Benar saja, karena tantangan itu juga pada akhirnya yang terjadi adalah saat di mana William menanyakan ketersediaan Larasita untuk menjadi pacarnya. Sayangnya, gadis itu tak menjawabnya dan membuat dirinya berlaku otoriter. Memutuskan soal itu dengan sendirinya.
William tak mau kalau Larasita menolaknya, dia tak pernah kalah taruhan.
Bahkan bagi Larasita sendiri, dia kebingungan, kenapa dirinya harus menjadi pacar William? Sedangkan gadis-gadis cantik nan modis lainnya malah bisa William pilih untuk dijadikan kekasih. Kenapa harus dirinya?
Karena saat dirinya menjadi sasaran bully pun, William malah mendeklarasikan status mereka. Sungguh aneh dan ajaib. Seperti mantera sihir abra cadabra!
Pagi ini, Larasita seperti biasanya, menyiapkan sarapan di rumah untuk ibu dan kakaknya yang pasti akan pergi bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sudah biasa bagi Larasita mengurus rumah sebelum pergi ke sekolah.
Kakaknya, Deri hanyalah seorang penyapu jalan dan ibunya hanyalah seorang ART di rumah orang kaya yang terkadang tak akan pulang ke rumah. Lalu ke mana uang mereka?
Kakak perempuan Larasita bernama Feni tengah berkuliah di lain kota. Keuangan mereka terbagi untuk hidup dan juga membiayai kuliah sang kakak. Larasita hanya bisa menerimanya saja, dia harus mengumpulkan uang sendiri agar tak menjadi beban ibu dan kakaknya setelah kepergian ayahnya beberapa tahun silam.
Larasita dengan gesit menyapu serta merapikan benda-benda yang tak sesuai pada tempatnya. Setengah jam untuknya bisa menyiapkan sarapan. Berbekal nasi semalam yang dibawa sang ibu, dia membuatkan nasi goreng telur serta dicampur kol dan sawi hijau. Hanya itu, praktis dan murah. Dua butir telur untuk tiga porsi dan juga bumbu halus yang setiap minggu dibuat untuk menjadi stok di dalam kulkas.
Dengan cekatan, remaja berusia 17 tahun itu memasak. Setelah menyelesaikan nasi gorengnya, dia mengambil beberapa lembar roti tawar. Membuatkan sandwich telur mata sapi. Untuk menjadi bekal dia dan juga kakaknya. Hanya berbekal dua lembar roti dan telur saja untuk mengganjal perut mereka.
Larasita segera memasukkan bekalnya, dia sudah menyelesaikan sarapannya. Segera keluar rumah menilik pohon jambu yang ada di samping rumahnya. Dia memilih, berusaha mengambil dua buah jambu batu dengan galah panjang.
Pluk! Pluk!
Segera dia berlari kembali ke dalam rumah, memotong jambu batu itu dan membaginya untuk dia serta kakaknya.
Setelahnya, dia segera memakai sepatu tali miliknya dan mencangkol tas miliknya. Ibunya entah sedang ke warung sepertinya dan kakaknya pun sedang mandi.
Masih jam enam pagi, tapi dia harus menuju ke sekolah agar tidak terlambat.
“Kakak, aku pergi dulu!” pamitnya seraya menutup pintu papan.
Larasita pun berdiri di depan g**g* untuk bisa memberhentikan Kopaja yang melewati jalan utama. Ya, dengan naik Kopaja lebih murah baginya dari pada harus naik angkot. Tak ada transportasi publik gratis yang melewati jalan utama dekat rumahnya.
Setidaknya Kopaja saat pagi masih aman dan tenang. Hanya ada kondektur dan juga penumpang yang sibuk masing-masing.
Dengan waktu lebih dari setengah jam, Larasita memanfaatkannya untuk belajar. Mengulang materi agar dirinya paham betul dan bisa meraih nilai memuaskan dan tak didepak dari sekolah. Beasiswanya bergantung pada nilai yang bisa didapatkannya.
Berbekal kacamata minus yang sudah dua tahun tak dia ganti, setidaknya matanya bisa terbantu. Sungguh kebiasaan buruknya adalah membaca sambil berbaring.
“Warung bambu, warung bambu!” teriak sang kondektur.
Buru-buru Larasita berjalan menuju depang mini bus yang sudah usang nan berumur tua itu. Masih dengan mesin lawas sampai-sampai asap kendaraan masihlah mengepul hitam.
“Nih bang!” Larasita menyerahkan ongkos yang pas, segera saja dia turun.
Butuh 10 menit untuknya sampai ke gerbang sekolah, dia mash harus berjalan hampir satu kilometer lagi.
Larasita dengan bisa mengenali mobil yang mengantar para siswa dan siswi di SMA Harapan Bangsa, sangat kentara sekali mobil-mobil mewah yang melintas. Tak akan ada satu pun siswi yang mau mengajaknya untuk pergi bersama sekadar menawarkan kebaikan mereka.
Ah, gadis remaja itu sudah biasa dengan berjalan kaki. Menjadi paling berbeda sudah tak harus membuat dirinya ketakutan.
Dia berjalan dengan menundukkan kepalanya, sudah terlalu malas dia menatap arah depan. Tak tahu kalau William yang tak sengaja melihat Larasita pun menghentikan motornya dan juga dia bersandar di motornya. Memperhatikan bagaimana Larasita, sang kekasih sedang berjalan seorang diri.
“Lo enggak liat pacar lo nungguin?” sela William yang masih memakai helmet saat Larasita melewatinya begitu saja. Sama sekali tak menyadari kehadirannya.
Seketika gadis itu pun menghentikan langkahnya. Sebenarnya dia merasa terkejut karena mendengar suara William, tapi tak dia tunjukkan. Dia hanya mengangkat pandangannya dan benar saja, dia melihat sosok pria Tionghoa itu.
“Ayo,” ucap WIlliam lagi yang sudah menduduki motornya.
Larasita bingung, apa maksudnya?
William menjadi gemas sendiri, kenapa gadis itu tak paham akan ucapannya.
“Maksud gue, cepetan naik. Masih jauh, enggak usah jalan.” Bahkan suara William datar-datar saja sama seperti dengan ekspresinya.
“Tapi--”
Belum sempat Larasita mengajukan penolakan, cowok itu sudah memotongnya.
“Naik, enggak usah sok nolak.”
Kembali William berubah menjadi otoriter.
Padahal Larasita masihlah trauma, mengingat bagaimana sang kakak tak ramah terhadap William.
“Lama amat sih!” keluh William sudah tak sabar.
Untuk kedua kalinya Larasita akhirnya naik motor dengan William.
Dengan ragu-ragu dia memegangi bahu William, berusaha naik. Rok panjang miliknya harus sedikit terangkat dan memperlihatkan betisnya.
Bagi Larasita, itu menjadi hal yang tak nyaman saat berada di belakang William. Ditambah dengan dudukan yang begitu lebih tinggi seolah dia tengah memeluk William. Sangat canggung rasanya. Berusaha menjaga jarak dengan menegakkan tubuhnya tapi tetap saja, William punya cara sendiri agar Larasita mau berpegangan kepadanya.
Larasita berharap tak ada yang memperhatikan kedatangannya. Salah besar. Sejak William memasuki pekarangan sekolah, semua mata sudah tertuju pada mereka berdua. Ditambah dengan bagaimana bisik-bisik antar siswa pun terjadi. Gosipnya sudah mulai tersebar setelah kemarin William menolongnya dari Clarisa dan Kelly dan menyatakan kalau mereka berpacaran. Habislah sudah dirinya.
Buru-buru Larasita turun dari motor dan berjalan menunduk, meninggalkan William. William yang baru saja melepaskan helmet pun menyadari kalau Larasita pergi. Sengaja dia setengah berlari menyusul Larasita dan mencekal pergelangan tangan milik Larasita.
“Lo pergi-pergi aja! Ck! Apa sih yang lo kejar?” ketus WIlliam.
Semakin seram lah suasana. Larasita sedikit meringis, menatap William. Berusaha mengisyaratkan agar dilepaskan tangannya. Sayangnya, William adalah orang yang tak mau melihat kondisi orang lain.
“Ayo, ikut gue, kita sarapan dulu,” ajaknya.
Larasita hanya pasrah tanpa suara, mengikuti ke mana William melangka. Dan tibalah mereka di base camp Wolf Cave.
Cklek!
Mata Larasita membulat penuh, wajahnya pucat saat tak sengaja melihat Yanuar tengah berciuman* dengan kekasihnya!
Deg!