(BAB 41)

1258 Words
"Dek! Kamu kenapa?" Tanya Bunda sedikit panik, gue mengalihkan pandangan gue menatap Bunda tapi gak bisa memberikan jawaban apapun, gue gak mau Bunda khawatir tapi gue juga gak bisa berbuat banyak, kenyataan kalau tubuh gue sedang gak baik-baik aja juga bukan bantahan sama sekali. Menggantikan Kak Fikri menjaga gue, Bunda mengusap bahu gue pelan sekarang, gue masih berdiri ditempat yang sama, mengusap kasar wajah gue dan menatap pantulan wajah gue didepan cermin, kacau adalah satu kata yang sangat tepat untuk menggambarkan keadaan gue sekarang, melihat tatapan Bunda sama Kak Fikri yang terlihat sama khawatirnya juga semakin membuat buruk perasaan gue. "Udah?" Tanya Bunda yang gue angguki, Bunda ingin memapah gue untuk balik ke ranjang tapi kekuatan Bunda gak sebanyak itu, pada akhirnya Kak Fikri yang balik mapah, walaupun tatapan Bunda sedikit berubah tapi lagi-lagi keadaan yang mengharuskan, kalau di angkat sama Kak Fikri juga lebih gak mungkin lagikan? Makanya gue memilih diam dan berjalan secepat yang gue bisa sekarang. "Minum dulu Syi." Kak Fikri mengulurkan minum ke gue yang langsung gue terima, disaat kaya gini gue memang butuh bantuan Kak Fikri, dari awal Mas Ali gue suruh pulang, gue udah kepikiran kalau tiba-tiba gue drop, Kak Fikri bakalan kesusahan, Bunda harusnya juga ngerti tapi seolah sikap gak sejalan sama pemikiran, walaupun udah tahu bakalan kaya gini, muka Bunda masih tetap gak enak, dibalik wajah khawatirnya sekarang ada sedikit perasaan aneh yang gue sadar dari Bunda gue, Bunda risih memperhatikan gue sama Kak Fikri sekarang makanya terkesan buang muka kaya gini. Walaupun gue coba abaikan, bukan berarti gue gak tahu pemikiran Bunda sekarang kaya apa, Bunda pasti khawatir mengenai hubungan gue sama Kak Fikri, gue tahu apa yang Bunda khawatirkan tapi untuk sekarang, perasaan kahwatir gue Bunda itu berlebihan, gue sama Kak Fikri cuma punya hubungan saudara, gue menganggap Kak Fikri saudara dan gue yakin Kak Fikri juga kaya gitu, gak ada satupun sikap dan kelakuan Kak Fikri yang bisa membuat gue berpikir kalau Kak Fikri itu suka sama gue, sikapnya itu sama kaya sikap Mas Ali juga, jadi kenapa Bunda harus khawatir? Gue sama Kak Fikri itu saudara dan gue sama Kak Fikri sama-sama sadar, gak mungkin gue sama Kak Fikri punya hubungan yang lebih dari itu, masalah hati juga sama, Kak Fikri bahkan cerita masalah perasaannya ke gue, Kak Fikri juga ngasih masehat untuk gue jadi atas dasar apa Bunda bisa punya pemikiran kalau gue punya perasaan lebih dari sekedar saudara sama Kak Fikri, itu kedengeran aneh banget menurut gue, gak ada dikamus gue sama sekali, suka sama Lian yang lebih muda aja masalah hidup gue udah bejibun jadi gue gak akan bersikap gila dengan cara jatuh cinta sama saudara gue sendiri, kalau sampai itu kejadian gue yakin penolakan Bunda gue bisa lebih parah dari ini, gue menolak memikirkan hal itu. "Makasih Kak." Cicit gue yang dibalas anggukan Kak Fikri, yakin kalau gue udah ngerasa mendingan, Kak Fikri balik duduk di sofa dan mulai kembali ngotak-ngatik handphonenya, sedangkan Bunda narik kursi dan duduk tepat disamping ranjang gue berbaring sekarang, tatapan Bunda gue masih terus menelisik, gue narik nafas dalam dan memperhatikan Bunda gue dengan tatapan gak habis pikir, kenapa Bunda selalu berpikiran negatif sama laki-laki yang dekat sama gue? Tapi giliran sama Mas Rian, Bunda gue bisa seramah itu, apa lebihnya Mas Rian di mata Bunda? Gue sangat ingin tahu. "Nda! Syi, Kakak keluar sebentar gak papakan?" Tanya Kak Fikri bangkit dari duduknya, gue sama Bunda sepakat mengiyakan dan mengizinkan Kak Fikri keluar, lagian Kak Fikri mungkin mau nyari angin atau mau ngopi dulu di kantin biar gak ngantuk, ketimbang ngadepin tatapan menusuk Bunda ya lebih baik gue ngebiarin Kak Fikri keluar dulu, Bunda kalau mau nanya atau ngomel sekalipun yaudah sama gue aja, gak usah pasang muka kaya gitu didepan Kak Fikri, Kak Fikri itu kemari mau nemenin jaga bukan mau ngadepin muka gak karuannya Bunda gue. "Nda! Tatapan Bunda jangan kaya sama Kai Fikri bisakan? Kak Fikri disini nolongin loh Nda jadi kenapa Bunda malah natap Kak Fikri seolah Kak Fikri udah ngelakuin kesalahan besar?" Tanya gue buka obrolan setelah yakin kalau Kak Fikri udah jalan jauh, gue gak enak sama Kak Fikri jadi apa harus Bunda memperlihatkan wajah gak ramahnya kaya gitu? Sebelum ini Bunda gak ada masalah sama Kak Fikri tapi kenapa sekarang malah keliatan gak suka? Jangan memperlakukan orang lain sesuka hati Bunda kaya gitu, Lian yang bukan keluarga gue aja bisa terluka perasaannya gimana sama perasaan Kak Fikri yang udah jelas-jelas keluarga gue sendiri? Gimana Bunda bakalan ngadepin Tante Ratih nanti? Bukannya Tante Ratih keluarga? "Kamu sebenernya ada hubungan apa sama Fikri Dek? Baru sebulan tinggal jauh sama Bunda apa kalian udah bisa seakrab itu?" Tanya Bunda seolah membenarkan semua tebakanngue dari tadi, jadi Bunda beneran mikir kalau gue punya hubungan lebih sama Kak Fikri? Ya Allah, kenapa Bunda gue sampai sebegininya banget coba? Sama Lian gak suka, sama Kak Fikri curiga, sama Mas Galang dulu juga gak mendukung jadi sebenarnya laki-laki calon pendamping gue yang Bunda mau itu gimana? Kaya Mas Rian? Apa gak ada pilihan lain lagi? Kalau gue gak suka sama Mas Rian masa mau dipaksa? "Nda! Syia sama Kak Fikri itu saudara, dari dulu bukannya Kak Fikri udah akrab sama kita? Gak cuma sama Syia tapi sama Mas Ali, sama Bunda jugakan? Kalau keponakan Bunda yang lain semuanya manggil Tante, tapi Kak Fikri? Manggilnya Bunda dari dulukan? Bukannya itu karena Kak Fikri akrab sama kita? Bukannya Bunda juga ngerasa sayang banget sama Kak Fikri makanya Mas Ali sampai yakin nitipin Syia sama Kak Fikri selama Syia tinggal misah sama Bunda, tinggal dan hidup bareng, wajar kalau makin akrabkan Nda? Lagian Syia juga gak ngelewatin batas wajarkan? Bunda yang kenapa?" Tanya gue balik? Bunda gak bisa selamanya bersikap kaya gini? Laki-laki yang udah baik dimata Bunda aja bisa berubah beruk kalau Bunda gue udah mikir negatif terus kaya gini, apa kalau gue gak nerima Mas Rian, Bunda akan nolak semua laki-laki yang dekat sama gue? Apa Bunda akan melakukan penolakan yang hampir gak masuk akal kaya gini? Jangan cuma karena rasa curiga yang berlebihan, Bunda sampai memperlakukan Kak Fikri buruk, niat Kak Fikri baik ingin membantu tapi jangan sampai disalah pahami sama Bunda juga, semua orang berhak mendapatkan perlakuan baik terlebih itu keluarga. "Gimana Bunda gak berpikiran negatif kalau kalian seakrab itu? Kamu mungkin gak punya perasaan apapun sama Fikri tapi Fikri sendiri gimana? Belum tentu kan Dek?" Tanya Bunda gue masig belum ngerti keadaan juga. "Nda! Yang Bunda tanya itu aja udah nuduh namanya, Bunda curiga gak bertempat, itu cuma pemikiran dan prasangka Bunda aja padahal Syia sama Kak Fikri bahkan gak ngerasain apapun, kalau Kak Fikri denger omongan Bunda sekarang, apa Bunda gak akan ngerasa bersalah?" Bunda gak bisa bersikap kaya gini, itu gak adil, kalau sampai Kak Fikri denger dan tahu pemikiran Bunda gue gimana, apa Kak Fikri gak bakalan berkecil hati? Niat baiknya malah diartikan lain. Gue sama Kak Fikri yang menjalani dan gue sangat yakin kalau hubungan kami berdua cuma sebatas saudara, kalau memang Kak Fikri suka sama gue, gue pasti udah bisa ngerasain, gak mungkin gue gak tahu kalau Kak Fikri punya perasaan lebih ke guekan? Makanya gue ngomong tuduhan Bunda itu gak mendasar, itu gak wajar, salah banget. "Maaf kalau Fikri motong omongan Bunda tapi Bunda harus tahu, Fikri sama sekali gak punya perasaan lebih ke Syia seperti yang Bunda pikirkan, sikap Fikri sekarang karena memang Fikri tulus menyayangi Syia seperti Adik kandung Fikri sendiri, bukannya Bunda tahu kalau Fikri udah lama mau punya Adik perempuan? Jadi Bunda gak perlu khawatir untuk apapun." Ucap Kak Fikri membuka pintu ruang inap gue.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD