Go

1375 Words
Beberapa hari ini terasa cukup berat. Emma sedikit mengeluh di perjalanan pulang dari kantor bersama dengan Timothy. Ia bersyukur karena tidak harus menyetir. Adalah sebuah keuntungan memiliki sahabat yang tinggal dekat dengannya dan bekerja di lokasi yang sama. Mereka bisa berangkat dan pulang bersama. Sore itu saat Timothy menurunkan Emma di depan rumahnya, sebuah mobil yang belum pernah ia lihat sebelumnya tampak terparkir di depan gerbang rumahnya. Menurut penilaian Emma, mobil itu terlihat mahal dan berkelas. "Kok ada tamu ya? Nggak biasanya," Emma bergumam. "Kenapa, Em?" rupanya Timothy mendengar suara tak jelas Emma. "Oh, nggak papa. Cuman aneh aja. Terakhir ada tamu tuh beberapa bulan lalu," Emma terkekeh. Ia dan kedua orangnya memang tak terlalu suka menerima tamu. "Oke deh. Makasih ya, Tim. See ya!" (*sampai jumpa) Timothy melambai dan memberikan gerakan memberi hormat dengan dua jari di sisi kiri kepalanya lalu melesat meninggalkan area rumah Emma. Berjalan perlahan, Emma masuk ke dalam rumah. Didapatinya kedua orang tuanya sedang duduk di hadapan sepasang suami istri dan seorang pria paruh baya lainnya. Ia teringat bahwa wanita itu adalah yang ditemuinya di toilet saat di mall. Meskipun kebingungan, ia tetap menyapa wanita itu. "Hai, Tante. Ketemu lagi ya disini. Betewe, ini ada apa ya?" Ia bertanya, sambil berpaling pada kedua orang tuanya apa yang terjadi. Namun yang ia lihat justru membuatnya tercengang. Desy menangis dan Sandy tampak linglung. "Emma, atau mungkin lebih baik kusebut dengan Mitsu, saya pengacara dari keluarga Shimada," karena tidak ada yang menjawab, akhirnya pria paruh baya itu angkat bicara. "Sebenarnya, kamu adalah anak dari Bapak Yoshi dan Ibu Namie Shimada. Mereka berasal dari Jepang, tetapi sudah lama sekali tinggal di Indonesia, yaitu sejak kehilangan kamu di umur tiga tahun." Ketika mendengar kisah tak masuk akal ini, Emma diam seribu bahasa tak sanggup berucap. Demi membuktikan ucapan dari pengacara itu, serangkaian tes DNA dilakukan dan memakan waktu dua hari. Hasilnya membuktikan bahwa Emma adalah keturunan dari keluarga Shimada. Belum lagi ditunjukkannya akta kelahiran Emma yang ditulis dengan nama Mitsu Shimada beserta foto-foto terakhir yang diambil sebelum ia menghilang saat bersama kakak laki-lakinyanya, Matsu dan adik perempuannya, Miu. Menurut cerita keluarga Shimada, Mitsu -- yang masih lebih ingin dipanggil dengan nama Emma -- hilang saat mereka sedang menghadiri undangan acara pembukaan hotel baru milik teman Yoshi di Jakarta. Saat itu Emma masih berumur tiga tahun, sementara Matsu lima tahun dan Miu masih bayi. Sebaliknya, menurut cerita keluarga Pratama, mereka mengadopsi Emma dari sebuah panti asuhan -- yang memang sudah diketahui oleh Emma sejak awal. Namun mereka tidak tahu menahu mengenai latar belakang Emma yang rupanya masih memiliki keluarga. Yang mereka tahu pasti adalah panti asuhan tersebut menemukan Emma di depan pintu panti hanya terbungkus jaket tebal. "Tolong bangunin aku dari mimpi ini, Ma. Jangan sampai aku besok telat masuk kerja," Emma meremas rambut kepalanya dengan pandangan mata kosong. Ia terduduk lemas di atas ranjang setelah membereskan semua baju dan barang-barang pribadinya. Desy menghapus air matanya yang menetes tak sanggup diatur. "Sayang," ia tak sanggup mengatakan apapun kecuali memeluknya. "Tapi ini bukan mimpi." Emma menyentuh lengan Mamanya yang melingkar di sekitaran bahunya. "Masalahnya sekarang aku udah umur dua tujuh. Kalo aku memang anak mereka, kenapa nggak dari dulu aja cari aku dan klaim kalo aku anak mereka?" ia memprotes kenyataan yang masih tidak dapat diterimanya. "Karena Indonesia nggak kaya Jepang, atau negara-negara maju lainnya yang gampangin untuk cari orang," Sandy yang ternyata sedari tadi berada di pintu kamar Emma ikut menimbrung. Ia kemudian berjalan mendekat dan duduk di samping putrinya. "Apalagi kamu juga udah ganti nama sejak Papa sama Mama adopsi kamu." "Tapi aku suka namaku. Emma Grace Pratama. Anugrah pertama yang utuh untuk keluarga ini. Itu artinya ya kan? Masa iya Papa sama Mama ngerelain aku gitu aja ke mereka?" Emma menatap wajah Papa dan Mamanya bergantian. "Ah! Apa jangan-jangan ini acara reality show ya? Kita lagi masuk TV ya, kan?" (*acara realita) "I wish," sahut Sandy. Ia membelai rambut putrinya. "Kan kita udah ke dokter sendiri sama mereka buktiin DNA kamu sama mereka cocok. Nggak mungkin lah dokter disuap." (*Papa harap gitu) "Siapa tahu?" Emma masih tak mau kalah. "Jaman sekarang segala sesuatu itu mungkin loh, Pa. Lagian ini kan udah ganti tahun ya, jadi bisa aja ada acara baru di TV. Macam social experiment gitu kali." (*eksperimen sosial) Desy ganti menyentuh kepala Emma, membuatnya berpaling pada wanita dengan mata sembab itu. "Sayang, jangan gitu. Yang kamu perlu lakukan disini adalah bersyukur. Sementara kamu hilang dari keluarga kandung kamu, ada kami yang rawat kamu, bekalin kamu dengan karakter baik. Dan saat keluarga asli kamu berhasil nemuin kamu lagi, kamu udah jadi seseorang yang membanggakan." "Kok berasa Papa sama Mama yang susah, mereka tinggal nikmatin senengnya? Siapa yang tabur, siapa yang tuai?" Ucapan Emma yang terdengar ketus itu sontak ditegur oleh Sandy. "Papa sama Mama nggak pernah ngajarin kamu gitu loh, Em. Kita nggak ada yang tahu betapa bertahun-tahun mereka kehilangan kamu dan kesulitan cariin kamu," Sandy mengingatkannya, dan itu dianggap benar oleh Emma yang langsung menarik perkataannya.  "Ya udah. Kita nikmatin malam terakhir sebagai keluarga ya sebelum besok kamu pindah ke rumah mereka," Desy mengubah nada suaranya menjadi riang. Namun Emma justru menjadi cemberut. "Apaan sih? Kita bakalan terus jadi keluarga kali, Ma. No matter what," katanya penuh ketegasan. (*Nggak peduli alasan apapun) "Betewe, lucu nggak sih kalo faktanya mereka tinggal cuman berjarak dua gang dari rumah kita selama ini?" Sandy menyebutkan fakta yang terdengar aneh di telinga Emma. Emma menjentikkan jarinya. "Nah kan? Itu aneh. Kalo deket gitu kan kita bisa ketemu. Hayo?" ia masih saja berusaha untuk menggagalkan rencana kepindahannya ke rumah keluarga Shimada. "Kaya kamu pernah keluar aja sih, Em, kalo udah di rumah," sindir Desy yang tahu benar kebiasaan putrinya itu; sekali ada di rumah, ia tidak akan beranjak keluar lagi. "La, la, la, la, la," Emma mengalihkan pembicaraan dengan senandung khas ala Emma. Baik Sandy dan Desy menertawai putri mereka. Mereka seolah sedang memuas-muaskan diri melihat Emma untuk terakhir kalinya di rumah ini. "Nanti kalo kamu udah di rumah mereka, jangan asal pergi gitu aja ya. Pamit dulu kalo mau keluar," Desy memberi wejangan. "Terus kalo mau tidur, jangan lupa ucapin selamat malam. Mama tuh udah pelajari kebiasaan orang Jepang kemarin. Ada satu buku kecil mama print khusus untuk kamu pelajarin sendiri." Emma mengerucutkan bibirnya dan kedua alisnya menyatu. "Mama ngapain coba? Kaya nggak ada kerjaan aja sih?" ia menanggapi dengan penuh keheranan. "Lagian kalo yang namanya keluarga, pasti nggak perlu yang macam jaim-jaim gitu kali, Ma." Sandy berdecak, mengindikasikan bahwa ia akan mengambil alih pembicaraan. "Ya mau nggak mau kamu harus jaga sikap. Nanti kalo kamu ngelakuin sesuatu yang aneh-aneh, dikiranya kami nggak bisa mendidik sebagai orang tua." Kedua mata Emma membulat dan bibirnya terbuka saat berkata, "Aha! Itu ide yang bagus, Pa. Kalo aku sikapnya nggak baik, aku bisa diusir. Terus aku balik lagi ke rumah ini deh." Lagi-lagi ucapan Emma membuat Sandy dan Desy tertawa. Mereka tak habis pikir bahwa putrinya dapat memikirkan sesuatu seperti itu. "Jangan gitu dong, sayang. Keluarga kamu pasti kangen banget sama kamu. Bersikap yang baik sama mereka ya. Semaksimal mungkin beradaptasi di sana dan belajar kenal mereka lagi. Oke?" Kali ini ucapan Desy tidak bisa dibantah. Pernyataannya begitu kuat dan bijaksana di telinga Emma. Emma menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan keras. "Yeah, let's see. I'll do my best," komentarnya ringan. Kenyataan ini saja sudah berat baginya, maka ia tidak ingin menambahi beban di pikirannya. "Gimana kalo malam ini kita bertiga tidur bareng?" Ia mengusulkan sebuah ide. (*Yah, lihat aja. Aku akan lakukan yang terbaik) "Em," sepatah kata dari Desy itu saja cukup membuat Emma mengerti bahwa itu tidak mungkin dilakukan. Selain karena ranjang tidak akan cukup, Emma juga tidak pernah tidur bersama kedua orang tuanya sejak kecil. Bukan karena orang tuanya tidak boleh, tetapi karena Emma selalu mengeluh kepanasan jika tidur berdempetan dan itu akan membuat ketiganya tidak akan tidur semalaman. "Udah jam setengah sepuluh. Kita tidur aja sekarang," Sandy beranjak dari ranjang Emma. "Yuk, my darling kita ke kamar." (*sayangku) Emma memasang wajah mirip binatang kungkang; lidahnya terjulur, kedua bola matanya menerawang ke atas setiap kali mendengar ucapan semacam itu. "Malam, Pa, Ma," katanya. "Malam, sayang," Desy mencium kepala Emma, diikuti oleh Sandy. Mereka keluar dari kamar Emma dan tak lupa mematikan lampu kamarnya seperti yang selalu diminta olehnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD