Taruhan

1056 Words
“Oi! Bengong aja lo!” sentak Hansel, anggota futsal yang sekaligus menjadi anggota geng famous sekolah, di mana salah satunya termasuk William Panthera Leo, si pemilik nama aneh namun juga berpengaruh. William tak terkejut, wajahnya begitu biasa saja dan dia sedang tak berminat untuk meladeni keanehan teman-temannya. Di samping itu, mereka juga benar-benar biang onar, karena kekayaan keluarga yang mereka miliki juga mereka termasuk congkak, terbilang wajar barangkali di sini.   Di ruangan kosong yang berada di lantai tiga menjadi base camp bagi anak-anak yang sudah berkelompok pun menjadi hal biasa. Entah kenapa mereka sering berkumpul, yang jelas, sepupu William, Yanuar menamainya geng Wolf Cave. Oke, mari kita juga ikut menyebutnya Wolf Cave. Ruangan yang sengaja didesain oleh William dan juga teman-temannya menjadi tempat yang sangat nyaman untuk disinggahi. Dengan meja kerja yang memiliki laptop dan PC canggih nan mahal, beberapa permainan yang ada di sisi kiri dan juga bean bag yang mereka taruh di tengah untuk bisa menonton film bersama. Ada dua sofa berjejer yang menempel di dinding. Banyak hiasan-hiasan aesthetic yang benar-benar membuat mata merasa dimanjakan karenanya.   William masih saja diam, memikirkan keberadaan siswi yang tersembunyi dan tembus pandang, Larasita. Sejak dirinya mengantar gadis itu, sejak itu juga dia semakin memikirkan keberadaan Larasita. Kali ini, siswi yang menjadi salah satu kategori tembus pandang kini menarik perhatiannya. Tanpa dia sadari, kalau teman gengnya yang baru datang, Carol, siswa berkewarganegaraan ganda pun ikut memperhatikannya. Dia setengah usil pun mendekati William. “Ada Larasita tuh di luar,” ucapnya. Mendengar nama gadis yang sedang dipikirkannya itu, William pun segera bangun dan menuju keluar tanpa bicara apa pun juga. Teman-teman gengnya termasuk Carol dan juga Hansel ikut memperhatikannya.   Zonk! Kosong! Tak ada siswi yang lewat di depan base camp mereka dan itu artinya …. Segera William membalikkan tubuhnya dan menatap tajam Carol. Pria itu sudah terpingkal-pingkal karena tengah menertawakannya. “Hahaha, gila! William sepertinya sedang kepincut gadis itu!” celetuknya. William segera berjalan menghampiri Carol dan memiting lehernya. “s****n! Lo berani ngerjain gue?! Rasain lo!” Carol yang dasarnya tak sekuat William pun mengaduh dan meminta dilepaskan. “Aduh, iya, iya sorry! Lepasin dong! Lagian lo ngelamun gitu!” kilahnya. William akhirnya memilih untuk kembali duduk setelah melotot pada Carol, memberikan peringatan bahwa sang macan jangan pernah diganggu di zona nyamannya.   Hansel pun ikut memandangi William. Dia menepuk bahu Carol, sengaja membuat dirinya ingin menantang William. Dia duduk di samping William. William bersiap mengusirnya, namun dihentikannya oleh Hansel. “Lo suka sama Larasita? Lo sering tuh ada di lab sama dia, kemarin pulang bareng kan?” Hansel seolah-olah tengah mencoba membaca pikirannya. Membuat William berdecih, meremehkan ilmu penerawangan milik Hansel. “Sok tau lo,” sanggahnya. Carol ikut mendekat, duduk di samping Hansel. “Gue taruhan, lo suka sama dia, lo gimana?” tanya Hansel pada Carol. Carol mengangguk setuju. Sementara William berdecih, merasa gengsi kalau bilang dirinya memang sedikit tertarik pada Larasita. Baru saja dia akan menjawab, teman-temannya yang lain pun datang.   “Gila! Lo pada ngomongin apa sih, pusing banget gue, dihukum terus sama Miss Merli,” keluh Yanuar yang datang-datang segera mencurahkan isi hatinya dan kini malah berbaring di sofa. William pun segera memberikan jawabannya. “Gue enggak suka sama cewek yang enggak ada cantik-cantiknya itu, enggak enak buat dicium!” serunya. Yanuar yang baru saja memejamkan matanya pun segera duduk kembali, menatap William serius. “Emang cewek cuma buat diajak cipokan aja? Parah lo. Awas ngomong gitu, ntar kena batunya. Pacaran tapi enggak bisa pegang-pegang secuil pun,” ejek Yanuar. Hansel dan Carol pun mengangguk, menyetujui ucapan Yanuar. William semakin menyeringai. Yang benar saja, siapa juga yang menolak pesonanya sih? Dia rasa tak ada. “Lo, lo pada jangan munafik deh! Gaya pacaran kalian lebih parah kan?” lemparnya. “Weits, kok nyambernya ke kita-kita, ini kan kita lagi ngomongin lo, lo suka enggak sih sama Larasita? Lo sampe antar-antar dia, nanti dia ge-er gimana?” Hansel kembali melemparkan pendapatnya. “Ya kalau dia suka, itu wajar, salah matanya kalau sampe enggak suka William,” bela Yanuar. Namun, berbeda pendapatnya dengan Carol. “Kalau misalnya Larasita enggak suka?” Semuanya diam, menatap Carol. Semakin membuat William berdecih dan merasa sombong, “enggak mungkin. Bahkan kalau gue deketin dia, sehari pun bisa langsung jadian.”   Mendadak sebuah usul pun tercetus. “Haha! Enggak! Larasita itu beda, gue berani taruhan, dua minggu lo deketin dia, dia enggak akan kepincut sama lo.” “Lo nantang gue?” Kali ini, mendadak William merasa tak terima. Dengan senang hati Yanuar mengangguk setuju, hanya dia yang tahu alasan kenapa hal itu bisa terjadi. “Gue dukung lo, Will. Gue yakin cewek itu kepincut sama lo. Gue bakal kasih Ninja gue buat Yanuar kalau sampe mereka enggak pacaran,” timpal Hansel. Semakin tergiur lah Yanuar dan juga Carol. “Tunggu, kalau gitu … pacarin dia sebulan, abis itu lo putusin. Gimana? Lo berhasil, berarti gue kasih G-shock edisi terbaru punya gue, gratis buat lo.” William semakin merasa tertantang, dia tak suka orang lain menganggap remeh dirinya. “Enggak masalah, gue juga udah deketin dia dari kemarin-kemarin kok. Bakal gue buat dia mohon-mohon sama gue buat enggak putus,” putus WIlliam. Ya, taruhan itu disetujui, hanya karena ego yang merasa tersindir, membuat mereka menukar hati seseorang dengan sebuah barang. Kesenangan belaka.   Datang juga sosok lain, sepupu William lainnya, Aruna yang dengan suara manja nan cempreng menggema ke seluruh ruangan. “Kalian di sini?! Pantas aja guru mencak-mencak,” serunya ikut duduk di samping Yanuar. Semua cowok itu pun pada akhirnya diam, tak mau membocorkan rahasia dan tantangan yang baru saja mereka bicarakan. “Kalian mengobrol apa sih?” Mendadak Aruna ingin tahu. William bangkit, menarik lengan Aruna untuk berdiri. Gadis berambut panjang itu merasa janggal dengan keterdiaman geng Wolf Cave yang biasanya selalu ribut dan juga membuat keributan. “Ayo kantin, udah istirahat,” sela WIlliam menyeret sepupunya. Aruna tersenyum, dia melingkari lengan milik William tanpa canggung. Sudah biasa dirinya berdekatan dengan William, sepupunya. “Eh, ada surat cinta untuk kamu. Dari Manda,” ucap gadis berambut panjang dan curly itu sembari tersenyum kepada siswa yang menyapanya. Ya, siapa juga yang tak kenal dengan Aruna, siswi pintar nan cantik yang humble dan ramah. Dia tak pernah berucap kasar atas didikan kedua orang tuanya. Berbeda dengan William yang dingin, dia memiliki sifat hangat yang menerima siapa pun untuk bergaul dengannya.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD