Apa Mas Rian juga gak ngomong apapun? Mas Rian mau diam selamanya dan nerima pasrah dengan keinginan gue? Kalau memang Mas Rian memilih untuk gak menceritakan apapun sama Lian, gue juga akan melakukan hal yang sama, gue gak akan membahas apapun karena gue anggap kalau Mas Rian untuk mengerti dan nerima semua keputusan gue, yang namanya perasaan gak bisa dipaksakan dan begini juga lebih baik untuk gue, gue gak harus merasa terbebani kalau Mas Rian ikut keras kepala dan gak mau ngerti keadaan gue sekarang kaya apa, gue mikirin kelakuan Lian aja udah cukup sakit kepala jadi kalau Mas Rian mau diam dan gak membahas apapun lagi, gue akan sangat berterima kasih, Ian gak harus tahu apapun dan gue juga gak harus ngomong apapun lagi. "Kakak nanya kenapa malah kamu tanya balik? Apa kamu ngejawab pertanyaan Kakak barusan? Enggakkan? Apa keluarga kamu setuhu dengan perasaan kita berdua? Jawabannya belum tentu, ada lagi yang mau kita bahas?" Sekarang gue sangat yakin kalau Lian juga belum nanya atau ngomong apapun sama keluarganya, ucapan Lian barusan juga bisa nunjukin kalau ni anak belum cerita apapun sama Mas Rian, walaupun sekarang gue yakin kalau Mas Rian udah tahu perasaan Lian ke gue gimana tapi selama Mas Rian milih diam dan bersikap seolah gak tahu apapun, gue akan terima dan gue akan melakukan hal yang sama juga. "Keluarga Lian akan setuju Kak, Lian akan ngomong dan menyakinkan mereka, yang terpenting sekarang itu cuma perasaan Kakak, pilihan Kakak, apa gak bisa Kakak mengubah keputusan Kakak sekarang? Mengenai persetujuan keluarga Lian akan berusaha sebaik mungkin untuk meyakinkan mereka jadi Kakak gak__" "Kamu kenapa keras kepala banget sih Ian? Kan Kakak udah ngomong kalau Kakak gak akan ngubah keputusan Kakak sekarang, dan memang gak akan berubah, gak ada yang harus kamu lakuin dan sekarang, atas dasar apa kamu sangat yakin kalau keluarga kamu akan setuju? Apa itu cuma tebakan dan pendapat kamu sendiri?" Potong gue udah cukup prustasi menghadapi sikap Ian, gue keras kapala tapi Ian lebih keras kepala lagi ternyata, kenapa susulit ini gue menghadapi Lian, gue harus ngelakuin apa supaya Lian mau berusaha ngerti situasi, gue sama dia gak akan bisa bareng-bareng, sekarang ataupun untuk masa yang akan datang, itu gak mungkin. Ketika kita beranjak dewasa, ada saatnya kita belajar untuk mengikhlaskan beberapa hal yang memang gak bisa kita gapai, harapan yang kita susun sebaik mungkin juga gak harus menjadi kenyataan, kita punya rencana tapi rencana Allah selalu lebih baik, bukannya sesederhana itu? Gue lelah dan gue udah sesangat pasrah, gue mengikhlaskan semua dengan satu harapan kalau memang Ian yang menjadi takdir dan jodoh gue, Ian akan kembali untuk gue pada akhirnya tapi kalau memang gue sama Lian gak berjodoh, walaupun awalnya sakit dan berat tapi gue yakin akan ada kemudahan setelahnya, gak perlu ada yang di paksakan lagi. "Apa Kakak pikir sikap Ian sekarang keras kepala? Ian kaya gini karena Ian ingin memperjuangkan perasaan Ian sendiri, Kakak juga tahu pasti rasanya gak diperjuangkan itu kaya apa, apa Kakak akan melakukan hal yang sama juga? Apa Kakak tega melakukan hal yang sama untuk Ian? Apa Ian seburuk itu?" Tanya Ian lirih, gue mengusap wajah gue kasar mendengar pertanyaan Ian. "Kapan Kakak ngomong kalau kamu seburuk itu Ian?" Tanya gue kesal, gue ngomong apa tapi tanggapannya juga apa? "Kalau memang Kakak gak berpikir kaya gitu, tolong! Jangan pergi kemanapun tanpa sepengetahuan Lian."   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD