William masih bisa tersenyum, usai kemarin dia mengantarkan Larasita pulang, dia sangat mengingat jelas bagaimana Larasita berterima kasih dan sekaligus tersenyum di depannya.
Larasita turun dari motor William, menyerahkan helmet yang biasa dia pakai pada William.
“Jangan lupa minum obatnya. Gue berusaha maksimal buat bertanggung jawab,” utas William yang kini turun dari motornya dan berdiri di depan Larasita.
Ada sedikit rasa canggung bagi William saat Larasita mengangguk dan menatapnya secara terang-terangan. Mata coklat milik Larasita benar-benar membuatnya mati kutu saat itu juga, bisa dia rasakan bagaimana darah di jantungnya terpompa kencang.
“Kamu pulanglah, sudah malam.”
Satu kalimat sederhana berbentuk pengusiran, bagi William. Dan itu sangat menyebalkan.
Srek!
Spontan dia menarik lengan Larasita yang bersiap melangkah, masuk ke dalam rumahnya.
“Apa?” Segera saja Larasita melepaskan tangannya, tak mau terjadi sesuatu yang bisa menjadi gosip di mata orang lain.
“Ma--maaf soal tadi.”
Hanya ada deru napas milik WIlliam sendiri yang terdengar. Dia benar-benar gugup. Baginya, sangat susah untuk mengucapkan dua kalimat sederhana namun penuh makna, ‘maaf’ dan ‘terima kasih’.
Larasita masih diam, dia menatap lamat-lamat William yang dirasa tengah salah tingkah. Tangan cowok itu terangkat, menutupi wajahnya. Ya, si cowok berketurunan Tionghoa itu memang sedang malu dan lebih baik untuknya tak melihat wajah lawan bicaranya.
“Tidak apa-apa, lain kali jangan kamu lakukan pada cewek lainnya. Bahaya.”
Kalimat panjang itu membuat William menurunkan lengannya. Dia melihat mata Larasita berbinar di bawah lampu temaram di depan rumah gadis itu. Sementara yang membuatnya semakin terdiam tanpa bisa berkedip adalah saat gadis itu tersenyum.
Larasita tanpa sadar mengulas senyuman. Menarik sudut bibirnya, memanjang. Dia senang, tak menyangka kalau William mau meminta maaf atas perbuatannya. Tanpa tahu kalau senyuman itu semakin memaksa William untuk menyimpan memori tentangnya di dalam jaringan neuron dan menaruhnya di dalam otak tengah, Hippocampus yang menjadi kunci untuk mengikat potongan memori yang tersebar.
Jantung William semakin kencang detaknya, tak menyangka kalau di tengah malam dengan penerangan seadanya ditemani gelap, dia mendapatkan satu jackpot utuh.
Namun, senyuman itu harus berakhir saat sepupunya, Aruna duduk di sampingnya saat sarapan.
William yang seperti biasanya hanya berpakaian seragam awut-awutan pun ditambah dengan bagaimana cowok itu tak mengancingi kemejanya pun sudah nampak terlihat jelas kalau William bukanlah siswa teladan.
“Pagi, Will, Runa,” sapa pria berumur 70 tahun yang dituntun oleh salah satu pelayan dan dibantu untuk duduk di kursi paling ujung yang berada di tengah.
“Pagi Kek,” jawab keduanya serempak.
Ada satu hal yang tak bisa dilakukan seenaknya di sini. Yaitu tata krama. Keduanya sama-sama tersenyum sopan. Yang paling mereka segani dan takuti memanglah Matthew Lee, kakek mereka sekaligus orang yang paling tinggi kedudukannya di silsilah keluarga yang masih hidup saat ini.
“Ayo sarapan dulu,” ucap Matthew mempersilakan orang yang ada meja itu untuk mulai makan.
Tak ada yang bersuara, bahkan suara-suara sendok pun tak ada bunyinya. Sudah menjadi didikan bagi mereka soal bagaimana cara makan di keluarga Lee.
Selesainya, Matthew yang beranjak pergi membuat semua orang berdesah lega. Setidaknya, mereka sekarang sudah bisa berbicara bebas, tanpa harus mendapatkan teguran dari Matthew.
Termasuk Aruna yang menjegal kepergian William.
“Hari ini kamu harus putus.”
Satu kalimat pendek yang membuyarkan semua kenangan indah semalam di otak William.
