Larasita masih memandangi sosok cowok itu dengan rasa tak percaya. Kenapa cowok itu ada di sini setelah berkata putus? Memangnya … mereka saling kenal?
William masih duduk sambil memandangi Larasita. Matanya yang tak beralih semakin membuat gadis itu salah tingkah sendiri.
“Ke--kenapa?” Dia bahkan sampai terbata-bata berbicaranya.
William masih diam. Pakaiannya sudah tak serapi saat tadi berada di pesta perjamuan. Yang ada jasnya sudah terlepas, kemejanya sudah tak rapi dengan dua kancing teratas sudah terbuka.
“Kapan selesai kerja?”
“Baru saja.”
William segera bangkit, keluar dari kafe yang diikuti oleh Larasita dengan spontan.
Larasita berhenti sedikit jauh jaraknya dari William. Dia memperhatikan bagaimana cowok itu malah merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebatang rokok lantas segera menyalakannya. Dia sudah tak bisa jika tak merokok.
Sedangkan Larasita masih diam, dia shock dengan sosok William yang rupanya perokok. Tangannya sungguh gatal, ingin segera mencabut rokok yang terjepit di antara dua bibir merah milik William.
Matanya terus saja bisa melihat jelas bagaimana William menghembuskan asap rokok yang baru saja dia hisap. Kenapa? Bisa-bisanya cowok itu malah merokok seperti ini. Bahkan malam yang terasa menggerahkan pun semakin sesak saat Larasita melihat kepulan asap itu.
Segera saja, tanpa sadar, kakinya sudah melangkah. Mendekati William yang menatapnya tajam namun tanpa ada sepatah kata yang diucapkan oleh cowok itu.
Tangan Larasita terulur.
Sret!
Mengambil rokok itu dan kemudian menjatuhkannya, lantas kakinya menginjak sepuntung lintingan tembakau itu dengan gemas, mematikan bara apinya dan menghancurkannya tanpa ampun.
William terbeliak melihatnya, menyaksikan kelancangan gadis itu yang tiba-tiba saja merampas rokok miliknya.
“Apa-apaan lo?” desis William, menahan emosinya.
Larasita mengangkat pandangannya. “Saya keberatan.”
“Keberatan berarti lo enggak harus mendekat kan?”
“Ya,tapi … baiknya kamu berhenti merokok. Merokok itu tidak sehat.”
William ternganga, dia kehilangan kata-katanya sendiri. Mereka diam, namun William akhirnya menyeringai.
“Ck, bocah SD juga tahu kalau rokok itu enggak sehat, lo enggak ada kata-kata yang lebih mutlak untuk diucapkan apa?”
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan. Larasita masih diam, sama sekali tak merasa tersindir dengan kalimat William.
Tangan cowok itu terulur, “mana?”
“Apa yang mana?”
“Rokok gue. Lo enggak berhak buat ngambil barang gue. Terlebih ini kawasan bebas.”
“Sudah hancur.” Matanya tertuju pada kakinya, tepat di mana rokok itu sudah hancur.
William semakin menyeringai, “lo bukan siapa-siapa gue.”
“Memang.”
“Jadi bisa lo belikan rokok lagi? Hitung-hitung mengganti barang rampasan. Lo paham artinya hak asasi manusia kan?”
Mata William semakin berkilat saat menyadari Larasita sama sekali tak merasa takut padanya. Sejujurnya dia juga sedang bingung, bukan karena apa yang terjadi sebelumnya. Tapi karena kenapa dirinya bisa berada di sini saat ini?
Larasita masih diam. Dia memilih untuk menunggu angkutan umum yang lewat saja. Berdiri sedikit jauh tentunya.
William memandangi Larasita dengan pandangan menyelidik. Sorot matanya tajam, seketika Larasita merasa takut.
Gadis itu tak menyadari, kalau perlakuannya membuat seseorang terusik. Ya, William.
William pun berjalan mendekat. Dia kembali mengeluarkan kotak rokok miliknya, mengambilnya satu dan bersiap menyalakan lintingan itu dengan pemantiknya.
Larasita memandang tak percaya, kalau William malah mendekat dan kembali bersiap merokok?
Srettt!
Tangannya menyambar rokok dan juga pemantiknya. Kembali dia menginjak rokok itu sampai hancur.
William menggeram, “lo--?!”
“Berhenti merokok sampai saya mendapatkan satu angkot, setelahnya saya kembalikan korek ini. Saya keberatan. Kamu tentu tak bodoh* kalau perokok pasif lebih berisiko dari pada perokok aktif bukan?”
Kali ini William diam. Dia memandangi jalanan yang begitu lengang. Sepi dan hanya sesekali kendaraan lewat.
“Enggak akan ada yang lewat, udah jam 11 malem dan lo berharap ada kendaraan lewat?” William tentu memandang remeh Larasita.
Larasita masih diam, dia tak meladeni William. Memilih untuk melihat ponsel jadul miliknya, sebenarnya hanya melihat jam nya saja.
Srekkk!
“Kamu--”
William merebut ponsel yang ada di tangannya. “Lo ambil korek gue, gue ambil HP lo. Adil kan? Sampai lo dapet itu angkot?”
“Itu tidak adil!” Wajah Larasita masih begitu lelah, namun ekspresinya menunjukkan dia tak rela jika harus begitu.
“So? Balikin?”
Jangan lupakan kalau seorang Larasita begitu keras kepala saat memegang teguh pendiriannya. “Sampai ada angkot.”
William menyeringai, “oke.”
Mereka masih diam, mengunci mulut masing-masing selagi menunggu. Berkomitmen dengan barang sitaan yang mereka miliki.
William sendiri memandangi Larasita. Gadis itu berdiri tak jauh darinya, menggenggam pemantik miliknya dan juga sama sekali tak memandang dirinya. Memangnya ada apa dengannya?
Ingin William segera pergi dari sana. Namun, enggan.
Sama dengan halnya Larasita, yang enggan untuk menanyakan keperluan cowok itu datang dan mencarinya.
Kepalanya tertunduk, menatap kedua kakinya yang berbalut sneaker murahan disertai usang yang memang membuat sepatunya sudah diketahui usianya. Tentu sudah lama. Dia masih memandangi saja tanpa ada kata-kata apa pun.
William ikut menunduk, memperhatikan kaki Larasita. Dia terenyuh melihatnya, tak tahu harus bagaimana pikirannya saat ini, mengingat dia tak pernah melihat benda seusang yang dipakai kecuali oleh gadis itu.
Gadis itu terlalu tangguh tanpa ada air mata yang pernah dia lihat.
Larasita menghela napasnya lega begitu melihat lampu menyorot semakin terang di halte perhentian. Angkutan umum yang ditunggunya sudah datang.
Dia berbalik, segera menghampiri William. Mengulurkan tangannya.
William sendiri masih tak menyadarinya.
“Ini, kita barter.”
“Mana angkotnya?” William tak menyadari kalau yang berhenti tepat di depan mereka lah, angkutan umum yang dimaksud Larasita.
Larasita berbalik, menunjuk mobil yang berhenti. “Itu.”
Ah, sedikit rasa kecewa menyelimuti hati William.seolah sudah dua kali dia ditinggal begitu saja. Dia masih senang mengamati Larasita, meskipun tanpa dia sadari sendiri. Hanya saja … merasa terhibur.
Dengan sedikit tak rela, akhirnya mereka bertukar benda.
“Saya pulang dulu,” pamit Larasita yang mengambil ponsel miliknya.
Deg!
Nyatanya gadis itu malah mematung begitu melihat apa yang ada di depannya.
Matanya tak bisa berkedip karena irisnya melihat dengan jelas apa yang menetes di balik lengan baju milik William.
Tubuhnya bergetar ngeri, matanya membulat penuh. “Ka--kamu berdarah?” Suaranya tercekat seiring dengan tetesan warna merah pekat yang sudah dipergokinya.
“Ck! Lo katanya mau balik, udah sana!” usir William, merasa tak senang dengan bagaimana cewek itu menyadari luka miliknya.
“Neng, jadi masuk enggak?” Sopir yang sudah tak betah menunggu pun berteriak kencang.
Buru-buru Larasita berbalik, sengaja tak berbicara sama sekali. Melainkan tangannya terulur, mengambil selembar uang bernilai lima ribu rupiah dan menyerahkannya pada sang sopir.
“Enggak jadi Pak, makasih ya?”
Karena uang itu juga pada akhirnya sang sopir pun mengangguk maklum, lantas melajukan mobilnya pergi.
“Lo … itu angkot terakhir kan? Gimana lo balik ntar?” William malah cemas saat Larasita malah mendatanginya kembali.
“Saya bisa pulang, pesan ojek. Tapi … luka kamu, kenapa terluka?”
Mata Larasita memandangi sosok William. Cowok itu diam, mendengar pertanyaan itu malah membuat hatinya menghangat. Dia sama sekali tak mengharapkan perhatian pada kondisi sebenarnya.
“Ck! Lo balik gimana? Kenapa oneng banget sih?” William malah menggerutu, merasa khawatir dengan keadaan Larasita.
Larasita memilih untuk masuk ke dalam kafe yang kebetulan belum terkunci. Masih ada satu penunggunya.
Dia segera menemui staf yang belum pulang itu.
“Kak Jas, kotak P3K di mana ya?”
“Eh, lo belum balik? Itu … di kotak dapur.”
Pria yang masih stand by di dalam kafe sampai kebingungan melihat Larasita yang malah belum pulang.
Segera saja Larasita mengambilnya, lalu keluar kembali. Menghampiri William yang rupanya mengekor padanya.
“Bisa kamu duduk di sana?” Kepala Larasita mengedik, menunjuk arah kursi kosong di depan kafe.
William menurut, dia tak mau komplain untuk saat ini.
Segera saja Larasita duduk di hadapan William yang duduk menyerong. Lutut mereka saling bersentuhan.
“Bisa kamu tarik ke atas lengannya?” pinta Larasita yang berwajah serius.
Semakin gadis itu menunjukkan ekspresi serius, semakin William tak berkutik dan menurut saja.
Larasita sampai terdiam membeku melihat luka yang menganga dan dalam itu. Seperti luka sayatan.
“Kamu … kenapa bisa begini?! Ayo ke rumah sakit,” ajak Larasita yang tak berniat membuka kotak P3K yang ada di tangannya setelah melihat kondisi lengan William.
“Ck! Obatin, gue enggak bisa ke rumah sakit.”
“Kenapa? Nanti infeksi, Will.”
“Lo obatin aja, gue enggak mau Kakek tahu.” Nada William mulai melemah.
Larasita tahu kalau William adalah orang yang paling keras kepala yang pernah dia temui. Hingga akhirnya dia hanya menghela napasnya, sebelum akhirnya membuka kotak P3K.
“Kamu harus ke rumah sakit besok, saya tidak mau jadi korban akibat luka kamu,” seloroh gadis itu sambil menekankan kapas di sekitar area luka lengan itu, membersihkan darahnya.
William sendiri memalingkan wajahnya, dia sama sekali tak meladeni ucapan Larasita. Memilih diam selagi Larasita mengobati luka di tangannya.
Padahal dia tadi emosi dengan respon Larasita, tapi sekarang dia malah merasa berbunga-bunga.
Luka itu tak bisa dia rasakan sakitnya, yang ada dia merasa kalau ada angin bertiup di sekitar lukanya.
Segera saja dia menoleh.
Blusssh!
Wajahnya memanas begitu melihat sosok Larasita yang tengah membubuhi obat merah sambil meniupi luka di tangannya.
Gadis itu meniup luka di tangan William, seolah kalau William merasakan perih. Bahkan dengan telaten dia terus saja meniup pelan, menekankan kapas selembut mungkin.
William mematung. Detak jantungnya semakin kencang kala melihat wajah Larasita yang mendadak berubah ayu. Diiringi dengan rambut hitam nan lurus itu mulai berjatuhan, tergerai ke bawah menutupi sebagian wajah gadis itu.
William merasa terganggu, dia ingin melihat wajah itu dengan utuh. Tak ada yang menghalangi.
Tangannya terulur, spontan berniat untuk memindahkan helaian rambut itu ke pundak Larasita.
Namun, Larasita sudah selesai menaruh obat luka. Gadis itu kembali duduk tegap, mencari perban untuk menutup luka besar milik William.
“Besok kamu harus ke rumah sakit. Ini luka yang parah.”
William sendiri masih berusaha bersikap biasa saja walaupun hampir saja dia kecolongan.
“Sudah. Beres. Saatnya saya pesan ojek,” tutur Larasita yang senang melihat perban itu menutupi luka di tangan William dengan rapi.
“Lo balik sama gue.”
“Eh?”