12. Jimmy

1124 Words
Chelo baru saja terbangun. Siang ini ia masih berada di rumah karena masih saja demam. Sambil memegangi guling kesayangannya ia berjalan ke luar kamar. Ia mendengar suara dari dapur, menarik atensinya. Langkahnya kemudian membawanya untuk melangkahkan kaki ke dapur melihat siapa yang berada di sana. "Hei udah bangun Nak?" sapa Eri yang kini tengah membuat makan siang untuk Chelo. "Papi?" tanya anak itu kemudian duduk di kursi, menatap pada Eri kemudian merebahkan kepalanya seraya menopang pada bantal yang ia bawa. Eri masih berkutat dengan kegiatannya, memasak sup. "Hm, tadi papi ada kerjaan jadi hari ini sampai sore Tante Eri yang temani Chelo ya? Kakak Cherry juga lagi ada kerja kelompok. Papi minta tante buat temani Chelo." Eri menjelaskan kemudian ia mengambil air hangat untuk minum Chelo. Wanita itu kemudian melangkahkan kakinya menghampiri anak itu dan memberikan air hangat pada Chelo. "Minum dulu sayang.' Chelo menerima kemudian meneguk minuman yang diberikan oleh Eri. "Makasih Tante," ucap anak itu. Kemudian kembali merebahkan tubuhnya. Sementara itu Erin kembali melakukan kegiatannya. Hari ini Yuga memang meminta tolong Eri agar menjaga Chelo. Eri setuju saja, lagipula ia tak ada kegiatan di rumah. Lalu ia juga menjanjikan untuk memasarkan makan siang untuk Chelo. Dan akhirnya wanita itu ada di rumah Yuga, sahabat dan juga partner ranjangnya. "Kalau Chelo pusing, Chelo boleh ke kamar dan bibi lagi. Nanti kalau makan siang udah selesai tante bangunin, kita makan dan minum obat." "tante bisa telepon papi?" tak menanggapi ucapan Eri, Chelo malah menanyakan hal lain. Eri menoleh, setelah memasukan sayur ke dalam kaldu panas, ia berjalan menghampiri Chelo dan duduk di samping Chelo. "kenapa? Chelo mau minta sesuatu?" Dengan menatap Eri penuh harap, Chelo menganggukan kepalanya. "Chelo mau ketemu mami." "Mami?" Anak dengan potongan rambut mangkok itu anggukan kepala. "Mami Chelo," jawab anak Chelo. "Ah, Chelo mimpi mami?" tanya Eri bingung tentu saja karena ibu dari Chelo sudah tiada. "Mami Chelo baik banget, kemarin mami pangku Chelo sampai tidur." Chelo menceritakan bagaimana Rei memangku dan membiarkan dirinya tidur dalam pangkuannya yang membuat anak itu merasa begitu bahagia. Sementara yang ada dalam pikiran Eri adalah yuga telah mendapatkan wanita yang bisa menggantikan mendiang istrinya. Raut wajah Eri terlihat sedikit kecewa. Tak dipungkiri selama menjalin hubungan ini, lambat laun ia menjadi begitu menyukai Yuga. Bukan hanya karena sentuhan hangat yang diberikan oleh pria itu di atas ranjang, tapi Eri juga menginginkan Yuga lebih dari itu. Yuga begitu mempesona dalam semua hal wajah, penampilan Yuga, bagaimana ia memberikan perhatian. Dan wanita suka itu, saat mereka diberi perhatian dan dibahagiakan. Yuga memberikan semua kebutuhan yang dibutuhkan Eri selama sang suami berada jauh darinya. Sejak dulu Eri begitu menyanjung Yuga. Hanya saja, pria itu pada akhirnya jatuh cinta dan menikah dnegan wanita lain. Beberapa tahun berselang, Eri juga menikahi pria pilihannya. Sampai pada akhirnya mereka saling membutuhkan sentuhan satu sama lain, kemudian membawa keduanya ke dalam hubungan yang saling menguntungkan dan berlangsung sampai saat ini. Dan hubungan itu juga yang membawa perasaan Eri kembali. "Hmm, mami Chelo datang ke rumah ini?" tanya Eri. "Enggak, mami ada di rumah hantu." "Chelo sayang, kalau begitu mami Chelo kan-" "Tante mau bilang mami Chelo udah meningal?" tanya anak itu kesal. "mami Chelo ada!" Anak itu kemudian berlari ke kamarnya, Eri menghela napasnya, ia tak tau bagaimana caranya untuk mengatakan pada Chelo jika sang ibu tak akan kembali. Anak itu sudah jelas mengetahuinya, hanya pasti akan sulit untuk menerima apalagi Eri merasa kalau Chelo begitu percaya dengan keberadaan sang mama. Tak lama anak itu kembali membawa jaket yang ia peluk selama dua malam ini. Ia memberikan jaket itu pada Eri, ingin memberikan sebuah bukti kalau sang mami benar-benar ada dan ia sama sekali tak berbohong. eri menerima, melihat ukurannya jelas ini sepertinya buka tipe Yuga. Hanya saja parfum yang digunakan Rei sama dengan milik mendiang istri Yuga. "White musk," gumam Eri. Lalu dengan cepat Chelo mengambil kembali jaket milik Rei dan segera berlari kembali ke kamarnya. *** Reya kini tengah berada di rumah bersama Jimmy. Jimmy sudah berhasil mengantarkan sahabatnya itu dengan selamat sampai ke rumah. Tak ada yang Rei katakan selain diam, bersandar pada bahu jimmy, genggam tangan Jimmy, sambil sesekali menghapus air matanya yang menetes. Jimmy melirik perlahan ke arah Rei,. Sejujurnya ia penasaran denan apa yang terjadi. Tapi, yang terjadi sejak tadi rei memilih bungkam. Tatapan Jimmy benar-benar tulus. Ia kemudian menghela napas dan memainkan tangan Rei yang kii menggenggam tangannya. "Kenapa sih Ndut? Hmm?" Rei hanya menggelengkan kepalanya, Jimmy tau gadis itu belum mau berbicara. Pria itu menatap pucuk kepala Rei, lalu mengusap dengan tangannya yang lain. Jimmy Menyukai Rei sejak dulu, hanya saja ia takut hubungan mereka akan memburuk jika ia mengungkapkan perasaan. Maka diam dan jaga hubungan dengan sekadar menjadi teman adalah hal yang bisa ia lakukan untuk bisa menjaga hubungan baik ke duanya. Rei memikat bukan secara prespektif, karena Rei diluar itu semua. Butuh waktu sebentar untuk mengetahui gadis itu istimewa. Lembut dan penyayang, serta ketulusan yang selalu ia berikan. Mungkin bagi sebagian, orang jatuh cinta pada Rei adalah sebuah anomali. Ya, tapi ini masalah hati siapa yang akan bisa mengaturnya? "Jim," panggil Rei. "Hmm?" sahut Jimmy lembut, penuh perhatian. Bahkan jika ada makhluk lain di sana ia akan mudah menerka kalau Jimmy tengah jatuh cinta. Tapi ini Rei dan mereka hanya berdua saja. Mana paham ia kalau Jimmy tengah tunjukkan rasa? Dalam lobus otaknya yang ia pahami hanyalah. Dirinya tak akan dicintai dan ia tak pantas untuk itu. "Jim, kalau gue ngomong lo marah enggak?" Jimmy menatap manik mata Rei yang kini layaknya tengah di balut embun yang menyedihkan, Jimmy hapus bulir air mata yang menetes di wajah Rei. "Enggak gue enggak akan marah sama lo. Kenapa? Hmm?" Tangan Rei menggenggam erat tangan Jimmy. "Satya selingkuh." Raut wajah Jimmy berubah hanya saja ia sudah berjanji untuk tak marah. ia menunggu Rei untuk mengatakan semuanya. "Lo tau, waktu gue ke sana dia lagi 'itu' sama perempuan selingkuhannya." Suara Rei bergetar tahan air mata yang semakin mendesak. Di dalam hati Jimmy bergemuruh, genderang perang sudah bergemuruh. Hanya saja ia tak ingin emosi menguasainya dulu, Ia harus menjaga perasaan rei terlebih dulu saat ini. "terus?" "Gue minta putus," jawab Rei cepat. Ada senyum sekilas terulas di bibir Jimmy. "Good, dia memang pantas dapat itu.' "Jimm," panggil Rei lagi. "Hmm?" "Gue pasti jelek banget ya? Sampai orang yang bener-bener gue sayang gitu ke gue? Gue enggak pantas?" Jimmy memegang wajah Rei dengan kedua tangannya. Membuat tatapan mereka saling bertemu. Jimmy berikan senyuman. "Lo cantik Rei. Lo cantik karena lo tulus, lo luar biasa karena lo selalu care dan peduli, lo sempurna karena lo pinter dan pekerja keras. Lo yang terbaik, Hmm? Sejak kapan lo boleh minder gini? No, enggak boleh." Jimmy berikan semangat lalu membuka tangannya lebar. Rei kemudian memeluk Jimmy. "Thanks Jim," ucap gadis itu. 'Hmm, sama-sama."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD