Mobil mewah warna putih membelah jalan raya, pikiran Danis semakin tak menentu setiap membaca pesan yang dikirimkan Amera dua puluh lima menit yang lalu. Dia tak pernah mengira, kalau gadis itu akan pergi begitu saja dari rumahnya. Sikap dan perilaku selama ini, mungkin menjadi pemicu kepergian Amera. 'Aku pikir, dia tak akan pernah pergi dari sisiku. Dia sudah menderita sejak orang tuanya tiada,' ucap Danis dalam hati. Danis menatap sekeliling jalan, yang padat oleh kendaraan. Mobil yang ia tumpangi pun terasa lambat tak segera sampai tujuan. "Oskar, ayo lebih cepat lagi!" titah Danis dengan nada suara tak sabar. Oskar menatap bayangan Danis dari kaca miror, "Ini sudah kecepatan tinggi, Pak. Kita juga harus berhati-hati agar tidak celaka." Danis mendesis kesal, ia ingin segera samp

