TIGA

1722 Words
Cessa : Princess Meet Pangeran Cessa mengabaikan bisik-bisik yang sangat jelas sedang ditujukan padanya. Tapi alasan dia jadi bahan bisik-bisik hari ini berbeda dari hari yang lalu-lalu. Jika bisanya dia jadi gunjingan kerena penampilannya, hari ini dia jadi bahan pembicaraan karena apa yang dilakukannya kemarin. Bayangkan saja dia menyatakan cinta pada Dylan didepan umum dan ditolak mentah-mentah oleh Dylan. Beruntung Cessa orang yang ngototan jadi Cessa langsung meminta kesempatan pada Dylan, kesempatan itu akan diperoleh Cessa ketika dia berhasil memenuhi syarat dari Dylan. Syarat yang kalau dipikir-pikir sebenarnya sangat mustahil untuk Cessa penuhi. Bayangkan saja orang terbodoh harus mengalahkan orang terpintar di angkatan baru SMA Permata Bangsa. Ini seperti lelucon terbesar yang pernah ada di SMA Permata Bangsa karena memang hal itu terdengar tidak mungkin sama sekali. Tapi yang namanya Cessa tidak akan mau menyerah tanpa mencoba terlebih dahulu. Kenyataannya dia bisa masuk SMA Permata Bangsa demi Dylan, waktu itu orang-orang juga berpikir hal itu mustahil. Jadi mana ada yang tau mungkin saja akan ada keajaiban lagi yang bisa membuat Cessa menjadi juara satu umum diangkatannyakan? Cessa menyusuri lorong kelas sepuluh dengan semangat, setelah mencari tau siapa pemegang peringkat pertama saat pengumuman hasil test masuk mereka, Cessa berniat untuk menemui orang itu. Pangeran Arya Wijaya, orang yang Cessa yakini bisa membantunya. Dengan percaya dirinya Cessa memasuki kelas XA. Dengan cepat pula Cessa mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kelas XA untuk menebak-nebak siapa dari mereka yang bernama Pangeran Arya Wijaya. Lagi-lagi Cessa mengabaikan bisik-bisik orang dalam kelas itu yang pasti menyadari dia bukanlah penduduk XA. "Eum permisi, aku nyari Pangeran Arya Wjaya. Dia udah datang belum?" Tanya Cessa pada seorang gadis yang duduk ditempat yang paling depan kelas. Gadis itu menoleh ke belakang, tepatnya di sudut terbelakang kelas. Setelah itu barulah gadis itu menunjuk seseorang yang terlihat sedang menelungkupkan kepalanya disebuah meja yang paling belakang kelasnya. "Itu dia," kata gadis itu. Cessa tersenyum lalu mengucapkan terimakasih. "Terimakasih," kata Cessa lalu berjalan mendekat ke orang yang ditunjukkan gadis tadi. Dengan sedikit berhati-hati Cessa mengetuk meja tempat orang yang bernama Pangeran Arya Wiajaya tersebut. Dia berharap hal itu cukup untuk membangunkan orang itu hingga Cessa tidak perlu memikirkan cara lain untuk membangunkannya lagi. Sesuai dengan harapannya, orang itu mengangkat kepalanya meski terlihat malas-malasan. Cessa terpesona untuk sesaat ketika melihat laki-laki bernama Pangeran ini. Harus Cessa akui laki-laki dihadapannya ini sangat tampan meski cowok itu menampilkan wajahnya dengan raut malas. Cessa hanya terpesona untuk sesaat karena buat Cessa, Dylan tetap lebih tampan dari siapapun. Kemudian Cessa berdeham mempersiapkan dirinya untuk berbicara dengan sosok yang melihat dia dengan tatapan tidak tertariknya. "Hai, kamu Pangeran Arya Wijaya kan?" Tanya Cessa dengan senyum lebarnya. Hingga beberapa saat tidak ada jawaban dari pria didepannya. Raut wajah dan tatapan yang ditujukan padanya pun tetap sama, raut wajah dan tatapan malas dan tidak peduli. Jelas Cessa merasa canggung dan salah tingkah karena merasa dicueki oleh orang didepannya itu. Padahal Cessa dengan terang-terangan menyapanya. 'Dasar b******k' pikir Cessa. Namun dia berusaha menguatkan dirinya untuk bertahan demi bisa meraih posisi pertama seperti yang disyaratkan oleh Dylan. "Eumm perkenalkan, aku Princessa Mouretti. Panggil saja Cessa," Cessa menjeda perkataannya sebelum melanjutkan lagi apa yang menjadi tujuannya menemui lelaki itu. "Aku kesini mau minta tolong sama kamu," kata Cessa cepat. Lagi, tidak ada jawabn dari orang itu. Cessa dan Pangeran tidak sadar, kini sebagian besar orang di kelas mereka sudah menjadikan mereka sebagai tontonan. "Kenapa lo mikir gue bakal mau nolong lo?" Tanya Pangeran dengan tatapan datarnya. Cessa terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Setelah dipikir-pikir lagi, pria didepannya itu benar. Kenapa dia bisa berpikir kalau orang yang bernama Pangeran Arya Wijaya ini akan menolongnya. Cessa tersenyum lalu menyengir lucu, namun itu tidak mempengaruhi raut datar Pangeran membuat Cessa tersenyum kecut dalam hatinya. "Karena kita sesama manusia. Sesama manusiakan harus saling tolong menolong," Cessa mengatakannya dengan senyum lebar, seolah bangga dengan perkataannya sendiri. Sedangkan orang dihadapannya mendengus kesal. "Sorry gue bukan manusia yang suka menolong. Sekarang lo bisa pergi, gue ngantuk." Tanpa mempedulikan Cessa, Pangeran kembali menelungkupkan kepalanya di atas meja belajarnya. Cessa tertunduk lesu, dia kecewa dengan penolakan Pangeran. Tapi dia bisa apa? Dia tidak mungkin memaksa Pangeran untuk membantunya kan? Berjalan keluar kelas XA dengan perasaan kecewa, Cessa berpikir apalagi yang harus dilakukannya untuk dapat memperoleh posisi 1 itu. Bukannya dia tidak bisa menyewa guru les untuk mengajarinya, hanya saja dia tidak yakin guru les itu bisa memberikan poin-poin penting yang dibutuhkan Cessa untuk bisa diiperingkat pertama. Berbeda dengan Pangeran yang dia yakini bisa membantunya. Cessa menghela napasnya, dia harus memikirkan cara lain untuk mencapai goal-nya sebagai juara satu itu tanpa bantuan Pangeran. ❦❦❦ "Jadi dia menolak kamu bahkan sebelum kamu ngasih tau apa bantuan yang kamu harapkan dari dia?" Tanya Rena setelah Cessa menceritakan terntang pertemuannya pagi ini dengan Pangeran. "Iya, dia bilang dia bukan manusia yang mau menolong sesama," Cessa merengut lalu meletakkan pipi kanannya pada meja. "Hihihi, aku tau dia bakal nolak kamu. Aku kan udah bilang dari awal," Rena tertawa dengan kuatnya membuat Cessa semakin keki. "Iya, dia memang jutek dan sadis. Persis sama yang kamu bilang tadi," Cessa menghela napasnya kuat. Kemudian dia bertopang dagu pada tangannya. "Kan aku udah bilang, aku udah kenal dia sejak SMP. Dia itu punya modal jadi orang terkenal disekolahan. Udah pinter, kaya, ganteng pula. Tapi Pangeran nggak pernah suka sama perhatian, makanya dia itu malas bergaul, jutek, judes dan tertutup." Jelas Rena dengan sangat panjang. "Bahkan kalau aku nggak salah, dia itu hanya punya 3 teman dekat dari SMP sampai sekarang. Tapi kalau aku jadi kamu, aku bakal lebih tertarik sama Pangeran daripada Dylan," kata Rena. Cessa mengkerucutkan bibirnya. Cessa tau kalau Rena sangat tidak menyukai Dylan, sejak dia tau kakak kelas mereka itu menolak Cessa mentah-mentah dan memberikan harapan semu pada Cessa. Ya, meski Rena tidak menunjukkannya secara terang-terangan pada Cessa, tapi Cessa cukup bisa membaca ketidaksukaan Rena pada Dylan. Buat Rena kakak kelas mereka tersebut merupakan serigala, sosok yang licik. Sosok yang terlalu banyak menyimpan rahasia. Makanya belakangan ini Rena menarik dukungannya atas perjuangan Cessa untk mendepatkan Dylan. "Ih nggak mau ah, aku kan sukanya sama kak Dylan. Lagian kak Dylan lebih segala-galanya dari Pangeran yang anti sosial itu," Cessa memekik kesal. Rena mencibir lalu menggedikkan bahunya tanda terserah, lalu memilih kembali membaca bukunya dan membiarkan Cessa memikirkan apa lagi yang akan dilakukannya untuk memenuhi syarat dari Dylan. ❦❦❦ Cessa melirik jam tangannya, sudah 45 menit berlalu sejak jam pulang sekolah berlalu. Tapi karena hari ini adalah jadwal piket Cessa, Cessa terpaksa pulang terlambat. Belum lagi sopir keluarganya tidak bisa menjemputnya karena harus mengantarkan mama papa Cessa ke bandara. Jadi mau tidak mau Cessa harus pulang dengan taxi atau ojek bila perlu. Dengan langkah yang malas Cessa berjalan menuju gerbang sekolahannya. Tapi baru saja dia keluar dari kelasnya, matanya langsung menangkap sosok Pangeran yang juga berjalan menuju gerbang sambil mendengarkan musik dengan menggunakan headset putih miliknya. Rasa kesal Cessa muncul melihat wajah yang menurutnya angkuh dan menyebalkan itu. Tanpa Cessa sadari, Cesssa mengikuti langkah Pangeran hingga jauh dari sekolahan mereka. Dia bahkan terus mengikuti Pangeran menaiki kendaraan umum yang sama dengan Pangeran gunakan. Cessa baru berhenti mengikuti Pangeran ketika Pangeran memasuki sebuah rumah mewah yang ditebaknya adalah tempat tinggal pria itu. Saat sadar dengan apa yang dilakukannya, Cessa terkejut apalagi setelah sadar dia tidak mengenal tempat dimana dia berdiri sekarang. Cessa menggeser tas sandangnya ke depan. Dicarinya handphonenya, Cessa semakin cemas karena ternyata handphone-nya mati. Dia baru ingat kalau dia tidak menchargernya tadi malam. Lalu dicarinya dompetnya, rasanya dia ingin mati sekarang saat yang dijumpainya hanya ada 1 uang lima ribu, 2 uang logam lima ratusan dan beberapa uang 100 recehan. Bisakah dia menangis sekarang? Cessa tidak tau kalau dia bisa sesial ini. Tersesat, tidak punya uang dan handphone mati, lalu apa selanjutnya pikir Cessa. Airmata Cessa telah menggenang dipelupuk matanya. Meski dia telah menggigit bibir bagian dalamnya untuk mencegah airmatanya turun, tetapi tetap saja airmata itu turun begitu saja. Menangis di depan pagar rumah Pangeran, Cessa merasa tidak ada yang bisa dia lakukannya. Dia tidak tau jalan pulang, dia tidak punya uang dan dia tidak bisa menghubungi siapapun. Cessa menoleh ke rumah besar itu, jalan satu-satunya yang dia miliki sekarang adalah meminta tolong pada pemilik rumah didepannya ini. Itulah jalan satu-satunya yang dipikirkan oleh Cessa sekarang. Dengan ragu Cessa menekan bel rumah itu , namun saat Cessa akan menekan bel rumah itu lagi sebuah mobil berhenti di belakang Cessa. "Sore, cari siapa ya?" Tanya seorang wanita cantik yang Cessa yakini masih berumur 40-an. Cessa memutar tubuhnya, wanita didepannya itu terkejut. "Kamu kok nangis? Kamu kenapa? Kamu nyariin anak tante karena disakitin anak tante?" Tanya wanita itu sambil melap airmata Cessa. Cessa masih tidak menjawab, sedangkan airmatanya semakin deras. Bukan apa-apa, dia sedang merasa malu dan kebingungan makanya menangis begini. "Udah kita masuk dulu," ajak wanita itu ketika penjaga rumah mereka sudah membukan pintu buat mereka. Cessa masih menangis, namun tidak sekuat tadi lagi. Dia masih cukup tau malu untuk tidak menangis meraung-raung tidak jelas di rumah orang. Apalagi semua ini karena kecerobohannya. Mengikuti seseorang, lalu tersesat bukankah itu satu hal yang teramat sangat bodoh? Cessa tau dia bodoh, tapi dia tidak tau kalau dia bisa sebodoh ini. "Ini minum dulu," tawar wanita tadi pada Cessa. Walau malu dan tidak seharusnya, Cessa menerima gelas tersebut lalu meminumnya karena dia memang haus. Tidak tau malu? Ya dia memang tidak tau malu kadang-kadang. "Oh iya kenalin, saya Anna. Kamu bisa panggil saya tante Anna, kamu?" Tanya Anna sambil mengulurkan tangannya. "Princessa tante, Cessa." Cessa menyambut uluran tangan itu. "Jadi, mau kasih tau tante siapa dari anak tante yang ngebuat Cessa nangis?" Tanya Anna dengan sabar. Waktu Cessa hendak menjawab, Pangeran turun dari tangga dan langsung menangkap sosok Cessa dirumahnya. "Apa yang lo lakuin disini? Ngikutin gue?" Tanya Pangeran sadis yang mendapat pelototan dari mamanya. Cessa langsung memasang wajah cemberut. Cowok didepannya itu sudah berganti pakaian tapi mulutnya masih sama kejamnya seperti waktu disekolahan. "Kamu harus tanggung jawab," hanya itu perkataan Cessa tapi berhasil membuat mama Pangeran dan Pangeran melotot kearahnya bersamaan. “Tanggung jawab?” Anna mencoba tenang walau kini dia mulai merasa was-was. Sedang Pangeran yang sudah menguasai dirinya menatap Cessa dengan tatapan siap membunuh. “Apa maksud lo dengan tanggung jawab? Memangnya gue ngapain elo?” Mulut Cessa tidak langsung menjawab, dia mengkerucutkan bibirnya ragu karena ketakutan dengan tatapan setajam pisau milik Pangeran. ❦❦❦
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD