Yang membuat Larasita tak bisa tenang sampai tidur pun dia terbangun adalah William. Larasita kembali membuka matanya ke sekian kalinya saat otaknya tiba-tiba mengingat di mana darah berceceran banyak dari tangan William.
Napasnya sampai tercekat hebat, seolah mimpi itu adalah mimpi yang benar-benar membuat dirinya seperti diselimuti ketakutan yang besar.
“Sshhh … pusing,” keluhnya saat dirinya sedang mempersiapkan sarapan untuk Ibu dan kakaknya.
Bahkan sudah beres memasak, pikirannya kembali menghadirkan sosok William.
“Bagaimana bisa? Luka sebesar itu … dia tidak kesakitan?” gumamnya sambil terus menyapu dapur.
“Ada yang aneh … apa jangan-jangan dia … CIPA? Ah, tidak mungkin. Penderita CIPA sangat sedikit dan langka. Buktinya dia sama sekali tak kekurangan apa pun,” selorohnya kembali, berbicara pada dirinya sendiri.
“Ya, tidak mungkin.”
Dia menganggukkan kepalanya mantap, kalau memang William tak perlu dikhawatirkan. Tapi … hatinya bahkan tak tenang. Kenapa?
Kenapa William begitu membuatnya harus memikirkan keadaan cowok itu?
“Menyebalkan.” Dia bersungut-sungut sendiri karena pikirannya terus berlabuh pada sosok William.
***
Tak bisa dipungkiri bahwa seorang William pun tak sempurna. Tidak ada yang bisa sempurna sampai menemukan pasangannya, cinta sejatinya dan separuh tulang rusuknya.
William terus saja berusaha untuk memakai bajunya, mulutnya sudah memperlihatkan bahwa luka di tubuhnya memanglah tak baik-baik saja.
Rasa nyeri, linu dan perih berada di tangannya sudah meningkat dari pada semalam. Bahkan untuk menggerakkan tangannya saja dia kesulitan.
“s**l*!” Dia memaki pada lukanya.
Berusaha untuk memakai bajunya namun terus menerus tak berhasil.
“Sini, aku bantu. Kamu harus bicara untuk meminta bantuan, Will,” sela Aruna yang tiba-tiba sudah membantunya memakaikan baju.
William diam saja, memandangi wajah Aruna yang nampak serius. “Kita ke rumah sakit, sebelum kita ke sekolah.”
William ingin bersuara, tapi Aruna kembali melanjutkan ucapannya. “Kalau kamu ingin Kakek tetap tak tahu.”
Itu adalah sebuah ancaman. Aruna selalu cerdik soal mengontrol William. Dia memang sudah ahli membaca kelemahan William. Meskipun sepupunya itu tak bicara panjang lebar ataupun sepatah kata, dia akan tetap tahu.
“Kamu tak perlu berlagak kuat setiap hari.”
Ucapan Aruna bagaikan angin lewat saja bagi William. Cowok itu hanya berdecih, mengabaikan ucapan Aruna tentunya. Dia sendiri memang sudah seperti mati rasa, meminta bantuan adalah hal yang sangat dia hindari. Kepada siapa pun.
Kecuali … dia memerintahkan Larasita mengerjakan tugas miliknya. Ah, mendadak hatinya merasa kesal karena mengingat gadis itu kembali.
Aruna tersenyum begitu melihat William yang sudah berpakaian rapi. Dia puas dengan hasil kerjanya. Matanya memandang terang-terangan sang sepupu.
“Ayo, kita pergi. Aku sudah memberitahu Kakek kalau kita sarapan di sekolah. Meskipun itu adalah kebohongan.”
“Lo enggak perlu lakuin ini, Runa,” desah William.
Dia merasa membuat Aruna mendapatkan beban karenanya.
“Enggak perlu kamu ngomong begitu. Aku sudah memutuskan untuk membantu kamu sejak saat itu.”
Ya, saat itu. Saat di mana mereka berdua akhirnya memutuskan ikut kepada Matthew dan mengabaikan semuanya. Mengabaikan masalah yang mereka dapatkan dan kabur, menjauh. Saat itu, saat yang membuat William hampir saja kehilangan nyawanya, begitupun Aruna.
William pun mengangguk. Dia paham apa yang dirasakan Aruna.
“Kalo bukan karena lo, mana mau gue ke rumah sakit,” ketus William.
Aruna sendiri hanya tersenyum saja, ucapan William baginya adalah gambaran kasih sayang yang diberikan William padanya.
Rupanya, Hansel, Yanuar, dan Carol sudah menunggu mereka.
“Akhirnya keluar juga,” tukas salah satu dari mereka.
William sendiri menatap tak suka pada ketiga sahabatnya. “Bisa-bisanya kalian datang? Sejak kapan Aruna jadi b***k lo pada,” ketusnya lagi.
William hanya menunjukkan reaksi yang benar-benar berkebalikan dari apa yang dirasakan oleh hatinya.
Yanuar pun maju, memiting leher cowok itu. “Sejak kapan sih lo bakal dengerin kita-kita kalau bukan Aruna, Nyet.”
“Lepas!” William memberontak, namun gagal. Jelas saja, lukanya membuat tubuhnya lemah.
“Ya udah lah, lo terima aja gimana perhatiannya Yanuar sama lo. Ayo ke RS. Demi melihat lo baik-baik aja setelah semalem lo bisa-bisanya hampir ketabrak truk.” Hansel ikut menimpali perbuatan Yanuar.
Aruna bingung. “Tunggu --jadi … William bukan karena tawuran?”
Hansel menoleh, menatap ketiga sahabatnya. Termasuk William yang merasa kesal dengan ucapan yang tak terkontrol itu. Dia bersiap untuk memukul Hansel barangkali kalau sedang tak terluka.
“Ups, sori guys ….” Dia meringis sendiri.
Aruna menatap tajam keempat cowok yang menjadi pentolan sekolah itu. “Siapa yang harus menjelaskan di sini?” Gadis itu sampai berkacak pinggang, melotot pada keempat remaja yang bersiap beranjak dewasa tentunya.
“Euhm … gimana kalau dijelaskan sembari ke rumah sakit?” Carol pun angkat bicara.
Aruna menghela napasnya, menatap tajam Carol. Namun, saat ini memang Carol yang paling dewasa meskipun terkadang kelewat dewasa dengan apa yang diperbuatnya. Adegan dewasa.
Kelimanya pun masuk ke dalam mobil, Yanuar yang membawa mobil. Mereka tak mengizinkan sama sekali sopir ikut dengan mereka. Dijamin mereka akan melapor pada Matthew dan keluarga lainnya. Ya, memang sudah menjadi tradisi bagi mereka sebagai pewaris perusahaan.
Pada akhirnya Hansel lah yang menjelaskan.
Aruna seketika merasa bersalah. Dia tak tahu sama sekali kalau keputusannya untuk meminta William memutuskan hubungan dengan Larasita malah berdampak. Dia tak pernah melihat hal itu sebelumnya.
“Seenggaknya, William tetap datang kan?” Carol kembali ikut menimpali ucapan Hansel.
Aruna menghela napasnya dan memilih untuk berbicara lagi sampai mereka tiba di rumah sakit.
“Kayaknya biar gue yang nemenin William. Lo pada tunggu di sini aja.” Carol yang berbicara duluan saat ditanya wali. Dia memang yang paling tua umurnya.
“Enggak salah lo emang kalau udah 19 tahun ke atas ya?” kekeh Yanuar yang mengejek Carol.
Sementara cowok bermata coklat dengan kacamata itu pun menjitak kepala Yanuar. “Enggak usah banyak bacot lo. Lo juga yang bikin gara-gara semalem.”
Carol dan William pun masuk ke dalam ruang perawatan. Sementara ketiga lainnya menunggu. Aruna hanya bisa menatap pintu yang tertutup, membiarkan dokter menangani luka menganga milik William.
William sudah duduk di atas hospital bed. Dia menunggu suster yang tengah menyiapkan segala peralatannya.
Sementara Carol duduk tepat di hadapan William.
“Jujur, baru kali ini gue liat lo disorientasi. Enggak kayak biasanya. Lo beneran suka sama tuh cewek?”
William memandang sinis Carol, dia menyanggahnya, “Ck! Sejak kapan gue bisa suka sama cewek sih? Gue enggak terima aja, baru dua minggu jadian. Dua minggu yang hampir bikin gue menang taruhan dan Aruna bikin semuanya gagal.”
Yang dilihat Carol bukanlah sebuah kekesalan karena hal itu. Dia melihat jelas bagaimana gusarnya William karena gadis itu. Bagaimana William datang pagi hanya karena pergi ke sekolah bersama dengan Larasita.
Dia menghela napasnya, diam dan memperhatikan bagaimana suster mengobati luka di tangan William.
“Kalau sakit ditahan ya? Cuma sebentar, karena ada obat bius. Luka kamu ini lebar, kok enggak dibawa ke klinik dari semalam?” tutur sang perawat yang merasa keheranan saat menyuntik tangan William.
Luka itu tak menutup dan darahnya masih merembes. Dia sampai ikut terheran-heran dengan pasien yang sedang ditanganinya. Kenapa tak merasa kesakitan?
“Biasa Sus, dia emang takut jarum suntik.”
Celetukan Carol yang usil membuat William melolot kesal, bisa-bisanya Carol bercanda saat ini. Carol hanya terkekeh saja, mengedikkan bahunya mendapati reaksi William yang tak terima.
Akhirnya mereka pun diam sampai perawat menyelesaikan jahitan di luka tangan William.
Sembari menutup luka William dengan perban, perawat muda itu kembali berucap, “jangan kena air dulu seminggu ini. Sehari dua kali ganti perban dan dibersihkan ya? Setelah satu minggu kamu datang lagi untuk melepas jahitannya. Untuk antibiotik dan obat pereda nyeri bisa diambil di bagian apotek ya?”
Lantas perawat itu segera pergi.
Sementara Carol membantu William mengenakan seragamnya kembali.
“Kalau lo suka sama Laras, kejar, Will.”
William berdecak, “enggak akan.”
William sendiri memang merasa mustahil akan menyukai Larasita. Selain karena memang taruhan yang gagal dia menangkan.
***
Setibanya di sekolah, William yang baru keluar mobil dan juga diikuti oleh ketiga sahabatnya dan juga Aruna pun tak sengaja melihat Larasita yang berjalan entah menuju ke mana dengan tumpukan buku di tangannya.
Melihat kesulitan gadis itu, Carol menghampirinya.
“Laras,” panggilnya.
Merasa namanya dipanggil, Larasita pun berhenti dan mencari sumbernya. “Ca--Carol?” Dia berusaha mengingat nama dari teman William itu.
Dia melirik sekilas, melihat ada William di belakang Carol, si cowok tinggi yang juga pentolan sekolah itu.
“Mau ke mana? Sini gue bantu.”
“Eh, tidak usah,” tolak Larasita yang mencoba menghindari tatapan tajam William. Namun, Carol segera mengambil alih.
“Enggak apa-apa, kasihan badan lo. Udah kecil bawa berat-berat begini.”
William yang mendengarkan kedua orang itu merasa kesal. Kenapa reaksi Larasita kepada Carol begitu berbeda kepadanya. Tak ada tatapan menolak ataupun keberatan, atau … tak ada tatapan yang seolah-olah Carol adalah virus yang harus dijauhi.
Tangannya terkepal sempurna, diam-diam Hansel ikut mengamati reaksi William. Dia hanya menyeringai kecil saja saat menyadarinya.
Bahkan Carol dan Larasita masih sempat basa-basi busuk ketika melanjutkan jalannya.
“Enggak tahu diri!” desis William merasakan darahnya bergejolak.
“Siapa yang enggak tahu diri?” Yanuar ikut bertanya.
“Gue ke kelas!” William pergi meninggalkan Yanuar, Hansel dan Aruna yang bingung dengan reaksi William.
William yang memasuki kelas dengan wajah gusar, kesal dan juga menahan emosi itu pun membuat seisi kelas terdiam. Mereka sudah tahu kalau emosi cowok itu akan nampak menguar tanpa pandang situasi dan kondisi.
Brakkk!!!
“Sialannn!!!” bentak William sambil menendang kursi yang ada di depannya sampai pemilik kursi yang tengah duduk tersentak ketakutan.
Hatinya panas, semua pertanyaan ada di kepalanya.
Yanuar yang kebetulan satu kelas dengan William pun terkikik melihatnya.
“Kenapa lo? Sensi amat abis putus dari Laras,” cemooh Yanuar. “Lo suka sama dia kan?”
Yanuar masih saja tak berhenti mengejek William. Meskipun dia melihat bagaimana William dan Larasita hanya terhitung kurang dari satu bulan berpacaran, namun kedua orang itu tak terpisahkan sama sekali. William akan membuat Larasita berhasil ikut dengannya.
“Bacot lo, Njing!” William memaki, menggeram marah dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.