bc

Kembali Bertemu

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
friends to lovers
arranged marriage
goodgirl
independent
sweet
genius
campus
childhood crush
friendship
school
like
intro-logo
Blurb

Kembali Bertemu

23 desember 2011, liburan akhir tahun telah tiba, libur yang cukup panjang untuk mengunjungi tempat lama, yang hampir dilupakan oleh seorang gadis dengan tinggi badan 155 cm bernama. Yah Adinda, adalah seorang mahasiswi yang sedang menumpuh pendidikan pada perguruan tinggi yang cukup terkenal di daeraahnya. Gadis yang mulai berajak dewasa ini, mulai menyusun agenda liburannya. Dalam benaknya banyak sekali tempat yang harus ia kunjungi untuk merehatkan otak dari aktivitas perkuliahan yang begitu padat yang harus mengorbankan berat badanya turun hingga 7 kg, berat badan yang susah payah ia naikan.

Sebuah buku kecil dengan sampul mini bus, penuh dengan list tempat yang menjadi objek liburan Adindai. Ia mulai dari kampung halaman Papa dan Mamanya, yang keduanya telah ia kunjungi. Lalu lanjut dengan ajakan Paman dan Bibinya untuk ikut bersama mereka, ajakan Kakak sepupunya hingga liburan bersama teman-temannya. Adinda mulai bingung harus kemana, hingga telpon selulernya berdering.

“Ring… ring… ring..” “Hallo, Nenek” teriak Tachi rindu. “Bagaimana kabarmu Cucu mungilnya Nenek?” tanya Nenek. “Aku selalu baik nek, lama sekali Nenek tidak menelefon. Rindu ku telah menumpuk segudang” jawab Adinda manja. “Oooh astaga gadis kecil Nenek masih saja manja, kau tau kan sayang, jaringan telepon di daerah Nenek masih saja begini, Pemerintah kurang mempertikan keaadaan kampung-kampung di pelosok seperti ini sayang. Pahamilah gadis kecil Nenek”. Nenek mencoba menenagkan cucu kecilnya itu. “Adinda lupa Nek, kampung nenek masih saja seperti dulu” jawab Adinda. Kampung halaman Neneknya Adinda memanglah susah untuk terhubung dengan jaringan telpon apalagi jaringan internet. Dari dulu semenjak Adinda kecil, masih tinggal bersama neneknya masalah jaringan belum juga terselesaikan. Ini harusnya menjadi perhatian Pemerintah, baik Pemerintah Desa, Kabupaten/Kota maupun Pemerintah Pusat. Zaman telah maju tetapi pemenuhan kebutahan seperti jaringan saja belum mampu di penuhi oleh Pemerintah. Dan mereka pun melanjutkan obrolan dengan penuh kehangatan.

Setelah pembicaraan hampir 2 jam tersebut, Adinda telah memutuskan harus menghabiskan liburannya dimana. Yah, kampung halaman Nenek. Tempat yang telah lama ia tinggalkan dan hampir terlupakan. Tempat masa kecilnya yang begitu penuh warna, pantai, sungai, kebun cengkeh, gunung begitu asri masa kecil gadis yang selalu dianggap kecil oleh Neneknya itu. Malam yang begitu sunyi, Adinda mulai menyiapakan barang-barang bawaannya. Baju, kacamata, kamera dan tentunya kopi hitam kesukaan neneknya. “Okey, semuanya telah ready. Tinggal tiket kapal dan berangkat” Ucap Adinda bahagia. Untuk sampai ke kampung halaman Neneknya, Adinda harus menggunakan jalur laut, membutuhkan waktu 12 jam pelayaran, kemudian melanjutkan perjalanan darat dengan kendaraan roda 2 atau roda 4 dengan waktu setengah jam lebih. Ini sudah cukup cepat, karena pembangunan jalan yang mulai membaik.

Hari keberangkatan telah tiba, Adinda memulai liburan yang mungkin akan sangat berkesan dan menjadi kenangan yang tak terlupakan nantinya. Sepanjang perjalanan Adinda mulai mengorek kenangan apa saja yang masih ia ingat sewaktu umurnya 9 tahun itu. Yah, ia tak ingat banyak, semuanya seakan samar. Nama kawan-kawannya mulai ia ingat satu persatu, meskipun tidak sampai 10 orang. “Isya, Niara, Dian, Zara, Topan dan yah Imbra” hanya 6 orang yang mulai muncul dalam ingatannya.