Cowok itu berbalik, menatap kesal pada sepupunya. “Gue tahu!” ketusnya. Lantas segera beranjak pergi, meninggalkan Aruna.
“Kamu tahu, tapi kamu masih belum paham. Semoga tidak terjadi apa-apa ke depannya,” bisik Aruna yang menatap William sudah pergi menjauh. Dia menghela napasnya sendiri.
***
“Ck!” William berdecak kesal, merasakan bagaimana dirinya saat ini dipatahkan. Padahal baru semalam dia merasa senang, tapi saat ini sudah berganti risau dan tak tenang.
Hatinya semakin carut marut, kesal sendiri. Bahkan di dalam otaknya, dia sedang mencaci maki seluruh teman-temannya. Geng Wolf Cave yang mengajaknya taruhan dan juga Aruna yang mengharuskannya putus dengan Larasita.
Segera saja dia melajukan motornya menuju sekolah. Dia yang tadinya berniat untuk menjemput Larasita agar bisa pergi ke sekolah bersama, pada akhirnya dia sendirian. Memacu kelajuan motornya secepat mungkin untuk bisa melepaskan stres dan emosi yang terpendam.
‘Laporan pada Kakek’ adalah satu hal yang paling dia hindari. Dia tak suka saat seseorang memiliki s*****a yang satu ini. Dia terkekang dan merasa diawasi.
“Arggh!!!” teriaknya saat motornya berhenti karena lampu merah.
Berbeda dengan Larasita yang baru saja turun dari angkot sambil menempelkan kartu di card detector, dia mengucapkan terima kasih seperti biasanya pada sang sopir.
Dia berbalik, berjalan memasuki gerbang sekolah sambil menarik napasnya dalam. Agar dirinya bisa bersiap dengan apa yang terjadi hari ini.
Sambil meremas tali tas punggungnya, Larasita pun masuk ke sekolah.
Karena pengakuan William, semua orang menatapnya hanya sekilas. Membantu dan tak membantu. Karena William, sementara dia aman dari perundungan.
Tanpa dia sadari, kalau Aruna tengah memperhatikannya. Gadis itu setengah berlari untuk bisa sejajar dengan Larasita.
“Hei,” sapanya.
Larasita tersentak, dia terkejut saat mendengar suara sapaan itu. Kepalanya segera menoleh dan bisa melihat dengan jelas siapa yang menyapanya.
Tentu dia tak mengenalnya.
Aruna masih tersenyum tanpa ada kecanggungan.
“Oh, halo.” Setidaknya Larasita membalas sapaan Aruna.
“Kenalkan, aku … Aruna.” Aruna mengulurkan tangan kanannya, mengajak Larasita berkenalan.
Berkenalan? Sejak kapan ada siswi yang mau berkenalan dengannya? Larasita bertanya-tanya di dalam hatinya. Dia sedikit bingung, pada akhirnya membalas uluran tangan Aruna dan menjabatnya.
“Saya … Laras,” ucapnya.
“Kamu mau ke kelas ya?”
Larasita mengangguk saja. Sementara Aruna malah semakin nyerocos, bertanya tentang segala informasi yang ingin dia tahu.
“Boleh minta nomor HP kamu? Kita bisa makan siang bareng di kantin ya?”
Otak Larasita semakin penuh dengan ucapan Aruna. Sejak kapan juga dia dimintai nomor oleh siswi lainnya?
Sedikit gagap, dia pun menyebutkan nomor ponsel miliknya. “Ah, eungh … nomor HP ya? 0896-****-****.”
“Oke, sampai ketemu nanti ya?” Aruna melambaikan tangannya dan segera menjauh.
Memang kelas mereka berbeda.
Larasita menghentikan langkah kakinya, memandangi Aruna yang setengah berlari meninggalkannya. Dia sendiri masih terkagum-kagum dengan keadaan pagi ini. Tak pernah dirinya mendapatkan sapaan sehangat itu.
Masih dilanda kebingungan, dia juga mengagumi Aruna. Dapat dilihatnya mata bulat nan sipit dengan iris coklat, rambut panjang yang lurus nan halus, lalu … ah, jangan lupakan tubuhnya yang proporsional. Mendukung wajah cantiknya.
Aruna. Satu nama yang kini tersimpan di dalam otaknya.
Segera saja Larasita masuk ke dalam ruang kelasnya.
***
William yang baru tiba di sekolah, tak berminat untuk masuk ke kelas. Dia memilih berjalan keluar sekolah, menuju warung pojok yang biasa dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para siswa nakal dan juga siswa yang senang mengobrol.
Disibaknya spanduk terikat yang menutupi sebagian warung. Tubuh menjulangnya menjadi perhatian para siswa yang tengah duduk di sana. Mereka sedikit terdiam, menunda keramaian pembicaraan mereka karena kehadiran William.
“Bang Jul, rokok, sebungkus,” pinta William.
Cowok itu tak terganggu sama sekali dengan tatapan-tatapan mata yang tertuju padanya.
“Eh, Will? Hahaha … dikira lo berenti nyebat. Nih,” kelakar sang penjual yang memang sudah akrab dengan William sembari menyerahkan apa yang diminta oleh cowok itu.
“Ck! Maunya gitu, cuma pusing.”
Dia pun segera menerimanya, lantas segera membayar sejumlah harga yang sudah ditetapkan.
Segera saja William kembali ke sekolah tapi bukan menuju ke kelas. Melainkan menuju markas geng miliknya.
Kali ini tak ada Yanuar yang berciuman dengan cewek. Setidaknya tidak membuat emosinya kembali memuncak hanya karena apa yang dilakukan sepupunya itu. Tepatnya, sepupu jauh yang hampir terputus hubungan dengan keluarga Lee.
Dia duduk, menghisap rokok miliknya yang sudah terbakar. Membiarkan otaknya bekerja di tengah kenikmatan yang diberikan nikotin pada tubuhnya.
Masa bodo dengan yang namanya merusak. Kali ini dia memang butuh peralihan sebelum malah dirinya melakukan hal-hal yang lebih gila lagi nantinya.
“Lo enggak masuk kelas?” Seseorang datang ke markas mereka. Hansel.
William hanya mendengus saja.
Hansel tahu, kalau temannya itu memang sedang tak senang dengan keadaan saat ini. Siapa lagi kalau bukan karena Aruna? Mereka semua tahu hal itu.
Lantas Hansel hanya mengambil posisi di tempat lain untuk tidur. Dia sedang tak berminat masuk kelas juga. Toh, tak akan ada guru yang berani menegur mereka selain guru yang saat ini sedang dinas di luar kota. Masih aman sentosa.
***
Suara bel yang terdengar sedikitnya membuat Larasita melepaskan napas lelahnya. Sekolah telah berakhir.
“Gila! Sehari, dua mata pelajaran, kuis. Otak ngebul, berasap, panas!”
Teriakan satu siswa yang juga ada di kelas Larasita sudah mengeluarkan bebannya. Benar-benar di luar perkiraan.
Larasita segera membereskan peralatannya. Ponsel jadul miliknya pun berdering, membuatnya bingung saat ada nomor asing meneleponnya.
Segera dia menjawab panggilan itu.
Belum juga dirinya menyapa, sudah ada suara melengking yang meneriakkan namanya.
“Laras …kamu kok enggak ke kantin sih?”
Pertanyaannya, suara siapa itu? Gadis itu berusaha mengingatnya, namun tak berhasil. “Siapa?” tanyanya.
“Ya Tuhan, aku dilupakan--”
“Laras, William nyari lo!”
Satu teriakan membuat Larasita memutuskan panggilan teleponnya. Dia sedikit terburu-buru menggendong tasnya dan keluar kelas.
Matanya memandangi William yang tengah bersandar di tembok.
Suara tapak kaki yang jelas dan terburu-buru membuat William menoleh. Dia berdiri tegak dan matanya menatap tajam sosok Larasita yang berdiri tepat di depannya.
William masih memandangi Larasita, tengah bersiap dengan apa yang akan dia lontarkan setelah ini. Wajah Larasita yang entah kenapa begitu manis di matanya, tersimpan di dalam benaknya.
“Kita putus.”
Satu kalimat yang ditujukan untuk Larasita pun keluar dari bibirnya. Matanya memandangi tajam Larasita dan tengah berharap jawaban dari mulut gadis itu.
Hanya satu yang dia mau. Penolakan. Harapannya itu.
Namun … sayangnya reaksi itu tak ada di wajah Larasita.
Gadis itu masih mendengarnya seksama, tak ada ekspresi terkejut ataupun marah di wajahnya. Gadis itu tersenyum, mengangguk dan kemudian berbalik pergi. Meninggalkan William yang terdiam melihat reaksinya.