Ayesha: Do. Gimana kabar lo? Entah itu pesan keberapa yang telah Ayesha kirim selama tiga hari dan Redo tidak kunjung membalas. Pikiran Ayesha terlalu kalut, apalagi saat ingat Redo selama ini kabur dari rumah. Pikiran buruk selalu berseliweran di kepalanya. Mulai dari Redo dihukum, atau parahnya Redo dipindahkan ke kota lain. “Semoga lo cepet hubungin gue, Do.” Ayesha mendekap ponsel lalu berjalan ke lantai satu. Sabtu pagi rumah Ayesha begitu sepi. Papa dan mamanya masih tugas sedangkan Afisha pergi entah ke mana. Gadis berkaus pink polkadot itu duduk di ruang tengah kemudian mulai menyalakan televisi. Keheningan kali ini membuatnya tidak nyaman. Dia selalu ingat Redo lalu dadanya akan terasa sesak. “Sorry. Bukan berarti gue nggak peduliin lo!!” Samar-samar, Ayesha mendengar suara k