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 13 jam akhirnya Adinda sampai di kampung halaman neneknya. Desa yang masih terlihat begitu alami. Tidak banyak yang berubah sejak ia tinggalkan 10 tahun terakhir. “Assalamualaikum” salam Adinda membuka pintu rumah yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran bunga mawar besar. “Waalaikum Salam, Ya Allah cucu Nenek sudah sebesar ini” sambut Nenek dengan peluk dan cium hangat. Adinda membuka pintu kamar yang menjadi tempat tidurnya sewaktu kecil dulu, kamar dengan jendela yang menghadap kearah barat, ia letakan koper dan membuka jendela, berhadapan dengan sebuah rumah yang mulai perlahan muncul dalam ingatannya. Rumah teman baiknya, Imbra. Anak lelaki yang selalu bersama dengannya, kemanapun Adinda pergi Ia selalu menggenggam tangannya. Adinda mulai mengingat kembali anak lelaki itu. Senyuman manis mulai terpancar seolah-olah kenangannya bersama Imbra adalah yang termanis.

“Nenek, Nek..” Panggil Adinda. “ Ya sayangnya Nenek, ada apa?” Jawab Nenek. “Nek, teman kecil Aku dulu ada kan yang namanaya Imbra? Tanya Adinda penasaran. “Oh si bocah nakal” saut Nenek, sambil mennyeruput kopi hitam. “Nek Imbra masih disini? Dia tidak merantau? Kuliah? Kerja? Atau gimana nek.” Tanya Adinda seolah mengintrogasi Neneknya. “Tidak sayang, Imbra masih disini, makin nakal itu anak, tidak melanjutkan sekolah hanya duduk main dengan kawan-kawannya lalu mabuk-mabukan.” Jawab Nenek. “Kok sekarang Imbra jadi kayak gitu Nek? Jawab Adinda kecewa. “Nenek juga bingung sayang, tiba-tiba selepas SMA dia mulai nakal tidak karuan begitu.

chap-preview
Free preview
Kembali Bertemu
Kembali Bertemu 23 desember 2011, liburan akhir tahun telah tiba, libur yang cukup panjang untuk mengunjungi tempat lama, yang hampir dilupakan oleh seorang gadis dengan tinggi badan 155 cm bernama. Yah Adinda, adalah seorang mahasiswi yang sedang menumpuh pendidikan pada perguruan tinggi yang cukup terkenal di daeraahnya. Gadis yang mulai berajak dewasa ini, mulai menyusun agenda liburannya. Dalam benaknya banyak sekali tempat yang harus ia kunjungi untuk merehatkan otak dari aktivitas perkuliahan yang begitu padat yang harus mengorbankan berat badanya turun hingga 7 kg, berat badan yang susah payah ia naikan. Sebuah buku kecil dengan sampul mini bus, penuh dengan list tempat yang menjadi objek liburan Adindai. Ia mulai dari kampung halaman Papa dan Mamanya, yang keduanya telah ia kunjungi. Lalu lanjut dengan ajakan Paman dan Bibinya untuk ikut bersama mereka, ajakan Kakak sepupunya hingga liburan bersama teman-temannya. Adinda mulai bingung harus kemana, hingga telpon selulernya berdering. “Ring… ring… ring..” “Hallo, Nenek” teriak Adinda rindu. “Bagaimana kabarmu Cucu mungilnya Nenek?” tanya Nenek. “Aku selalu baik nek, lama sekali Nenek tidak menelefon. Rindu ku telah menumpuk segudang” jawab Adinda manja. “Oooh astaga gadis kecil Nenek masih saja manja, kau tau kan sayang, jaringan telepon di daerah Nenek masih saja begini, Pemerintah kurang mempertikan keaadaan kampung-kampung di pelosok seperti ini sayang. Pahamilah gadis kecil Nenek”. Nenek mencoba menenagkan cucu kecilnya itu. “Adinda lupa Nek, kampung nenek masih saja seperti dulu” jawab Adinda. Kampung halaman Neneknya Adinda memanglah susah untuk terhubung dengan jaringan telpon apalagi jaringan internet. Dari dulu semenjak Adinda kecil, masih tinggal bersama neneknya masalah jaringan belum juga terselesaikan. Ini harusnya menjadi perhatian Pemerintah, baik Pemerintah Desa, Kabupaten/Kota maupun Pemerintah Pusat. Zaman telah maju tetapi pemenuhan kebutahan seperti jaringan saja belum mampu di penuhi oleh Pemerintah. Dan mereka pun melanjutkan obrolan dengan penuh kehangatan. Setelah pembicaraan hampir 2 jam tersebut, Adinda telah memutuskan harus menghabiskan liburannya dimana. Yah, kampung halaman Nenek. Tempat yang telah lama ia tinggalkan dan hampir terlupakan. Tempat masa kecilnya yang begitu penuh warna, pantai, sungai, kebun cengkeh, gunung begitu asri masa kecil gadis yang selalu dianggap kecil oleh Neneknya itu. Malam yang begitu sunyi, Adinda mulai menyiapakan barang-barang bawaannya. Baju, kacamata, kamera dan tentunya kopi hitam kesukaan neneknya. “Okey, semuanya telah ready. Tinggal tiket kapal dan berangkat” Ucap Adinda bahagia. Untuk sampai ke kampung halaman Neneknya, Adinda harus menggunakan jalur laut, membutuhkan waktu 12 jam pelayaran, kemudian melanjutkan perjalanan darat dengan kendaraan roda 2 atau roda 4 dengan waktu setengah jam lebih. Ini sudah cukup cepat, karena pembangunan jalan yang mulai membaik. Hari keberangkatan telah tiba, Adinda memulai liburan yang mungkin akan sangat berkesan dan menjadi kenangan yang tak terlupakan nantinya. Sepanjang perjalanan Adinda mulai mengorek kenangan apa saja yang masih ia ingat sewaktu umurnya 9 tahun itu. Yah, ia tak ingat banyak, semuanya seakan samar. Nama kawan-kawannya mulai ia ingat satu persatu, meskipun tidak sampai 10 orang. “Isya, Niara, Dian, Zara, Topan dan yah Imbra” hanya 6 orang yang mulai muncul dalam ingatannya. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 13 jam akhirnya Adinda sampai di kampung halaman neneknya. Desa yang masih terlihat begitu alami. Tidak banyak yang berubah sejak ia tinggalkan 10 tahun terakhir. “Assalamualaikum” salam Adinda membuka pintu rumah yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran bunga mawar besar. “Waalaikum Salam, Ya Allah cucu Nenek sudah sebesar ini” sambut Nenek dengan peluk dan cium hangat. Adinda membuka pintu kamar yang menjadi tempat tidurnya sewaktu kecil dulu, kamar dengan jendela yang menghadap kearah barat, ia letakan koper dan membuka jendela, berhadapan dengan sebuah rumah yang mulai perlahan muncul dalam ingatannya. Rumah teman baiknya, Imbra. Anak lelaki yang selalu bersama dengannya, kemanapun Adinda pergi Ia selalu menggenggam tangannya. Adinda mulai mengingat kembali anak lelaki itu. Senyuman manis mulai terpancar seolah-olah kenangannya bersama Imbra adalah yang termanis. “Nenek, Nek..” Panggil Adinda. “ Ya sayangnya Nenek, ada apa?” Jawab Nenek. “Nek, teman kecil Aku dulu ada kan yang namanaya Imbra? Tanya Adinda penasaran. “Oh si bocah nakal” saut Nenek, sambil mennyeruput kopi hitam. “Nek Imbra masih disini? Dia tidak merantau? Kuliah? Kerja? Atau gimana nek.” Tanya Adinda seolah mengintrogasi Neneknya. “Tidak sayang, Imbra masih disini, makin nakal itu anak, tidak melanjutkan sekolah hanya duduk main dengan kawan-kawannya lalu mabuk-mabukan.” Jawab Nenek. “Kok sekarang Imbra jadi kayak gitu Nek? Jawab Adinda kecewa. “Nenek juga bingung sayang, tiba-tiba selepas SMA dia mulai nakal tidak karuan begitu. Padahal dulu anaknya baik, selalu bantu Mama, Papanya di kebun, penurut anaknya dulu” jelas Nenek. Adinda mulai memikirkan Imbra, kenapa anak yang dulunya begitu baik menjadi senakal sekarang ini. Sore itu, Adinda sedang duduk menemani Neneknya minum teh, lalu datang dua orang gadis seumuran Adinda. Mereka memberi salam dan memulai perbincangan. “Bukankah kamu Adinda, anak perempuang yang cengeng dulu? Yang kemana-mana tangannya harus di pegang Imbra kan?” Tanya seorang gadis dengan rambut dikepang dua tersebut. “Hehehe, maaf bukannya aku sombong tapi sunggguh Aku tidak menganal kalian berdua, mungkin nama masih ku ingat” Jawab Adinda dengan penuh kehati-hatian. “Aku Isya dan ini Niara, kita bertiga dulu selalu ke sekolah bersama, eh sama si Imbra juga.” Jelas Niara semangat. “Oh astaga Aku ingat. Isya, Niara. Aku masih mengingat nama kalian hanya saja wajah yang samar dalam ingatanku. Hehehe.” Mereka bertiga mulai menceritakan masa kecil mereka bersama. Di tengah-tengah obrolan penuh rindu itu, Adinda mulai membuka obrolan mengenai Imbra. Isya dan Niara mulai menceritakan segalanya tentang Imbra. Imbra Ananda Pratama adalah seorang anak laki-laki dengan kepribadian yang sangat mengesankan, tetapi semua itu seakan pudar ketika ia lulus sekolah tingkat atas. Dalam cerita Niara dan Isya, Imbra menjadi berbeda karena keinginan kedua orang tuanya. Orang tua Imbra tidak mengizinkan Imbra untuk pergi mengejar cita-citanya menjadi seorang Abdi Negara, Polisi. Orang tua Imbra menginginkan agar Imbra tetap di Desa bersama mereka mengurusi kebun dan lahan pertanian mereka. Karena Imbra satu-satunya laki-laki dalam keluarga mereka selepas Papanya. Imbra memiliki 3 saudara lainnya dan semua adalah perempuan. Sehingga itu orang tua Imbra takut ketika Imbra pergi mengejar cita-citanya, siapa yang akan mengurusi kebun, dan lainnya. Sedangkan ketiga anak perempuanya akan menikah dan mengikuti suami mereka masing-masing. Sebab itu Imbra kecewa dan mulai menjadi nakal. Imbra mulai merokok hingga minuman keras mulai ia coba. Imbra semakin nakal, jarang pulang rumah, mabuk-mabukan dan mulai menjadi pembuat onar di dalam kampung. Isya menutup dengan menceritakan hal yang lebih mengejutkan Adinda. Imbra pernah dikecewakan oleh seorang perempuan, Imbra sangat menyayangi perempuan tersebut, tetapi perempuan itu mempunyai pacar lain selain Imbra. Imbra patah hati dan berjanji pada dirinya kalau ia tidak akan mempercayai perempuan manapun selain mamanya. Hal tersebut membuat Imbra menjadi lelaki playboy, bahkan setiap wanita yang ia pacari pernah ia tiduri lalu mencampakan mereka bigitu saja. Mendengar semua itu Adinda sangat terkejut dan tidak percaya teman yang selalu menggenggam tangannya dulu menjadi sejahat sekarang. Tetapi cerita Niara dan Isya tersebut, membuat Adinda berpikir bahwa Imbra tidak sepenuhnnya salah disini. Imbra tidak akan begini jika semua itu tidak terjadi padanya. Dan Imbra akan kembali menjadi seperti dulu. Itu tekad yang dibuat Adinda untuk mengembalikan teman baiknya Imbra. Niara dan Isya merencanakan untuk mengajak Adinda pergi ke suatu Pulau yang ada di tengan laut berhadapan dengan kampung mereka, Pulau Sendiri namanya karena hanya sendiri di tengah laut maka pulau tersebut diberi nama Pulau Sendiri. Pulau yang dulu pernah menjadi janji Imbra kepada Adinda untuk pergi bersama kesana jika mereka telah cukup besar. Adinda berharap Imbra bisa ikut bersama mereka kesana. Namun menurut Niara, Imbra akan susah diajak karena memang Imbra jarang di rumah dan susah untuk bertemu dengannya. Hari untuk pergi telah tiba, pagi itu mereka mulai berkumpul di pantai menunggu untuk diantarkan ke Pulau Sendiri. Adinda menggunakan baju berwarna biru laut dengan motif bunga tulip, Adinda terlihat begitu manis. hari itu bertepatan dengan hari libur sehingga cukup banyak orang yang pergi ke Pulau Sendri. Mereka beranjak dari pantai menuju Pulau Sendiri. Langit begitu cerah, laut yang biru jernih membuat hati terasa damai. Merekapun sampai di Pulau Sendiri, lepas itu mereka turun dari perahu. “Adinda, lihat lelaki yang memakai baju berwana putih itu Ia adalah Imbra”. Bisik Isya. Jantung Adinda mulai berdetak tak karuan, karena Imbra mulai memperhatikannya. “Astaga lama sekali aku tidak melihat wajah itu, sungguh aku gugup.” ucap Adinda dalam hati. Adinda, Niara dan Isya mulai berkeliling pulau sendiri. Hingga Imbra datang menghapiri. “Adinda, Kamukah itu?” Tanya Imbra. “Iya Aku Adinda, maaf bukannanya Aku sombong, Kamu?” Tanya Adinda seolah-olah lupa. “Aku Imbra, teman kecil mu dulu.” Jawab Imbra. Mereka berdua lalu pergi berkeliling bersama. Diatas pasir putih, dengan helaian ombak menepih kaki, Adinda dan Imbra duduk berdampingan. Mereka mulai berbincang begitu lama. “Sudah begitu lama yah.” Mulai Imbra. “Iya, bagaimana kamu sekarang? Ceritakan tentang Imbra yang sekarang pada ku.” Balas Adinda menatap Imbra ramah. “Aku, tidak banyak yang berubah hanya sedikit nakal. Dan Kamu terlihat makin dewasa saja.” Jawab Imbra dengan memainkan pasir sambil tertawa. “Aku mendengar banyak tentang mu dan aku kecewa untuk itu.” Tatapan Adinda yang mulai dalam. Adinda mengangkat tangannya dan berkata “Bolehkah kau genggam lagi tangan ini?” Imbra terkejut dan mentap mata Adinda. “Tentu akan aku genggam dengan erat bahkan.” Jawab Imbra seolah ingin mencairkan suasana yang mulai serius itu. “Aku serius Imbra, kamu kenapa jadi seperti ini? Kamu bukan Imbra kecil yang manis, baik, lucu kayak dulu. Kamu jahat sekarang.” ulas Adinda lugas. “Seberapa jauh kamu tahu tentang aku yang sekarang, kamu tahu dari Niara dan Isya kah? Maka iya, jawaban atas segela yang kamu dengar.” Jawab Imbra dengan tatapan mengiyakan segala yang telah didengar Adinda. “Berubahlah, kembali jadi Imbra yang dulu. Kembali genggam tangan aku, jadi sahabat terbaiku.” Suasana menjadi begitu serius, Adinda mulai merealisasi tekadnya. “Sebenarnya aku juga mulai jenuh dengan aku yang sekarang. Aku tahu aku salah, tingkah ku memanglah salah. Dan yah aku mau untuk berubah asal kau mau jadi pemandu ku, berjalan disampingku dan selalu begitu.” Imbra mulai menaggapi serius Adinda. “Tentu, aku akan menjadi kawan curhat, berbagi sedih, bahagia, takut, kecewa mu. Asalkan kamu serius untuk itu.” Tegas Adinda. Sebenarnya dalam hati kecil Adinda, ada rasa takut yang begitu besar, ia takut jika ia kembali nanti Imbra akan kecewa lagi. Tetapi jika ia tidak memulai, apakah Imbra akan berubah sendiri? Orang-orang seperti Imbra butuh tempat untuk berbagi rasa, butuh teman untuk memandu arah. Dan mungkin itu aku. “Mari membuat janji.” pinta Imbra. “Janji untuk?” jawab Adinda. “Janji, kalau aku akan berubah dan kamu akan selalu ada untuk aku” Imbra menngangkat jari kelingkingnya “janji” balas Adinda Pertemuan di Pulau Sendiri, menghatarkan mereka dalam pertemuan-pertemuan berikutnya. Semenjak kembali mengenal Adinda, Imbra mulai menunjukan langkah perubahannya. Hampir setiap sore Imbra ke rumah Adinda dan Adinda pun sebaliknya. Rumah mereka berhadapan hanya di batasi oleh bentangan jalan. Adinda telah menghabiskan waktu 2 minggu lebih bersama Imbra, dan rasa yang dibangun hanya untuk sekedar menjadi sahabat untuk bangkit kini perlahan mulai melangkah jauh, rasa sayang dan cinta telah hadir dalam hubungan keduanya. Jadi dulu waktu Adi ndadan Imbra kecil, mereka adalah sahabat yang selalu kemana-mana berdua. Semenjak orang tua Adinda berpisah Adinda tinggal bersama Neneknya di kampung. Adinda menghabiskan masa sekolah hanya sampai kelas 4 SD dan pindah ke Kota bersama Papanya. Sejak kecil Adinda memiliki daya tahan tubuh yang lemah, Adinda mudah sekali capek sehingga butuh orang yang selalu bersamanya. Dan orang yang selalu bersamnya kemanapun Ia pergi adalah Imbra. Karena rumah mereka berdekatan, setiap ke sekolah, main, karnava, Ia selalu bersama Imbra dan tangan Adinda selalu digenggamnya. Mama dan Papa Imbra sering mengatakan kepada Nenek Adinda, untuk menjodohkan keduanya. Jadi mereka seolah-olah telah di jodohkan semenjak kecil. Tiba waktunya berpisah, seolah seluruh tubuh di rasuki takut, takut untuk berpisah dan pisah yang akan lama. Adinda tidak tahu selepas ia pergi apakah ia akan kembali lagi ataukah ini menjadi terakhir kembali. Waktu libur telah berakhir, waktunya untuk pergi dan Adinda belum memberi tahu Imbra tentang itu. Sore itu, seperti biasa Imbra datang menemuinya. Mereka duduk berdua. Di depan rumah Adinda terdapat ayunan dan tempat untuk bersantai. Adinda membuka pembicaraan. Dengan ragu Adinda katakan “Imbra besok siang aku akan kembali ke Kota, waktu libur ku telah usai, waktunya untuk kembali kuliah.” Mulai Adinda ragu. “Aku tahu.” Jawab Imbra singkat. Seolah tak terjadi sesuatu yang sedih Adinda melanjutkan “Besok antar aku ke pelabuhan yah” mintanya. “Oke” singkat jawaban Imbra seolah memberi arti kalau ada sedih disana. Waktu menunjukan pukul 12.02 waktunya untuk berangkat. Tetapi Imbra belum juga muncul. Adinda mencoba ke rumah Imbra dan Imbra tidak di rumah. “Kamu dimana Imbra, apakah kamu marah aku pergi?” Kekhawatiran mulai muncul dalam benak Adinda. Hingga pukul 12.30 Imbra belum juga tiba. Adinda memutuskan untuk pergi tanpa Imbra. Perjalanan kembali yang di penuhi air mata. Tanpa genggaman perpisahan, Adinda kembali ke Kota. Adinda tahu ini akan sulit, mereka di pisahkan oleh tempat yang berbeda. Bukan seperti daerah lainnya yang telah memiliki jaringan komunikasi. Imbra dan Adinda seolah berpisah tanpa ruang untuk sekedar mendengar suara ataupun kiriman rangkaian huruf lewat layar. Layaknya dua insan yang hidup pada zaman penjajahan....

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

The Lone Alpha

read
125.5K
bc

His Unavailable Wife: Sir, You've Lost Me

read
10.5K
bc

The Luna He Rejected (Extended version)

read
613.5K
bc

Secretly Rejected My Alpha Mate

read
35.8K
bc

Claimed by my Brother’s Best Friends

read
819.9K
bc

Bad Boy Biker

read
8.7K
bc

The CEO'S Plaything

read
19.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook