(BAB 42)

2701 Words
Seketika gue sama Bunda terdiam kaku tanpa ada bantahan sedikitpun, dalam hati gue udah mulai nyebut sekarang, ternyata Kak Fikri denger semuanya dan ini yang gue takutkan dari tadi, gimana kalau Kak Fikri denger semuanya? Kejadiankan? Kalau udah kaya gini, gue sama Bunda harus gimana? Penjelasan sebagus apapun gak akan ngubah satu kenyataan kalau Bunda memang memperlakukan Kak Fikri kurang baik seharian ini, barusan aja Bunda bahkan nuduh Kak Fikri masalah aneh-aneh lagi tanpa ada alasan yang jelas sama sekali dan sekarang, begitu orangnya denger dan membantah semua tuduhannya secara tegas, Bunda sama gue mau ngomong apaan lagi? Mau minta maaf? Hati anak orang udah terlanjur sakit kayanya, percuma. "Kak! Syia sama Bunda_ "Kakak tahu, kamu gak perlu minta maaf, Kakak pernah bilangkan, jangan minta maaf untuk kesalahan yang gak pernah kamu buat, kamu gak ngelakuin kesalahan apapun sama Kakak sekarang jadi kenapa kamu harus minta maaf dan ngerasa bersalah kaya gini?" Potong Kak Fikri sekaligus nanya gue balik, gue tertunduk lagi sekarang, tangan gue yang semakin gue genggam erat seakan menunjukan seberapa keras gue mencoba mengabaikan rasa bersalah gue tapi tetap aja gak bisa, kalaupun Kak Fikri ngerasa ini bukan salah gue tapi yang melakukan kesalahan adalah Bunda gue sendiri, terlebih Bunda bersikap kaya gini karena gue jadi gimana bisa gue gak merasa bersalah? "Kakak gak papa! Jangan khawatir." Lanjut Kak Fikri bahkan tersenyum kecil sekarang, senyuman yang diperlihatkan Kak Fikri bukannya membuat gue merasa lega tapi malah membuat d**a gue semakin sesak, rasa bersalah yang kian menjadi karena melihat senyum terluka Kak Fikri sekarang ini, senyum orang yang udah ngejagain gue layaknya adik kandung sendiri selama sebulan lebih tapi malah disalah artikan Bunda tanpa ada alasan pasti, ketakutan Bunda yang berlebihan malah seolah menjadi boomerang untuk hidup gue, sikap Bunda yang kaya gini akan terus menyakiti orang lain, gue gak suka tapi gue juga gak mungkin ngomong keras sama Bunda. "Kakak juga gak perlu maksain senyuman Kakak didepan Syia, itu horor tahu gak? Lagian udah seharusnya Syia minta maaf sama Kakak sekarang, Bunda gak ada niat sama sekali untuk nyakitin perasaan Kakak, itu semua Bunda lakuin karena Bunda mau yang terbaik untuk Syia jadi jangan Kakak masukin ke hati ya?" Gue masih mencoba menjelaskan walaupun ya seperti ucapan gue tadi, penjelasan sebagus apapun gak akan berguna sekarang, ucapan itu harus selaras dengan sikap dan ucapan gue sekarang gak selaras sama sekali dengan sikap Bunda gue dari tadi ketika memperlakukan Kak Fikri seharian ini padahal banyak hal yang gak Bunda tahu. "Kakak tahu." Kak Fikri mengangguk pelan untuk penjelasan gue barusan. "Bunda juga gak perlu khawatir karena yang Bunda pikirkan itu sama sekali gak bener Nda, Fikri cuma menganggap Syia layaknya seorang Adik kandung, Fikri tahu tempat Fikri jadi Bunda jangan banyak pikiran." Lanjut Kak Fikri menatap Bunda gue yang sekarang masih terdiam gak berkutik sama sekali, apa Bunda sekarang baru merasa bersalah? Setelah berbuat sesuka hati baru sekarang Bunda ngerasa gak enak sama Kak Fikri? Harusnya Bunda udah tahu kalau bakalan kaya gini kejadiannya disaat Bunda nuduh Kak Fikri yang bukan-bukan, udah banyak banget yang gue sesali sekarang tapi apa Bunda masih belum berencana minta maaf sama sekali? Bunda mau nunggu apalagi? Bukannya permintaan maaf adalah hal terpenting sekarang? Kak Fikri bahkan udah sebaik itu dengan ngalah dan ngomong kalau dia baik-baik aja padahal kenyataannya gimana? Kak Fikri pasti kecewa dengan sikap Bunda gue, ini baru Kak Fikri yang denger, gimana kalau orang tua Kak Fikri tahu Bunda gue punya pemikiran buruk untuk anak semata wayang mereka? Apa mereka gak akan kecewa? Apa perasaan mereka gak akan terluka? Padahal niat mereka baik, tinggal disini untuk ngejagain gue, mereka setuju karena mereka mau nolongin Bunda gue tapi kenapa Bunda seakan lupa dengan semuanya? Bukannya berterimakasih tapi malah nuduh dan bersikap semaunya? Apa gue masih punya muka untuk ngadepin Kak Fikri sekarang? "Nda! Bunda gak mau minta maaf?" Cicit gue nyikut lengan Bunda untuk minta maaf sama Kak Fikri segera, Bunda gak mau masalahnya makin panjangkan? Tapi bak keras kepalanya sama kaya anak kecil, egonya Bunda juga terlalu tinggi, walaupun raut wajah penuh rasa bersalah terlihat jelas diwajahnya sekarang tapi Bunda gue belum berniat mengucapkan permintaan maaf sama sekali ke Kak Fikri sekarang, gue yang sadar dengan reaksi Bunda gue malah kembali harus narik nafas dalam, apa ngabarin ke Mas Ali sama Bunda kalau gue sakit adalah kesalahan terbaru gue? Tapi mereka keluarga makanya harus gue kabarin. "Nda! Bukan maksud Fikri mau bersikap lancang tapi seperti Bunda harus tahu, mungkin niat Bunda baik, Bunda mau yang terbaik untuk Syia tapi mencarikan calon terbaik untuk Syia bukan berarti Bunda harus menilai rendah orang lain, menganggap orang lain gak sepandan untuk putri Bunda, sekarang, Syia mungkin putri Bunda yang paling berharga tapi Bunda juga jangan lupa kalau siapapun laki-laki yang mendekati Syia, dia juga putra paling berharga dikeluarga mereka." Ucapan Kak Fikri sekarang sukses membuat Bunda gue tertegun, bukan cuma Bunda tapi gue juga melakukan hal yang sama, gue sangat tertegun dengan ucapan Kak Fikri sekarang. Terlepas dari apapun perasaan gue ke Kak Fikri sebenernya, apa laki-laki sebaik ini juga belum pantas dimata Bunda gue? Apa laki-laki sebaik Kak Fikri juga masih punya kekurangan dimata Bunda gue? Kalau yang seperti Kak Fikri aja dirasa Bunda masih belum pantas, terus Bunda mau nyari yang modelan gimana untuk gue? Memang gue sebagus apa sampai Bunda harus merendahkan orang lain yang mencoba mendekati gue? Jangan kaya gini bisakan? Gue malu sama diri gue sendiri, seperti ucapan Kak Fikri barusan, gue mungkin putri yang berharga untuk keluarga gue tapi Kak Fikri juga putra yang berharga untuk keluarganya, laki-laki lainpun begitu. "Syi! Mungkin Lian lebih baik dari yang kalian tahu, kalau begini sikap Bunda dan Mas Ali tapi dia masih bertahan untuk memperjuangkan kamu, Lian cukup hebat." Gumam Kak Fikri tersenyum kecil untuk gue, gue menghembuskan nafas dalam, Lian memang sangat baik, setelah di perlakukan dan ditolak keluarga gue secara terang-terangan, Lian masih bertahan dengan perasaannya, gue yang terlalu bagus untuk Lian makanya gue melepaskan Lian hari ini, Lian berhak mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari gue, Lian berhak mendapatkan keluarga dan mertua yang lebih bisa menghargainya dari pada keluarga gue. "Maaf!" Gumam gue menatap Kak Fikri dengan tatapan berkaca-kaca, Kak Fikri udah ngomong kaya gitu, Bunda gue bahkan belum berkutik sama sekali, gak ada usaha sedikitpun untuk memperbaiki keadaan yang udah kacau kaya sekarang, apa Bunda mau Kak Fikri pergi tanpa mendengarkan permintaan maaf Bunda sama sekali? Apa Bunda gue adalah orang seegois itu? Apa Bunda gak bisa berpikir logis lagi? Apa Bunda gue bisa menghadapi orang tua Kak Fikri nanti? Kenapa Bunda begitu keras kepala? Gue udah gak tahu harus bereaksi kaya gimana sekarang. "Kakak gak akan pulang sebelum Mas Alu dateng jadi Kakak duduk di musolla rumah sakit, kalau ada apa-apa, kabarin Kakak langsung." Ucap Kak Fikri ke gue, Kak Fikri bahkan udah gak natap Bunda gue sama sekali, sebegitu kecewanya Kak Fikri untuk sikap Bunda gue hari ini, wajar sih, Kak Fikri udah berusaha yang terbaik untuk mengedalikan emosinya tapi memang Bunda yang gak bisa luluh, sifat kerasnya membuat gue ikut pasrah, gak ada gunanya juga memaksakan keinginan gue sekarang sama Bunda, percuma, mau gue jelasin sebagus apapun gak akan ada yang berubah, penjelasan sebaik Kak Fikri tadi aja masih belum lolos untuk Bunda gue nah omongan gue lagi, gak bakalan didenger sama sekali kayanya. "Sama satu lagi, orang tua Kakak gak harus tahu hal ini, Kakak rasa itu lebih baik." Kak Fikri menutup balik ruang inap gue dan pergi gitu aja, bukannya pulang Kak Fikri milih stay di rumah sakit sampai Mas Ali dateng, apa udah sebegininya Kak Fikri, Bunda masih belum menurunkan egonya sama sekali? Apa Bunda gue gak bisa berbaik sangka sedikit aja sama orang lain, katakanlah berterimakasih itu sulit tapi apa mengakui kesalahan juga sesulit itu? Terlebih Bunda melakukan kesalahan terhadap keluarganya sendiri, Kak Fikri bahkan gak mau orang tuanya tahu karena mikirin solusi terbaik, kalau sampai orang tuanya tahu, masalah b8sa jadi lebih besar nantinya. "Apa Bunda puas sekarang? Apa menilai orang sesuka hati Bunda adalah hal baik? Syia juga gak sebagus itu Nda, kenapa Bunda harus kaya gini?" Tanya gue berkaca-kaca, gue bahkan sangat kesal dengan keadaan gue sekarang, apa Bunda sama sekali gak mempertimbangkan semuanya sebelum ngomong? Udah tahu salah tapi Bunda malah membiarkan Kak Fikri pergi tanpa memberikan permintaan maaf sama sekali, apa ini hal terbaik yang bisa Bunda lakuin? Selama ini Bunda selalu ngajarin gue untuk minta maaf lebih dulu kalau gue sadar gue salah tapi sekarang apa? Bunda bahkan seolah lupa dengan semua yang udah diajarinnya sama gue dulu, kemana semua nasehat yang udah Bunda wanti-wanti dari gue kecil? "Bunda bukan nuduh tapi Bunda cuma mengingatkan kalian Dek, kalau memang kalian gak punya hubungan yang lebih ya bagus, kenapa Bunda harus minta maaf?" Kekeh Bunda gue yang seakan terdengar kalau Bunda gue gak merasa bersalah sama sekali, gue takjub sekaligus kecewa dengan sikap Bunda gue sekarang, apa ini adalah hal terbaik yang bisa Bunda gue lakuin? Apa ini hal terbaik yang bisa Bunda gue pikirkan saat ini, kekeh dengan pendapatnya walaupun raut bersalah terlihat jelas diwajahnya Bunda gue sekarang, Bunda masih belum mau mengakui kesalahannya sama sekali, apa ini masih bisa gue biarkan? Keiginan gue untuk menikah bahkan semakin menipis sekarang, membayangkan kalau Bunda akan terus bersikap seperti terdapat laki-laki manapun yang ingin mendekati gue nanti aja udah ngebuat gue pusing, menikah malah seakan menambah beban hidup, mencari seorang laki-laki yang sesuai dengan keinginin Bunda gue itu gak bakalan gampang jadi dari pada gue nyari beban hidup, mending gue sendiri aja kaya sekarang, gak punya pasangan hidup aja beban gue udah berat gimana nanti? Apa gue punya waktu untuk ngurusin suami gue disaat masalah gue sendiri aja udah bejibun? Kayanya bakalan berat banget kedepannya, gak bakalan ada yang gampang. "Bunda gak nuduh? Apa Bunda masih belum sadar sama kesalahan Bunda? Sampai kapan Bunda mau bersikap kaya gini? Apa kalau Syia ngomong, Syia gak akan menikahi siapapun bisa membuat Bunda jauh lebih tenang? Apa itu bisa membuat Bunda gak memandang dan menilai rendah orang lain? Syia malu Bunda, sikap Bunda yang kaya gini seolah-olah Syia itu udah sangat bagus? Padahal gak sama sekali, Syia punya banyak kekurangan, masih banyak hal yang bisa membuat Syia terlihat kurang dimata calon mertua Syia nanti juga." Bahkan terlalu banyak kekurangan yang gue punya, sangking banyaknya gue bahkan gak punya muka untuk menghadapi penilaian orang lain sekarang, gue bahkan gak punya kelebihan yang bisa membenarkan sikap Bunda gue sekarang. Sikap keras kepala, egois, kekanak-kanakan, gue bahkan punya semua itu, apa bisa gue berharap kalau gue bakalan disayang sama mertua kalau udah kaya gini? Belum lagi dari segi penampilan, penampilan gue sekarang juga termasuk biasa aja, gue gak terlalu cantik, masih banyak yang jauh lebih cantik dari gue diluar sana, dari segi pendidikan, gue sekolah, kuliah seperti biasa, gue kuliah juga bukan karena beasiswa atau apapun, gue kuliah karena kebetulan orang tua gue punya dana untuk mengasah bakat sederhana gue, cuma itu, gak ada hal yang lebih sampai-sampai gue harus berbangga diri didepan orang lain, gue ngomong kaya gini bukan karena gue gal bersyukur dengan apa yang udah gue punya tapi gue bersikap kaya gini karena gue sadar kalau gak ada hal yang perlu gue banggakan sampai membuat gue berhak memandang rendah hidup orang lain, memandang gampang perasan orang lain, itu yang membuat gue sangat malu sekarang. "Bunda akan mencarikan yang terbaik untuk kamu tapi atas dasar apa kamu menolak menikah Dek?" Banyak hal yang bisa menjadi alasan kenapa gue menolak menikah, banyak bahkan terlalu banyak, salah satu alasan terkuat dan sangat mengganggu adalah sikap pemilih Bunda gue sekarang, sikap Bunda aja udah cukup untuk membuat gue merasa buruk didepan orang lain, sikap Bunda gue udah cukup untuk membuat gue menyerah sekarang juga, gak perlu mencarikan gue jodoh kalau kaya gini caranya, lebih baik gue gak nikah dari pada harus membiarkan Bunda gue menilai laki-laki dengan sangat tidak adil seperti ini, andai kata ada yang lolos melewati seleksi Bunda, gue yang udah gak punya nyali sama muka untuk ngadepin suami gue nantinya. "Gak perlu lagi Nda, Syia udah mutusin kalau Syia gak akan menikah kalau begini cara Bunda menilai calon suami Syia, apa Bunda masih belum sadar kesalahan Bunda, gimana kalau semua keadaannya Syia balik sekarang, gimana kalau laki-laki yang udah Bunda tolak adalah putra Bunda? Misalnya Mas Ali deh, apa Bunda akan terima kalau Mas Ali di tolak dan siperlakukan gak adil cuma karena Mas Ali mencintai sepupunya sendiri? Apa Bunda akan terima kalau Mas Ali diperlakukan sesuka hati cuma karena Mas Ali mencintai perempuan yang jauh lebih tua? Apa Bunda akan terima Mas Ali diperlakukan seperti itu? Jawaban enggak, Bunda gak akan terima." Bunda gue gak akan terima. Kesalahan besar yang Mas Ali lakuin aja bisa Bunda maafkan, gimana bisa Bunda terima kalau Mas Ali dperlakukan gak adil oleh calon mertuanya nanti? Bunda gue gak akan ngebiarin hal itu, gak cuma bakalan marah-marah, kesal dan kecewa, Bunda gue bahkan mungkin akan membuat Mas Ali melupakan dan meninggalkan semua perempuan yang dia suka selama ini, itu bisa gue jamin, lebih baik Mas Ali melajang dari pada dipandang rendah oleh calon mertuanya, itu yang akan terjadi kalau Bunda ada diposisi yang berbeda sekarang jadi apa Bunda mau berusaha mengerti sedikit aja? Yang terbaik, yang sempurna, yang bisa segalanya itu gak ada, tujuan menikah itu apa sih? Menikah untuk saling melengkapi, dari kata melengkapi aja udah jelas kalau kata itu mengartikan akan adanya kekurangan, gue punya kekurangan dan pastinya siapapun calon suami gue nanti, dia juga punya kekurangan, gue mungkin punya kelebihan tapi pasangan gue nanti juga pasti punya kelebihannya sendiri, gak ada manusia yang sempurna makanya menikah dikatakan hidup untuk saling melengkapi, apa Bunda sama Ayah gue dulu menikah karena mereka berdua sama-sama sempurna? Enggakkan? Mereka juga pasti punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. "Kalau itu belum bisa membuat Bunda ngerti juga, gimana kalau hal yang sama terjadi sama Bunda, Bunda jatuh cinta dengan Ayah yang usia saat itu lebih muda, apa Bunda bisa melupakan Ayah kalau orang tua Bunda yang minta? Apa semudah itu? Dan gimana perasaan Bunda kalau sepupu Bunda yang udah snagat baik malah dituduh salah oleh orang tua Bunda sendiri? Padahal niatnya selalu tulus, apa Bunda bisa terima? Itu yang Syia rasain sekarang Nda, gak ada yang mudah." Gak ada yang berjalan baik sesuai harapan gue, gak ada satupun. Terkadang untuk membuat seseorang mengerti, dia harus membayangkan dirinya berada diposisi yang sama, menilai dari satu sisi itu gak akan berhasil, karena pandangan yang menurut kita benar, belum tentu benar dimata orang lain, pandangan yang kita anggap salah, belum tentu salah dimata orang lain juga, berbeda pendapat itu wajar tapi kalau udah gak ada rasa saling pengertian dan rasa ingin saling memahami, semuanya akan percuma, semuanya bakalan sia-sia, mungkin ini yang di maksud dengan berjuang seorang diri dan berjuang seorang diri itu lelah. Pilihan gue sangat bagus disaat gue merelakan Lian untuk meninggalkan gue dan berbalik arah, kalau enggak, Lian mau tersiksa berapa lama lagi bareng gue? Masalah Lian baru bisa gue relakan, Bunda malah nambah pekara baru sama Kak Fikri, kalau Mas Ali tahu, kali ini Mas Ali akan berada di pihak siapa? Apa tetap akan membela Bunda tanpa peduli apapun? Apa Mas Ali akan tetap mendukung semua keputusan Bunda yang gak masuk akal kaya gini? Gue sangat berharap kalau Mas Ali akan berpikiran jauh lebih terbuka sekarang, menilai pasangan hidup gak harus dengan cara kaya gini. "Dan sekarang Syia juga melakukan hal yang sama Nda, lebih baik Syia gak nikah dari pada Syia harus membiarkan Bunda menyakiti banyak laki-laki yang berharga dalam keluarga mereka nanti, dulu juga kaya gini, Mas Galang memang salah tapi bukan berarti sikap Bunda waktu itu benar,  cukup Mas Galang, Lian sama Kak Fikri yang sakit hatinya, Syia gak perlu nambah lebih banyak korban cuma untuk memnuhi kriteria harapan calon menantu Bunda." Ini keputusan gue dan gak akan gue ubah kecuali mengubah cara penilaiannya. "Dek! Apa kamu gak bisa ngerti jalan pikiran Bunda? Bunda melakukan ini karena Bunda mau yang terbaik untuk kamu, kamu berharga untuk Bunda." Gue mengangguk pelan karena gue juga tahu alasan Bunda ini, gue tahu pasti alasan Bunda itu semua karena kebahagian gue, gue udah hafal, gak ada gunanya gue berdebat lama. "Semua anak berharga untuk orang tuanya, Bunda juga gak bisa ngerti ini." Balas gue tersenyum miris.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD