Sinta dan Santi sekarang sudah berada di dalam mobil Sinta, mereka bermaksud pergi ke apartemen Sinta.
“Mbak Sinta gedung apartemennya besar banget ya."
“Ya sudah, ayo turun.”
Santi berdecak kagum melihat unit apartemen Sinta, apartemen saja luasnya sudah tiga kali lipat rumah Santi apalagi rumah ayahnya. Itulah yang dipikirkan Santi.
Sementara Sinta langsung bergegas untuk mandi, setelah selesai ia juga menyuruh adiknya mandi tidak lupa memberi tahu cara menghidupkan shower dan lainnya takut-takut sang kembaran tidak mengerti.
Saat Santi sedang mandi, Sinta menyiapkan baju untuk Santi, benar-benar seperti kakak yang baik padahal Sinta terkenal kasar dan angkuh, tidak ada ruginya melakukan ini untuk saudara sendiri apalagi mereka kembar pikirnya.
Sinta menyiapkan dress sederhana berwarna biru pastel untuk Santi dan dia menggunakan dress biru dongker dengan model yang sama. Sebenarnya Sinta biasanya lebih senang menggunakan jeans serta kaos, tapi dalam rangka merayakan pertemuannya dengan sang saudara kembar, ia ingin memakai dress.
Santi keluar dari kamar mandi dan tampaklah baju yang sudah disediakan oleh sang kakak, memang punya saudara itu enak ya pikir gadis itu.
Santi melihat Sinta sedang memakai make up, lalu dia mendekatinya.
“Mbak ini bagus banget loh bajunya, makasih ya Mbak, tapi aku jadi takut merusak bajunya.”
“Itu buat kamu, San. Aku juga nggak begitu suka sih warna terang jadi aku kasih kamu aja.”
“Benaran Mbak, makasih ya.”
“Sini deh duduk, aku mau dandani kamu.”
“Gak usah Mbak Sinta.”
“Harus dong. Kita 'kan kembar.”
Santi akhirnya pasrah saat didandani oleh Sinta. Namun, hasilnya membuat Santi kembali berdecak kagum, wajahnya dipoles sama persis dengan Sinta. Namun, warna bibirnya lebih muda sedangkan kakaknya itu lebih tua.
"Benar-benar cantik, Mbak Sinta memang lihai. Mbak Sinta aku padamu,” batin Santi.
Mereka lalu pergi mencari restoran setelah itu keduanya berencana pergi ke mall.
***
Saat sampai di restoran beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Sinta tampak santai tapi, Santi merasa risi.
“Mbak aku risi, banyak yang ngeliatin.”
“Gak apa-apa, San. Nanti kalau ada yang macam-macam tinggal pukul aja.”
“Mbak pernah nggak sih dijauhi sama teman, diejek monster pas sekolah dulu karena mukul orang yang jahatin Mbak?”
“Dijauhi pasti iya, aku juga pas SD nggak punya temen. Pas SMP baru punya cuma ya kalau masalah diejek aku lebih sering dipanggil iblìs.” Sinta hampir saja menyebutkan Marsha sahabatnya dari SMP, tapi mengingat kelakuan Marsha yang mengkhianatinya, ia akan melupakan kenangan bersama Marsha. Dia tidak butuh sahabat yang menjebaknya. Kalau kemarin tidak ada Santi, ia pasti sudah dianiaya dan diperkosa oleh para preman.
“Astaga jahat sekali ya, Mbak. Padahal Mbak Sinta baik banget.”
Santi merasa Sinta, sang kakak sangat baik, mengingat kakaknya itu cerita saat balita sering disiksa oleh pengasuh akibat sang ayah yang selalu sibuk bekerja dan juga bunda mereka yang hanya pergi membawa dirinya, tapi Santi tidak melihat kebencian di mata Sinta untuknya. Sinta dengan tulus menganggapnya sebagai adik.
Santi yakin perasaan gelisah yang sering ia rasakan sejak kecil itu karena kakaknya terlibat masalah. Santi jadi sedih kalau mengingat ia tidak bisa di samping sang kakak saat itu.
“Kenapa jadi nangis, sih?”
“Aku sedih Mbak, kenapa kita nggak sama-sama dari dulu biar bisa saling menguatkan kalau ada masalah.” Santi berpikir kalau dia bersama Sinta, pasti dia juga tidak akan trauma karena di bully.
“Kita 'kan udah sama-sama sekarang, kamu kuliah di sini aja.”
“Maaf Mbak aku nggak kuliah.”
“Loh, kenapa?”
“Selain otak aku yang pas-pasan, aku mau bantu bunda jualan masakan sama kue-kue, tapi aku berencana ikut kursus masak sama buat kue biar banyak referensi masakan yang bisa aku buat. Impian aku ya Mbak, pengen buka restoran sendiri kayak tempat ini mungkin.”
“Oke nanti aku daftarin kamu di tempat kursus masak dekat apartemen aku, kalau capek bolak-balik bisa nginap di tempatku. Kamu pengen punya restoran sendiri ya. Gimana kalau kita coba usahakan pas aku sudah selesai kuliah?”
“Benaran? Mbak Sinta memang terbaik!” pekik Santi riang sambil mengacungkan jempolnya. Awalnya dia hanya berangan-angan saja ingin membuka restoran, tapi setelah bertemu kakak kembarnya rasanya impiannya bisa terwujud.
“San, kamu nggak ada niatan manggil aku sister atau kakak gitu.”
“Enakan panggil Mbak Sinta, boleh ya?” Sinta hanya mengangguk, setelah itu mereka menyantap makanan yang sudah disediakan.
***
Keduanya sudah sampai di mall. Sinta benar-benar mengajak Santi untuk berburu pakaian, sepatu, tas, dan Santi pun dibelikan ponsel baru yang penggunaannya nanti akan diajarkan oleh Sinta. Santi sebenarnya ingin menolak, tapi kakaknya itu tidak bisa dibantah.
Banyak pasang mata yang melihat bahwa mereka benar-benar saudara kembar yang akrab karena biasanya saudara kembar semakin dewasa mungkin saja makin menjauh akibat ingin menegaskan ciri khas mereka masing-masing, tidak ingin selalu disamakan dan berujung dibandingkan.
Namun, berbeda dengan Sinta dan Santi mereka berdua memang banyak sekali perbedaan karena dibesarkan oleh orang yang berbeda dan lingkungan yang berbeda pula. Melakukan hal-hal bersama dengan saudara kembar merupakan hal baru bagi mereka dan tentu saja keduanya tampak sangat antusias.
Sekarang Sinta dan Santi sudah berada di kedai es krim mall itu. Pesanan pun telah tiba, Santi tampak sangat lahap memakan es krim yang direkomendasikan oleh Sinta. Namun, kakaknya itu sedang melihat ke arah lain.
Sinta melihat Marsha berjalan di belakang Rio dan seorang wanita, mungkin wanita itu adalah kekasih Rio karena mereka saling merangkul satu sama lain. Marsha yang di belakang sepasang kekasih itu tampak kesusahan membawa banyak barang yang Sinta yakini itu adalah barang belanjaan Rio dan kekasihnya.
"See! Buat apa dekat sama cowok yang lo suka kalau akhirnya cuma jadi kacungnya," batin Sinta.
Sinta tidak akan membalas perbuatan Marsha karena mengingat persahabatan mereka selama enam tahun terakhir, tapi tentu saja dia tidak akan kembali bersahabat dengan Marsha yang telah mengkhianati persahabatan mereka. Berbeda dengan Freya dia akan mencari cara agar bisa membalas perbuatan nenek lampir itu.
“Mbak Sinta, kenapa es krimnya belum dimakan?” Suara Santi menginterupsi lamunan Sinta.
Santi yang es krimnya sudah habis, mencicipi es krim milik Sinta.
“Enak kok ini Mbak.” Akhirnya mereka memakan segelas es krim itu bersama.
***
Sudah waktunya Sinta dan Santi berpisah, rasanya tidak rela karena belum sampai 24 jam mereka bersama.
Jarak dari kota ke desa tempat tinggal Santi sekitar 2 jam dan mereka sudah sampai di desa itu. Sekarang Santi sudah memakai kaos dan celana Jeans yang mereka beli di mall tidak mungkin ia memakai dress biru yang tadi. Selain itu, Santi juga membawa sedikit belanjaan yang dibeli dan tidak lupa ponsel barunya. Sedangkan barang-barang yang lain ditinggal di apartemen Sinta.
“Mbak Sinta, aku pulang ya. Mbak hati-hati di jalan ya.”
“Siap, nanti kita saling kabari ya.”
Santi sudah tiba di rumah. Dia masuk ke dalam rumah dengan mengendap untuk menyembunyikan belanjaannya. Bisa gawat kalau ketahuan sang bunda, dia harus bilang apa. Nanti kalau jujur Santi takut tidak boleh bertemu dengan Sinta lagi mengingat sang bunda sepertinya tidak menyukai sang ayah, walau bundanya itu hanya mengatakan bahwa mereka tidak cocok. Bisa jadi bundanya takut dia juga akan menemui sang ayah jika bertemu dengan Sinta.
“Nak, kamu baru pulang?”
“Iya, Bunda.” Santi tampak kikuk untunglah belanjaan sudah disimpan.
Santi kemudian mencari akta kelahirannya memastikan dia adalah adik Sinta atau dia yang sebagai kakak.
Ternyata benar dia adalah adik Sinta. Senangnya bisa mempunyai kakak kembar seperti Sinta yang menyayangi dan banyak mengajarinya walau belum cukup sehari mereka bertemu.