(BAB 26)

1139 Words
"Kakak sendiri bahkan gak nyoba untuk ngertiin perasaan Lian sedikitpun, sekarang Kakak berhenti ngajar dan setelahnya apalagi? Pindah rumah?" Tanya Lian yang membuat gue menatap Lian kaget, barusan Ian nanya apa nebak? Gimana Lian bisa mikir kalau kalu gue bakalan pindah juga? Gimana bisa Lian nebak setepat itu? Gue yang awalnya merasa bersalah dengan pertanyaan Lian malah berubah menjadi sangat kaget karena pertanyaan Lian barusan juga, Lian tahu gue berhenti ngajar aja udah bersikap kaya gini, gimana nanti kalau Lian tahu gue juga berniat pindah? Apa Lian akan bisa terima dan mengerti keadaan gue? Rasanya sangat sulit untuk berharap Lian melakukan itu. Sama seperti ucapan Lian tadi, gue aja sama sekali gak berniat untuk mengertiin keadaan dan perasaan Lian jadi gimana bisa gue berharap kalau Lian akan mau mengerti keadaan dan perasaan gue sekarang kaya apa, yang terpenting adalah memikirkan diri sendiri, memikirkan kebahagian diri sendiri lebih dulu karena orang lain gak ada sepeduli itu, gue gak bisa protes apapun sekarang, kenapa? Karena gue gak punya hak, berhenti dari kerjaan memang hak gue tapi sikap Lian sekarang adalah haknya, yang gue sayangkan hanya satu, kenapa Lian harus bereaksi kaya tadi didalam kelas? Apa dia mau semua orang tahu hubungan kita berdua bakalan kaya apa? "Apa memperjuangkan perasaan kita terlalu berat sampai Kakak milih menghindar bahkan kabur kaya gini? Apa gak bisa Kakak pertimbangkan lagi semuanya? Masih banyak cara lain Kak, gak harus dengan menjauh kaya gini." Ucap Lian terdengar jauh lebih meyakinkan, gue gak punya pilihan lain, keadaannya adalah gue gak punya cara lain untuk mengatur perasaan gue sendiri, bukan perasaan Mas Rian atau Lian yang gue takutkan sekarang tapi gue takut dengan perasaan gue sendiri, kalau gue gak berhasil mendamaikan perasaan gue lebih dulu, gimana bisa gue terus berhadapan dengan Mas Rian atau Lian sekalipun? Perasaan gue akan kembali goyah begitu mudahnya, itu yang gue takutkan. "Kakak gak bisa mempejuangkan kamu bukannya udah Kakak jelasin cukup baik kemarin? Kakak gak bisa memperjuangkan perasaan Kakak sekarang, berapa kali lagi harus Kakak ulang supaya kamu bisa ngerti? Ada banyak hal yang gak bisa jalani sesuai harapan kita berdua Ian, kamu gak akan ngerti karena keluarga kamu akan mendukung apapun yang menjadi pilihan kamu, tapi keluarga Kakak gak melakukan itu, memeperjuangkan kamu, memperjuangkan perasaan Kakak sekarang itu bertentangan dengan keinginan keluarga Kakak." Lirih gue sangat, gue udah gak ngerti lagi harus cerita gimana sama Lian, Lian tetang gak akan mau mengerti karena bukan ini yang Ian mau. Ada banyak hal yang mengharuskan gue merelakan perasaan gue sekarang, bukan karena gue gak mau berjuang, bukan karena gue gak cinta tapi terlalu banyak yang harus gue korbankan hanya untuk memperjuangkan perasaan gue sekarang, gue gak bisa melakukan itu, gue gak bisa mempertaruhkan masa depan gue untuk hal-hal yang gak bisa gue yakin kalau bakalan ada jalan penyelesaian terbaik nantinya, yang gue tahu saat ini, sekarang ataupun nanti, gak akan ada banyak hal yang berubah, gue yakin semuanya akan tetap seperti sekarang, keinginan memang bisa berubah tapi harapan yang udah gue gantung tinggi akan berakhir sakit kalau tetap gue coba padahal gue udah jelas-jelas tahu gak akan ada penyelesaiannya, gue seolah menipu diri gue sendiri kalau tetap memaksakan diri untuk nyoba. "Apa sih Kak yang terlalu berat dari hubungan kita berdua? Ini cuma pekara umur sama statuskan? Kalau status harusnya gak akan menjadi masalah lagi karena sekarang Kakak bulan lagi dosen Ian, umur? Kalau ini cuma pekara umur Ian yang lebih muda, bukannya itu hanya pekara kecil? Orang-orang di luar sana gak akan ada yang peduli dengan umur kita berdua seandainya kita udah bareng-bareng nanti, gak akan ada yang peduli dengan hal itu Kak." Jelas Ian yang membuat gue menganggukkan kepala pasrah, gue juga berpikiran yang sama dengan ucapan Lian sekarang, seharusnya memang masalah gue sama Lian sesederhana itu. "Orang lain mungkin gak akan peduli tapi keluarga Kakak peduli Ian, mereka gak setuju dengan perbedaan usia kita, mereka mau laki-laki yang menjadi suami Kakak nanti adalah laki-laki dewasa yang bisa menghadapi kelakuan kekanak-kanakan Kakak sekarang, sikap semuanya Kakak sekarang, mereka mau lelaki yang menjadi pendamping Kakak nanti bukan laki-laki yang usianya lebih muda dari Kakak, itu masalah kita sekarang, Kakak mungkin bisa mengabaikan pendapat orang lain tapi Kakak sama sekali gak bisa mengabaikan pendapat keluarga Kakak sendiri." Jelas gue lagi, gue juga udah sering ngasih tahu Lian alasan gue gak bisa bareng dia itu apa tapi lagi-lagi Lian gak mau ngerti, Lian gak mau mencoba mengerti keadaan gue sekarang kaya apa. "Ian gak bisa milih akan dilahirkan kapan Kak, apa gak ada yang bisa mengerti hal ini? Apa gak ada yang mau mengerti keadaan kita berdu sekarang, walaupun usia Kakak menikah dengan laki-laki yang usia jauh lebih diatas Kakak nanti, apa Kakak bisa menjamin kalau dia bisa bersikap jauh lebih dewasa dari Ian sekarang? Kalau pekara menjaga, mengurus dan menerima semua sifat kekanak-kanakan Kakak, Ian bisa melakukannya, Ian bahkan udah melakukannya untuk waktu yang lama, apa itu belum cukup?" Tanya Ian berkaca-kaca, gue menggeleng cepat untuk pertanyaan Ian barusan, itu gak cukup bagi keluarga gue. "Kakak sama kamu jelas tahu karena kita berdua yang mengalami tapi itu semua belum cukup untuk meyakinkan keluarga Kakak, kamu tahu Kakak pernah gagal, kegagalan Kakak dalam memilih pasangan hidup juga jadi andil untuk penolakan mereka tentang hubungan kita berdua, mereka takut Kakak salah pilih untuk kesekian kalinya." Ini yang keluarga gue sangat takutkan, mereka gak mau gue salah dalam memilih pasangan hidup dan malah berakhir dengan sakit untuk kesekian kalinya, mereka gak mau gue terluka lagi, cuma itu. "Mereka gak mau Kakak terluka? Mereka mau kamu bahagia? Apa itu masalahnya? Kalau memang iya sekarang Lian tanya ulang, apa keadaan kita sekarang bisa membuat Kakak bahagia? Apa hati Kakak bail-baik aja?" Lian bahkan menggenggam erat lengan gue sewaktu melayangkan pertanyaannya barusan, gue gak punya jawaban apapun, gue gak yakin dengan jawaban gue sendiri sekarang, gue memang belum bahagia tapi apa hati gue baik-baik aja sekarang? Kenapa terasa sangat berat hanya untuk menjawab pertanyaan Lian yang sederhana kaya gini? Kenapa gue cuma diam menanggapi pertanyaan Lian? Apa yang salah dengan gue sebenernya? "Kakak diam kenapa? Apa harus Lian yang ngasih tahu alasannya apa sekarang? Apa Ian harus ngasih tahu alasan kenapa Kakak gak bisa menjawab pertanyaan Lian yang sangat sederhana sekarang?" Ian narik lengan gue yang membuat gue menatap Lian tanpa sadar, tatapan berkaca-kaca Lian yang gue perhatikan sekarang juga sukses membuat gue ikut berkaca-kaca, tatapannya terlihat begitu menyakitkan, tatapan yang gak pernah gue lihat dari seorang Lian sebelumnya. "Kakak akan selalu diam setiap kali Kakak ngerasa kalau ucapan Lian itu bener dan sekarang Kakak juga melakukan hal yang sama, Kakak diam karena Kakak sadar gak ada yang salah dengan ucapan Lian barusan, alasan kenapa Kakak gak bisa menjawab pertanyaan Lian itu cuma satu." Lian tersenyum perih menatap gue, senyumannya sekarang bahkan bisa membuat gue ikut menitikan air mata. "Karena setelah mengikuti keinginan keluarga Kakak sekalipun, Kakak belum bisa bahagia."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD