6. Sinta dan Kaila

1764 Words
Hari ini adalah hari pertama Sinta masuk kuliah setelah melewati masa orientasi, tentu saja dia belum mempunyai teman seorang pun, saat masa orientasi saja ada beberapa senior yang sudah ia pukuli hingga babak belur karena menurutnya senior-senior itu sudah keterlaluan. Santi : Mbak Sinta semangat ya hari ini. Go! Go! Go! Jangan mukulin orang ya Mbak, nanti teman-teman Mbak Sinta pada takut. Itulah pesan yang Sinta dapat pagi ini dari sang adik. Namun, beberapa menit kemudian ponselnya kembali berdering. Ayah : Sayangnya ayah semangat ya buat hari ini. Mohon maaf Ayah tidak bisa antar kamu karena masih ada urusan di Jepang. Jangan mukul orang ya, Nak. Nanti teman-teman kamu pada takut! Sinta menghela nafas, ayahnya selalu sibuk, tapi tidak apa-apa karena Sinta tahu perjuangan sang ayah membangun perusahaannya dan juga pekerjaan membuat ayah sedikit lupa akan kesedihan ditinggal oleh bundanya. Tunggu, di antara pesan Santi dan ayahnya ada dua kesamaan yang pertama mengucapkan semangat, yang kedua jangan memukul orang. “Memang gue tukang pukul,” gumam Sinta. *** Percakapan terjadi di ruang kelas jurusan Manajemen Bisnis. “Kenapa sih kita harus sejurusan sama wanita iblis kayak Sinta lagi? Dulu pas SMA aja kita sekelas sekarang sejurusan, malas banget. Rasanya setiap tuh orang ngeliat kita, dia mau ngebunuh kita.” “Wajar sih dulu 'kan kita memang temannya Freya and dia tahu betul siapa-siapa yang di klub hari itu dan nggak bantu dia.” “Cih, gara-gara si Freya nih kita jadi terancam. Nenek lampir itu malah kuliah di luar negeri.” “Eh, daripada membicarakan iblis sama lampir mending kita dekati si Kaila, sudah baik, cantik, seksi, dan kaya lagi.” Kaila adalah gadis kaya yang selalu baik kepada siapa pun, banyak sekali cowok yang mendekatinya di kampus membuat cewek-cewek merasa iri padanya dan ingin membullynya. Namun, ada juga cewek-cewek yang memilih untuk memanfaatkan Kaila, seperti saat ini. “Kai, aku boleh pinjam uang, nggak? Aku lupa bawa dompet nih,” pinta Sekar yang mendekati Kaila hanya karena uang. Kaila sebenarnya ragu untuk meminjamkan karena uang yang kemarin ia pinjamkan saja belum pernah dikembalikan, mungkin sudah puluhan juta hutang Sekar pada Kaila. Namun, Sekar tampak melupakannya. Karena sang target tampak ragu Sekar lalu mencari cara lain. “Kenapa? Kamu nggak mau minjamin uang buat aku? Ini tuh sekedar buat makan sama ongkos. Kamu jadi sombong Kaila, apa jangan-jangan karena kamu populer?” “Bukan begitu, Sekar.” Kaila bingung apa harus meminjamkan atau tidak, tapi kalau tidak dia takut teman-temannya akan menyebarkan isu buruk tentangnya lalu lama-kelamaan orang tuanya tahu dan akhirnya akan marah kepadanya. Orang tuanya selalu mengatakan bahwa mereka tidak mau ada image buruk dalam dirinya dan tersebar, mèrusak reputasi keluarga karena sang papa adalah seorang pejabat. Dulu, hal itu pernah terjadi saat Kaila baru menginjak SMA, dia hanya tidak memberikan contekan saat ujian. Namun, temannya itu menuduhnya macam-macam seperti Kaila perebut pacar orang, Kaila yang suka menghina orang tua temannya atau Kaila yang suka memukul temannya padahal saat itu Kaila hanya membela diri. Setelahnya orang tua Kaila dipanggil ke sekolah dan tampak sangat malu, padahal dia sudah menjelaskan yang sebenarnya, tapi papa dan mamanya tetap tidak percaya dan menghukumnya, lalu dia pindah sekolah. Mulai saat itu Kaila benar- benar menuruti apa permintaan temannya. “Baiklah kamu mau pinjam berapa?” “Yeay ... Kaila memang baik, tiga juta aja kayaknya cukup. Transfer ya, Kai.” Akhirnya dengan berat hati Kaila mentransfer uang itu. Sekar melirik dua temannya yang lain sambil tersenyum licik. Ruangan kelas yang ricuh tiba-tiba menjadi tenang bukan karena dosen yang datang, tapi karena seorang gadis cantik yang dijuluki wanita iblis memasuki ruangan itu. Siapa lagi kalau bukan Sinta yang sekarang memakai kaos putih, jaket jeans dan celana jeans senada. Sinta menduduki kursi depan dan beberapa mahasiswa yang awalnya duduk di depan pindah menjauh karena takut. Namun Sinta tetap cuek tidak peduli. “Kai, kamu harus selalu baik ke kita. Kamu nggak mau 'kan kayak Wanita Iblis itu, dijauhi semua orang,” ucap Sekar dan Kaila yang mendengar hanya tersenyum. Kaila sebenarnya tidak apa-apa dijauhi. Namun, yang dia takuti adalah difitnah seperti dulu dan tidak dipercayai oleh orang tuanya. Kaila sedikit iri dengan Sinta yang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa ketakutan akan apa pun. Sinta sedang berada di perpustakaan, tidak terasa hari sudah menunjukkan pukul setengah lima sore dan kampus sudah mulai sepi. Sinta bergegas untuk pulang, tapi dia perlu ke toilet, akhirnya ia pergi ke toilet dekat perpustakaan. Namun, ada penanda bahwa toilet itu sedang rusak. "Loh, kok rusak tadi sebelum ke perpus ke sini nggak apa-apa. Ya udah lah malas lagi nyari toilet lain lagian cuma mau cuci tangan," batin Sinta. Saat masuk ke dalam toilet dan mencuci tangan di wastafel dia melihat ada satu bilik toilet yang tertutup dan gagang pintunya tertahan sapu. Tiba-tiba bunyi ketukan pelan memecahkan keheningan. Sinta terlompat kaget, merinding, dan jantungnya berdebar. Sinta memang seorang pemberani jika berhadapan dengan manusia, tapi dia takut hantu, gadis itu merasa tidak bisa melawan hantu dengan kekuatannya. Sinta bergegas akan keluar. Namun, terhenti ketika mendengar suara lirih dari dalam bilik toilet yang tertutup. “To ... long ... to ... long ....” Sinta tambah merinding. Tidak lama kemudian, ia mulai berpikiran jernih. “Jangan-jangan ini tuh pembullyan kayak di drama-drama. Lagian gagang pintunya dihalangi sama sapu. Aku harus buka pintu itu. Kamu pemberani Sinta!” gumam Sinta menghilangkan pikiran negatif tentang hantu. Dia mendekat, secepat kilat membuka bilik pintu dan Sinta kaget melihat seorang gadis duduk meringkuk memegangi lutut, badannya menggigil tentu karena bajunya basah. Gadis itu menoleh ke arah Sinta. “Sinta, tolong ...,” lirih gadis itu. Sinta sangat tahu gadis itu satu jurusan dengannya namanya Kaila yang sering di puja-puja banyak mahasiswa. “Kaila, lo kenapa bisa di sini. Ayo cepat keluar." Sinta memapah Kaila. “Lo bawa baju lain buat ganti?” tanya Sinta karena tidak mungkin Kaila keluar seperti ini. Kaila hanya menggeleng. Sinta berpikir ia punya beberapa baju baru di mobil yang sebenarnya punya sang adik yang sebagian belum sempat ia taruh di apartemen. “Lo tunggu sini, gue ambil baju ganti dulu.” “Kamu nggak bohong 'kan, Sin?” “Benaran. Tunggu bentar, mobil gue dekat kok.” Sinta bergegas ke mobilnya untuk mengambil baju baru dan juga ada dalaman baru yang Sinta pikir cocok saja dengan Kaila karena postur yang sama. “Nih cepat pakai, tuh semua baru, punya adik gue.” Kaila bergegas kembali ke bilik toilet dan mengganti pakaiannya. Wajah Kaila masih tampak pucat. Sinta berinisiatif mengajaknya ke kantin. Namun, Kaila bingung karena mereka bukan ke kantin elit, tapi ke kantin sederhana. Di fakultas mereka yaitu Fakultas Ekonomi dan Bisnis memang ada kantin elit yang biasa dikunjungi mahasiswa berduit dan kantin sederhana yang biasa dikunjungi mahasiswa golongan menengah ke bawah dan rata-rata mereka adalah penerima beasiswa secara yang kuliah di sana biasanya adalah orang menengah ke atas. “Kita makan di sini aja nyari makanan hangat buat lo.” Kaila hanya mengangguk karena badannya lemas. “Bi Imas, masih ada soto ayamnya, Bi?” “Eh, Neng