Terpergok

1608 Words
“Apa katamu? Taruhan?” Kembali, gadis berambut panjang dengan cat coklat karamel itu mengulang pertanyaannya. Matanya mulai menyelidik satu per satu cowok yang sangat dia kenal tentunya. Dimulai dari Yanuar yang diam-diam mengumpat terkejut, Hansel dan Carol yang diam dan juga William yang nampak terkejut dengan keberadaan sepupunya itu.  “Ah, kamu salah dengar Nora. Kamu kenapa ke sini?” Yanuar berusaha untuk mengalihkan perhatian Aruna. Namun, gadis itu mengibaskan lengan kanannya. “Aku enggak peduli kalian mau taruhan apa, tapi ….” Seketika semua orang menegang mendengarnya. “Kalian menggunakan Larasita untuk taruhan?!” sentaknya dengan penuh emosi. Semuanya diam. Termasuk William yang tak memiliki penjelasan apa pun untuk itu. Kenyataannya memang  benar begitu.   Lantas Aruna maju mendekati William. Dia berdiri, menatap sepupunya tak kalah tajamnya. “Langkahi dulu mayatku kalau kamu sampai mau melakukannya,” ancamnya. Kata-kata tajam yang sama karakternya dengan William saat emosi. Ketiga cowok lainnya tak berani melerai keduanya. “Harus banget gue nurut sama lo? Ngayal!” William masih tak mau mengalah. “Mudah. Tinggal gue bilang sama Kakek soal kelakuan lo di sekolah.” Satu ancaman yang berhasil membuat William bungkam saat itu juga. Dia tak pernah menyangka kalau Aruna akan melakukan itu. “Ingat. Kakek bisa buat lo bertekuk lutut. Kalau lo sampai enggak putus sama Larasita, gue yang akan sukarela cerita sama Kakek,”ancam Anura sambil meninggalkan William. Bahkan dia sendiri tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh geng Wolf Cave dengan taruhan itu. Sungguh dirinya tahu betul bagaimana Larasita dan juga William. Dia memang tak percaya kalau William pacaran dengan suka rela dari hatinya dengan Larasita.   Melihat Aruna yang pergi begitu saja memunculkan emosi William. Brug! “Sialannn!” teriaknya memaki. Dia membanting helmet yang ada di tangannya. Semua teman-temannya pun diam, tak bisa ikut campur sama sekali. Bukan ranah mereka jika sudah menyangkut antara Aruna dan William. “Lo jadi balik?” tanya Hansel yang menepuk pelan pundak William. “Enggak. Gue ke klub!” desis William yang kemudian mengambil helmet yang dia lempar tadi. Dia pun segera mengendarai motornya menuju tempat yang dia jadikan pelepasan amarahnya. ***   Larasita sebenarnya diam-diam mengintip melalui gorden rumahnya yang lapuk dan usang. Sedikit memperhatikan William yang tengah memutar motornya. Dia benar-benar tak mau sama sekali berhubungan dengan William. Dirinya sungguh hanya ingin kehidupan normal sebelum lulus. Baginya, berhadapan dengan orang-orang biang onar hanyalah mencari masalah. Larasita baru duduk tenang saat motor William sudah pergi jauh. Dia pun segera berganti seragam, dirinya akan ikut berjaga di salah satu kafe tak jauh dari rumahnya. Seorang pekerja paruh waktu yang terpaksa dia lakukan demi menunjang keuangan dirinya. Kemiskinan yang melanda membuatnya harus dengan ekstra banting tulang agar sekolahnya bisa aman.   Dikuncinya pintu rumah yang sudah reyot itu. Lantas kunci itu diselipkan di bawah pot tanaman depan rumahnya. Segera Larasita berlari menuju halte dekat rumahnya untuk naik angkot gratis yang disediakan oleh pemerintah dengan hanya menempelkan kartu saja. Dirinya sudah aman dan selamat tiba sampai tujuan. Tangannya mendorong pintu kafe bernama ‘Amora’ itu. Lantas segera menuju ke dapur, di mana ruangan para staf berada.   “Halo Kak Jes, aku tidak terlambat kan?” tanyanya pada manajer yang juga masuk hari ini. Wanita berusia 30 tahunan yang disapa itu pun berbalik dan tersenyum senang. “Wah … kamu datang ya? Ya sudah siap-siap sana. Tenang saja, kamu tepat waktu kok, Laras.” Larasita tersenyum saja, dia segera menaruh tas kecil miliknya dan segera melakukan tugasnya untuk mencuci piring dan membantu menggoreng kentang. Hal yang selalu dia lakukan kala dirinya bekerja di kafe ini. Tak ada keluhan dari bibirnya. Dia akan melakukan apa yang diminta manajer ataupun staf lainnya. “Laras, kamu buang sampah dulu nih,” teriak staf pria yang biasa berada di dapur. “Iya Mas Pur.” Segera saja Larasita membawa dua kantung besar berisi sampah dari dapur menuju ke belakang kafe. Tempat di mana bak sampah besar berada.   Sekembalinya dari belakang, dia sudah kembali dipanggil. “Laras, tolong antar makanannya di meja 21 ya? Aku kebelet banget!” Kembali Larasita melakukannya. Mencuci tangannya dan segera membawa baki berisi makanan ke meja yang disebutkan tadi. “Ini makanannya, mohon diperiksa lagi, ada yang kurang apa tidak,” ucapnya dengan kepala menunduk dan juga tangannya sibuk memindahkan makanan dan minuman ke meja itu. Tanpa tahu kalau pengunjung yang berada di meja itu adalah William. William pun ikut terkejut melihat kehadiran Larasita. Dia masih diam, begitupun teman-temannya yang lain. Mereka sama-sama tak bersuara. “Lo kerja di sini?” tanya William. Mendengar suara William, seketika Larasita mengangkat wajahnya. Dia sedikit terkejut, namun dengan cepat gadis itu merubah ekspresi wajahnya. Tersenyum kepada WIlliam dan teman-temannya. “Ada yang kurang?” tanyanya kembali. Dan itu bukan jawaban untuk pertanyaan William. Semua yang diam pun membuat Larasita pada akhirnya pergi.   “Gue enggak nyangka Laras kerja di sini juga, “ gumam Hansel. Diangguki oleh Yanuar dan Carol. Keduanya sama-sama setuju dengan ucapan Hansel. William sendiri semakin pusing memikirkan ucapan Aruna kemarin. Dirinya seolah sedang dibuat bingung antara mempertahankan egonya atau melepaskan Larasita. Seharusnya tadi dia berada di klub saja tanpa harus repot-repot duduk di kafe kalau bukan karena cewek yang tadi nekad menyatakan perasaannya juga berada di sana. Seperti penguntit. Dia segera meminum minuman pesanannya. Sungguh mulutnya terasa asam karena tak merokok. Dia hanya sedang menahan diri, ketahuan merokok akan menjadi masalah tambahan saat ini kalau sampai Aruna benar-benar mengadukannya. Dia mengabaikan teman-temannya yang asyik berbincang, sementara dirinya terus memperhatikan keberadaan Laras yang sedang mengantarkan makanan ke meja lainnya. Dia benar-benar tak tahu kalau seorang Larasita masih harus bekerja seperti saat ini. William melihat ke arah arloji yang ada di pergelangan tangannya. G-shock hitam seri limited original yang tentunya berharga di atas dua juta itu. Sudah pukul sembilan malam namun Larasita tak kunjung beristirahat. Ada rasa tak senang saat menyaksikannya. Lima belas menit, Larasita tak lagi keluar. William pun merasa ingin tahu. “Gue ke wc dulu,” ucapnya kepada temna-temannya.   William malah melipir, menuju dapur setelah bertanya pada kasir. “Mbak, Larasita di mana ya? Saya temannya, ada perlu,” “Oh, biasanya di dapur sih. Mau dipanggilin?” “Enggak deh, biar saya aja ke sana.” “Tapi enggak boleh.” Larangan itu berganti sebuah izin begitu William menyisipkan dua lembar uang berwarna biru. Tentu saja kasir itu segera tersenyum ramah dan mempersilakannya. William hanya menunggu di pintu dapur, melihat bagaimana Larasita sedang menggoreng kentang. Dia segera mengikuti Larasita saat gadis itu membawa dua kantung besar berisi sampah. William menunggu. Dia berdiri dan bersandar di tembok sambil tangannya merogoh saku jaketnya. Mengeluarkan sepuntung rokok. Seperti biasanya, dia akan merokok selagi menunggu. Meski dia bukan orang adiktif tapi tetap dia menginginkan sedikit saat menghilangkan bosan menunggu.   Larasita masih tak menyadari kehadiran William yang tengah menontonnya memilah sampah. Dia sendiri berjongkok lantas segera memilah sampah-sampah. Yang mana yang organik dan non organik. Yang mana yang kaca dan plastik. Semuanya dia lakukan karena kafe ini memintanya untuk memilahnya. Masih dengan pikiran yang tak aneh-aneh tentunya, Larasita memanfaatkan waktu membuang sampah sebagai waktu istirahat colongan. Kapan lagi dia beristirahat? Di dalam benar-benar ramai karena jumat malam, waktu di mana semua sedang mencari hiburan ataupun berkencan. Larasita menghela napasnya berat, dia benar-benar merasa lelah namun tak bisa mengeluh sedikit pun. Yang ada di hanya menatap kosong bak sampah tanpa terganggu sama sekali.   Sementara William pada akhrinya sudah menghabiskan satu puntung rokok pun mulai beranjak dan mendekati Larasita. “Ck!” Dia berdecak sampai membuat Larasita pun menoleh dan terkejut melihat siapa yang berdiri di belakangnya. “Lo ngapain sih di sini? Ngelamun lagi, bagus-bagus enggak kesambet,” omel William. “Kok kamu di sini?” tanya Larasita masih tak bisa berpikir alasan kenapa William ada di sini. “Emang enggak boleh? Suka-suka gue lah.” Jawaban arogan yang tentunya akan diabaikan oleh Larasita. Gadis itu bangun, menepuk--tepuk celana kerjanya lantas pergi meninggalkan William begitu saja. William benar-benar terkejut, dia diabaikan begitu saja oleh Larasita? “Lo kok pergi sih?” Dia mulai merasa marah. “Saya kerja.” Jawaban singkat yang dimaksudkan kalau memang dirinya tak bisa membuang-buang waktu dan tak berharap kalau William akan mengerti soal itu.   Kembali Larasita melakukan pekerjaannya dan WIlliam pun kembali ke kursinya, tempat di mana teman-temannya tengah mengobrol santai. “Lo abis dari mana sih? Udud bisa di sini kali,” sela Hansel. William memilih duduk dan diam. Lantas dirinya memejamkan matanya. Merasa mengantuk dan tertidur, mengabaikan obrolan dan tawa dari teman-temannya. William hanya perlu menunggu Larasita pulang. Entah kenapa dirinya ingin mengantar gadis itu pulang ke rumah. Ada setitik rasa khawatir di dalam dadanya, ingin menjadi pelindung Larasita.   “Ras, lo dicariin tuh,” seru wanita yang bekerja menjadi kasir itu. “Sudah kok Mbak.” “Oke.” Larasita segera membersihkan dapur. Hari ini sudah selesai dengan kafe tutup di jam 12 malam. Dia menghela napasnya, sedikit resah karena artinya dia harus pulang menggunakan ojek online. Sangat berat untuknya mengeluarkan uang ongkos. Dirinya bersiap mengepel kafe, tapi dia memandangi sekumpulan orang yang juga belum pulang. Siapa lagi kalau bukan geng Wolf Cave. Dia menghela napasnya. “Kenapa kalian belum pulang? Kafenya sudah mau tutup,” ucapnya sambil membawa kain pel. Hansel dan Yanuar mengangkat pandangan mereka dan melihat sosok Larasita yang berdiri di depan mereka. “Sorry, bukannya enggak mau. Tapi kami enggak berani bangunin William.” “Kok begitu?” Kali ini Larasita menjadi protes dengan aksi jawaban itu. “Ya lo coba aja.” Larasita menggigit bibirnya, dia benar-benar bingung. Kenapa dirinya mesti membangunkan William? Namun, dia dikejar waktu. Pada akhirnya dia berusaha membangunkan William. Dia menggigit bibirnya, bingung. Harus dipanggil apa William ini? “Ehm … Wil, ba--bangun!” sentaknya. Grep! Brug! Dug! “Akh!”    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD