Tak Ada Ramah Tamah

1059 Words
Sudah dibilang, apa pun yang akan William lakukan, maka di situ tidak ada yang namanya sebuah penolakan. Apa pun yang remaja berketurunan Tionghoa itu lakukan, maka semua harus mau. Seperti Larasita yang berakhir dibonceng oleh William. Gadis itu sendiri berusaha untuk memundurkan tubuhnya, sekadar untuk bisa memberi jarak. Jantungnya sudah jumpalitan sedari tadi karena keusilan William. William pun merasakannya, merasakan saat tubuh gadis itu berbenturan dengan punggungnya, mendadak terasa hangat dan juga bulu kuduknya meremang. Dia tak bersuara, menikmati sunyi akan kedekatannya dengan Larasita. “Di mana rumahnya?” tanya William, dia mulai bersuara meskipun nada suaranya terdengar rendah. Larasita segera mengenyahkan pikiran yang terbilang tak sopan, segera menyebutkan alamat rumahnya sendiri. Dipastikan Deri, sang kakak sedang menunggunya. Tak ada lagi pembicaraan di antara mereka berdua. Yang ada hanyalah sebuah sunyi dengan suara deru motor yang sedang dikendarai oleh pemiliknya. Berbekal arahan Larasita, pada akhirnya mereka benar-benar sampai di sebuah g**g* kecil. “Ini masuk?” Kembali William bertanya dari balik helmet yang dipakainya. “Tidak usah, saya turun di sini saja.” Entah kenapa William sudah kesal dengan yang namanya penolakan, sekarang ditambah juga dengan bahasa formal yang dipakai oleh Larasita. “Gue antar sampai depan rumah. Harus.” Larasita berusaha turun, tapi William tak kalah akal. Dia malah menggoyang-goyangkan motor miliknya agar Larasita tak turun. Terpaksa Larasita memohon, sedikit tentunya. Dia tak bisa membiarkan kakaknya berpikir macam-macam tentangnya. “Sudah dekat kok, jalan pun tak sampai 5 menit,” kilah gadis itu, berusaha untuk membuat yakin William. William berdecak sebal. “Ck! Ya udah sih, tunjukkin aja jalannya,” gerutu William merasa tak terima ditolak begitu. Masih berusaha untuk bersikeras dengan keinginannya. Pada akhirnya, di belakang mereka ada motor yang juga ingin masuk g**g*. Tiiin! Tiiin! “Woy, pacaran jangan di jalan begini!” tegur pria yang nampak sebal dengan keberadaan William dan Larasita. Akhirnya Larasita menyerah, dia tak bisa sama sekali menyangkal perkataan William. Dia benar-benar bungkam, berakhir dengan memberikan petunjuk agar motor William melaju dan tak menghalangi jalan bagi orang lain.   William mematikan mesin motornya tepat di depan rumah Larasita. Di balik helmet yang dipakainya, matanya tengah memindai rumah tanpa pagar yang langsung menghadap jalan g**g. Pintu yang usang dengan penerangan berwarna kuning dari lampu lima watt yang menyala memberikan kesan kumuh dan juga suram. Bahkan atap yang menaungi pintu pun hanya berbahan asbes saja. William tak habis pikir, bagaimana bisa Larasita tinggal di rumah kumuh begitu? Dengan suara bising yang pasti terdengar sampai ke dalam dan juga dengan area lingkungan yang benar-benar tak nyaman. Satu hal yang baru saja menjadi fakta di mata William. Dia tak pernah tahu bahwa kemiskinan itu ada. Seketika, semakin kuat dalam dirinya untuk melindungi Larasita. Meskipun dia masih menyangkal soal bagaimana hatinya tak memiliki perasaan kepada Larasita.   Dengan ragu-ragu, Larasita akhirnya menyentuh bahu William agar dirinya mendapat sanggaan agar bisa turun. William masih diam. Dia masih terkejut. Sementara Larasita bergeser sedikit untuk berhadapan dengan William. “Terima kasih,” ucapnya tulus masih dengan penuh rasa canggung. Dia tak pernah diantar pulang oleh siapa pun.   