Sinta yang cantiknya kebangetan. Masih ada kok buat empat porsi lagi. Mau berapa porsi?” tanya Bi Imas penjual soto ayam yang baru beberapa hari mengenal Sinta. Namun, sudah menyukai gadis itu. “Dua porsi aja, Bi, terus mau teh manis hangat dua juga, bikinnya sekarang ya, Bi.” Bi Imas segera menyiapkan pesanan Sinta. Sinta menyuruh Kaila untuk meminum teh hangat yang sudah terlebih dahulu datang. Kaila merasa lebih baik sekarang. “Makasih banyak ya, Sinta.” “Oke, tidak masalah.” Kaila tidak menyangka bahwa Sinta sangat baik, tidak seperti apa yang orang katakan selama ini. Ia jadi ingin berteman dengan Sinta. Sedangkan Sinta sebenarnya tidak mau berteman dengan orang seperti Kaila karena akan mengingatkan dia pada sosok sahabatnya Marsha yang sudah mengkhianatinya. Ini murni dia membantu karena tindakan pembullyan yang parah bukan ingin berteman dengan Kaila. Mereka akhirnya menghabiskan makanannya lalu bergegas untuk pulang. “Lo benaran nggak mau melaporkan orang yang bully lo?” tanya Sinta. “Benaran Sinta. Aku juga nggak tau siapa aja orangnya.” Bohong! Sebenarnya Kaila tahu siapa yang membullynya yaitu beberapa cewek dari jurusan ekonomi yang menganggap Kaila sebagai pelakor karena kekasih mereka sempat melirik Kaila, padahal Kaila sendiri tidak melakukan apapun. Namun, Kaila takut masalah ini akan menyebabkan pemanggilan bagi orang tua mahasiswa yang terlibat. *** “Tuh 'kan ban mobil lo juga kempes pasti ini ada yang ngerjain,” ujar Sinta setelah melihat mobil Kaila. “Iya ya gimana ini Sinta, mana udah sore banget.” Sinta mendengus karena masih harus terlibat dalam urusan Kaila. “Ya udah gue anter pulang. Mobil lo tinggal sini, besok pagi lo panggil orang bengkel ke sini.” Sebenarnya ia ingin menyuruh Kaila untuk pesan ojek online saja, tapi melihat Kaila yang tampak panik ia jadi menawarkan diri mengantar. Akhirnya Sinta dan Kaila pulang bersama, tapi sebelum mobil Sinta keluar dari gerbang Fakultas, ada seseorang yang melemparkan dirinya sendiri ke depan mobil Sinta. Tentu saja sang pemilik mobil tampak geram. Sinta keluar dari mobil ingin memarahi orang itu. “Lo ngapain ngelempar diri lo ke mobil gue, kurang kerjaan lo!!!” bentak Sinta. “Eh, maaf Mbak ... loh Santi?” lelaki itu terkejut ketika melihat wajah Sinta. Ia pikir itu Santi. “Lo kenal adik gue? Lo siapanya Santi?!” "Lah, si Santi punya kembaran, dikira anak tunggal. Mana kakaknya galak lagi, beda banget sama Santi," batin lelaki itu. “Nama saya Anton dari jurusan akuntansi Mbah eh—maksudnya Mbak, saya teman satu SMAnya Santi di desa." Lelaki itu ternyata adalah Anton. Tentu saja Anton mendapat beasiswa di kampus itu kalau tidak Anton mana mampu berkuliah di sana. Sinta hanya mengangguk mendengar penjelasan Anton, dia memperhatikan Anton yang mukanya babak belur. "Huh! Lagi-lagi bully,” batin Sinta. “Jadi ngapain lo nabrakin diri ke mobil gue?” “Itu—" “Ehmmm, Ehmmm.” Ucapan Anton terhenti karena deheman lelaki di belakang Sinta. Sinta pun berbalik dan terlihat lima orang berbadan cukup kekar yang sepertinya adalah senior. “Hai, Cantik mending lo ikut main sama kita daripada ngurusin si buluk. Enaknya main di mana ya?” ucap salah satu senior. “Di ranjang,” jawab ketiga senior lainnya. Mereka berempat pun tertawa terbahak. Hanya satu orang yang tidak tertawa di antara mereka, malahan dia merasa merinding. Dia tahu perempuan di hadapannya sekarang adalah mahasiswa baru jurusan manajemen bisnis yang di juluki wanita iblis. Sedangkan Sinta yang mendengar perkataan para senior itu hanya tersenyum remeh. Pantas saja ia merasa ada yang kurang hari ini ternyata ia belum memukul orang sama sekali dan nyatanya ada mangsa yang datang sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD