Sudah sejak lama Emma menjadi target yang digadang-gadang oleh teman-teman sekerjanya untuk menjadi tangan kanan Rachael, sang bos paling perfeksionis yang pernah ada di sejarah perusahaan itu. Sesuai dengan ekspektasi mereka, kesempatan ini akhirnya datang juga. Emma sudah selalu dikenal sebagai pegawai paling cekatan dan memiliki ide-ide brilian. Namun keinginannya justru bertolak belakang dari kenyataan yang kini sedang terjadi padanya. Ia tidak mau menjadi tangan kanan karena ia tahu betapa repotnya itu; harus mengurus banyak hal seolah merangkap menjadi asisten pribadi khusus untuk Rachael. Ia cukup tahu, atau bahkan lebih tepatnya hafal bagaimana kepribadian bosnya tersebut. Namun kali ini Emma merasa bahwa ia mendapatkan sebuah kesempatan emas. Ia bisa mengalihkan kekecewaannya pa