Tanpa tahu kalau Deri sudah menunggu di sudut depan rumah dengan bersedekap tangan, mengawasi tanpa terlewat sedikit pun celah di antara William dan Larasita. William menjawab dengan dehaman saja. “Hm.” Semakin membuat Larasita canggung. “Ya sudah, kamu juga sudah antar saya sampai depan rumah, jadi … terima kasih. Kamu bisa pulang,” tutur Larasita berusaha berbicara pada intinya. William tertegun, gadis yang baru saja diantar pulang olehnya itu sama sekali tak berbasa-basi. Tunggu, memang apa yang dia harapkan dari Larasita? Bukankah dia juga mengantar Larasita juga karena kasihan saja? ‘Gila!’ batinnya tengah mengejeknya.   “Laras!” panggil Deri yang kini sudah menegakkan tubuhnya. Larasita terkejut melihatnya. Dia bungkam seketika dan tatapan matanya berubah menjadi was-was dan takut. William yang ikut melihat ke mana arah pandang Larasita, ikut tertegun melihat sosok pria dewasa dengan wajah yang terbilang keras dan juga sama sekali tak ada keramahan di sana. Larasita segera setengah terburu-buru menyongsong sang kakak. Menyaliminya, mencium punggung tangan pria itu sembari menunduk. Ada rasa tak nyaman jika dia mendapatkan teguran dari anak pertama yang dilahirkan oleh ibunya itu. “Ke mana saja kamu? Baru pulang malam begini,” sindir Deri masih dengan wajah datar dan terus menatap ke arah William. Pada akhirnya William turun dari motornya. Melepas helmet yang dipakainya dan segera menghampiri Deri sambil menenteng helmet miliknya. Yang Deri tahu, kalau motor dan juga helmet yang dipakai oleh cowok asing yang mengantar Larasita bukanlah barang murah. “Tadi kan aku bilang sama kakak, kalau aku pulang nunggu angkot.” Larasita berusaha menjelaskan kondisinya kepada Deri. Deri masih tak menatap sang adik, dia menatap tepat pada mata William. William sama sekali tak gentar, sangat kentara dari maniknya yang memandangnya tanpa takut. “Kenapa kamu pulang sama cowok?” tanya Deri lagi, berusaha menyudutkan Larasita.   Mendengar pertanyaan tajam Deri, mau tak mau akhirnya angkat bicara. Dia merasa harus menjelaskan situasinya kepada pria yang masih tak dia tahu status dan hubungannya dengan Larasita. “Kak,” sela Larasita berusaha untuk membuat Deri agar mau mengakhiri sesi interogasi mereka. “Perkenalkan, saya William, teman sekolah Larasita. Saya mengantarnya karena memang sudah malam dan tak ada kendaraan yang lewat,” tutur William, dengan membuat gesture tubuhnya menunjukkan rasa hormat. Kini William tahu, kalau pria itu rupanya kakak dari Larasita. Masih dengan menatap tajam William, Deri pun berkata, “kamu bisa minta kakakmu menjemput kan? Kenapa harus diantar oleh teman sekolahmu? Membuat dia repot dan juga menjadi gosip tetangga,” tegasnya.   Larasita semakin menundukkan kepalanya, sedangkan William pada akhirnya diam. Tak menyangka kalau itu yang menjadi kekhawatiran sang kakak. “Saya yang memaksanya, karena sepertinya dia masih saja mau menunggu dan takut kalau turun hujan,” sambar WIlliam berusaha untuk membuat Larasita tak bersalah di depan sang kakak. “Terima kasih sudah mengantar adik saya pulang, kamu boleh pulang. Dan kamu masuk, Laras,” perintah Deri. Bahkan kakak Larasita itu tak nampak mau beramah tamah dengannya. William sedikit berusaha bersikap netral, tak terbawa emosi meskipun dia ingin sekali menegur Deri soal bagaimana memperlakukan sang adik. “Terima kasih, William,” ucap Larasita sama sekali tak menatap wajah William. William tak habis pikir, ditambah gadis itu segera berbalik meninggalkan dirinya dan juga Deri. “Kamu boleh pulang sekarang,” ketus Deri sebelum akhirnya ikut masuk dan menutup pintu, meninggalkan William seorang diri di jalanan g**g* yang sempit itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD