"Mami?" Rei bertanya setelah cukup lama terdiam akibat terkejut dengan apa yang ia dengar barusan.
Chelo mengangguk, kemudian menatap Rei. "tapi, mami Ello enggak gendut kaya tante." Chelo mengatakan itu sambil menunjuk Rei.
Dalam hati Rei ada rasa kesal juga karena mendengar perkataan anak kecil ini barusan. Meski apa yang dikatakan Chelo tak salah bahwa ia memang gemuk. Rei hanya tersenyum kecut. Lalu kembali menatap lurus ke depan. Tak lama Dina kembali membawakan air mineral untuk Rei.
"Ini, maaf ya kebetulan tadi aku sekalian ke toilet jadi agak lama," ucap Dina merasa bersalah lalu kembali duduk di samping Chelo yang masih menatap Rei.
"Enggak apa-apa Mbak," sahut Rei kemudian dengan segera membuka botol air mineral miliknya dan meneguknya.
Chelo menarik-narik t-shirt milik Rei hal itu membuat Rei menoleh. "Tante kerja di mana?"
"Tante kerja di sini. Di rumah hantu," jawab Rei.
"Tante pernah ketemu sama mami Ello enggak?" tanya anak itu polos.
Rei menatap Chelo, lalu mengusap lembut kepala anak itu. "Di sana cuma ada hantu bohongan sayang. Mungkin Mami Ello udah jadi malaikat."
Ello menatap Rei yang kini kembali menatap ke depan dengan tatapan tegang. Rei membayangkan apa yang mungkin akan dibicarakan oleh atasannya itu.
"Tante," panggil Chelo lagi.
Lagi Rei menoleh pada Chelo. Tak ada yang dikatakan anak itu selain menatap Rei.
"Chelo mau main ke rumah hantu sama tante boleh?" tanya anak itu lagi.
Rei anggukan kepalanya. "Boleh asal papi Chelo kasih ijin ya."
"Iya, nanti ijin dulu sama papi." Dina menimpali.
"Masih lama ya Mbak?" tanya Rei cemas.
"Sebentar lagi kok Mbak." Dina menjawab.
Rei kemudian memilih untuk mengobrol bersama Chelo sekaligus memerhatikan anak kecil itu yang kini tengah sibuk mewarnai
Tak lama pintu terbuka menunjukkan sosok Yuga yang berjalan masuk ke dalam. Ia melirik pada Rei dan kemudian kembali menatap lurus ke depan dan berjalan lalu duduk di kursinya.
"Silahkan," ucapnya pada Rei meminta agar gadis itu duduk di kursi yang berada di hadapannya. "Dina tolong ajak Chelo keluar sebentar."
"Baik pak," ucap Dina kemudian mengajak Chelo berjalan ke luar ruangan.
Rei berjalan mendekat, Yuga berdiri sesaat untuk mengajak berkenalan, ia mengulurkan tangannya.
"Yuga Manendra," Si pucat mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
Rei menyambut uluran tangan Yuga. "Rei Pak."
Yuga kembali duduk di kursinya. "Silahkan duduk. Saya sengaja manggil kamu ke sini karena enggak ada Pak Bram."
"Iya, Pak betul. Ada apa ya pak?"
"Saya mau meminta tim rumah hantu untuk open lebih malam lagi. Akan seru kan kalau memang bisa dijadikan wahana malam. Juga saya minta untuk perubahan jadwal dengan mengganti jadwal buka di hari libur." Yuga menjelaskan maksud tujuannya meminta Rei untuk datang ke ruangannya.
Jelas ini mendadak sekali pikir Rei. Sementara banyak yang harus dipikirkan yang utama adalah hari dimana Bram harus mengantarkan sang istri cuci darah.
"Saya rasa untuk ganti hari masih bisa dipikirkan Pak. Karena pak Bram juga harus mengatur jadwal ulang menemani istrinya ke rumah sakit. kalau untuk buka sampai malam rasanya nggak bisa Pak."
Yuga menatap dengan tatapan tak suka. "kenapa? kenapa nggak bisa sampai malam?"
"Pak Bram enggak bisa sampai malam pak. Bu Bram kan dititipkan di rumah saudara jadi beliau harus kembali sebelum pukul sepuluh malam." Rei menjelaskan.
Bram dan sang istri tak memiliki anak sehingga ia sendiri yang harus merawatnya. Setiap harinya sang istri dititipkan di rumah saudara terdekat yang memang tak bisa dititipi hingga malam hari.
"Kenapa harus sama Pak Bram? kalian bisa kan tanpa Bram. hari ini kalian bisa tanpa dia kok," Yuga mulai kesal karena jawaban yang Diberikan terdengar seperti penolakan.
"Karena kan Pak Bram juru kuncinya Pak. Bapak enggak dikasih tau sama kelompok sebelumnya kalau kru-nya sering diikutin hantu ? Selama ini kita aman karena ngikutin jadwal Pak Bram. Beliau ada di sana juga bukan cuma jadi ketua tapi juga magarin dan jagain krunya dari gangguan yang ada." Rei menjelaskan lagi semua itu adalah hal yang ia ketahui dan alami selama ini.
Sejarah lokasi rumah hantu itu juga tak baik. Rumah hantu di taman Edelweis di bangun di atas rasa yang konon adalah tempat pembuangan mayat pada zaman penjajahan. Alasan itu yang membuat lokasi rumah hantu bukan hanya dihuni manusia yang berdandan seperti hantu, tapi juga hantu yang sebenarnya. Itu menyebabkan ruangan itu terasa begitu sesak dan pengap meski sudah diberi pendingin ruangan.
Yuga terkekeh, jelas ia tak mempercayai itu. Itu menurutnya hanya alasan yang diberikan Rei untuk menolak apa yang ia katakan.
"Kamu beralasan?" tanya Yuga.
Rei menggelengkan kepalanya. "Kami sudah ada Pak Bram dan dipagerin aja, sering ada kru yang kesurupan kalau terpaksa pulang larut—karena harus dekor ulang Pak. Begini, saya cuma mengatakan apa yang saya tau dan apa yang saya alami sendiri."
"Kalau begitu saya akan cari kru lain." Yuga mengancam.
Rei hela napas, tentu saja ia tak bisa membiarkan timnya diganti. "Begini, saya akan bicarakan ini sama Pak Bram dulu. Bapak bersedia menunggu? Nanti setelah saya bicara dan deal dengan kesepakatannya. Saya akan ke kantor bapak lagi. Tapi, saya mau jaminan."
Yuga menatap antusias, ia suka dalam perihal yang seperti Rei lakukan ini. Gadis itu cukup berani menurutnya. "Apa?"
"Kalau Pak Bram setuju lalu sesuatu terjadi seperti di tim sebelumnya, bapak harus membatalkan itu. karena kalau sudah kejadian yang jadi sasaran bukan hanya kru kami, tapi ini juga bisa mengancam ke pengunjung." Rei menekankan dengan tegas.
Yuga mendesis, ia lalu terkekeh dalam hal ini ia yakin sekali kalau hal yang dikatakan Rei barusan tak akan terjadi. intinya ia tak percaya perihal hantu dan segala macam yang mungkin akan mengganggunya.
"Oke kalau memang itu mau kamu. Saya setuju." Yuga mengatakan itu sebagai janjinya.
"Baik saya akan bicara sama pak Bram. Besok saya akan ke kantor bapak."
Yuga menggelengkan kepalanya, ia lalu mengambil kartu nama miliknya dan memberikan pada Rei. "Hubungi saya langsung setelah kamu bicara. Supaya saya bisa langsung buat kontrak kerja baru."
"Ba--"
Belum sempat Rei melanjutkan ucapannya pintu ruangan terbuka terlihat Dina yang berjalan cepat masuk.
"0ak maaf pak, Chelo kabur Pak naik motor-motornya." Dian mengatakan itu dan nyaris menangis.
Yuga menyalakan ponsel miliknya. ia segera mengecek GPS milik buah hatinya itu dan ternyata ada di ruangannya. Yuga segera bangkit dan berjalan menuju sofa tempat Chelo bermain tadi. Ia menemukan jam tangan Chelo di sana. Yuga berdecak kesal mengacak rambut dan bergerak gelisah. ia kembali menghubungi Roni.
"Cari Chelo, minta semua tim. Cari di semua tempat di Edelweis sekarang!" titah si pucat.
Yuga kemudian berjalan ke luar, Rei kebingungan ia kini malah berada di ruangan itu sendirian. Ia lalu berjalan ke luar dengan canggung. yuga terlalu terburu-buru sehingga melupakan Rei yang berada di sana.
Setelah berjalan ke luar dari kantor butuh cukup lama untuk sampai di rumah hantu. Perjalanan sekitar 1,5 km dan ia harus mempersiapkan kakinya baik-baik.
"ya, capek deh nih." kesal rei.
Meski terus mengeluh ia tetap melanjutkan perjalanan menuju rumah hantu. Melewati beberapa wahana lain yang belum pernah ia naiki karena merasa takut. Rei berjalan seraya memerhatikan kartu nama milik Yuga. ia kemudian memasukan nomor atasannya itu ke ponsel miliknya.
Keringatnya bercucuran lalu setelah kurang lebih dua puluh menit ia tiba di rumah hantu melewati pintu belakang. Sudah tak ada kru karena mereka sudah mulai bekerja. Rei duduk dan segera mengambil air mineral gelas yang berada di bawah meja. Segera meneguk hingga habis dan ia bahkan minum satu gelas lagi untuk menghilangkan dahaga yang ia rasakan.
Saat itu ia melihat lemari yang bergerak. Rei menelan saliva, meskipun ia terbiasa mendengar hal-hal yang menyeramkan hanya saja akan terasa berbeda jika ia merasakan sendiri. Meski ruang kru terang oleh pencahayaan tetap saja tak ada siapapun. rei berjalan mendekat ia melihat sebuah motor kuning kecil di samping terhalang box aksesoris. Gadis itu lalu membuka lemari properti ia menemukan Chelo yang terlelap. Rei hela napas merasa lega karena yang ia temui bukan hantu.
Gadis itu segera menggendong Chelo dan berjalan kembali ke kursi sambil memangku Chelo yang masih terlelap. Nafas anak itu terasa hangat, Rei memegang kening Chelo yang demam.
"Sakit ya kamu ganteng?" tanya Rei pada Chelo yang tertidur.
Gadis itu kemudian menghubungi Yuga. Hanya saja panggilannya ditolak. Rei kemudian mengirimkan pesan.
Rei:
Pak Yuga saya Rei, yang tadi nemuin bapak. Saya mau kasih tau Chelo sama saya pak.
Yuga:
dimana?
Rei:
Rumah hantu pintu belakang.
Yuga:
Saya ke sana.
Rei memilih berjalan ke luar masih sambil menggendong anak itu ia mengambil jaket jeans miliknya untuk menyelimuti Chelo yang terasa dingin tubuhnya. Rei duduk di kursi taman belakang. Sambil sedikit menggoyang-goyangkan tubuhnya dan bersenandung.
Tak lama terlihat Yuga dan Roni yang mendekat. Mobil berhenti tepat di hadapannya. yuga segera turun dan berjalan cepat untuk mengambil Chelo. Terlihat jika pria itu begitu cemas.
"Ah kamu di sini Nak," ujarnya.
"Tidur Pak." Rei berbisik.
"Terima kasih," ucap Yuga sambil berusaha mengambil alih gendongan dari tangan rei.
Hanya saja Chelo menggenggam kaos Rei begitu kencang. Rei sampai harus menahan kerah t-shirt yang ia kenakan. Yuga kembali mencoba melepaskan, tapi genggaman tangan Chelo semakin kencang.
"Gimana ini Pak?" tanya Rei yang bahkan tak bisa melepaskan genggaman tangan Chelo.
"Aduh kenapa dia gini." Yuga juga bertanya heran.
"Gini deh pak, biarin dia tidur di sini dulu. Kalau sudah bangun saya hubungi bapak gimana? lagian dia agak demam."
Yuga memegang kening si bungsu lalu menghela napasnya merasa bersalah karena berpikir Chelo sudah lebih baik pagi tadi. "Coba dulu sekali lagi."
"Chelo sama papi ya," pinta Rei lembut.
Chelo menggelengkan kepala meski matanya terpejam. "Mau sama mami," lirih anak itu dan itu jelas membuat Yuga terkejut dan menatap Rei tak enak.
Rei membelai rambut Chelo, "Sama papi dulu ya nanti mami nyusul." Rei katakan itu lagi.
genggaman tangan Chelo merenggang, dan Yuga berhasil mengambil Chelo dan menggendong putranya.
"Terima kasih udah jagain Chelo," ucap Yuga.
"Sama-sama Pak. Mobil Chelo ada di dalam."
Yuga anggukan kepala, lalu berjalan meninggalkan Rei menuju mobil golf. Ia kemudian meminta Roni mengambil mobil mainan milik putranya itu.