Ilmu Pertahanan Diri

1602 Words
“Akh!” Larasita menjerit nyaring saat tangannya malah ditarik sampai tubuhnya tersungkur ke bawah. sampai tubuhnya benar-benar berada di bawah William. Bahkan belum sampai tiga detik, tubuh Larasita sudah terputar menjadi di bawah dan ditindih oleh tubuh jangkung milik William. Larasita meringis merasakan punggungnya nyeri buka main karena dibanting. William yang refleks melakukan bantingan dengan jurus bela diri yang dipelajarinya pun sudah sadar. Tangan kanannya bahkan terangkat bersiap meninju siapa yang ada di bawahnya. “Lo--” Dia tercekat begitu menyadari siapa yang tadi dibantingnya. Sementara Yanuar dan Hansel sudah meringis memikirkan bagaimana rasanya dibanting oleh William. Sementara Carol segera menarik Larasita bangun. “Kamu enggak apa-apa?” “Ti--tidak apa-apa.” Jawaban singkat yang diberikan oleh Larasita padahal gadis itu merasa shock bercampur dengan nyeri di punggungnya. Dia tak menyangka kalau William akan melakukan itu padanya. Jantungnya serasa sedang meluncur ke bawah dengan cepat, terbayang jelas bagaimana dirinya sudah bertukar posisi dengan William. Dia sendiri masih merasakan takut yang teramat sangat.   “Kalian segera pulang, kafenya sudah tutup,” bisik Larasita yang sudah tak kuat mengeluarkan suara sama sekali. Bahkan kakinya sendiri serasa tak menapak di atas tanah. Tarikan gaya gravitasi amblas begitu saja karena perbuatan William. Dia menunduk dan segera menyingkir saja dari geng Wolf Cave. Tak pernah tahu kalau seberbahaya itu. Dia benar-benar hampir mencari mati. Bahkan bisa jadi malah memunculkan trauma di dalam kepalanya.   Buru-buru Larasita kembali ke dapur. Dia segera melepaskan apron yang terikat di pinggangnya, yang membantu agar kotoran tak menempel ke bajunya. Tangannya membuka loker di mana tas dan ponsel miliknya tersimpan di sana. Baru saja di menghela napasnya yang dirasa berat, saat itu juga dia meluruh. Tubuhnya merasa lemas bukan main. Dua kali dirinya dibuat jantungan hari ini oleh orang yang sama. Dadanya terasa dihimpit saat kepalanya mengingat bagaimana tubuhnya dibanting begitu saja. Sementara William sendiri masih duduk bengong. Dia kehilangan akses fokus di dalam pikirannya. Di kepalanya jelas-jelas tersimpan wajah pucat dan ekspresi ketakutan milik Larasita. Dia benar-benar tak menyadari sama sekali. Selama ini, dia selalu refleks membanting siapa pun yang mengganggu tidurnya. Termasuk Aruna yang juga pernah dibanting olehnya. “Lo kenapa enggak bangunin gue sih?” protesnya kepada teman-temannya yang juga sedang saling diam. “Kita-kita udah tahu lah kalau lo bakal banting kita kalau dibangunin. Makanya gue minta Laras yang bangunin, tapi lo banting dia anjir. Mana kenceng,” jelas Hansel yang masih menggelengkan kepalanya, merasa tak percaya. “Badannya remuk enggak tuh,” celetuk Yanuar yang ikut meringis memikirkannya. Semakin merasa bersalah lah William. Dia benar-benar merasa khawatir saat itu juga. “Lo jemput Aruna, buat periksain Larasita,” pintanya pada Hansel. “Ya kali malem-malem begini, disantet gue sama kakek lo. Enggak! Lo bawa ke dokter aja.”   Bodoh sekali dirinya, kenapa tak terpikiran untuk membawa saja ke klinik 24 jam? “Lo pada balik duluan aja kalo gitu.” Sementara William pada akhirnya menunggu di luar sampai Larasita keluar dari kafe. Dia menunggu selagi Larasita bercakap dengan salah satu pegawai kafe tersebut. Dia menunggu selagi Larasita meminjam ponsel. “Kak, aku pinjam HP boleh? Buat pesan ojek,” pinta Larasita. “Boleh kok, nih.” Larasita segera mengutak-atik ponsel itu. Dia segera memesan ojek agar tak kemalaman. Semakin malam semakin dirinya takut juga. “Udah Kak, terima kasih.” “Lo mau nunggu? Ditinggal enggak apa-apa? Soalnya gue mesti jemput anak gue nih.” Larasita tersenyum saja, “enggak apa-apa kok. Kan di sini ramai, Kakak pulang saja.” “Ya udah, hati-hati ya? Kabari kalau ada apa-apa.” Setelah Larasita mengangguk, saat itu juga karyawan terakhir yang menemaninya pun pergi. Dia berdiri sendirian dan tak menyadari kalau William ada di belakangnya. Berlipat tangan di dadanya dan terus saja memperhatikan Larasita.   Gadis itu semakin meringis, merasakan punggungnya nyeri bukan main. Rasanya dia ingin menangis saja karena ulah William. Dia ingin sekali mengecek punggungnya yang dirasa memar saat ini. Dia melambaikan tangan saat melihat motor dengan pengemudi yang memakai jaket hijau. Meminta driver itu menyeberang tentunya. Dia senang mendapati driver itu semakin dekat. Saat dirinya menerima helmet untuk dipakai, saat itu juga ada tangan terulur dengan uang yang terlipat. “Pak, maaf enggak jadi. Ini ongkosnya, kembaliannya ambil aja,” ucap William. Larasita berbalik dan matanya membulat penuh, terkejut melihat kehadiran William yang ada di belakangnya. “Ka--kamu--” “Eh, beneran ini?” Pengemudi itu pun merasa tak percaya. Segera saja Larasita menyambar, “enggak Pak. Saya jadi kok.” Dia masih memegang helmet milik pengemudi. “Bapak ambil aja cepetan ongkosnya. Ini pacar saya lagi ngambek.” William bahkan merebut helmet yang ada di tangan Larasita dan segera menyerahkannya. Larasita ingin merebutnya namun tak bisa dijangkau olehnya. “Aduh, ya udah deh. Makasih ya Mas?” Ucap pengemudi itu sambil menerima helmet dan uang yang terbilang jumlahnya besar. Segera saja dia berbalik pergi sementara William masih memegangi salah satu tangan Larasita. “Kamu apa-apaan sih? Saya pulangnya bagaimana?” Larasita kali ini melemparkan keberatannya. “Ck! Lo b**o apa gimana sih? Ya lo balik sama gue.” “Kenapa saya harus sama kamu?” Larasita merasa keberatan. Dia selalu mendapatkan masalah jika bersama William. Baginya, William harus dijauhi.   William tak senang dengan jawaban Larasita. “Ck! Lo tuh -- ikut aja kenapa? Emangnya lo bakal balik sama siapa? Ojek lo udah pergi.” Larasita semakin merasa tak senang, raut wajahnya tak menampilkan sarat akan kesediaan dirinya untuk pulang bersama William. Namun, dia tak punya pilihan lain saat ini. “Kenapa saya harus selalu sama kamu? Ada urusan apa kita?” Kembali Larasita bertanya. William tak senang dengan ucapan Larasita saat ini. “Kalo lo lupa, lo itu cewek gue. Enggak ada yang enggak wajar kalau pacarnya nganter balik.” “Saya tidak pernah menjawab iya untuk pertanyaan kamu saat kemarin itu.” William memandangi Larasita penuh rasa tak percaya. Bagaimana bisa gadis itu mengucapkan hal itu. Dia sungguh tak pernah mendapatkan penolakan sebelumnya. “Lo tahu? Gue tadi barusan aja nolak cewek, dan lo? Lo nolak gue?” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan respon sang kekasih, meskipun hanya kekasih akibat taruhan saja. Tapi entah kenapa dirinya merasa ingin sekali diakui oleh Larasita akan status mereka.   “Naik. Gue enggak nanya kedua kalinya. Lo enggak mau, gue tinggal,” ancam William. Larasita bukan gadis bodoh yang bisa dibilang akan mempertahankan harga dirinya ketika dirinya saat ini membutuhkan pertolongan untuk pulang. Pada akhirnya Larasita memakai helmet yang disodorkan oleh William. William menyeringai kecil di balik helmetnya, menyadari kalau Larasita akan memilihnya saat ini. Karena dirinya adalah pilihan terakhir baginya. Larasita kembali merasakan canggung saat tangannya menyentuh bahu milik William dikarenakan dia tak bisa naik motor besar tanpa bantuan bahu itu. Sedikit banyaknya dia merasakan ada getaran saat dirinya menyentuh salah satu bagian tubuh pria itu. Meskipun masih terhalang oleh jaket Levis. Dia berusaha mengangkat kakinya, merasakan punggung dan pinggangnya nyeri. “Pegangan!” sentak William yang tiba-tiba saja menginjak perubahan gear dan juga tangannya memutar pedal gas.   Larasita kehilangan keseimbangan pun terdorong ke depan sampai-sampai dadanya menempel di punggung William. Deg! Deg! Deg! Jantungnya semakin berdetak cepat memompa darah yang mengalir di seluruh tubuhnya. Dia sendiri sampai refleks memundurkan tubuhnya. Entah kenapa sekarang wajahnya begitu panas bukan main ditambah dengan dadanya berdebar kencang. Sama seperti William. Dia sedikit kaku setelah merasakan ada yang menempel di punggungnya. Dia sampai menahan napasnya sebelum akhirnya Larasita mundur kembali. “Makanya pegangan!” sentaknya kembali. Mau tak mau, suka tak suka, Larasita pun mengulurkan tangannya, memegangi sisi jaket milik William yang ada di daerah pinggang cowok itu. Larasita meremasnya. William berdecak kesal. “Ck! Lo pegangan enggak sih?” “Pegangan kok! Di jaket kamu.” William sudah kehilangan kata-katanya. Dia tak bisa mendorong Larasita untuk berpegangan padanya. Sebenarnya dia juga bingung, kenapa dirinya berharap kalau Larasita bisa memeluknya? Apa hasrat laki-lakinya menginginkan Larasita? Dia sadar kalau cewek itu masihlah polos otaknya.   Motor mahalnya dengan tipe Z800 sama sekali tak bisa dibawa pelan. Setidaknya William memilih menggunakan motor itu saat jalanan Ibu Kota lengang sampai dirinya bisa memainkan akselerasi tinggi tentunya. Tangannya dengan lihai memutar pedal gas agar motornya bertambah cepat. “Lo mesti peluk gue kalau enggak mau jatuh. Motornya overheat,” teriak William dari balik helmet. Seketika tubuh Larasita hampir saja oleng dan tangannya refleks berpindah memeluk perut William erat. Dia yang tersentak pun sampai memejamkan matanya, merasakan kalau dirinya seolah sedang siap dijatuhkan dari atas motor. Entah kenapa kali ini dia benar-benar ketakutan dengan kecepatan motor yang dikendarai oleh William. Tangannya memeluk erat perut rata William. William menjadi tersenyum senang mendapati Larasita benar-benar memeluknya. Tak sia-sia dirinya membawa motor berharga ratusan juta itu, tanpa ada udang di balik batu ternyata dirinya bisa mendapatkan maksud lainnya.   Brrruuummmm! Bruuuumm!!! Terus saja motor William meliuk di jalanan, dia benar-benar bebas mengendarai motornya hanya karena lengang. Satu dua kendaraan bisa disalip tanpa ada kendala. Kakinya lancar mengganti level gear ataupun mengerem. Sementara yang dibonceng sudah berdoa dalam hatinya terus menerus agar bisa selamat sampai rumah. Ingin Larasita teriak namun suaranya hanya sampai di pangkal tenggorokannya saja. Yang ada dia hanya bisa memeluk William erat-erat sampai tubuhnya benar-benar bergetar ketakutan. Angin malam yang menerjang pun tak sopan melibas tangan dan sisi tubuhnya. Dia benar-benar tak terlempar dari atas motor berkat tubuh besar William menghalangi tekanan angin.   Larasita terus saja memejamkan matanya rapat-rapat, dia benar-benar sudah hampir kehilangan nyawanya. Sampai tak terasa kalau motor sudah berhenti di depan klinik 24 jam yang dimaksudkan oleh William di dalam pikirannya. “Turun,” perintahnya. Larasita pun membuka matanya, tangannya refleks melepas begitu saja. “Ini di mana?” tanyanya dengan suara yang sudah terjepit. “Klinik. Gue mau tanggung jawab.” “Tanggung jawab?”    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD