Membuat perempuan itu menghela napas lega, seolah membebaskan beban yang sedari tadi menggelayuti dadanya. Saat pintu ditutup oleh Daffa dengan gerakan yang begitu santai namun mengandung ketegasan, Dara memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi. Uap hangat menyambutnya, merayapi kulitnya dengan lembut, membelai tubuh yang terasa lengket oleh sisa peluh dan kegelisahan yang belum sepenuhnya luruh. Di dalam kamar. Daffa tengah mengecek CCTV di ruangan tengah, matanya menyipit saat layar menampilkan rekaman beberapa menit yang lalu—detik-detik sebelum amarah Dara meledak tanpa aba-aba. Sepuluh menit setelah perempuan itu masuk ke dalam kamar, sebuah pencerahan menghampirinya. Lalu, kepalanya manggut-manggut, bibirnya melengkung membentuk senyum yang penuh arti. “Jadi, karena kamu

