Santi menemui sang bunda yang sedang memasak di dapur.
“Bunda, aku boleh nanya, nggak?”
“Tanya apa?”
“Tapi, Bunda jangan marah ya?”
“Memang Bunda pernah marah sama kamu.”
“Aku boleh nanya tentang Ayah, nggak? Kenapa Bunda bisa nggak cocok dengan Ayah? Hal apa yang memutuskan Bunda dan Ayah sampai bercerai? Bisa tidak Bunda cerita sama aku.”
Ayudia menghela nafas, mungkin memang saatnya dia harus menceritakan ini kepada Santi.
“Bunda sebenarnya tidak pernah bercerai dengan ayah kamu.”
“Apa!?” Santi kaget mendengar fakta itu, Santi masih berharap orang tuanya bisa kembali bersama lagi.
“Dulu Bunda menikah dengan ayah kamu di usia 18 tahun setelah lulus SMA dan ayah kamu saat itu berusia 22 tahun. Bunda kemudian hamil dan melahirkan kali—kamu di usia 19 tahun ....”
Ayah dari Ayudia dan ayah dari Faisal adalah sahabat karib, keduanya pun menjodohkan anak mereka semenjak masih kecil, tapi sayang, ayah Ayudia tidak sempat melihat putrinya menikah karena meninggal saat Ayudia masih SMP.
Namun, pernikahan tetap dilakukan sesuai janji. Ayudia dan Faisal walau dijodohkan mereka saling mencintai. Awal pernikahan keduanya sangat bahagia meski Ayudia tahu bunda dari Faisal yaitu Dewi dan saudara kembar Faisal yaitu Fariz tidak menyukainya. Ayudia tetap bertahan karena sangat mencintai sang suami, apalagi ayah mertuanya yang bernama Adit juga sangat baik.
Alasan mengapa Bunda Dewi dan Fariz tidak menyukai Ayudia?
Bunda Dewi menganggap bunda dari Ayudia yang bernama Fitri merebut perhatian sang suami. Adit selalu membantu Fitri jika menghadapi masalah, membuat Dewi cemburu dan menganggap suaminya itu selingkuh. Sedangkan Fariz merasa setelah Faisal menikah dengan Ayudia, ayahnya semakin mengistimewakan Faisal bahkan ia diberi jabatan yang lebih tinggi dari Fariz dan ayahnya itu lebih sering memuji Faisal dibandingkan dirinya.
Pernikahan Ayudia dan Faisal tampak semakin bahagia ketika mereka dikaruniai putri kembar yang diberi nama Sinta dan Santi. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Hari itu Ayudia merasa hidupnya hancur. Saat ia mengantar makanan ke kantor sang suami dan di dalam ruangan suaminya, ia melihat Faisal sedang bercùmbu mesra dengan sekretarisnya yang bernama Belinda, Ayudia mengenal sekretaris suaminya itu. Rantang makan siang yang ia bawa untuk suaminya terjatuh dan isinya berantakan, tapi suaminya yang melihat itu hanya terdiam.
Ayudia awalnya menolak berpikir bahwa itu bukan sang suami bisa saja itu Fariz. Namun, baju kerja yang dia pakai tadi pagi, lalu model rambut serta tàhi lalat kecil di dagu pria itu menunjukkan bahwa lelaki di ruangan itu adalah Faisal, suaminya.
Cinta Faisal adalah hal yang membuat dia bertahan walau dimusuhi oleh ibu mertua dan adik iparnya. Namun, sekarang suaminya bahkan bercùmbu dengan wanita lain. Belinda menatap mengejek ke arah Ayudia lalu kembali mencium Faisal dan pria itu membalasnya.
Ayudia pergi dari sana, bergegas ke tempat sang bunda karena menitipkan putri kembarnya di sana.
Saat malam tiba, Ayudia dan putri kembarnya kembali ke rumah suaminya. Dia berencana meminta penjelasan terlebih dahulu. Namun, yang ia temukan hanya sepucuk surat yang menyatakan permohonan maaf dari Faisal karena sejujurnya Faisal tidak pernah mencintai Ayudia, pria itu terpaksa menikahi Ayudia karena desakan sang ayah dan sekarang ia sudah muak dengan Ayudia. Dia juga sedang menjalin hubungan dengan Belinda. Faisal ingin menikahi Belinda, dia memberi kebebasan untuk Ayudia memilih pergi atau tetap ingin bersama, namun menerima Belinda.
Ayudia dengan air mata yang mengalir menulis surat balasan bahwa ia juga tidak mencintai Faisal dan sudah lama ingin pergi dari kehidupan suaminya itu. Dia akan membawa Santi dan memberikan Sinta kepada suaminya. Ini atas permintaan sang suami yang tertulis di surat, ingin mendapatkan hak atas salah satu anaknya.
Ayudia membereskan barangnya lalu pergi ke rumah sang bunda untuk menitipkan Sinta di sana sampai Faisal mengambilnya, lalu Ayudia pergi dibantu oleh sepupunya bernama Doni pindah ke desa tempat tinggal Doni dan keluarganya.
Ayudia menceritakan semuanya kepada Santi. Namun, tidak menyebutkan bahwa Santi mempunyai saudara kembar karena Ayudia berpikir jika Santi tahu bundanya memisahkan dirinya dengan saudara kembarnya, Santi akan marah dan bertekad mencari saudara kembarnya. Lalu, bisa jadi akhirnya Santi akan memilih tinggal bersama Faisal.
Santi ikut menangis mendengar cerita sang bunda. Namun, dia merasa ada yang janggal di sini. Bukankah sang kakak mengatakan bahwa ayah mereka tidak menikah lagi? Tapi yang jelas Santi tidak bisa mengatakan jika dia bertemu Sinta. Bundanya saja tidak mau cerita kalau ia punya saudara kembar.
***
Sinta memasuki rumah mewah 3 lantai dengan penuh semangat. Dia mencari sang ayah yang sudah pasti ada di ruang kerjanya.
Sinta tidak mengetuk pintu dulu dan langsung masuk.
“Good evening, Ayah.”
Faisal tersentak kaget mendengar suara putrinya.
“Good evening, Nak.”
“Ayah sedang apa?” Sinta mendekati ayahnya itu, tampak di meja kerja penuh dengan dokumen. Namun, di sana terselip foto seorang wanita yang Sinta yakini itu pasti bundanya.
“Biasa kerjaan. Habis belanja ya, Sayang? Ini tumben lagi pakai dress biasanya pakai kaos sama jeans.”
“Belanja baju-baju buat kuliah, Yah. Gak apa-apa dong sekali-sekali.” Faisal hanya tersenyum mendengar jawaban sang putri. Faisal tidak pernah membatasi pengeluaran putrinya, ia memang memberikan kartu unlimited kepada Sinta karena Faisal sangat tahu bila sang putri tidak akan berfoya-foya.
“Eits ... ini pasti foto bunda ya, Yah? Masih dipandangi saja. Kenapa sih Bunda bisa kabur dari rumah? Apa Ayah bertengkar sama Bunda?” Pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Sinta, setelah mengambil foto yang terselip di bawah dokumen kerja sang ayah.
Faisal menghela nafas berat.
“Ayah sama sekali tidak bertengkar dengan Bunda. Saat Ayah pulang dari dinas ke luar kota, Ayah terkejut dengan surat dari bunda kamu bahwa dia pergi karena memang tidak mencintai Ayah selama ini. Kamu saat itu dititipkan kepada nenekmu, ibu mertua ayah lalu Ayah mengambilmu dari sana.”
“Kenapa bisa begitu, Yah?”
“Kejadian itu terlalu cepat. Ayah bahkan dipecat dari perusahaan kakekmu dan diusir dari rumah pemberian kakekmu.”
Faisal memang seperti dibuang oleh sang ayah bahkan ayahnya itu sangat membencinya. Kenapa? Apa karena Ayudia kabur? Namun, sang ayah menegaskan kalau Ayudia kabur karena kesalahannya.
“Lalu, Ayah menyewa kosan kecil dan tinggal bersama kamu. Karena Ayah memiliki banyak teman, Ayah bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan, tapi Ayah jadi tidak memperhatikan kamu karena sibuk bekerja dan ingin membuat perusahaan sendiri. Ayah menitipkan kamu sana-sini hingga kamu dianiaya oleh pengasuh. Maafkan Ayah ya, Nak? Ayah terlalu sibuk bahkan sampai sekarang.”
“Gak apa-apa kok, Yah. Lagi pula kejadiannya sudah berlalu, tapi 'kan sekarang walaupun sibuk, Ayah tetap perhatian sama aku. Jadi, aku nggak masalah.”
Dulu memang Faisal selain sibuk, dia juga sangat cuek dengan sang putri karena jika melihat putrinya dia akan selalu mengingat Ayudia. Namun, saat Faisal mengetahui sang putri sering dianiaya, Faisal merasa menjadi ayah yang sangat buruk tidak memedulikan sang putri selama ini, akhirnya ia pun berubah.
“Terima kasih ya, Nak." Faisal mengelus surai hitam milik putrinya. Sinta buah hatinya benar-benar berhati emas. Faisal tidak peduli banyak orang yang mengatakan sang putri itu kasar, angkuh, dan suka membuat masalah yang Faisal tahu putrinya itu tidak akan mencari masalah terlebih dulu, jika bukan musuhnya yang memulai.
“Tunggu, kalau Bunda kabur berarti Ayah dan Bunda tidak cerai? Kenapa Ayah tidak mencari Bunda?”
“Bunda itu tidak cinta sama Ayah, Nak. Kata pamanmu juga Bunda pergi dengan lelaki yang ia cintai.”
"Kalau Bunda tidak cinta dan mencintai lelaki lain harusnya Bunda minta cerai buat bisa bersama lelaki itu dalam ikatan. Ini Bunda hanya kabur entah ke mana," ungkap Sinta.
“Lagi pula pamanku yang ngasih tahu Ayah maksudnya si Fariz?” lanjutnya.
“Ayah juga tidak tahu jalan pikiran bunda kamu. Satu lagi—Fariz itu saudara kembar ayah, Sayang, panggil paman, om, atau uncle, jangan panggil nama seperti itu, tidak sopan, Nak."
Sinta mendengkus kesal.
“Oke, memang Ayah percaya gitu aja sama Om tua bangka itu?” Faisal hanya bisa menghela nafas putrinya itu benar-benar tak menyukai saudara kembarnya.
“Ayah percaya.”
“Ayah coba pikir deh? Jangan-jangan yang merusak rumah tangga ayah itu si Fariz tua bangka biar Ayah diusir dari rumah dan nggak punya kerjaan. Lihat sekarang si Fariz itu yang menikmati semua harta Kakek.” Fariz memang mewarisi semua harta Adit, kakek dari Sinta. Namun, Faisal sudah mempunyai perusahaan sendiri yang lebih maju selama 16 tahun terakhir.
"Jangan berburuk sangka seperti itu."
“Ini tuh bukan berburuk sangka, Yah. Ini tuh berpikir logis.”
Sebenarnya Faisal pernah berpikiran seperti Sinta. Namun, ia menolak percaya jika Fariz saudara kembarnya yang bersama dengannya sejak dalam kandungan bisa melakukan hal kejam seperti itu.
“Malas ngomongin si Om tua bangka. Aku mau ke kamar dulu.”
Sinta hanya berharap semoga hubungan persaudaraannya dengan Santi tidak akan terjadi pengkhiatan di dalamnya.
“Sini peluk Ayah dulu, besok pagi sekali Ayah harus ke luar negeri.” Sinta langsung memeluk sang ayah, menggoyang pelukan itu ke kanan dan ke kiri.
“Memang mau ke mana, Yah?”
“Ke Thailand.”
“Sawaddi Kha, Khob Khun Kha," ucap Sinta sambil mengatupkan kedua telapak tangannya dia mengucapkan salam dan terimakasih dalam bahasa Thailand. Faisal tersenyum melihat tingkah sang putri.
“Bye Ayah,” pamitnya sambil berlalu.