Nana

1479 Words
Hari demi hari ia lewati di rumah tersebut. Masih saja setiap malam sehabis makan malam bersama, ia menanggalkan senyum palsu yang dipasangnya selama di depan keluarganya lalu menangis diam-diam sebelum tidur. Hatinya merasa sengsara dan terkekang meskipun sebenarnya keluarga Shimada bukanlah keluarga yang tidak mempedulikannya. Ketika pagi hari tiba, selalu ada waktu satu jam untuk melakukan ritual rutin mengempiskan mata bengkak dan wajah sembab. Ditambah dengan polesan concealer dan bedak, ia mampu menyamarkan bekas-bekas tangisannya di malam sebelumnya. Di kantor, Emma kembali memasang wajah ceria seakan menunjukkan pada semua orang bahwa ia bahagia. Namun hanya Timothy yang mengetahui perasaan Emma yang sebenarnya. Pemuda itu adalah satu-satunya tempat dimana dia bisa mencurahkan isi hatinya. Ia bahkan rela untuk menyediakan beberapa jam setiap setelah pulang bekerja demi menemani Emma menghabiskan waktu lebih di luar rumah. "Tapi lo nggak bisa gini terus, Em. Nanti lo sakit kalo dipendem aja. Coba lah lo sekali-kali ngomong sama Bu Namie. Dia toh Mama lo, pasti ngerti," Timothy menasihati sahabatnya yang tampak lunglai, ditandai dengan mata sayu. "Maksudnya gimana? Masa iya gue bilang gue nggak betah di rumah itu dan mau tinggal di rumah Papa Mama gue -- uh, maksudnya -- keluarga Pratama? Nggak lucu kali," Emma mengutarakan pendapatnya. "Nanti gue dipikir kekanak-kanakan." Timothy menghela nafas dalam-dalam, terheran akan sifat sahabatnya yang suka tak enak hati terhadap orang lain sementara perasaan pribadinya seringkali dikesampingkan. "Lo mau mati muda?" "Amit-amit! Ngomong apa sih? Ya nggak lah," sahut Emma menolak kutukan itu mentah-mentah. "Gue juga mau sukses, terus jatuh cinta, menikah, punya anak, de el el." "Nah itu tahu. Makanya jangan stres sendiri dong, Em. At least lo bisa bilang ke mereka kalo lo kangen sama Papa Mama lo. Barangkali lo bisa tinggal dua atau tiga hari di rumah mereka kaya dulu. Siapa tahu itu bisa bikin lo lebih ngerasa relaxed gitu," Timothy memberikan usulan yang dianggapnya cemerlang. (*santai) “Ya udah, tar pulang ke rumah gue ngomong deh sama Mama gue,” Emma membulatkan tekadnya. "Eh, jujur aja tapi ya, Tim. Gue tuh masih salah-salah terus loh panggil orang tua kandung gue pakai panggilan 'om' sama 'tante'. Padahal udah berapa minggu coba gue tinggal sama mereka?" Timothy mengacak-acak rambut Emma. "Ya sebenernya itu masih wajar lah," ia berpendapat. "Soalnya kan masih hitungan minggu. Kecuali lo udah tinggal sama mereka setengah tahun dan lo masih begini-begini aja, nah itu berarti lo yang lelet kaya siput." Emma mengerutkan dahinya sambil melempar pandangan pura-pura kesal pada Timothy. "Nggak usah pakai penekanan juga sih nyebut kata 'lelet'-nya. Kaya berasa ngehina gitu barusan lo," celetuknya lalu mencubit pemuda itu. Gelak tawa diperdengarkan oleh Timothy sambil mengelus-elus tempat dimana ia dicubit. "Lo tuh emang ganas bener jadi cewek sih? Makanya nggak ada cowok yang deketin lo," sindirnya. "Terus-terusin aja ledekin gue. Sampai lo puas," katanya pelan tapi tiba-tiba kedua tangannya dengan gesit mencubit kedua sisi pipi sahabatnya yang langsung mengerang. "Aduh, duh," Timothy menarik tangan Emma lepas dari pipinya lalu mengelus-elus bekas cubitannya. "Lo suka banget kali ya sama gue sampai-sampai gangguin gue terus?" "Eh? Yang ada lo tuh yang suka gangguin gue," Emma menyeruput jus alpukatnya sampai habis. Timothy meletakkan kedua tangannya di atas meja dengan tubuh condong ke arah Emma yang duduk di seberang. "Iya, gue suka gangguin lo supaya nggak ada sembarangan cowok yang bisa gangguin lo," katanya. Mendengar hal itu Emma langsung menelan ludah. Ia bertanya-tanya mengapa Timothy berkata seperti itu tetapi tidak berani mengutarakannya. "Udah jam segini nih," ia melirik jam tangannya demi mendukung topik pengalihan yang diucapkannya. Helaan nafas terdengar dari sisi Timothy. "Ya udah ayo, gue anterin lo balik," katanya. "Nggak usah dibilang juga bukannya itu emang kewajiban lo ya?" Emma terkekeh dengan lidahnya menjulur lalu bangkit dari kursinya. "Udah kaya bodyguard aja gue buat lo," komentar Timothy sembari berdiri lalu berjalan menyebelahi Emma yang hanya merespon dengan tawa. "Yang penting lo tar jadi ngomong sama Mama lo. Oke?" Emma mengangkat jemari membentuk 'OK' pada sahabatnya. Meskipun di kantor tekadnya sudah bulat, Emma kembali ragu ketika sudah sampai di rumah. Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya selama seperempat jam, menimbang-nimbang apakah ia mampu mengungkapkan perasaannya atau tidak. Akhirnya ia memutuskan untuk memberanikan diri berbicara kepada Namie mengenai hal ini. “Mama,” Emma menarik perhatian Namie yang sedang terduduk di sofa sambil menonton sebuah acara memasak di TV. Namie tersenyum. “Kenapa sayang?” Ia menginstruksikan Emma untuk duduk di sebelahnya. Dengan ragu-ragu Emma duduk menyebelahi Namie. “Aku… mau cerita, uh, sesuatu ke Mama,” ucap sedikit terbata-bata. Namie memiringkan kepalanya sambil tersenyum. Ia merasa sedikit senang karena pada akhirnya putri yang baru ditemukannya kembali itu hendak membuka diri padanya. “Oh, boleh. Cerita aja, sayang,” ia mempersilakan. Melihat semangat Namie, Emma tampak goyah. Ia takut akan menyinggung mamanya setelah mengutarakan perasaannya. “Kenapa? Nggak papa kok kalau mau cerita apa aja sama Mama.” Namie membelai punggung Emma. “Mama siap dengerin kamu.” Dengan perkataan itu, Emma memantapkan hatinya. “Ma, aku kangen Papa Sandy sama Mama Desy,” di kedua matanya air mata sudah menggenang. “Boleh nggak aku ijin untuk tinggal tigahari aja disana? Atau dua hari juga nggak papa deh.” Namie menghela nafas panjang, baru tersadar bahwa putrinya merasa tertekan berada di tempat baru. Ia tidak menyangka karena selama ini Emma selalu memperlihatkan senyuman. Rupanya karakter dan sifatnya itu menurun pada anak keduanya. Sebagai Mama, Namie merasa sangat sedih melihat putrinya merasa asing dalam keluarganya kandungnya sendiri. Ia tidak menyalahkan Emma karena selama ini ia memang hanya mengenal keluarga Pratama. Meskipun berat Emma akhirnya diijinkan untuk tinggal disana. Emma merasa begitu lega setelah mengatakannya. Ia sangat berterima kasih kepada Namie atas kesempatan yang diberikan. Tidak berlama-lama, malam itu juga ia kembali ke rumah keluarga Pratama dengan diantar oleh supir. Ia menghabiskan dua hari disana sesuai dengan janjinya. Hanya saja, kebiasaan ini tidak bisa dikendalikan. Setiap akhir minggu selama tiga bulan pertama, Emma tinggal di rumah keluarga Pratama. Awalnya semua tampak baik-baik saja, tetapi tanpa disadari hal itu berdampak besar pada kesehatan Namie. Pada saat Emma sedang berpamitan di Sabtu siang seperti biasanya, Namie tiba-tiba terduduk lemas di sofa. Kebetulan Matsu sedang ada di rumah dan melihat kejadian itu. Dengan segera ia membantu membawa Namie ke kamar dan membaringkannya disana. Dokter pribadi segera dipanggil untuk datang dan memeriksa keadaan Namie. Ia dinyatakan terlalu banyak pikiran sehingga sistem kekebalan tubuhnya menurun. Oleh anjuran dokter, ia diharuskan untuk banyak beristirahat dan seluruh anggota keluarga membantu menciptakan lingkungan kondusif bagi pemulihan Namie. Yoshi yang terburu-buru kembali dari tempat kerjanya merasa terpukul melihat istrinya jatuh sakit. Ia tidak suka melihat orang yang dicintainya dalam keadaan tak berdaya seperti ini. Seketika itu juga ia mengaitkan kejadian naas ini dengan frekuensi Emma tinggal di rumah keluarga Pratama yang terlalu sering. "Emma, kamu itu anak kandung kami. Kenapa kamu sulit sekali menerima kenyataan ini? Setidaknya kamu kasih kesempatan lebih banyak lagi untuk kenal keluargamu sendiri," keluar dari kamar Namie, Yoshi berdiri di ruang tamu menghadapi Emma. Dengan berlinangan air mata, Emma tertunduk tanpa bisa membalas ucapan Papanya. "Kami juga nggak menuntut kamu untuk pakai nama Mitsu kan? Jadi harusnya kamu juga bisa kasih usaha sebaliknya untuk bertindak jadi anak di keluarga ini. Kamu bukan tamu, tahu kan?" Pria berumur di atas lima puluh tahun itu meluapkan perasaan kecewa dengan nada geram. "Mama kamu itu nggak bisa dibuat sedih dan tertekan. Dia bisa cepet sakit gara-gara itu." "Pa, udah," Matsu mencoba menengahi. Ia merangkul adiknya sambil mengulurkan tangan pada Papanya untuk berhenti memarahinya. "Emma pasti udah paham apa yang Papa omongin." Yoshi menghela nafas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan seraya menata emosi. "Pokoknya, jangan sampai kamu lakuin hal kaya gini lagi, Emma. Papa bisa marah besar kalo kamu bikin Mamamu sakit lagi," ucapnya. "Maaf. Mungkin lebih baik aku nggak pernah ditemuin, jadi Mama nggak perlu sakit lagi gara-gara aku," sahut Emma lirih. "Kamu ngomong apa barusan? Mama kamu berusaha keras selama lebih dari dua puluh tahun untuk cari kamu dan kamu seenaknya bilang gitu? Kamu mikir nggak?" Kali ini Yoshi meninggikan suaranya terlalu keras sehingga membuat Emma tersentak dan tubuhnya mulai bergetar. “Pa, maksud Emma bukan gitu. Coba Papa tenangin emosi dulu deh,” Matsu memegangi Papanya, cemas jika ia tidak bisa menahan amarah. Yoshi menyingkirkan tangan Matsu. “Gimana Papa nggak marah kalau Emma bilang kaya gitu? Kamu tahu sendiri gimana tertekannya Mama bertahun-tahun demi cari anaknya yang hilang. Papa berkali-kali minta Mama berhenti dan relain keadaan tapi Mama nggak pernah menyerah,” ia menyeruak memberikan komentar tajam yang tidak bisa dihentikan. “Dan sekarang Emma bilang kalau lebih baik dia nggak pernah ditemuin? Itu namanya nggak bersyukur dan nggak hormat sama orang yang sayang sama dia!” Selama ini, Emma tidak pernah menerima bentakan dari Sandy maupun Desy. Ketika mereka marah padanya, tidak ada sedikitpun nada meninggi. Maka dengan bentakan yang Yoshi perdengarkan, kaki Emma sudah tidak tahan lagi untuk meninggalkan tempat di mana ia berdiri. Tanpa berpikir panjang, ia berlari keluar meninggalkan rumah itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD