Untuk ke sekian kalinya, William berhasil mengantar pulang Larasita. Ke sekian kalinya, Larasita tak bisa menolak.
Usai gadis itu berhasil merekatkan plester luka, dia yang berinisiatif untuk segera memesan driver nyatanya sudah ditawari untuk diantar pulang.
“Lo balik sama gue,” ucap William seraya berdiri.
“Eh?” Larasita terkejut mendengarnya, dia memandangi William intens. Lidahnya ingin sekali berucap tapi terasa begitu kelu. Mereka sudah tak ada hubungan bukan? Kenapa harus?
“Cepetan!” seru William yang sudah berada di atas motor besar miliknya.
Tangan yang terjulur memegang stang pun menampakkan lengan kemeja yang sudah berantakan terlipat karena ada perban di sana.
Larasita terpaku, melihat lengan putih yang kekar dengan urat-urat yang nampak beserta otot-otot yang mulai terbentuk di jaringan tubuh cowok itu.
Dia terus saja memandangi lengan itu. Warna kulit yang putih baginya adalah hal seksi, ditambah dengan memakai kemeja, seolah William adalah pangeran berkuda yang selalu dia idam-idamkan.
“Ck! Buruan! Udah malem!” Kembali William menyentak Larasita yang nampak bengong.
Larasita gelagapan, dia segera mengalihkan pandangannya dan mulai menatap wajah William.
Jantungnya bergerilya hebat hanya karena dia memandang wajah William dari dekat. Kenapa begitu tampan? Atau dia baru saja menyadarinya? Ke mana saja dia selama ini?
Menilik bagaimana kini dia menyadari kalau William punya wajah adonis yang begitu menggoda. Dimulai dengan mata sipit yang dinaungi dua alis tebal nan rapi seolah sudah diukir dan dilukis indah oleh MUA profesional. Lalu hidungnya bak papan luncur, begitu mancung dengan tulang hidung yang tegas. Ditambah … dia perokok? Tapi gadis itu bahkan merasa iri saat menyadari kalau bibir cowok itu begitu merah menggoda seolah tak pernah tersentuh nikotin.
Bagaimana tulang rahang yang tegas kini menghias dan membentuk dagu yang terbilang simetris benar-benar membuat wajah itu bernilai sempurna. Apakah Tuhan sedang tersenyum saat menciptakan cucu Adam yang satu ini?
“I--iya.” Gadis itu segera mengenakan helmet yang dibawa oleh William.
Kembali dia duduk di belakang tubuh cowok itu. Larasita menyadari, bahkan saat dia duduk di belakangnya semakin jelas bagaimana punggung tegap nan lebar itu melinduinginya dari terjangan angin. Tangannya hanya sanggup memegangi sisi jas yang dipakai oleh William.
Larasita benar-benar menyimpan semua memori di mana rambut William yang tumbuh alami dan sudah agak memanjang sampai menutupi sebagian kerah jas yang dipakainya.
Entah kenapa, William yang duduk depannya seolah menjadi satria pelindungnya.
Motor William masih melaju. Tak ada obrolan sama sekali sepanjang mereka berkendara. Hanya ada desau angin yang menerjang mereka dan juga deru mesin motor yang menggila saat melaju kencang.
Semuanya terasa begitu indah untuk dinikmati oleh Larasita. Dan semuanya terasa menyesakkan bagi William, dia masih tak mau berpisah dengan Larasita. Berpisah dalam artian dia tak memiliki alasan lagi untuk berdekatan dengan gadis itu.
William memberhentikan motornya tepat di depan rumah Larasita yang nampak sepi. William sudah bersiap menghadapi kakak gadis itu kalau ada di depan rumah dan menunggu kepulangan Larasita tentunya.
Gadis itu segera turun begitu mesin motor mati.
“Kamu besok harus cek ke rumah sakit,” pesan Larasita sebelum akhirnya berlari kecil, lantas berjongkok di sebuah pot.
William masih memandangi Larasita, keheranan. Apa yang dilakukan gadis itu?
Namun, tak lama setelahnya, Larasita sudah berdiri dan membuka pintu. Apa gadis itu mengambil kunci? Sebegitu cerobohnya kah mereka menyimpan kunci di bawah pot bunga yang bahkan hanya berisi tanah dan rumput liar saja?
Brak!
Larasita sama sekali tak mengucapkan kata terima kasih, membuat William ternganga dan menggeleng keheranan. Bisa-bisanya gadis itu berkelakuan begitu?
William hanya bisa mendengus, lantas segera mengendarai motornya untuk pulang ke rumah. Dia juga sudah tak mau berada di pesta dan tadi memilih kabur sampai akhirnya malah berada di kafe, di mana Larasita bekerja.
***
“Kamu dari mana aja sih, Will? Kakek tadi cari-cari kamu tahu,” omel Aruna yang memang menunggu kepulangan William.
Gadis itu merasa bersalah saat mendengar cerita dari bibir Hansel soal kecelakaan yang dialami oleh William, sepupunya.
“Ck! Apa sih? Berisik. Tidur sana,” ketus William yang berusaha mengabaikan Aruna. Dia memilih untuk segera menuju ke lantai dua namun Aruna menarik lengannya yang terluka dengan kasar.
“Akh!” William mengaduh dan segera melepaskan tangannya dari cengkeraman tak sengaja Aruna.
“Ka--kamu kenapa?” Aruna tergagap, dia menyadari kalau ada yang salah dengan tangan William.
William segera menyangga lengan yang dirasa semakin sakit itu. Dia segera berjalan kembali menaiki tangga untuk ke kamarnya sendiri. Sementara Aruna masih mengikutinya.
Cklek!
Cowok itu menutup pintu kamarnya dan segera melepas pakaiannya.
Baru saja dia melepaskan kemejanya, Aruna masuk dengan lancang.
Klak!
“Kamu kenapa sih--” Gadis itu terdiam di depan William. “I--ini kenapa?” tanyanya merasa ngeri sendiri saat melihat perban di lengan William sudah berwarna merah.
Luka itu masih menganga dan mengeluarkan darah sampai merembes.
“Keluar lo. Gue mau tidur,” usir William.
“Keluar?” Aruna menggelengkan kepalanya. “Gimana aku keluar kalau kamu luka begini sih? Kita harus ke rumah sakit dan bilang pada Kakek.”
Segera saja William mencekal tangan Aruna. “Ini cuma luka kecil.”
Aruna memandang sepupunya merasa tak percaya. “Kecil? Luka udah selebar itu dan berdarah-darah kamu bilang kecil?! Aku lebih baik bilang Kakek.” Aruna benar-benar histeris.
“Aruna!” WIlliam menyentak Aruna sampai gadis itu terhenti namun matanya terus menatap William.
Wajah William sudah begitu lelah, dia sudah tak mau dikerumuni oleh banyak orang lagi. Matanya memandang sayu dan berucap, “please … can we stop? I just need rest for now. I promosi tomorrow will call doctor, okey?”
Aruna terdiam. Napasnya sudah tak lagi memburu, kali ini dia sudah merasa kasihan dengan mata yang memandanginya penuh permohonan itu.
Gadis itu menghela napasnya, segera mengangguk. “oke, biar aku gantikan dulu perbannya. Kamu tunggu di sini.”
“Thanks.”
Satu kata yang benar-benar tulus diucapkan untuk Aruna dari William.
Cowok itu menunggu selagi Aruna mengambil kotak obat untuk mengobati lukanya, setidaknya untuk membuat luka itu tetap bersih sampai besok.
***
Flashback on
William segera berlari turun menuju ke parkiran saat Yanuar memberitahu soal apa yang dilewatkannya malam ini.
Dia melihat jam di ponselnya, masih jam 7, dia sedikit tenang dan merasa tak terlambat.
Segera saja dia memacu motornya dengan kecepatan maksimal. Dia benar-benar tak memikirkan keselamatannya, yang dia pikirkan dia harus cepat sampai ke pesta penyambutan.
Lampu motornya terus menyorot jalanan, matanya masih mencari celah-celah setiap kendaraan yang ada di depannya.
Dua bus disalipnya dengan lincah dan kemudian dia kembali memutar gas dan menambah kecepatan, melaju lantas meliuk indah di sebelah kiri, melewati truk besar yang dirasa begitu lambat dan menghalangi jalanan.
William semakin menatap nyalang begitu melihat lampu yang sudah berwarna oranye, dia segera semakin memacu motornya untuk bergegas agar tak terjebak dengan lampu merah.
Tiiin!!!
Tiiiin!!!
Suara klakson yang memekakkan telinga pun membuat William menoleh, respon kakinya segera menginjak pedal rem agar motornya berhenti, dia membelokkan setirnya. Seketika gaya gravitasi menarik motornya dan membuat tubuhnya terpental dan membentur pembatas jalan.
Sreeettt ….
Tubuhnya sampai tergusur di aspal, mengingat kencangnya dorongan yang melempar tubuhnya. Sedangkan motornya sudah terhenti dan terbalik.
Deg!
Deg!
Deg!
“Hahhh! Hahhhh!!!” Napasnya terengah-engah saat menyadari dia baru saja terhindar dari maut.
Dia mencoba melepaskan helmet yang melindungi kepalanya, demi mendapatkan oksigen yang lebih agar tubuhnya bisa merasa tenang.
“Kamu gila hah?!” Tiba-tiba saja seorang pria sudah menghamipirinya dan menghardiknya.
William berusaha bangun meskipun kepalanya pusing bukan main. Sambil tangan kirinya menteng helm miliknya.
William berusaha berjalan menuju motornya namun sebuah tangan mencekal kemeja yang dipakainya.
“Mau ke mana kamu?! Berlagak hebat kebut-kebutan di jalan?! Truk saya hampir kena masalah karena kamu!” Terus saja pria itu memarahi William, merasa begitu emosi dengan apa yang dilakukan William.
Grep!
“Pak? Kita bisa bicarakan baik-baik bukan? Saya walinya.” Hansel mencekal dan melepaskan tangan pria yang mencengkeram baju William.
William sendiri sudah tak peduli. Dia memilih berjalan kembali begitu cekalan tangan orang lain terlepas.
“Haish! Berhenti lo! Ayo naik mobil!” Tiba-tiba saja Yanuar sudah menariknya.
“Lo--”
“Udah, enggak usah banyak bacot! Masuk mobil, gue akan antar lo ke sana.”
William menurut. Dia mulai merasakan rasa nyeri berdenyut di lengan kirinya.
“Lo--” Yanuar yang melihat lengan William pun tercekat. Dia melihat banyak darah menetes.
Tes!
Tes!
William pun melihat ke tangan kirinya. Dia meringis, merasa kalau lengan itu membawa masalah baru untuknya.
“Jangan coba-coba bawa gue ke rumah sakit, Yan. Gue harus dateng,” desisnya.
Yanuar pun berusaha meredakan rasa terkejutnya. “Enggak, seenggaknya lo harus diperban, enggak mungkin lo datang berdarah-darah gitu kan?”
Kali ini William diam. Dia setuju.
Yanuar segera membebat lukanya, mengambil satu bingkisan tas besar yang dibawakan oleh Aruna untuk William.
“Nih, lo pake. Beruntung Aruna bawain warna item.”
William memilih menghemat energi, dia mulai kehilangan banyak energi. Wajahnya yang berubah semakin pucat menambah kekhawatiran di wajah Yanuar. Namun, Yanuar tahu batas yang tak bisa ditembus olehnya saat ini.
Kali ini, dia hanya membantu penampilan William agar terlihat baik.
Sementara William memilih memejamkan matanya di sepanjang jalan. Menghemat energi agar dirinya masih bisa berdiri tegak nantinya.
Mobil yang berhenti membuat tidurnya terpaksa disudahi saat Yanuar menepuk pundaknya. “Udah sampe. Lo mau ditemenin?” tawarnya.
William memilih segera turun tanpa menjawab tawaran Yanuar.
Dia mulai memasuki hall yang megah, menampakkan sosok yang selalu dicari oleh banyak orang itu.
Dia melihat Aruna tersenyum lega dan berlari menghampirinya.
“Akhirnya kamu datang.”
William segera menuju kakeknya, Matthew.
“Maaf, terlambat Kek,” ucapnya lemah.
Matthew sendiri mendesah lega saat cucunya itu datang. “Baguslah, kamu masih mau datang. Ayo,” ajaknya yang sudah bersiap untuk menuju meja bundar yang disediakan khusus bagi mereka.
“Kamu sudah siap, bukan? Menghadapi Ayahmu?” cetus Matthew. William pun mengangguk sembari matanya menyorot tajam ke depan.
***