Gadis Gagap

1048 Words
Buru-buru Larasita memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Ini semua karena William, tapi … dia tak berani menyalahkannya tentu saja. Dengan bingung dan ragu, dia menghampiri WIlliam yang asyik menggulir layar ponselnya. “Euhm … I--ini,” ujarnya sambil menyodorkan buku milik William. William mengangkat pandangannya, manik pekatnya menatap Larasita tajam seolah-olah siap memangsa siswi yang berdiri di depannya itu. Dia mengambilnya lantas mendahului Larasita. Gadis itu sampai terburu-buru mengikuti langkah William yang lebar dan berusaha mengunci pintu laboratorium secepatnya. Melihat halaman sekolah yang gelap dan pencahayaan yang minim mampu membuat detak jantungnya memburu hebat.   Matanya melotot saat tak mendapati sosok William, anak laki-laki itu sudah pergi?! Mau tak mau Larasita segera mempercepat langkah kakinya, berharap ada satu orang satpam ditemuinya, sayangnya sampai di parkiran motor pun tak ada orang lain di sana. Padahal dia sering pulang malam, tapi dia juga merasa parno. Memikirkan film-film horor yang diulas oleh teman kerjanya. Memikirkannya saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri dan punggungnya meremang hebat.   Puk! Larasita semakin tegang, tubuhnya mematung dan matanya membulat penuh saat merasakan tepukan di bahu kanannya. Dia sudah pucat pasi, napasnya tertahan sempurna dan sekarang dia tak tahu harus berbuat apa. Dia tak mungkin berteriak. “Lo liatin apa sih?” Deg! Suara yang sangat dikenalnya membuat rasa takutnya berubah dengan rasa jengkel. Dia segera menoleh dan mendapati William yang sudah mengenakan jaket jeans dan helm mahalnya. Napasnya terbuang kasar karena merasa lega. Artinya masih ada satu orang di sekitarnya. Dia buru-buru berjalan keluar area sekolah dan duduk di halte dengan penerangan yang minim. Berharap ada angkutan umum yang lewat.   Dia semakin khawatir saat sudah menunggu belasan menit tapi tak kunjung ada yang lewat. Ayolah, dia terlalu lelah untuk jalan kaki.   Brrummmm … Brrummm …. Suara mesin motor yang menderu semakin dekat jaraknya. Benar saja, motor besar bermerk Kawasaki Ninja 250 dengan harga setara dengan dua kali beasiswa yang didapat oleh Larasita. Gadis itu menatap si pengendara motor keheranan. Dia meringis jika memikirkan betapa mahalnya motor yang ditumpangi oleh pemiliknya itu.   “Ck! Ngapain sih lo diem di situ? Ayo!” teriak si pengendara yang ternyata William. “Hah?” Bahkan Larasita tak mampu menerjemahkan ucapan William. “Elah, lama lo! Lo mau nunggu angkot sampe kapan sih? Ini udah jam 7!” sentak William merasa tak sabar dengan Larasita yang telmi begini. “Maksudnya?” Bahkan bisa-bisanya Larasita mempertanyakannya.   William yang tak sabar pun turun dari motornya, menghampiri Larasita. Dia semakin mendekat, satu langkah kakinya maju maka gadis itu akan mundur satu langkah. Menatap waspada pada sosok William yang berdiri di depannya dan semakin panik saat William tak berniat menghentikan langkahnya. “Ka--kamu mau apa?” tanyanya panik saat tubuhnya sudah tak bisa mundur dan membentur dinding halte. William semakin senang mengusili Larasita yang blingsatan. Dia semakin mencondongkan tubuhnya, menyejajarkan tingginya. Selain panik, Larasita merasakan dadanya bergemuruh hebat dan dia sudah terkena serangan jantung. Dia merasa malu kalau-kalau detak jantungnya yang menggila terdengar oleh telinga William. Bahkan Larasita sudah menyilangkan tangannya, berusaha mendorong tubuh William menjauh. William berhenti saat melihat tangan Larasita mendorong-dorong dadanya untuk menjauh. Dia merasakan panas saat otaknya berkeliaran.   Grep! Dia menggenggam kedua tangan Larasita dan menyeret gadis itu menuju motornya. “Eh, eh, saya mau dibawa ke mana?!” Larasita semakin panik karenanya. Larasita berusaha melepaskan tangannya, tapi pegangan William terlalu kencang. “Ck! Diem kenapa sih?!” semprot William yang berdiri di sisi motornya. “Kamu mau apa?!” sentaknya kembali dengan wajah waspada. “Kalo gue nyulik lo, enggak laku. Lo kurus, enggak cantik juga, bagian mana yang bisa gue jual?” William malah semakin mengejeknya. Larasita panik bukan main. Dia mencoba untuk kabur, tapi tangan kanannya malah dicekal. “Ck! Gue mau anter lo balik, udah enggak usah rese lo, bisa-bisa gue tinggal sendirian mau?” ancam William.   Seketika Larasita diam, dia mulai berpikir apa jadinya kalau tak ada angkot yang lewat? Bulu kuduknya semakin merinding seketika. “Mau gue tinggal?” tanya William yang sibuk melepaskan jaketnya. Larasita menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Ja--jangan,” cicitnya. “Bagus.” William menganggukkan kepalanya merasa puas. Tak sia-sia dia mengancam gadis itu.   “Angkat tangan lo,” perintahnya. Larasita semakin bingung, untuk apa? “Lo pernah naik motor?” William bertanya kembali dan Larasita mengangguk. “Motor sport begini?” Dan dia menggelengkan kepalanya dengan polosnya. Lagipula siapa yang akan memboncengnya dengan motor mewah begitu? Dia hanyalah kalangan putri --rakyat jelata-- yang tak memiliki keistimewaan sama sekali.   “Nih pake jaket gue!” William melemparkan jaket jeansnya yang sudah dia lepas. “Eh, tidak usah, kamu pakai saja,” tolak Larasita. “Kelamaan lo!” William menarik tangan Larasita, seolah-olah gadis itu adalah anak lima tahun yang butuh dituntun, dia memakaikan jaketnya. Larasita memanas, dia tak pernah diperlakukan begini selain oleh mendiang ayahnya dan juga kakaknya, Deri. Dan sekarang malah dituntun begini.   “Ayo, buruan naek!” perintah William kembali sambil menyodorkan satu helm yang lebih kecil ukurannya. Mungkin dia sering membonceng siswi lainnya kan? Pikir Larasita sambil menerimanya. Dia mengenakan helm dan kembali bingung bagaimana cara menaiki motor tinggi itu. “Euhm … gimana naiknya?” tanyanya. “Lo bener-bener manusia purba ya? Duh, lo pegang bahu gue, kaki kiri lo injek pedalnya bau kaki kanan ngelangkah,” jelas William. “Eh?!” Bahkan Larasita merasa kaget mendengarnya, dia harus menyentuh William? Semakin guguplah dia. “Cepetan, jangan lama!” geram William, dia benar-benar tak habis pikir dengan Larasita.   Dengan ragu-ragu, akhirnya Larasita menyentuh bahu William, dia mencoba naik dan duduk di belakang William. Itu pun William ikut menahan tangannya agar dia tak sampai jatuh. Blush!!! Larasita merona malu, saat memikirkan dia yang berboncengan dengan pria selain dari keluarganya. Pose duduknya yang condong seolah-olah tengah memeluk William.   William mulai melajukan motornya, sementara Larasita tak bisa duduk dengan nyaman. Berkali-kali dia menegakkan tubuhnya dan tangannya berusaha untuk memegang jaket kebesaran yang membalut tubuhnya. “Lo ngapain enggak pegangan sih?! jatoh nanti!” teriak William yang merasakan tak ada yang berpegangan di pinggang atau bahunya. “Saya tidak apa-apa kok.” Merasa kalau Larasita terlalu menjaga jarak membuat William berulah. Diputarnya gas dan membuat lonjakan di motornya sampai melaju kencang. Spontan karena terkejut, Larasita berpegangan di pinggang William. Setelahnya William malah mengerem mendadak, membuat Larasita tersentak maju dan memeluk William tanpa sengaja. Blush! William dan Larasita memerah, menyadari kalau mereka terlalu dekat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD