10. Vespa dan Malam menggemaskan

1438 Words
Malam ini Vhi makan malam bersama nenek Ayu. Keduanya makan malam tanpa banyak berbicara dan memang sang nenek tak suka banyak pembicaraan saat makan. Semua berlangsung hening sampai kegiatan makan malam selesai. Nenek Ayu membersihkan bibirnya dengan lap makan yang telah disediakan, menatap Vhi kemudian berkata. "Kamu pikir nenek enggak tau kalau kamu kemarin sama Kuki main ke rumah Rei?" uapnya kemudian menatap Vhi. Vi menatap sang nenek sama sekali tak terlihat jika ia merasa takut. Karena dalam hati ia merasa tak ada yang salah dengan menemui Rei. Dulu sang kakek juga sering mengajaknya untuk ke rumah Rei dan bertemu. Vhi malah menganggukan kepalanya. "Ya, aku merasa kesepian di sini. Nenek setiap hari juga ke perusahaan. Aku kan pulang Nek enggak nginap seperti sebelumnya.' Nenek Ayu tak suka dengan apa yang dikatakan sang cucu. Ia coba menahan rasa kesalnya hanya agar Vhi tak lagi berulah. Yang dilakukannya kemudian adalah meneguk air putih hangat dalam gelas miliknya. "Berteman dan bersosialisasi itu dengan orang benar dan tepat," kata sang nenek berpetuah. "Yang benar dan tepat seperti apa? Apa menurut nenek, Rei itu bukan orang yang tepat dan benar?" Vhi bertanya seolah tak suka dengan apa yang dikatakan sang nenek barusan. Ayu menatap sang cucu, bagaimana lagi caranya agar ia bisa memberitahu Vhi untuk tak menemui Rei itu yang kini menjadi pemikirannya. Ia tak suka jika sang cucu bergaul deng rei yang adalah cucu dari istri muda sang kakek yang dinikahi secara tak sah karena tanpa persetujuan darinya. Yang membuat ia merasa begitu marah adalah Raharjo memilih meninggalkan dirinya dan merawat Rei yang dulu tinggal sebatang kara. Padahal Ayu menyarankan anak itu untuk dirawat di panti asuhan saja. Sang suami menolak dan memilih merawat Rei yang telah kehilangan Nenek juga kedua orang tuanya. Sejak itu mendiang suaminya sering mengajak Vhi untuk bermain bersama Rei. Hingga Raharjo menghembuskan napas terakhirnya saat Rei berada di sekolah menengah pertama. Setelahnya ia berjuang hidup sendiri dengan uang peninggalan sang kakek. Yang selalu diberikan sampai ia berusia 19 tahun. Beruntung ia bisa menabung dengan baik hingga bisa banyak berhemat dan bisa membeli kebutuhannya dengan hasil tabungannya. "Contoh si Kuki masih muda udah sudah jadi CEO. Sudah mengurusi pekerjaan ayahnya. Kamu mau kerja di mana? PNS, DPR, DPRD sebut semua nenek bisa ajukan kamu. Jangan jadi youtubers, youtubers, apa itu ndak berguna." Ayu menjadi kesal jika membayangkan keinginan sang cucu untuk menjadi Youtubers. Vhi kini memerhatikan sang nenek tanpa senyum. ia tau semua yang dilakukan sang nenek pada Rei tentu kadang buat ia jadi dilema sendiri. Ia sayang dengan sang nenek meski kadang merasa kesal dengan semua yang dilakukan Ayu. "Rei juga hebat. Dia kerja dari umur 18 tahun,. Antar belanjaan, jualan kue kering ke warung, berusaha masuk SMA meski terus di keluarkan tanpa tau alasannya. Rei ikut banyak workshop tentang bisnis dan banyak lagi. Dia ikut pelatihan ketenagakerjaan, punya banyak sertifikat, tapi selalu ditolak di perusahaan besar padahal secara kemampuan dan speaking bagus." Vhi mengatakan semua itu membuat sang nenek seolah tak mendengar. "Dia kan cuma kerja di toko roti ecek-ecek dan jadi hantu-hantuan." Ayu meledek kemudian terkekeh kecil meremehkan. "Aku memang kuliah, tapi secara kemampuan aku kalah jauh. Mungkin karena aku terlalu dimanja?" Vhi bertanya kemudian tersenyum ke arah sang nenek yang menatapnya dnegan tatapan marah. "Kenapa kamu ngomong kaya gitu ke nenek?" "Nek, aku cuma main ke rumah saudara aku. Apa salahnya? Kenapa nenek masih kayak gitu ke Rei. Stop nek, jangan lagi lakukan hal yang buat orang lain menderita." Vhi segera bangkit dari duduknya meninggalkan ruang makan untuk segera beranjak ke kamar. Kadang memang manusia ada yang memilih untuk menyimpan perasaan dendam yang mereka rasakan dan melakukan pembalasan untuk membuat perasaan mereka lebih baik. Hal ini yang dilakukan Ayu untuk membuat ia merasa lebih baik. Dan menghilangkan rasa kecewa akibat dulu ditinggal oleh sang suami. *** Rei kini menghubungi Pak Bram setelah semua kegiatan hari ini selesai. Ia sudah memberitahu tentang permintaan Yuga pada bram. Bukan hanya ada Rei, tapi juga ada beberapa teman yang belum pulang. Ada Teguh, Adit dan Imam yang hari ini memang membantunya untuk membersihkan ruangan. Mereka juga biasanya menemani Rei sampai ia naik ke Busway tentu saja karena Rei perempuan membuat ketiga pria itu tak tega membiarkan Rei pulang sendirian. "Sebenarnya kalau enggak ada saya asal ada kamu enggak apa-apa Rei," ucap Pak Bram. Rei bingung menatap pada dirinya sendiri. "Aku Pak?" "iya, kamu itu ada yang magerin. Mungkin kakek atau mendiang nenekmu. Efeknya jadi sekeliling aman juga. Karena cukup kuat, makanya saya berani tinggal asal ada kamu." Ujar Bram. Rei menoleh menatap sekitar dan ketiga temannya yang masih memperhatikan layar ponsel. "Kalau gajinya naik terima aja, ya enggak?" ucap imam diikuti anggukan oleh teguh dan adit. "Ya, gaji saya yakin pasti naik. Cuma kalau enggak ada saya harus ada Rei dan pasti dia pulang malam. Jarak dari sini ke rumahnya kan jauh dan saya herannya kenapa enggak ada yang searah sama dia?" ujar pak Bram lagi. ia memikirkan Rei yang harus pulang malam sendirian. "Enggak masalah sih pak kalau aku pulang naik busway. Kan masih ada kalau malam." Rei menjelaskan sejujurnya ia tak masalah dengan itu semua. Teguh gelengkan kepalanya. "Rawan kalau buat perempuan." "Gini deh jangan dulu mikirin aku pulang gimana. Kalau memang ini bisa nambah pemasukan tim dan anak-anak gimana kalau kita ajuin percobaan sebulan atau tiga bulan? lagian kalau pemasukan nambah 'kan bisa buat bantu bapak juga untuk biaya rumah sakit," jelas Rei lagi yang tentu saja tak ingin jadi penghambat yang lain untuk mendapatkan pemasukan lebih. "Kamu yakin enggak apa-apa Rei?" tanya Pak Bram coba meyakinkan. Rei menganggukan kepalanya. "Yakin pak. Kalau bapak setuju nanti aku langsung hubungi Pak Yuga untuk kasih tau kalau kita setuju untuk masa percobaan sebulan," jelas Rei lagi. Setelah pembicaraan yang mencapai kata sepakat itu. Rei segera melangkahkan kakinya pulang. ia berjalan ke luar bersama ketiga temannya. Melewati jalan belakang yang sudah sepi. Waktu sudah menunjukkannya pukul sebelas malam. "Gue penasaran sama yang magerin lo." ucap Adit. Rei menatap pada tubuhnya. "Kayaknya lemak deh, enggak ada yang lain.' Jawaban yang keluar dari bibir Rei membuat semua yang ada di sana terkekeh. "Tapi emang sih pas Alan kesurupan itu kan memang pas enggak ada lo dan pak Bram. Selama ada kalian aman-aman aja tuh. Di Ikutin aja paling sampai rumah." Imam coba mengingat kejadian dimana salah satu tim mereka kesurupan. Saat itu ponsel Rei berdering, Jimmy. "Ya Jim?" "Lo dimana? Gue tanya tadi kata Iva lo belum pulang?" tanya Jimmy cemas. "iya ada yang harus dibahas dan emang selesai agak lebih malam hari ini. Kenapa lo?" "Gue di parkiran belakang tempat baisa. Gue tunggu," jelas Jimmy kemudian mematikan panggilan. Rei meletakan kembali ponsel miliknya. "Eh kita ke parkiran aja. kalian jadi bisa sekalian pulang. Jimmy jemput gue." Keempat orang itu segera merubah arah dan segera berjalan menuju parkiran belakang. Di sana terlihat Jimmy yang berdiri di samping Vespa miliknya. Rei berlari kecil menghampirinya. "Lo lama nunggu?" Jimmy menggeleng. "Gue tanya Iva lo sore belum pulang dan gue baru sampai pas banget lo selesai." Jimmy kemudian menurunkan ikat rambut Rei dan memasangkan helm di kepala sahabatnya itu. Jimmy juga memasangkan pengancing di helm Rei. "Cieeeelaaahh,' seru Teguh Imam dan Adit yang kini juga sibuk dengan motor mereka masing-masing untuk segera pulang. Rei menatap ketiga temannya sementara Jimmy kini menatap Rei, sedikit tersenyum kemudian segera berpaling untuk memakai helm dan bersiap menstarter vespa miliknya. "Ayo naik," pinta Jimmy. Rei egera baik ke atas vespa ia menepuk b****g sahabatnya itu. "Sudah siap!" seru rei. "Duluan ya!" Jimmy berseru pada ketiga teman Rei. Malam ini jimmy yang mengantarkannya untuk segera kembali pulang. vespa tua itu masih begitu kuat angkut beban berat melaju di jalan malam Jakarta yang tak pernah sepi. "Mau makan enggak?' tawar Jimmy. "Nggak mau, maunya kamu," sahut Rei malah ngegombal menggoda Jimmy. "Halah! serius nih." "Enggak mau, maunya diseriusi kamu." Rei kini malah sibuk mempermainkan Jimmy. "Rei," panggil Jimmy yang terdengar kesal. "Iya sayang," sahut Rei kemudian tertawa. Jimmy mengelus dadanya beberapa kali. "Lo kambuh ya? Jangan bikin gue pengen gigit lo ya!" "Hah?!" "Tau ah!" kesal jimmy. "Cie marah, cie cie," Rei meledek Jimmy. Jimmy melirik wajah Rei dari kaca spion, Terlihat gadis itu tengah memerhatikan sekitar. "Makan dulu ya?"' "Iya," jawab Rei. "jangan iseng lo, gue paling sebel kalau lo kambuh gini." "Iya sayang," jawab Rei. Jimmy kemudian melirik Rei dari kaca spion lagi. Tepat saat Rei juga melirik sahabatnya itu dan memonyongkan bibirnya. "Gue jambak ya tuh bibir," ujar Jimmy gemas. "Nih coba," kata Rei semakin memajukan bibirnya. Jimmy hanya terkekeh menahan gemas yang ia rasakan. perjalan malam selalu menyenangkan saat Rei bersikap jahil. Ia menjadi menggemaskan seperti ini bagi Jimmy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD