11. Satya!

1227 Words
Pagi ini Rei telah menyiapkan sarapan untuk Satya dan ia berniat untuk membawakan sarapan untuk kekasihnya itu. Pagi-pagi sekali ia sudah terbangun membeli sarapan dan juga aneka kue kering untu kekasihnya itu. Perjalanan ke rumah Satya memerlukan waktu sekitar lima belas menit jika menggunakan kendaraan umum. Ia sengaja tak memberitahu karena ingin memberikan kejutan. Ia melangkah masuk ke sebuah kawasan perkampungan. Jarak antara gang depan cukup jauh sampai ke kost yang ditinggali kekasihnya. Berjalan sekitar lima menit sampai akhirnya ia tiba di sana. Segera melangkah ke lantai dua dengan riang. Satya pasti akan senang. Biasanya pria itu belum sarapan dan memilih beristirahat saat liburan. Langkahnya lalu terhenti di sebuah kamar dengan pintu berwarna maroon dengan tulisan 'jangan diganggu' lengkap dengan gambar doraemon besar tepat di tengah. Gadis itu terdiam beberapa saat untuk merapikan bawaan di tangannya, sunyi ... Hanya bisa mendengar napasnya sediri lalu samar-samar ia dengar suara wanita yang berteriak nikmat lalu desahan desahan yang samar. Rei coba yakinkan lagi apa yang ia dengar. Benar, suara perempuan dan laki-laki yang jelas ia ketahui adlah kekasihnya. Jantungnya berdetak cepat, napasnya mulai tersengal. Ia coba meyakinkan apa yang akan ia lakukan saat ini. Sementara ia coba menahan air matanya. Dirinya tau kalau ia tak boleh menangis atau harga dirinya hancur berantakan. Setelah terdiam dan mendengarkan suara pertarungan ranjang yang menyayat hatinya. Ia tersenyum di sudut bibirnya. "Sialan," makinya pelan. Makian itu bukan ia tunjukkan untuk siapapun. Hanya untuk dirinya sendiri meruntuki kebodohannya yang berani memberikan segalanya kecuali kesucian pada kekasihnya yang mungkin beberapa menit lagi akan segera menjadi mantan kekasihnya. Ia lalu mengetuk pintu, kemudian bergerak ke samping pintu dan bersandar pada tembok. Ia menunggu sambil coba tenangkan diri, tak ingin emosi menguasainya. Tak lama pintu terbuka, seorang pria terlihat menoleh ke arah kanan, lalu ke kiri di mana kekasihnya berdiri di sana. "Rei?!" Satya terkejut melihat kekasihnya kini berdiri dan menatapnya dengan senyum. "Kamu kok ke sini enggak bilang?" Pra itu jelas terlihat cemas seraya beberapa kali menoleh ke dalam. "Kenapa aku harus bilang? Aku kan--" ucapan Rei terhenti saat terdengar suara gadis lain dari dalam. "Siapa Bebh?" Satya menoleh ke belakang, ia hendak menutup pintu kostnya sebelum akhirnya Rei dengan cepat menerobos masuk ke dalam. Lalu kini bertepatan langsung dengan gadis berambut pendek dengan tubuh tinggi semampai dan jelas berbanding terbalik dengan dirinya yang gemuk. "Kamu siapa?" tanya gadis itu. Rei lalu menatap pada sang kekasih. "Aku siapa?" Rei bertanya sambil menatap Satya yang sama sekali tak melihatnya. "Dia temen aku," Satya menjawab. Rei jelas terkejut dengan jawaban kekasihnya. Hany saja ia sadar diri ia tau bahwa ia bukan gadis cantik yang akan mendapatkan pengakuan apalagi gadis berambut pendek itu begitu cantik juga memiliki tubuh yang menawan meski kini hanya terlilit selimut, Rei melirik ke segala arah mencari sesuatu, setelah menemukannya ia lalu bejalan cepat menuju meja mengambil kunci motor milik satya. Satya berjalan cepat kemudian merebut kembali kunci motor yang dibawa oleh gadis itu. "Aku besok berangkat kerja gimana?" tanyanya pada Rei. "Ya itu bukan urusan gue, ini kan motor gue. Ini beli dari uang gaji gue selama ini. Gue lho yang nyicil setiap bulan emang lo ada kontribusi untuk bayar cicilannya? Enggak kan?" Rei kesal dan marah, ia berusaha mengambil kembali kunci motornya. Satya terlihat gelisah dengan apa yang dikatakan Rei. Ia tak mengijinkan gadis itu untuk mengambil kembali kunci motor yang sama sekali bukan haknya. Rei masih terus berusaha mengambil sampai gadis yang selingkuhan kekasihnya mendorong Rei agar menjauh. "Ini temen kamu yang kamu bilang terobsesi sama kamu itu?" tanyanya. "Gue terobsesi?" tanya Rei pada dirinya sendiri seraya terkekeh kecil. Rei menatap ke arah Satya dengan kesal. Terobsesi? bagian mana yang bisa disebut terobsesi sementara selama ini jelas ia tak pernah berusaha keras untuk mendapatkan Satya. Pria itu yang datang kepadanya sambil memohon dan memintanya untuk menjadikan dirinya kekasihnya setelah mereka bertemu di acara reuni SMP. Satya begitu baik dan perhatian ia bahkan tak segan mengantar jemput gadis itu untuk bekerja, dulu. Satya juga begitu protektif ia begitu menjaga Reya. Satya selalu mengatakan kalau dirinya cemburu setiap kali Rei dekat dengan Jimmy sahabatnya. Bahkan pria itu juga pernah merasa cemburu saat pertama kali ia melihat dan bertemu dengan Tedi adik tirinya. Hal-hal yang dilakukan Satya membuat Rei berpikir bahwa pria itu adalah pria yang baik yang benar-benar menyayanginya. Namun, kini semua pemikirannya berubah tentang Satya yang setia, penyayang, penyabar dan yang paling penting adalah pria tidak pernah menyangka bahwa seorang yang begitu ia cintai dan ia percayai adalah seorang yang bisa membagi hatinya dengan mudah. Rei bergerak mendekati Satya, mau dengan cepat mengambil kunci yang dipegang pria pendek itu. Setelah berhasil mendapatkan kunci motor ia segala berjalan ke luar dari kamar yang hari ini menghancurkan dirinya itu. "Rei!" Satya memanggil. Rei jelas mendengar suara panggilan itu namun ia memilih tetap melangkahkan kakinya turun untuk menuju parkiran motor. Pria itu kini berada di hadapan yang menghalangi kakinya untuk melangkah. Reya terdiam tatapannya mengarah ke depan enggan menatap pria yang telah menyakiti hatinya itu. "Kita ngomong lagi nanti." Satya coba untuk berbicara namun tatapannya mengarah pada kunci motor yang dipegang Rei. Kini gadis itu tahu bahwa selama ini pria yang ia cintai dan juga ia mengira bahwa Satya juga mencintainya ternyata hanya ada di dalam pikirannya sendiri. Pria yang begitu ia puja karena merasa telah memberikan seluruh hati dan hidupnya untuk dirinya ternyata hanyalah seorang penghianat dan pembohong. "Apalagi yang harus kita omongin? Lo yakin mau ngomong sama gue? Gue ini cuman cewek yang terobsesi sama lo, mendingan lo balik lagi ke kamar lanjutin apa yang tadi lo lakuin sama cewek itu. Nanggung banget kan?" "Aku minta maaf aku salah ngomong tadi." Satya membujuk. "Kita putus." Rei kemudian mendorong tubuh Satya ke samping dan ia berjalan cepat dengan memegangi kunci motornya. Rei takut Satya mengejarnya kemudian menarik kembali kunci motor miliknya. Hanya saja sepertinya kali ini Satya memilih untuk tak mengejarnya dan kembali ke kamar. Gadis itu lalu menoleh ke belakang melihat punggung mantan kekasihnya itu berjalan menjauh. Sungguh meskipun ia tadi meminta agar Satya meninggalkannya, tapi dalam hatinya ya benar-benar berharap bahwa Satya akan menahan langkahnya untuk pergi. Rei lalu berjalan menuju parkiran motor ia membuka kunci stang motor dan kini yang jadi masalah adalah bahwa ia tak bisa mengendarai motor. "Aish, gimana ini?" Ia bertanya pada diri sendiri rasanya percuma ia merebut kunci motor dari tangan mantan kekasihnya karena dirinya sendiri tak bisa mengendarai motor itu. Gadis itu kemudian duduk di pembatas parkir dan menghubungi sahabatnya. "Hmm kenapa Ndut?" tanya Jimmy dari balik telepon. "Lo bisa enggak ke kost Satya?" "Sekarang?" Jimmy bertanya sebenarnya pria itu heran juga mengapa tiba-tiba Rei memintanya untuk menjemput. "Hmm, sekarang. Bisa? Jemput gue ya lo ke sini naik ojek aja," Pinta Rei dengan suara bergetar. "Bisa, tunggu gue di sana jangan ke mana-mana." suara jimmy kini terdengar cemas. "Lo enggak apa-apa kan? Hei?" "Hmm, gue oke, Makasih Jim." Gadis kini itu duduk menunggu sahabatnya. Kejadian tadi sebenarnya benar-benar mengguncang hatinya. Kini tangannya gemetar setelah beberapa menit yang lalu ia terus menahan diri untuk tidak menangis. Kini ia menutupi kedua wajahnya air matanya tak bisa lagi ia tahan dan kini membasahi kedua pipinya. Air mata itu terus ya seka tapi entah mengapa rasanya terus saja menetes tanpa bisa ia. Dadanya kini terasa begitu sesak, sesekali ia tepuk berharap bahwa perasaannya akan kembali dan baik-baik saja. "Bodoh banget Lo sih Rei," kesalnya kemudian kembali menunduk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD