“Ayo.” William sudah turun dari motornya dan saat ini dirinya pun sudah melangkah, masuk ke dalam klinik dan juga menjauhi Larasita yang masih saja nampak kebingungan.
Dalam pikiran remaja itu yang ada adalah sebuah hal negatif. Bertanggung jawab? Tunggu sebentar, dirinya tak kenapa-kenapa bukan? Mendengar kata itu malah konotasinya menjadi sebuah arti yang paling tak mau dia alami.
Bertanggung jawab? Dikatakan kepada seorang wanita? Maka artinya … tunggu-tunggu! Dia tak harus melakukan itu bukan? Mereka tak melakukan apa-apa yang melanggar norma, agama dan juga di luar etika!
Dia tak hamil!
Buru-buru Larasita berlari mendekati William. Gadis itu berdiri di samping William dengan napas yang tergesa-gesa.
“Ngapain lo lari-lari sih?” William berdecak, keheranan dengan apa yang dilakukan oleh Larasita.
“Mau apa kita ke klinik?” tanya Larasita sedikit was-was.
“Gue mau tanggung jawab.”
“Saya harus menemani kamu?” tanya Larasita kembali.
William menoleh, menatap lama wajah Larasita. Mata bulat yang nampak polos tanpa ada hal lain di dalam irisnya dengan wajah tirus benar-benar mengkombinasikan bagaimana Larasita benar-benar tercipta dari sang Tuhan.
Entah kenapa, William begitu tenang melihat wajah itu.
William menarik napasnya, tenang. Namun, matanya masih saja menatap Larasita yang juga menatapnya dengan wajah bingung.
Sedikit dia mencondongkan wajahnya sampai jarak mereka lumayan dekat. Dengan tubuh Larasita yang pendek dan juga mudah untuk dijangkaunya.
“Ya, lo harus.”
Larasita hanya menghela napasnya.
Kembali William berbalik dan melangkah disusul oleh Larasita yang kebingungan. Kenapa dirinya yang harus menemani cowok itu bukannya si cowok harusnya mengajak cewek yang memang pantas mendapatkan tanggung jawab itu?
Segera Larasita menghadang tubuh William. “Kamu harusnya mengajaknya bukan saya, lagipula ini sudah malam. Saya harus segera pulang,” tutur Larasita.
William sedikit terdiam, sejak kapan seorang Larasita berani berbicara panjang dan terlebih dahulu dari pada dia?
Sebuah kemajuan yang bisa dia saksikan untuk saat ini.
“Ya gue udah ngajak kali.”
“Mana?” Tentu saja Larasita celingukan mencari di mana sosok yang memang seharusnya ada di sini itu.
“Di depan gue.”
Jawaban yang patut diacungi jempol bagi Larasita. “Saya tidak menerima tanggung jawab. Saya masihlah normal.”
“Ck! Cerewet lo. Ayo masuk!” ketus Wiliam kembali jalan masuk ke klinik.
“Tunggu--”
Yang ada William sudah membuka pintu dan menemui dokter.
“Mas Aga! Periksain pacar gue ya?” serunya kepada dokter yang sedang duduk dan menatap layar komputer di sana.
Larasita sampai melihat jelas wajah sang dokter, dia sedikit malu melihat bagaimana William tidak sopan.
“Halo Dok, maaf mengganggu,” ucapnya mewakili ketidaksopanan William saat ini.
Dapat dilihatnya dokter muda yang mengenakan kacamatanya. Jas putihnya memang menandakan kalau profesi pria itu memanglah dokter.
“Loh? Will? Sama siapa?” Sedikit terkejut pria itu saat melihat kehadiran William.
William masih saja berwajah datar, dia berdecak, “ck! Kan gue bilang, tolong periksa cewek gue.”
“Kamu--enggak aneh-aneh kan?” Kini pria yang dipanggil ‘Mas Aga’ itu menatap curiga kepada William.
“Senakal-nakalnya gue enggak ada ya gue keluar di dalem! Bisa digorok gue sama Kakek!” sewot William saat mendapatkan reaksi penuh kecurigaan.
“Ehm … maaf,” sela Larasita yang melihat interaksi antara dokter dan juga William. “Saya tidak hamil.”
Pernyataan yang sedikit membuat dokter itu diam. Melihat lebih lanjut pada sosok Larasita yang saat ini bahkan tak bisa dia kenali melalui wajah dan postur tubuhnya.
“Oh, hai … saya Aga, sepupu William.” Akhirnya pria itu memperkenalkan diri kepada Larasita.
“Saya Larasita,” balas Larasita sambil membalas jabat tangan dari Aga.
Segera saja William memisahkan jabat tangan antara Larasita dan juga sepupunya. “Enggak usah lama-lama lo Mas,”
Seketika, pria berusia 27 tahun dengan kacamata berbingkai titanium itu pun memandang lucu kepada adik sepupunya. “Cemburu amat sih, kamu.”
“Ck! Udah deh! Cepetan periksain.”
“Periksa apa sih Will? Kamu dari tadi bilang periksa-periksa, tapi enggak menjelaskan kondisinya. Bagaimana dokter yang sedang bertugas ini tahu?”
Oke, William lupa soal itu.
“Lo duduk di situ!” perintahnya kepada Larasita. Duduk yang dimaksud untuk naik ke atas ranjang.
“Eh? Kok saya?” Tentu Larasita menjadi bingung sendiri.
“Ya lo. Cepetan, mau pulang enggak?”
Ancaman itu berhasil menggerakkan kaki Larasita untuk duduk di atas ranjang pasien. Sedangkan Aga masih saja memperhatikan interaksi antara William dan juga Larasita, si gadis manis yang terbilang biasa saja tapi bisa membuat seorang William mau menemuinya malam-malam begini.
“Dia, gue banting tadi, enggak sengaja,” jelas William kepada Aga.
Aga menggeleng-gelengkan kepalanya, dia sudah tahu bagaimana tingkah laku sepupunya yang sedikit bar-bar dan juga terbilang kasar. Menjadi putra pewaris yang dididik kejam sekaligus dimanjakan dengan segala yang dipunya oleh keluarga membentuk kepribadiannya juga.
Dia menghela napasnya, “lagian kenapa kalau mau banting enggak liat-liat dulu sih? Kalau kamu memang waspada, ya jangan tidur. Anak orang jadi korbannya.”
Omelan itu hanya masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga kiri seorang William. Dia masih memandangi Larasita dengan mata dinginnya.
Sementara Larasita termangu, dia baru menyadarinya kalau yang dimaksud tanggung jawab adalah karena tadi saat dia membangunkan cowok itu.
“Kamu buka bajunya ya? Biar saya periksa,” tukas Aga yang kembali dengan seperangkat peralatan pemeriksaan.
Larasita terkesiap mendengarnya, “Bu--buka baju Kak? Eung--”
“Oke, saya enggak lihat, biar asisten saya saja yang periksa, oke?”
Setidaknya Aga paham soal kecemasannya, membuat Larasita mengangguk sembari menatap Aga penuh rasa terima kasih meski tanpa melalui ucapan.
Aga berbalik, dia yang menutup tirai pun berhenti sejenak. “Kamu enggak keluar? Mau melototin cewek kamu sampai kapan? Nanti yang ada enggak diperiksa ini.” Aga sedikit mendumal.
William pun pada akhirnya pasrah, dia segera ikut pergi meninggalkan Larasita dengan seorang wanita di bilik bertutup tirai.
Aga sendiri duduk dan menunggu. Sementara William masih berdiri seakan kakinya tak lelah menopang tubuh tinggi menjulang miliknya.
Sementara di balik tirai, Larasita pun sedang diminta kembali untuk membuka bajunya.
“Buka dulu ya Dik, bajunya,” pinta sang perawat.
Dengan sedikit berat hati dan merasa malu, akhirnya Larasita pun mengangkat kedua tangannya dan meloloskan knit top yang dipakainya. Mendadak di bawah penerangan lampu neon, dia merasa malu. Merasa kalau kulit coklat dan tubuh kurusnya kini menjadi ejekan tersendiri meskipun sang perawat tak berkata apa-apa.
Dia hanya bisa menundukkan pandangannya, sementara membiarkan perawat memeriksa punggungnya.
Sang perawat sendiri merasa sedikit terkejut, melihat kondisi punggung Larasita.
Dia meringis, “kamu … merasa ngilu atau nyeri di bagian sini?” tanyanya.
Saat ibu jari sedikit menekan daerah kebiruan di punggung Larasita, saat itu juga Larasita meringis. “Sssh … sedikit, Kak.”
Tak perlu waktu lama. Si perawat akhirnya mendatangi dokter dan meninggalkan Larasita sendirian, untuk memakai bajunya kembali.
“Dok, memar. Baik-baik saja kok,” lapor sang perawat.
Aga yang mendengarnya pun mendelik tajam pada William. Wajahnya sedikit mengeras usai mendapatkan penjelasan dari asisten yang bekerja di bawahnya itu.
“Ya sudah, kamu kembali awasi pasien yang rawat inap ya?” pintanya.
Setelah dirasa perawat itu pergi, barulah Aga membuka suara. “Bisa-bisanya kamu ya banting-banting cewek? Kamu bilang itu pacar? Apa cuma alibi aja heh? Tanggung jawab kamu!” Dia benar-benar memarahi William.
Mendengar amarah Aga, William pun semakin merasa bersalah. “Makanya gue bawa dia ke sini, Mas. Lagian itu juga enggak disengaja.”
“Enggak usah pembelaan.”
Akhirnya William diam, sementara Aga sedang meresepkan obat untuk Larasita. Dia menyerahkan secarik kertas kepada William.
“Nih, kamu beli di apotek 24 jam. Mas enggak mau tahu! Kamu tanggung jawab sampai luka Larasita sembuh.”
William hanya mengangguk saja, dia segera bergegas menuju bilik tempat di mana Larasita berada.
Larasita sendiri berusaha untuk memakai atasannya kembali. Sedikit menahan nyeri kala tangannya terangkat. Dia ingin marah, tapi pada dasarnya itu adalah sebuah ketidaksengajaan saja. Mau marah bagaimana juga, sudah terjadi.
“Ras, udah?” tanya William yang tangannya sudah memegang ujung tirai dan berniat membukanya.
Larasita terkejut mendengarnya, sontak dia berteriak. “Jangan! Sa--saya masih pakai baju,” bisiknya sedikit malu.
William pun sama terdiamnya, dia segera berbalik dan menunggu.
Hanya sunyi yang menjadi celah bagi mereka berdua. Larasita yang akhirnya berhasil memakai kembali pakaiannya dan beranjak turun dari ranjang yang lumayan agak tinggi.
Suara tirai yang tersibak membuat William menoleh. Dia semakin merasa bersalah kala melihat wajah lelah bercampur kesakitan milik Larasita.
“Ayo pulang.”
Tentu saja Larasita menurut. Dia segera mengekor kembali, mengikuti William.
Sedikit berbasa-basi dengan mengucapkan terima kasih kepada Aga tentunya.
“Terima kasih Mas Aga, maaf mengganggu waktunya,” ucapnya selagi pamit.
“Sama-sama. Kalau William bertingkah lagi, lapor aja ke polisi, pukul dulu sampai setimpal.”
Larasita tersenyum mendengarnya.
“Ini gue berusaha tanggung jawab, Mas. Enggak usah jadi kompor begitu,” celetuk William.
Larasita meringis dalam hati, mendengar bagaimana William menjawab dan berinteraksi dengan seseorang yang lebih tua. Dia menambah list tidak suka dan tak mau mencari pria yang tak sopan.
“Bisa naiknya?” tanya William saat dia sudah berada di atas motornya.
Sementara Larasita mengangguk saja. “Iya.”
Mau tak mau Larasita memegang bahu William tanpa banyak beradu urat dan ucapan. Dia harus segera sampai di rumah.
Tak lupa William mampir ke apotek yang 24 jam masih buka, atas amanat dokter sekaligus sepupunya itu.
“Lo mau ikut apa tunggu di sini?” tanyanya menghadap Larasita yang masih duduk di atas motornya. Sedikit merasa gemas melihat Larasita yang mengenakan helm.
“Saya tunggu sini saja.”
William mengangguk dan segera masuk ke apotek. Dia tak mau repot, menyerahkan kertas berisi resep dokter dan menunggu apoteker menyiapkannya.
Lantas William segera membayarnya dan keluar. Tangannya sudah terjulur kepada Larasita.
“Apa?” Larasita masih tak paham.
“Obat, salepnya dioles dua kali sehari, pagi sore. Terus obat pain killer kalau-kalau merasa nyeri, pas sakit aja diminumnya.”
Larasita termangu mendengarnya. Dia menerima plastik kecil berisi obat-obatan itu. Tak ada ucapan terima kasih yang meluncur dari bibirnya. Jika dipikir-pikir memang William harus bertanggung jawab.