"Jangan berharap dimengerti kalau diri sendiri gak mau mencoba mengerti Nda, itu gak adil, bagaimana Bunda memperlakukan orang lain, itu juga yang akan Bunda terima, hukum karma itu ada Nda, kalau sekarang Bunda memperlakukan putra orang lain degan buruk, gak menutup kemungkinan kalau suatu saat Syia atau Mas Ali yang diperlakukan buruk oleh orang lain." Gue mengingatkan, apa yang kita tanam, itu yang akan kita petik hasilnya, kalau sekarang aja Bunda gak bisa menghargai putra orang lain, gimana bisa berharap gue atau Mas Ali akan sangat dihargai nantinya?
"Udahlah Nda, sekarang Syia udah capek, mau Syia paksa segimanapun, Bunda tetap gak akan mau minta maaf sama Kak Fikri apalagi sampai dengerin omongan Syiakan? Syia cuma mau Bunda tahu, Kak Fikri itu anaknya Adik Bunda sendiri, apa Bunda bisa menghadapi Tante Ratih seandainya dia tahu pemikiran Bunda sekarang? Pertimbangkan baik-baik Nda." Bunda terkadang juga harus pikir panjang, ini bukan cuma pekara kecil, Tante Ratih akan sangat kecewa kalau tahu Kak Fikri diperlakukan seperti ini sama Bunda, gak menutup kemungkinan kalau Tante Ratih bahkan akan menolak menjaga gue kedepannya, ada kemungkinan gue harus hidup sendirian di rumah lama keluarga gue kalau Bunda terus gak peduli apapun.
Menghembuskan nafas dalam, gue memejamkan mata lelah dengan keadaan gue sekarang, rasanya baru aja gue ngerasa hidup gue bisa jauh lebih tenang tapi ternyata masalah lain dateng dan kembali mengacaukan segalanya, gue pikir setelah masalah gue sama Lian selesai, keadaan akan perlahan membaik tapi bukannya membaik, Bunda malah kembali membuat gue kecewa dengan sikapnya ke Kak Fikri, bahkan sekarang memejamkan matapun gue udah pasrah, gue beneran malu sama Kak Fikri sekarang, ditolongin malah ngelunjuk, bukannya bersyukur tapi malah mukul balik dengan tuduhan gak ada mamfaatnya sama sekali, gimana carantmya gue ngadepin Kak Fikri sekarang?
Belum lagi kalau gye inget Kak Fikri yang malah duduk dimusolla, bukannya Kak Fikri menghindar dari Bunda, karena gak mau masalahnya makin runyam dan Bunda makin salah paham makanya Kak Fikri milih nyari tempat lain, udah ngejagain tapi malah harus nunggu di luar, apa yang salah sama Bunda gue sebenernya? Gue bahkan gak tahu Kak Fikri bakalan mikir apa sekarang? Kak Fikri gak akan memperlihatkan kemarahannya secara langsung sama Bunda, Kak Fikri bersikap tenang dan terkesan narik diri tapi sikap tenangnya Kak Fikri sekarang juga bukan berarti kalau perasaan Kak Fikri baik-baik aja, siapa yang gak akan kecewa kalau mendapatkan tuduhan gak enak kaya gini bukan dari orang lain tapi malah dari keluarga sendiri?
"Dek! Kamu beneran gak ada perasaan apapun sama Fikrikan? Kalau kamu gak punya perasaan apapun, Bunda bisa jauh lebih tenang." Tanya Bunda yang membuat gue menggepalkan jemari gue erat, dalam hati gue udah mengucapkan kata istigfar gak terhitung kalinya, gue berdoa supaya gue diberikan kesabaran dan kelapangan d**a yang seluas-luasnya supaya gue bisa menghadapi sikap Bunda gue, gue sangat berharap kalau Bunda gue akan berubah tapi kayanya itu beneran sulit, udah sebegitu tegasnya gue ngasih jawaban tapi tetap aja Bunda gue gak mau percaya.
"Bunda tahu perasaan Syia untuk siapakan? Perasaan Syia masih untuk Lian, apa jawaban Syia bisa Bunda terima sekarang? Apa jawaban Syia udah bisa membuat Bunda jauh lebih tenang?" Dan jawabannya kayanya enggak, mendengar nama Lian yang kembali gue sebut malah membuat Bunda gue semakin kesal, Bunda bahkan bangkit dari duduknya dan berpindah duduk di sofa yang jauh dari gue, inilah Bunda gue, tadi nanya dan waktu udah gue jawab malah gak puas sama jawaban gue, Bunda mau gue gimana? Menolak semua laki-laki yang gak sesuai dengan keinginannya? Sekarang gue tanya, yang bakalan nikah nanti sebenernya siapa? Gue atau Bunda? Kenapa pendapat Bunda jadi jauh lebih penting dibandingkan pendapat gue sendiri?
Mengabaikan Bunda yang masih berlarut dengan kekesalannya, gue juga narik selimut dan milih menghubungi Kak Fikri, gue nge chat Kak Fikri dan nanya dia dimana? Apa Kak Fikri baik? Gue juga minta maaf untuk sikap Bunda gue, gak butuh waktu lama, Kak Fikri membalas pesan chat gue dan seperti ucapannya tadi, Kak Fikri ada dimusolla dan keadaannya jauh lebih baik, perasaan Kak Fikri yang semakin baik lebih tepatnya, juga udah minta Kak Fikri pulang aja ketimbang duduk disana semalaman, gue sama Bunda aja udah cukup, setidaknya kalau dirumah Kak Fikri bisa istirahat dengan lebih baik.
Walaupun udah gue suruh tapi Kak Fikri tetap nolak, Kak Fikri tetap milih stay dirumah sakit sampai Mas Ali dateng, karena Kak Fikri nolak, gue juga udah minta Kak Fikri balik masuk ke ruang inap gue, setidaknya disini lebih nyaman, gak ada nyamuk dan Kak Fikri gak akan masuk angin tapi ini juga ditolak, wajah sih siapa juga yang akan nyaman seruangan sama Bunda kalau udah dikatain dan dituduh kaya tadi? Gue kalau jadi Kak Fikri juga ogah, mending digrogoti nyamuk di luar ketimbang makan hati merhatiin sikap keluarga yang gak ada rasa saling pengertiannya.
Udah gue coba bujuk tapi Kak Fikri juga gak mau masuk, yaudah gue cuma ngabarin Mas Ali supaya dia dateng cepat besok, jangan bikin Kak Fikri nunggu lama dan membuat rasa bersalah gue semakin menjadi, gue bahkan udah gak bisa tidur karena mikirin Kak Fikri yang tidur diluar, udah gitu Bunda juga gak ada inesiatif sedikitpun untuk nyusulin Kak Fikri biar masuk, gue pikir masalah kesalahpahaman Bunda gak perlu gue ceritain ke Mas Ali tapi kayanya gue tetap harus cerita, gak bisa gue diemin soalnya, mau bagaimanapun reaksi Mas Ali nanti ya itu urusan belakangan, yang terpenting gue cerita dulu, siapa tahu Mas Ali punya solusi yang lebih baik.
.
.
.
Setelah keluar dari rumah sakit, suasana dirumah udah cukup aneh, semuanya berantakan, tatapan Bunda sama Kak Fikri aja udah aneh, walaupun Kak Fikri terlihat mencoba bersikap seperti biasa tapi Bunda gue yang gak ada biasa-biasanya, Bunda gue malah secara terang-terangan menunjukan perang seolah apa yang diperbuatnya sekarang adalah hal yang paling benar, Bunda masih bersikap seolah apa yang di lakukannya belum ada yang salah, apa Bunda gue gak akan berubah? Setelah omongan dan keluhan panjang kali lebar gue dirumah sakit waktu itu? Gue harus gimana lagi supaya Bunda mau ngerti? Apa gue harus cerita sama Mas Ali masalah sebenernya kaya apa? Siapa tahu kalau Mas Ali yang ngomong, Bunda mau denger.
gue menghembuskan nafas lelah memperhatikan Bunda gue sekarang, udah badan gue sakit, beban pikiran gue nyatanya juga gak berkurang sama sekali, yang paling gue khawatirin sekarang adalah Bunda sama Tante Ratih, gue takut Tante Ratih bakalan marah dan kecewa dengan sikap Bunda gue, bagaimanapun Tante Ratih itu saudara, yang namanya berantem sama saudara tetap aja gak enak, gue gak mau kaya gitu kejadiannya makanya gue sangat berharap kalau Bunda mau bersikap seperti biasa aja, Kak Fikri udah menunjukkan niat baiknya supaya gak menyakiti siapapun eh sekarang malah Bunda gue yang gak ngerti situasi sama sekali.
"Dek! Mau sampai kapan kamu bengong gak karuan begini? Masih belum mau cerita? Sebenernya dirumah sakit kemarin itu kenapa?" Tanya Mas Ali ngagetin gue.