Shocked!

1620 Words
Yang terjadi pada tubuh Larasita adalah menegang lantas bergetar hebat. Matanya sudah berkaca-kaca ketakutan. Dia tak pernah melihat hal seperti itu kecuali di film, itu pun masih bisa dia skip sedangkan saat ini dia benar-benar melihat secara langsung dan real. Ada perasaan mual saat dirinya melihat bagaimana ciuman* itu berlangsung benar-benar mengerikan. Sekuat tenaga kakinya berusaha menopang tubuhnya meskipun dirasa tulang-tulangnya sudah menjadi jelly saat ini. Larasita segera berbalik. “A--aku ke kelas aja!” tukasnya sambil menundukkan wajahnya. Sementara William tentu saja tak melepaskan cekalan tangannya di pergelangan tangan Larasita. “Gue bilang makan, bukan lo ke kelas,” ucapnya dingin. “Ta--tapi aku mau ke kelas,” cicitnya, tak mau berbalik sama sekali. William merasa kesal, tak pernah ada yang mau kehilangan kesempatan untuk bersamanya, tapi Larasita tetap saja bersikukuh ingin ke kelas. Dia mempertanyakan apa gadis itu normal? “Masuk!” sentaknya sambil membalikkan tubuh Larasita. Dia pun menyeret gadis itu, lantas melebarkan pintu markas dengan kasar. Tangannya yang tadi memegang erat pergelangan Larasita berganti menjadi menggenggam telapak tangan Larasita yang dingin. Saat melihat sepasang kekasih yang tengah b******u* saat itu juga William mengumpat. “Oh Shitt!!! lo berdua sekalian aja ngamar di sini, Njing!” sentaknya. Membuat Yanuar dan kekasihnya pun menghentikan sesi ciuman* mereka. Dia terkekeh geli melihat kedatangan Wiliam dan juga … Larasita? “Sejak kapan lo pagi buta ke markas? Bawa cewek ke sini? Mau apa? Mau lo ajak indehoy juga?” Sungguh mulut Yanuar terlalu laknat sampai Larasita semakin takut dan menarik tangannya lepas dari tangan William. “Otak gue enggak sekotor itu. Cewek lo mending suruh pergi,” balas William. Cowok itu berbalik, menatap Larasita yang masih saja menunduk. Larasita tak bisa mengangkat wajahnya sama sekali, dirasakan bagaimana dirinya begitu takut saat mengingat bagaimana Yanuar melakukannya. “Ck! Masuk!” perintahnya. Namun, Larasita menggeleng keras. Dia menolak masuk dan juga dia terlalu takut kalau ucapan Yanuar malah direalisasikan kepadanya. Dia malah mundur perlahan dan tubuhnya benar-benar sudah dirasa kehilangan semua tenaganya. William yang mendapatkan penolakan langsung menatap tajam Yanuar. Temannya itu malah terkekeh senang dan mengangkat kedua bahunya, lantas pergi meninggalkan William dan Larasita, hanya berdua di sana. William berbalik dan mendekati Larasita. “Lo kenapa sih?” Dia mulai geram dengan tingkah Larasita. Semakin William mendekat, semakin Larasita memundurkan tubuhnya. Mulutnya terkunci rapat dan dia sudah merasa ketakutan. Dia benar-benar merasa takut. “Sita! Berhenti!” bentak William yang sudah mulai emosi. Bug! Tak disadari kalau Larasita sudah tak bisa mundur, karena punggungnya sudah bertabrakan dengan dinding ruangan. Dia tak bisa lari ke mana pun lagi. “Angkat muka lo!” perintah William. Baru kali ini dia ditolak mentah-mentah dengan bagaimana cewek di hadapannya bertingkah. Dia tak senan. Larasita yang terlanjur takut pada akhirnya patuh bak anjing peliharaan. Di mengangkat wajahnya dan dari kedua matanya sudah mengalir air mata tanpa sadar. Willam tersentak, dia tercenung saat melihat wajah Larasita yang sudah terhias sungai dari sudut matanya. “Lo--lo nangis?” tanyanya tercekat. Larasita sendiri tak bisa bersuara sama sekali. Yang ada dia malah bergetar ketakutan. Dia benar-benar kehilangankendali emosinya setelah menyaksikan hal yang menurutnya paling terlarang*. William berdiri membeku, tak menyangka kalau Larasita akan menjadi ketakutan. Tapi dia tak tahu karena apa. Baru kali ini ada wanita yang menangis tiba-tiba di hadapannya. “Sita, lo kenapa?” tanyanya kembali. Larasita tak bisa bersuara sama sekali. Di dalam otaknya sudah tertanam kalau William barangkali akan melakukan sesuatu kepadanya. William menjadi bingung sendiri. “Lo kenapa? Sakit? Apa yang sakit? Cerita sama gue?” Cowok itu semakin panik. Dia tak mau dijadikan penyebab utama Larasita menangis. Dia hanya ingin mengajak Larasita sarapan. Entah kenapa dia ingin sarapan berdua dengan kekasihnya. “Jawab gue Sit, oh God. Serius gue enggak tahu lo kenapa, Sita.” Larasita malah semakin menangis. William pun menjadi resah, dia hanya berpikiran apa tadi ia memaksa gadis itu untuk makan dan sekarang hasilnya Larasita menangis? “Oke, oke, ayo gue antar lo ke kelas, oke? Lo bisa diam kan? Berhenti nangisnya oke?” Saat itu juga William memohon. Dia tak senang saat mendapati Larasita menangis di depannya. “Ayo duduk dulu, biar lo berhenti nangis dulu ya?” Kembali William membujuk. Larasita menggelengkan kepalanya tegas. Dia tak mau berada di tempat yang menurutnya laknat ini. William pun hanya bisa berdiri di hadapan Larasita yang kembali menunduk dan Larasita berusaha menghentikan tangisannya juga. Mau tak mau pada akhirnya Larasita berhenti menangis, asalkan dia tak berduaan dengan William. Butuh beberapa menit untuk Larasita bisa berhenti menangis. Dia benar-benar mencoba menormalkan suasana hatinya agar bisa tenang. Kejadian yang mengejutkan dan tak mau dia mendapatkan kejadian berulang itu untuk saat ini. “Nih, lap dulu,” perintah William yang menyerahkan beberapa lembar tisu. Tentu saja Larasita menerimanya tanpa menolak, dia tak mau lebih lama terjebak dengan William. Setelahnya dia bahkan diantar oleh William ke kelas. William masih penasaran kenapa Larasita menangis. Padahal dirinya tak melakukan apa pun kepada cewek itu. Sialnya dia benar-benar panik sampai dikira kalau Larasita sakit. Apa benar hanya karena dirinya memaksa Larasita untuk sarapan malah menangis? Larasita terus saja menunduk, dia benar-benar merasa kalau semua orang sedang melihat ke arahnya. Pasca dirinya dirundung dan William malah menolongnya, saat itu juga semua gosip sudah tersebar luas. Dia benar-benar tak habis pikir dengan keadaan itu. William masih mengikuti Larasita, dia bahkan mempercepat langkahnya agar dirinya bisa sejajar dengan Larasita. Grep! Dengan cepat dia bahkan memegang tangan Larasita sampai gadis itu berjengit terkejut. William entah kenapa merasa bangga saat bisa menggandeng tangan Larasita. Larasita sedikit kagok. Dia ingin masuk ke dalam kelas tanpa memikirkan kehadiran William, namun pada akhirnya dia malah berbalik. Mengucapkan terima kasihnya. “Terima kasih.” “Ya udah, masuk gih.” William pun tersenyum, dia mengangkat tangannya dan spontan mengacak-acak kecil rambut Larasita yang terikat rapi. “Belajar yang bener ya, Pacar?” godanya. Larasita hanya menatap datar tanpa ada reaksi apa pun di wajahnya. Membuat William yang tadinya tersenyum kini kembali menampakkan wajah datar dan dinginnya. Kapan Larasita akan bisa tersenyum karena ucapannya? Entah kenapa dia merasa tak senang. Larasita segera masuk saja, dia tak peduli kalau William belum pergi dari depan kelasnya. Langkah kakinya terasa berat saat mata-mata teman sekelasnya menatap tajam ke arahnya. Mereka semua sedang bertanya-tanya, apa yang dilakukan Larasita sampai William menjadi pacarnya, atau kenapa bisa William memilih Larasita? Semuanya menjadi pertanyaan di dalam benar mereka apalagi para siswi yang mengagumi dan menaruh hati pada William. Yang bisa diakukan Larasita hanya menunduk saja, berjalan menuju kursi di paling ujung terdepan. Lantas segera dirinya meletakkan tas miliknya. Dia mulai membuka buku pelajarannya. Mengulik kembali materi yang semalam dipelajarinya. Dia mengabaikan keributan yang terjadi di dalam kelasnya. Tujuannya adalah bertahan di sekolah tanpa harus ada pencabutan beasiswa yang didapatkannya. William pun kembali ke markas. Entah kenapa dirinya malah tak ingin masuk ke dalam kelas. Hatinya dihantui rasa penasaran terhadap Larasita. Kenapa gadis itu sama sekali tak mau dengannya? Apa yang menakutkan darinya sampai-sampai Larasita menangis begitu? Benar-benar meresahkan. “Ck! s****n*! Bisa-bisanya gue kepikiran,” umpatnya penuh rasa kesal. Dia terduduk dengan rasa malasnya. Tangannya merogoh saku celananya, mengeluarkan sepuntung rokok* yang terkadang dia hisap saat dia bosan. Sebelum akhirnya dia bisa mengeluarkan asap nikotin dari mulutnya. William masih saja memikirkan Larasita. “Wuih, lo udah rajin aja dateng ke base camp. Tumben amat,” celetuk Hansel yang masuk ke dalam ruangan dengan wajah cengengesannya. William hanya menatap datar dan tak peduli. Dia memilih untuk menghabiskan sepuntung rokok* yang sedang dibakar dan dihisapnya. Disusul oleh kedatangan Yanuar bersama Carol. Ya, mereka berempat adalah anggota geng Wolf Cave. “Bro, enggak masuk kelas lo?” tanya Carol. “Males.” Semudah itu jawaban William. Dia tak pernah memusingkan masuk kelas dan absen kalau dirinya bolos. Dirinya adalah anak dari keluarga donatur terbesar di sekolahan ini. Siapa yang berani untuk membuatnya keluar dari sekolahan? Tak ada, itu jawabannya. “Nanti Aruna laporin lo ya?” Yanuar malah cekikikan. Segera saja William melemparkan pemantik api yang dipakainya untuk membakar rokok*. Puk! “Ngapain lo malah cipokan di kelas hah?!” tanyanya. Yanuar terkekeh geli mendengarnya. “Ya kayak lo enggak pernah aja sih. Pagi-pagi pasti lo pada tegang lah, gue mah butuh pelampiasan.” William berdecak kesal dan mengalihkan pandangannya. *** Usai guru mengakhiri sesi mengajarnya, tanpa diduga banyak siswi yang malah mendatangi Larasita, mereka malah mengajak gadis itu berteman. Padahal sebelumnya, mereka akan menjelek-jelekkan dan juga tak ada satu pun yang mau berteman dengan Larasita. “Sit, lo makan di mana? Bareng yuk?” ajak salah satu siswi dengan rambut bob yang dicat coklat sambil tersenyum. “Aku mau ke perpustakaan, Des.” Penolakan yang membuat gadis itu mundur. Namun, ada gadis lain yang datang dan menyodorkan sebuah kado kecil. “Gue nitip ini buat William ya?” “Kenapa tidak kamu berikan saja secara langsung?” tanya Larasita yang bingung. “Lo kan dekat sama dia, ya bantu gue ya?” Larasita mengiyakan. Lebih tepatnya dia diam dan gadis itu menaruhnya di meja Larasita. Dan banyak lagi yang dititipkan kepadanya. Hadiah, kado kecil, surat dan juga makanan. Semuanya memenuhi loker miliknya karena dia terpaksa memindahkannya. Sepulangnya dari kelas, dia yang sedang tak ada pekerjaan paruh waktu pun memilih mencangkol tasnya. Dia memandangi hadiah yang penuh di lokernya. Berpikir kalau dirinya akan pulang sendirian jadi tak membawa hadiah itu. Tak tahu kalau William berada di belakangnya. “Lo lama amat sih?” keluh William, padahal cowok itu belum menunggu dua menit pun. Larasita terkejut, dia berbalik dan mendapati WIlliam yang berdiri dengan tangan berada di dalam saku jaketnya. “Eh? Kamu?” “Cepetan! Gue antar lo pulang!” ketusnya. William yang berbalik dan berniat pergi dicegah oleh Larasita. “Sebentar.” Dia mengambil semua hadiah itu dan menyerahkannya kepada William. “Ada yang titip ini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD