POV Mahendra 2

1333 Words

“Sayang, kenapa nggak dimakan sarapannya? Aku udah capek-capek masak, loh.” Aku mencondongkan tubuh sedikit ke meja makan, mencoba melihat wajah Ayla yang dari tadi cuma menunduk sambil memainkan sendok—tanpa menyentuh makanannya sedikit pun. Dia tidak menjawab. Cuma melirik sebentar, lalu langsung membuang muka. Dari hidungnya keluar dengkusan kecil—mirip banteng yang dicuekin pas Valentine. Rambutnya masih awut-awutan, dengan satu helai berdiri tegak di atas kepala—mirip antena mencari sinyal. Wajahnya masih penuh bekas bantal, pipinya agak merah, dan bibirnya sedikit manyun karena kesal. Tapi entah kenapa, justru sekarang dia kelihatan cantik banget. Manis, polos, dan agak menyeramkan. Kombinasi aneh— tapi bikin jantungku berdebar kencang. “Sayang,” aku coba memanggil lagi, lebih

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD