Pangeran menenggelamkan wajahnya dilipatan tangan yang dia letakkan pada meja belajarnya. Dia mengabaikan keributan orang-orang dikelasnya yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Bukan tanpa alasan Pangeran memilih duduk dipojokan kelas, selain karena biasanya posisi ini sangat dihindari orang-orang dikelasnya, tempat ini juga cocok buat orang yang tidak suka berinteraksi seperti dia. Memejamkan matanya, Pangeran mencoba untuk menikmati musik yang mengalun melalui headset miliknya. Namun ketenangannya itu hanya dirasakannya dalam waktu yang singkat karena beberapa menit kemudian seseorang segera mengganggu kesenangannya.
"Woi Ran, kantin yuk." Ajak Ibra, satu dari tiga teman yang dimiliki Pangeran sejak SMP.
Mengangkat wajahnya untuk bisa melihat Ibra sebelum akhirnya dia mengangguk kecil, Pangeran lalu mengikuti Ibra yang sudah terlebih dahulu berjalan menuju kantin. Masih dengan headset yang menempel ditelinganya, Pangeran mengikuti Ibra yang sudah berada di salah satu meja kantin dengan dua temannya yang lain. Pangeran segera membuka headsetnya itu saat dia duduk di sebelah Ibra.
"Ada apa sih, tumben banget rame?" Tanya Ibra pada Samuel dan Giva yang memang sudah terlebih dahulu ada disana.
"Nggak tau. Cuma dengar-dengar katanya sih lagi ada yang sedang nyatain cinta." Giva menunjuk arah lapangan basket yang memang bersebelahan dengan kantin sekolah mereka.
Pangeran melihat sebentar ke arah yang ditunjuk Giva, kemudian fokus kembali pada makanan yang hendak dipesannya. Setelah memutuskan apa yang ingin dimakannya, Pangeran langsung membelinya dan kembali ke meja itu dengan nasi goreng dan juga jeruk hangat bersamanya.
"Lo nggak penasaran Ran?" Tanya Samuel pada Pangeran yang lebih memilih untuk langsung makan.
"Nggak. Bukan urusan gue. Kalau diterima yang senang bukan gue. Kalau ditolak yang sedih juga bukan gue. Jadi kenapa gue harus KEPO?" Bukannya menjawab Pangeran malah balik bertanya pada Samuel.
Samuel manggut-manggut dan membiarkan Pangeran menghabiskan makanannya dengan tenang. Samuel cukup tau kalau Pangeran tidak suka ambil pusing dengan urusan orang lain. Menurut Pangeran, dia tidak suka urusannya dicampuri orang lain dan sudah seharusnya juga dia tidak mencampuri urusan orang lain. Begitulah cara berpikir Pangeran selama ini, hingga akhirnya dia terbentuk menjadi pribadi yang kata orang anti sosial
Pangeran menghentikan sedotannya pada minumannya, saat mendengar suara teriakan yang Pangeran yakini menggunakan toa karena suara itu bahkan terdengar jelas sampai ke kantin. Namun bukan itu yang menarik perhatian Pangeran, Pangeran lebih tertarik pada nama yang diteriakkan oleh orang yang ada di pusat kerumunan itu.
"AKU PRINCESSA MOURETTI KAK. AKU MENYUKAI KAK DYLAN SEJAK KITA PERTAMA KALI BERTEMU. KAKAK CINTA PERTAMA AKU, AKU JUGA CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA SAMA KAKAK. JADI KAK, MAU NGGAK KAK JADI PACAR AKU?" Teriak suara itu berhasil menarik perhatian Pangeran.
Memperhatikan kerumunan itu untuk sesaat, Pangeran lalu dia kembali sibuk menyedot minumannya. Pangeran sebenarnya sedikit penasaran sekarang dengan kerumunan tersebut karena orang itu meneriakkan nama seseorang yang Pangeran kenal. Bukan hanya sekedar kenal, tapi nama itu adalah nama orang yang amat sangat Pangeran kenal. Orang itu adalah kakak laki-laki Pangeran yang memang satu sekolah dengannya.
"Ran, Dylan itu kakak lo kan? Seingat gue hanya kakak lo doang yang namanya Dylan di sekolah kita," kata Ibra menoleh pada Pangeran.
Pangeran menoleh sejenak pada kerumunan itu sebelum mengangguk dan menjawab, "Iya. Kayaknya dia nerima pernyataan cinta lagi."
Samuel dan Giva serempak berdecak kagum.
"gila ya, kakak lo emang populer banget. Belum genap kita satu bulan sekolah disini tapi gue udah dengar dia beberapa kali nolak teman seangkatan kita," kata Giva yang diangguki oleh Samuel.
"Emang siapa aja Sam yang udah ditolak ama bang Dylan?" Tanya Ibra yang tiba-tiba saja ikut penasaran.
"Lo tau Rasty? Cewek yang katanya paling cantik seangkatan kita, dia aja ditolak ama bang Dylan. Hebat bangetkan bang Dylan," puji Samuel yang sudah kembali fokus pada makanannya.
Pangeran sendiri memilih tetap diam dan memakan jajanannya, sambil sekali-kali menoleh pada kerumunan itu dengan diam-diam. Pangeran tau kakaknya sangat populer dikalangan siswi sekolahannya, tapi kalau dipikir-pikir lagi baru kali ini Pangeran menyaksikan secara langsung kakaknya ditembak oleh seseorang. Bukan hanya dia, tapi hampir seluruh penduduk SMA Permata Bangsa.
"Oh kasihan sekali dia ditolak," kata orang yang baru melintas lewat meja Pangeran dan teman-temannya.
"Gue sih udah nebak, itu cewek bakal ditolak. Ya kali selera kak Dylan yang gitu. Rasty, Disti ama Mona aja ditolak." Teman di sebelah gadis itu menimpali.
"Iya sih dia cantik ama imut gitu tapi gue dengar dia anak dari kelas buangan ya? Belum lagi..." sebatas itu, Pangeran hanya mampu mendengarkan pembicaraan kedua gadis itu sampai disitu karena selanjutnya suara itu semakin menghilang sejurus dengan jarak mereka yang menjauh.
"Wah abang lo nolak orang lagi Ran. Siapa lagi ya kali ini yang jadi korban penolakan bang Dylan?" Tanya Giva dengan wajah penasarannya yang dibalas gedikan bahu oleh Pangeran.
"Kira-kira, apa yah yang cewek-cewek itu lakuin setelah nerima penolakan bang Dylan. Apalagi cewek yang sekarang ditolak bang Dylan, kan malu banget nembak dengan pedenya di depan umum. Eh ditolak pula," kata Ibra.
"Paling nangis," jawab Samuel dan dikomentari oleh Giva.
"Iya, cewekkan selalu berteman sama airmatanya."
"Jarang kali ada cewek yang mau berjuang," Samuel menimpali.
Pangeran hanya diam tidak memberi komentar, dia memilih untuk menjadi pendengar yang baik saja. Tapi baru saja Samuel berkata begitu, suara teriakan lainnya terdengar dari lapangan, pusat dari kerumunan.
"AK...AKU... NGGAK BISA TERIMA PENOLAKAN KAKAK. SET...SETIDAKNYA KASIH KES... KESEMPATAN AK...AKU BUAT USAHA. SE...SE... SETELAH AKU BERUSAHA DAN KAKAK MA...MASIH NGERASA NGGAK...NGGAK SUKA SAMA AKU... BARU KAKAK BISA NOLAK." Isi teriakan itu yang disertai sesenggukan pemilik suara itu.
Tanpa melihatnya langsung, semua orang bisa menebak kalau pemilik suara itu tengah menangis. Pangeran yang ada disana dengan refleks mengarahkan pandangannya pada arah teriakan itu datang. Selain karena teriakan menggunakan toa yang benar-benar mengganggu pendengarannya, kata-kata pemilik teriakan itu cukup menarik perhatiannya.
Jeda beberapa saat hingga terdengar kembali suara teriakan dar kerumunan itu.
"BAIKLAH AKU AKAN MEMPEROLEH PERINGKAT PERTAMA DI ANGKATAN AKU TAHUN INI. WAKTU AKU MENDAPATKANNYA, MAKA KAKAK HARUS MEMBERIKAN AKU KESEMPATAN!" Teriak suara itu lagi.
Mendengar semua itu Giva, Samuel dan Ibra menatap ngeri ke arah Pangeran. Bukannya apa-apa, ketiganya sudah bisa menebak kalau gadis pemilik teriakan tadi tidak akan pernah mewujudkan kata-katanya. Hei, orang yang ingin dikalahkan gadis itu adalah seorang Pangeran Arya Wijaya, orang dengan IQ tertinggi di angkatan mereka. Giva, Samuel dan Ibra yakin gadis yang menerima tantangan untuk mengalahkan Pangeran itu adalah orang miskin informasi dan Dylan terlalu pintar dan kejam memilih persyaratan itu untuk menolak gadis itu secara tidak langsung.
❦❦❦
Pangeran, Dylan dan kedua orangtua mereka duduk di meja makan untuk bersantap malam seperti hari-hari biasanya. Meski orangtua Pangeran termasuk orang sibuk, keduanya selalu berusaha meluangkan waktu mereka untuk bersantap malam bersama. Kedua orangtua Dylan dan Pangeran sadar kalau bagaimanapun kedua putra mereka membutuhkan kehadiran mereka meski sesingkat apapun itu dan meski keduanya telah beranjak besar. Dylan dan Pengeran-pun tidak keberatan dengan waktu singkat yang diluangkan mama papanya karena mereka tau sesibuk apa mama papa mereka sebagai dokter. Mereka sudah cukup senang orangtua mereka selalu meluangkan waktu meski itu sedikit setiap hari.
"Gimana hari kalian hari ini?" Tanya Yohannes, ayah dari Pangeran dan Dylan.
"Seperti biasa pa," Dylan menjawab dengan santai.
Sedangkan Pangeran, seperti biasa dia tidak menjawab dan menjadikan jawaban Dylan menjadi perwakilan jawabannya.
"Eran?" Tanya mama mereka yang ingin agar anak keduanya itu juga menjawab.
"Sama ma, pa." Pangeran menjawab singkat.
"Lo nggak bisa ngejawab hal lain selain samaan ama gue?" Tanya Dylan sambil menyindir dan bercanda.
Pengeran memutar bola matanya, dia tau kakaknya itu bercanda dan hanya ingin menggodanya saja. Tapi memang dasarnya Pangeran bukan orang yang suka bercanda hingga membuat Pangeran membalas sindiran dan candaan kakaknya itu dengan serius.
"Kayak lo yang sengaja pake cara licik buat nolak cewek?"
Dylan tersedak. Dengan cepat diminumnya airputih miliknya, kemudian Dylan mendelik pada Pangeran tajam karena Dylan tau kalau orangtuanya akan menginterogasi dan menasehatinya sekarang dan benar saja sekarang mama mereka sudah memasang wajah menyelidik pada Dylan.
"Kamu nolak cewek lagi? Terus kenapa harus dengan cara licik?" Anna, mama Pangeran dan Dylan sudah menghentikan suapannya bertanya secara beruntun.
Dylan mendesah kesal lalu menoleh pada mamanya sebelum menjawab, "Ini bukan nolak loh ma. Bukan dengan cara licik juga. Pangeran aja deh nih yang mengada-ada omongannya."
"Lo bilang nggak licik nyuruh ngalahin gue dengan jadi peringkat pertama?" Tanya Pangeran menyindir Dylan.
Dylan tidak menanggapi sindiran adiknya itu. Dia lebih memilih terkekeh dan memasang wajah cemberut lucu yang biasa dia lakukan untuk meluluhkan hati mamanya yang siap menceramahinya.
"Ma, jangan dengerin Pangeran deh. Biasa dia lagi PMS, jadi sensitif.” Lanjut Dylan bercanda, namun tidak ditanggapi sang mama. “Dylan hanya bilang, Dylan bakal ngasih kesempatan buat cewek yang nembak Dylan itu kalau cewek itu bisa jadi peringkat pertama diangkatannya." Dylan menjelaskan versinya.
"Lo emang yakin bakal diperingkat pertama?" Tanya Dylan tidak penting karena sebenarnya semua orang yang kenal Pangeran yakin kalau Pangeran akan mendapatkan posisi itu.
Melanjutkan suapannya, Pangeran mengabaikan pertanyaan bodoh Dylan karena kakaknya tidak butuh jawaban darinya. Dylan jelas sudah tau apa jawabannya tanpa perlu dia kasih tau apa jawabannya.
"Papa sama mama nggak tau apa rencana kamu dan niat kamu, tapi perlakukan gadis-gadis itu dengan baik. Jangan sampai kamu menyesal lagi nantinya." Yohanes akhirnya mengambil suara setelah mendengarkan cerita anak-anaknya itu yang bertujuan untuk menasehati Dylan yang dia tujukan pada Pangeran juga.
❦❦❦