Meski jam pulang kerja sudah lewat, Timothy tidak meninggalkan Emma dan duduk di lobi menunggunya selesai rapat. Bos mereka terlalu mempercayai Emma sehingga ada banyak proyek penting yang hanya diberikan kepada sahabatnya itu.
"Tim," yang ditunggu akhirnya datang juga.
Timothy pun bangkit dari sofa, mendapati Emma yang tampak lesu. "Capek banget ya? Revisi banyak dari Ci Rachael?" tanyanya cemas kalau bos mereka terlalu memforsir sahabatnya. "Pucet deh wajah lo sekarang. Jangan-jangan lo sakit." Ia menempelkan punggung tangannya pada dahi sahabatnya.
Emma menggeleng. "Kerjaan gampang kok. Udah beres," katanya.
"Lah terus kenapa lo keliatan kaya nggak bernyawa gitu? Ada sesuatu yang belum lo ceritain ke gue ya?" Timothy menyelidik.
Sejenak Emma hanya terdiam dan menghela nafas yang berat. Namun semakin lama, ia semakin tak sanggup menahan lagi. Air matanya jatuh dengan deras membasahi kedua pipinya seketika.
"Eh? Lo kenapa, Em?" Timothy merengkuhnya ke dalam pelukan. "Hei. Something wrong happened?" (*Sesuatu yang buruk terjadi?)
Emma mengangguk-angguk. Ia menangis semakin menjadi-jadi.
Satpam perusahaan yang melihatnya hendak datang mendekat untuk bertanya apa yang terjadi, tapi Timothy menyuruhnya untuk tidak mendekat. Ia tahu sahabatnya perlu mencurahkan isi hatinya.
Setelah beberapa lama menangis, Emma menghapus air matanya. Ia menarik tangan Timothy dan berjalan menuju ke mobil. Keduanya masuk dan duduk di dalamnya sementara Emma mulai menceritakan apa yang terjadi.
"Orang tua kandung gue balik, Tim."
"Apa?" Timothy terperanjat mendengarnya.
"Gue ketemu sama satu wanita yang nggak gue kenal di mall sekitar sebulan lalu. Dan tiga hari lalu, wanita itu sama suaminya dan juga satu pengacara dateng ke rumah. Mereka bilang kalo gue anak mereka," Emma menghapus air matanya yang mengalir lagi.
"Jadi mobil yang parkir depan rumah lo malam itu tuh mereka?" Timothy mengingatnya saat mengantar Emma pulang beberapa hari lalu.
Emma mengangguk. "Hasil DNA juga buktiin gue anak mereka, Tim. Dan mereka tuh orang Jepang. Katanya nama asli gue Mitsu Shimada. Coba pikirin betapa anehnya itu," ia mulai frustasi. "Dimana mereka selama dua puluh empat tahun ini? Kenapa nggak cari gue lebih cepet? Apa gue lagi dijebak dalam reality show atau gimana sih? Gue nggak bisa gitu aja ninggalin Papa Mama gue yang udah puluhan tahun ngerawat gue dong."
Timothy menarik tangan Emma yang mulai mengepal begitu keras sehingga kuku panjangnya sedikit melukai telapak tangannya. "Stop, Em. Jangan coba-coba lo sakitin diri sendiri. Meskipun lo ganti keluarga dan identitas lo jadi berubah, lo tetep sahabat gue. Satu-satunya dari awal sampai selamanya. Oke?"
Emma membiarkan air matanya menetes dan kepalanya menempel pada dasbor. Hatinya terasa begitu pilu mendapati kenyataan yang tidak pernah disangkanya akan terjadi dan tidak terelakkan itu. Meski sesampainya di rumah ia menahan air matanya agar tidak mengalir, pada akhirnya ia tidak bisa menahannya lagi dan menghabiskan semalaman penuh untuk menangis.
Tidak pernah disangkanya bahwa ia harus meninggalkan orang tua yang merawatnya selama dua puluh empat tahun. Kini ia harus tinggal bersama keluarga kandung yang justru menjadi seperti orang-orang asing baginya. Berat memang, tetapi ia tidak bisa melarikan diri begitu saja menolak kenyataan.
Rumah keluarga Shimada sangat besar. Pagar tinggi dan tebal yang terlihat dari luar memang khusus dibuat untuk melindungi segala aset yang ada di dalam rumah tersebut. Karena ketika melangkahkan kaki ke dalam rumah itu, semua yang Emma lihat adalah barang-barang mewah nan berharga. Jika ini adalah sebuah film animasi, sudah pasti akan ada kilatan sinar menyilaukan yang tampak.
Kemewahan itu berlanjut sampai di dalam kamarnya, segala sesuatunya tampak benar-benar tampak berkelas. Dua lukisan besar bertemakan alam di sisi kanan dan kiri, lampu-lampu kecil disertai beberapa pot bunga menghiasi dinding yang berseberangan dengan ranjang dan area meja rias yang lengkap dengan kursi dan kaca besar. Belum lagi kamar mandinya yang seluas kamar tidurnya yang dulu. Sebagai seorang desainer interior ia mengerti bahwa pengerjaan setiap ruangan di rumah ini tidak hanya sekedar main-main. Semuanya adalah karya seseorang yang sangat ahli di bidang ini.
Rupanya, keluarga Shimada adalah pemilik restoran Jepang ternama yang ada di banyak daerah di Indonesia. Tak heran mereka memiliki aset berharga yang sangat banyak. Namun kini Emma adalah anggota keluarga tersebut. Ia masih merasa semua ini adalah mimpi semata. Jika dibandingkan, mungkin ia bisa disebut sebagai Cinderella yang bisa merubah nasibnya dalam semalam. Hanya saja letak perbedaannya adalah pada siapa yang merubah nasibnya.
Berita ini tersebar begitu cepat di kalangan rekan kerjanya dan bahkan teman-temannya yang lama entah bagaimana caranya. Emma menebak bahwa ini semua akibat salah satu teman kuliahnya yang adalah seorang jurnalis. Berita panas seperti ini tidak mungkin luput darinya. Di beberapa grup w******p dimana ia tergabung, seringkali ada pembahasan mengenai kebenaran rumor ini. Ia berusaha untuk tetap tenang dan menjawab bahwa itu benar. Banyak dari mereka berkomentar bahwa ia beruntung sekali.
Namun pada kenyataannya, tidak semudah itu. Bisa dibilang Emma justru mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan ini. Dalam proses pengenalan kembali dengan keluarga kandungnya ini, ia mengalami kendala demi kendala, salah satunya adalah merasa terasingkan. Sebagai contoh adalah ketika ia bergabung dalam makan malam bersama.
"Mitsu, uh maksud Mama, Emma, kamu nggak makan jamur?" tanya Namie setelah melihat banyak jamur yang disisihkan ke tepi piring Emma.
"Maaf," Emma menggeleng, merasa sedikit takut kalau itu bisa menyinggung.
Namie menggerakkan kedua telapak tangannya seraya berkata, "Oh, jangan minta maaf. Mama yang minta maaf karena seharusnya nggak tuangin sayur ke piringmu tanpa tanya kamu suka atau enggak."
"Siniin aja. Aku yang makan jamurnya," Matsu mendekatkan piringnya ke piring Emma.
Namun bukanlah hal yang biasa Emma lakukan untuk membagi makanannya dengan orang asing meskipun ia tidak akan memakan jamurnya. Selama ini hanya orang tuanya dan juga Timothy lah yang akan mengambil sebagian dari makanannya yang tidak ia makan, atau sengaja sisihkan untuk mereka.
"Nggak papa. Kan kamu juga nggak sentuh itu, jadi masih bersih kan?" Matsu meyakinkan Emma bahwa ia tidak keberatan. "Ya udah, aku ambil sendiri aja ya." Ia menyendok kumpulan jamur di piring adiknya itu ke atas piringnya.
"Makasih, Kak," Emma berkata dengan ragu-ragu, masih merasa tak enak hati.
"Jangan sungkan. Sebenernya dari kamu lahir, aku sudah janji sama diri sendiri untuk jagain kamu," Matsu menepuk punggung Emma.
Emma hanya bisa mengangguk dan tersenyum simpul.
"Betul. Kalian berdua itu deket banget. Setahun setelah kamu hilang, Matsu sering banget kurung diri di kamar, nyalahin diri sendiri karena lepasin tangan kamu setelah disuruh Mama jagain sebentar," Yoshi menimpali, memberikan cerita yang lebih jelas dari yang pernah diceritakan oleh pengacara keluarga Shimada.
Emma merasa tersentuh mendengarnya, tetapi pada saat yang sama mempertanyakan kebenaran itu pada dirinya sendiri. Ia masih tidak mengingat apapun. Bahkan ia masih terus merasakan kesedihan akibat berpisah dengan Sandy dan Desy. Pasalnya, merekalah yang ia kenal sebagai orang tuanya selama ini.
Namun wejangan kedua orang tuanya untuk membuka hati bagi keluarga kandungnya memberinya sedikit motivasi untuk belajar mengenal empat orang asing di depannya ini. Meskipun ia belum bisa berinisiatif untuk memulai percakapan, setidaknya ia menjawab setiap pertanyaan yang diajukan padanya dalam tahap pengenalan ini.
“Emma dari kecil udah suka sama desain interior ya?” Yoshi mengajukan sebuah pertanyaan lagi agar tidak ada suasana sepi.
“Iya, Om--Pa,” Emma benar-benar masih sangat canggung menyebut orang lain dengan sebutan yang sudah diberikannya untuk Sandy.
Yoshi tersenyum. “Masih awal, nggak papa kalau salah. Nanti juga terbiasa,” ia berusaha membuat Emma nyaman dalam keluarga itu.
“Kalau gitu pas banget dong. Kayanya perusahaan aku butuh jasa desain interior, nanti kamu yang ambil proyeknya ya,” Matsu terdengar senang. "Aku bisa ajuin ke supervisor-ku."
“Ya, boleh, Kak. Tinggal aku aturin aja,” sahut Emma. "Biasanya nanti itu aku koordinasiin langsung ke atasanku. Bisa dibilang, aku tangan kanan gitu." Perkataannya membuat semua tersenyum mendengarnya.
Makan malam itu berlangsung cukup hangat dengan obrolan ringan. Emma tidak merasa seperti diinterogasi saat ditanyai, dan ia tidak merasa terbeban jika tidak berusaha memulai interaksi. Keluarga Shimada tahu bagaimana posisi Emma saat ini dan mengupayakan segala cara untuk membuatnya merasa nyaman.
Sekembalinya Emma ke kamarnya, ia mengirim pesan pada Desy. Ia menceritakan sedikit mengenai apa yang sudah terjadi dan semua berjalan dengan lancar. Kedua orang tua angkatnya itu mengutarakan rasa bahagia mereka sebagai balasan atas laporannya.