Daffa tersenyum miring, sudut bibirnya terangkat dengan misteri yang menggoda. “Cinta seorang pria bisa ditunjukkan saat menyentuh wanitanya. Apa yang kamu rasakan saat disentuh Daiva? Adakah cinta di dalamnya?” Dara menggeleng pelan, sorot matanya meredup bagai malam yang kehilangan bintang. “Perlakuannya kasar, menuntut, dan sering membuat saya kesakitan.” Daffa mengangguk paham, matanya menyelami luka yang tak terlihat di balik kata-kata Dara. “Karena Daiva tidak mencintaimu. Dia hanya menginginkanmu. Aku akan membuktikannya padamu setelah kita menikah nanti.” Ia terdiam sejenak, lalu suaranya melembut seperti angin yang menyusup ke sela-sela hati Dara. “Untuk saat ini, kamu pasti akan menolak berhubungan denganku.” Kemudian pria itu bangkit dari duduknya, langkahnya goyah, tubuhnya

