Di daerah terpencil, Vanessa tengah duduk melantai sembari menyembunyikan wajah di antara lekukan lututnya. Menangis. Itulah yang ia lakukan saat mengetahui orang yang ia cintai sedang terbaring lemah di sana. Ingin rasanya ia berbuat sesuatu, tetapi sangat tak mungkin jika melakukan itu sebab ia tak ingin semakin terluka saat melihat wajah orang itu. Dengan segenap hati yang terluka, ia mendongak lalu mengembuskan napas panjang dan mengusap sisa air mata yang masih mengalir. "Semangat, Ness, kamu tidak boleh terus begini," katanya menyemangati diri sendiri sebelum beranjak dari tempat ia duduk saat menangis. Vanessa berjalan dan berhenti tepat di depan jendela. Tangannya bergerak membuka jendela hingga desau angin menyambutnya. Kini, ia berdiri dan menikmati desau angin yang menerpa. Ad

