Maya baru tersedar dari tidurnya. Dia merasa kepalanya sedikit pusing , mungkin kerna terlalu lama tidur. Maya membuka matanya perlahan - lahan dan melihat di sekitarnya. Maya sedikit terkejut kerna kini dia bukan berada di villa Rafael.
"Ini bukan villa Rafael... Dimana aku?"
Maya melihat sekelilingnya dan mendapati dia berada di sebuah kamar yang agak kecil, tetapi kamar itu terawat dan mempunyai beberapa kelengkapan seperti tempat tidur dan kamar mandi.
Maya memegang perutnya yang masih rata.
"Mama akan menjaga mu dengan baik anak ku.."
Maya bangun dan mencuba membuka pintu kamar. tetapi kamar itu di kunci.
"Ya tuhan .. apa lagi dugaan yang aku hadapi sekarang... dimana aku??"
Maya pergi ke jendela untuk melihat keadaan di luar. Jendela kamar itu terkunci dan menggunakan cermin yang gelap sehingga Maya tidak melihat apa-apa.
Pintu kamar Maya di buka. Terlihat Bibik sedang membawa sepiring makanan untuk di hidangkan kepada Maya.
"Bik... Kamu??? kita berada di mana sekarang bik?? Mana Rafael???"
Maya yang melihat bibik tiba- tiba muncul dari di balik pintu itu. Maya terus melontarkan bermacam persoalan yang kepada Bibik. Dia sangat takut jika sesuatu terjadi kepada dirinya dan juga calon anaknya.
"Neng...Makan dulu makanannya... Nanti Bibik ceritakan semuanya..."
"Tidak bik... Aku tidak akan makan selagi kau tidak beritahu padaku.. Apakah kau juga salah seorang pengikut Mikael yang ingin mencelakai ku??"
Maya memegang perutnya yang masih rata. Dia takut seperti anak dalam kandungan akan di apa-apa kan. Maya merasa dirinya sekarang sudah tidak selamat. Dia tidak mempercayai sesiapa pun sekarang. Kecuali Rafael. Hanya Rafael yang boleh Maya percayai sekarang.
Tiba- tiba Maya teringat tadi dia mencoba membuka pintu itu tapi telah berkunci. Kenapa Bibik boleh membuka pintu itu.
"Tidak neng.. Bibik tidak ingin mencelakai neng Maya.. Percaya kepada Bibik neng.. Belum tiba waktunya bibik memberitahu neng.. Tapi sekarang Neng Maya harus makan.. sejak pagi tadi neng hanya makan bubur sahaja... Sekarang sudah waktu malam neng ".
Maya tidak tahu harus percaya atau tidak. Dia takut bibik hanya bermuka dua di hadapannya. Tapi dia juga harus makan. bukan sahaja untuk dirinya. tetapi juga untuk bayi dalam kandungannya.
" Emmmm.. jika benar kau tidak mencelakai ku. Aku mau kau memakan sedikit makanan dan minuman ini. Aku tidak mau mati di sebabkan termakan racun "
"Baik neng.. kalau itu yang neng mahukan."
Bibik mencicipkan sedikit makanan yang di bawanya. Baru lah Maya percaya bahawa makanan itu tidak mengandungi racun. Tapi Maya bukan seorang yang cepat berbaik sangka. Dia masih merasa khawatir jika bibik hanya berbohong kepadanya.
Mata bibik kelihatan seperti menahan air mata. Mungkin kerna Maya sudah tidak mempercayai nya lagi.
" Baiklah.. aku akan memakan nya.. Kau boleh keluar sekarang".
Maya masih bersikap tidak acuh terhadap Bibik. Dia bukan ingin memusuhi Bibik. Tapi Maya hanya takut dirinya dan bayinya di apa-apakan.
Maya menghabiskan makanan yang di berikan oleh bibik. Dia sebenarnya sangat lapar kerna hanya memakan bubur pagi tadi.
Sebenarnya banyak lagi pertanyaan yang ingin Maya tanya kan kepada bibik. Tetapi di sebabkan keraguannya terhadap bibik. Di tangguhkan dulu persoalan yang ada di fikirannya.
Maya baru menyedari kamar yang dia tempati ini memiliki cctv. Kerna itu lah Bibik menghantarkan makanan kepadanya sejurus dia bangun dari tidurnya yang panjang.
Maya mencoba lagi membuka pintu kamarnya. Maya sedikit terkejut pintu yang tadi berkunci kini tidak berkunci lagi. Maya terus berlari menuju pintu utama. Tapi sayang pintu utama itu berkunci.
Maya mencari- cari telefon yang berada di rumah itu. Tapi Maya tidak menemui apa-apa. Rumah itu tidak lah terlalu besar. Hanya sederhana dan kelihatan rapi.
Maya berjalan-jalan di sekitar Rumah itu. Sepertinya rumah itu tidak berpenghuni. Tidak tahu di mana keberadaan Bibik sekarang. Maya sepertinya tidak ingin ambil tahu. Sedang Maya melihat - lihat sekeling rumah itu Maya terpandang pada bingkai gambar seseorang pada dinding berdekatan dengan tv.
Di sebabkan lampu yang berada di ruangan itu tidak terlalu terang. Maya menghampiri foto berkenaan untuk melihat lebih dekat.
Maya terkejut melihat foto tersebut. Maya hampir- hampir menjatuhkan Foto itu ke lantai.
"Apa yang sebenarnya berlaku.. kenapa fotonya papa bersama bibik..?"
Maya telah melihat foto perkahwinan bibik bersama pria yang seperti mirip ayah nya. Walaupun foto itu sudah lama kerna terlihat bibik kelihat masih muda. Di sebelah foto itu terlihat satu lagi foto bibik dengan kandungan yang besar dan di peluk oleh pria yang sama. Dia sangat terkejut dengan foto itu.
"Benar kah itu papa??" Papa sering keluar kota bersama Tuan Marfin. Tidak mustahil papa berlaku curang terhadap ibu.."
Maya bermonolog sendirian. Sedang dia berfikir- fikir mengenai foto yang di lihatnya. seseorang seperti sedang membuka pintu utama. Maya bergegas kembali semula ke kamarnya.
***********
Maya sepertinya tidak dapat melelapkan matanya. Bukan kerna dia lapar tetapi dia tidak dapat melupakan apa yang di lihat nya beberapa jam lalu. Selain Maya berfikir- fikir bagaiman dia boleh berada di sini. Dia juga memikirkan tentang Bibik dan lelaki yang mirip papanya.
" Apa harus aku bertanya saja kepada bibik.... Kalau bibik punya anak.. Kenapa bibik tidak memberitahu ku.. Aduhhh... "
Maya segera bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah pintu kamar. Tetapi dia kembali semula ke tempat tidurnya.
"Aduh... kan sekarang sudah tengah malam.. Pasti bibik sudah tidur".
Maya melihat pada jam dinding yang berada di kamar itu sudah menunjukkan pukul dua belas tengah malam.
Selepas berjam-jam Maya memikirkannya. Maya akhirnya tertidur dalam keadaan masih tertanya-tanya. Tekadnya akan bertanya kepada bibik bila dia bangun pagi nanti.