Se-La 16

2026 Words
Se-La 16 --- Sekolah adalah hal yang paling membosankan jika isinya hanya pelajaran bahasa indonesia, matematika dan fisika. Sudah jenuh dengan pelajaran yang isinya hanya itung-itungan saja dan bacaan yang tak jauh beda dengan koran harian, di tambah guru yang hanya mau mengoceh dengan logat sok galak. Lengkap sudah penderitaan hari itu. Seperti hari ini, jadwal di hari selasa adalah fisika di jam pertama, matematika di jam ke lima, dan untuk penutupan di sambut dengan bahasa indonesia. Pagi di beri sarapan banyak angka, dan di tutup dengan bacaan dongen yang membuat kantuk bukan kepalang. Untuk kesekian kalinya, Erin menguap panjang saat Bu Dina tengah berdongeng ria membahas alur sudut pandang dan segala hal tentang cerita. Erin membuang pandangannya keluar jendela, menatap gedung yang berdiri kokoh tepat di seberang gedung sekolahnya, sepasang netranya menatap pada jendela ke 5 dari kiri di lantai dua, tempat dimana sosok yang selalu membuat senyum manisnya muncul dengan segala tingkah kakunya dan membuat hari selasa suramnya menjadi hari selasa bahagia. Namun kini, sosok yang selama ini ada di sana tak lagi ada di tempatnya, sudah dua hari berlalu yang membuat rasa rindunya kian membumbung. Mendesah pelan, Erin menopan dagu dengan tangan kanannya, netranya menatap papan tulis dengan banyak coret dan rangkaian tulisan entah apa itu. Kembali Erin menguap, untuk kesekian kalinya dan untuk kali pertama ia benci hari selasa ini, hari berat yang entah kenapa seperti tak ada ujungnya. “Lo kenapa geh? Lesu amat, kemaren lesu sekarang malah lebih parah.” Suara bisikan pelan dari Mili tak mampu membuat Erin berpaling, pikirannya masih sibuk berkelana membayangkan sosok yang sudah tiga malam ini membuatnya menderita, dua malam tak bisa tidur hanya karena perutnya yang terus saja bergejolak, merindukan rengkuhan dan juga elusan pelan pada perut maupun kepalanya. Sialan, bolehkah ia mengumpat sekarang. Rasa-rasanya ingin sekali memaki guru yang terus saja mengoceh, jika saja poin bulan ini sudah hampir mencapai target skors yang ia dapatkan, mungkin dengan senang hati Erin akan hengkang kaki dari kelasnya tak peduli akan ocehan dan bentakan dari bu Dina. Menyadari hal yang tak mungkin, Erin kembali mendengus, menopang dagu dengan tangan sebelah kiri sembari menatapi papan tulis yang sudah penuh dengan coretan kata dan juga segala ocehan yang keluar dari guru gemuk itu. Bosan kian menghampiri. “Lo ngapain?” Bisikan itu kembali terdengar saat Erin akan meluruhkan tubuhnya keatas meja. “Ngantuk, gue dengerin orang ceramah.” “Ngantuk sih gue juga. Tapi nggak pake molor jugalah! Bu Dina loh ini.” Erin sangat tau jika berurusan dengan Bu Dina adalah hal paling konyol dan gila. Bukan hanya tenal galaknya. Bu Dina juga jelas terkenal akan kegilaan dalam memberikan hukuman. Tapi jika sudah seperti ini masa bodo dengan hukuman gila yang akan ia terima nanti. Toh kalo sampai di luar nalar Erin tinggal bilang saja pada kakek, dan terbebaslah dia. Bukan pengadu atau apa, namun mengingat ada yang tengah tumbuh di dalam perutnya menuntut Erin untuk tidak melakukan hal yang memeras tenaga. Kandungannya masih lemah untuk di ajak bergerak lebih. Mengabaikan ucapan Mili, Erin memilih menyembunyikan wajah di kedua lengan yang sudah ia lipat di atas meja. Melihat itu Mili mendengus dan tak mau ambil pusing. “Sebasing lo deh, Sa!” Erin tak peduli apa yang akan terjadi nanti, karena kantuknya sama sekali sudah tak bisa di ajak kerja sama, semisal dia akan di keluarkan dari kalas ataupun di skors pun tak peduli, karena yang terpenting sekarang hanyalah tidur sebelum seluruh badannya lesu kembali. Tak butuh waktu lama, hanya cukup lima menit dan di temani ocehan yang sudah menyerupai dongengan indah ala-ala putri keraton yang keluar dari guru bertubuh gempal itu, Erin mulai menelusuri dunia mimpi. Tak peduli Mili yang was-was berusaha menutupi wajah Erin dengan buku cetaknya. Ini bukan masalah siapa yang pintar dan juara umum, walau mereka semua tau jika Erin adalah sosok yang pintar sekalipun, di hadapan Bu Dina semua sama. Siapa yang tak menaati peraturan makan dia akan hengkang dari kelas dan di anggap bolos dan parahnya lagi di hukum. Tak peduli jika itu siswa berprestasi sekalipun. Disiplin adalah hal penting untuk mendidik anak agar menjadi sosok yang lebih baik. “Baik sampai di sini ada yang mau di tanyakan?!” Ucapan itu membuat Mili ketar ketir, terlebih saat tatapan Bu Dina menyorot tajam kearah buku yang ada di hadapan Erin. Takut jika sampai guru gempal itu tau kalau Erin si murid teladan kesayangannya berubah menjadi sosok yang pemalas akhir-akhir ini. Lalu helaan nafas keluar pelan dari mulutnya saat semua murid satu kelas serempak mengucapkan “nggak bu!” Itu berarti sahabatnya yang pemalas ini bebas dari amukan singa lapar di depan sana. Selaras langkah... Untuk kali pertamanya Erin tertidur di sekolah dan terbangun saat keadaan kelas sudah kosong. Dengan mata sayu ia mengedarkan pandangannya, menilik tiap sudut ruangan guna memastikan satu hal apakah ia di tinggal oleh teman-temannya? Jika ia maka lihat saja apa yang akan ia lakukan pada kedua bocah sialan itu besok! “Lo nyariin apaan?” Menoleh pada suara yang terdengar kesal tepat di belakangnya, di sana Mili duduk dengan enggan di sebuah kursi, dengan kaki yang ia selonjorkan, tiga kursi sekolah ia susun hingga mampu menopang kaki panjangnya, dengan tubuh yang ia senderkan pada tembok sekoah. “Lo belom balik?” Tanya Erin dengan suara parau dengan sepasang netra yang kembali mengedar memastikan sekelilingnya. Bukan hanya ada Mili di dalam kelas itu. Tepat di sebelah gadis itu masih ada Riska yang masih sibuk dengan ponselnya. “Ninggalin lo dengan taruhan gua bakal di singutin dan lebih parah di makan sama lo? Kalo ia sory gue masih terauma sama gimana ngamuknya lo!” Jawab Mili yang seolah paham akan ucapan basa-basi dari Erin, karena Mili dan Riska sangat tau akan tingkah Erin yang terkadang membuat kesal sendiri. Terlebih mereka berdua juga bukan sahabat yang tega meninggalkan sahabatnya sendiri, apalagi di sekolahan yang sudah tak ada penghuninya ini, kecuali pihak pengurus sekolah. Beranjak dari tempat yang kurang nyaman, Mili meraih tasnya, “sebasing lo mau balik apa mau lanjut tidur, ini udah jam 4 dan dan gue mau balik, bunda udah nyariin anak gadisnya yang belom keliatan batang hidungnya dari jam 3 tadi.” Di ikuti Riska yang bergerak tanpa mengalihkan pandangannya yang juga meraih tas yang tergeletak di meja di depan meja Erin. “Gue juga, mang Giman udah nunggu dari tadi.” “Loh-loh, kok pada balik. Terus gue di tinggalin gitu?” Memutar bola mata malas, Mili menjawab dengan enggan “Ya makanya ayok balik, udah sore juga masih aja mau molor.” “Ya tunggu kek, nyawa gue masih pada berterbangan ini.” “Lima menit, lebih gue tinggal!” Putus Mili yang kembali membanting pantatnya di atas kursi sebelah Erin. Sembari menunggu Mili memilih membuka buku novelnya ketimbang jenuh berdiam diri atapun bermain ponsel yang malah membuat matanya ke lelelahan. “Riskaa!!! Mau kemana lo!” Teriakan itu keluar dari mulut Erin saat melihat sahabat satunya itu dengan santainya berjalan dengan fokus yang masih tertuju pada ponsel, efek kecanggihan jaman yang malah membuat beberapa siswa malas belajar dan malah membuat kurang konsentrasi. Mili menoleh menatap nanar sahabatnya yang kini hanya memasang cengiran bodoh dengan sebelah tangan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Balik lah. Katanya tadu mau pada balik, emang masih belom pada mau balik ya?” “Kagak balik, nginep di sini semua!” Ketus Erin yang sudah dalam mode kesal. “What!? Gila aja, ogah gue nginep, lo orang aja.” “Nah ini orang, siapa yang mau nginep. Omongan Erin lo percaya, bentar lagi lah, tunggu si kanjeng nyonya ini balikin nyawanya dulu baru kita bali” ucap Mili yang hanya di jawab dengan mulut membentuk huruf O oleh Riska. Selaras langkah... Dengan langkah gontai Erin melangkah malas masuk kedalam pekarangan rumah yang cukup asri. Tepat setelah turun dari ojol yang mengantarkannya pulang, kini Erin sudah di sambut ramah oleh pak Amin satpam rumah yang selalu setia menjaga pos. “Baru pulang nong?” Bergerak Membukakan pintu untuk sang mantu majikan tak lupa memberikan senyum terbaiknya, Erin membalas ala kadarnya, tersenyum tipis yang masih saja terlihat cantik. Lalu kaki itu kembali bergerak malas, memandang bangunan minimalis di hadapannya dengan perasaan yang jelas kurang nyaman. Bukan masalah perlakuan keluarga dari Upal yang membuatnya tak nyaman, melainkan ada yang mengganjal di hati saat teringat Upal tak ada di rumah itu. Fakta yang malah membuat rasa rindu yang ada kian menyusup tak tertahan akan keadaan. Terlebih rindunya akan rumah miliknya sendiri malah membuat Erin kembali merasa bimbang. “Loh sayang, kok baru pulang?” Sapaan itu datang dari seorang Mamah Helda yang baru saja selesai menyiram bonsai miliknya dan melihat menantu kesayangannya, mengagetkan Erin yang tengah melamun. “Kamu ngelamun?” dengan cepat Helda menghampiri Erin, senyum cerah dan ramah yang tadi di berikan untuk menyambut Erin perlahan luntur merasa cemas saat melihat Erin yang terdiam. “Kamu kenapa sayang?” Kembali Mamah Helda bertanya dengan suara yang kental akan rasa khawatir, terlebih saat Erin hanya menggeleng saat merespon jawaban mamah mertuanya. “Yaudah kita masuk dulu aja, nanti certia sama Mamah di dalem” menggiring tubuh menantunya masuk, Helda dengan sangat sabar merangkul Erin tanpa peduli jika menantunya itu masih saja berdiam diri. “Sini-sini duduk dulu” seret Mamah Helda saat mereka sudah berada di ruang tamu. “Bi!” Teriak Mamah Helda memanggil Bi Ipah, yang tak lama kemudian simbok datang terpogoh menghampiri majikannya. “Iya nya? Nyonya manggil simbok?” “Iya mbok, ini tolong ambilin Erin minum sama kue yang saya bikin tadi pagi ya mbok” “Oh, iya nya. Tunggu sebentar simbok ambilin dulu” Setelah simbok berlalu untuk mengambil apa yang di minta oleh Mamah Helda, tatapan mertua Erin langsung tertuju pada Erin yang saat ini sudah lesu di tempatnya. “Kamu kenapa sayang? Coba cerita dulu ke mamah, siapa tau mamah biaa bantuk kan.” Erin menggeleng pelan, sebenarnya dia juga bingung ingin mengatakan apa, rasanya ia juga bimbang, entah kenapa begitu mengingat sosom Upal, ia seolah tak bersemangat. Kangen? Jelas itu yang di rasakan Erin. Namun ini sudah terlalu berlebihan. “Kalo nggak ada apa-apa. Terus kenapa kamu keliatan nggak semangat gitu, hm?” Masih dengan sabar Mamah Helda menanyai Erin, mencari celah agar menantu kesayangannya itu tak memendam masalahnya sendiri. Karena wanita paruh baya itu tak ingin sampai Erin drop karena terlalu strees. Namun helaan nafas pelan keluar dari mulut mamah Helda saat melihat gelengan pelan dari Erin. “Yaudah kalo nggak mau cerita. Biar nanti mamah suruh Upal pulang aja. Mamah nggak mau ya mantu mama stres di usia kandungannya masih muda. Itu bahaya buat calon anak kamu dan calon cucu Mamah” Mendengar perkataan Mamah Helda Erin langsung menegakan punggungya. “Ehh jangan mah, Erin nggak papa kok, Cuma nggak tau kenapa tadi pas masuk pekarangan rumah, Erin langsung keinget sama Upal” tuturnya pelan mencoba meyakinkan Mertuanya bawasanya dia memang tidak papa. “Mungkin Erin Cuma kangen aja kok, Mah. Nanti juga kalo udah vcan udah nggak papa” “Yakin Cuma itu aja? Nggak ada masalah di sekolah kan?” Tanya pelan Mamah Helda yang hanya di angguki oleh Erin. Tersenyum lucu Mamah Helda mendekat. Menarit tubuh mantunya kedalam pelukan, di elusnya pelan rambut hitam milik Erin. “Kalo emang kangen itu wajar. Kamu masih hamil muda, dan biasanya di usia kandungan muda memang banyak yang di inginkan. Seperti ngidam, dan biasanya banyak perempuan yang nggak bisa jauh dari suaminya. Ya kayak kamu ini. Sama kayak Mamah dulu yang nggak bisa jauh dari Papah Darel pas kandungan Mamah masih berusia 2 bulan” Erin diam termenung menikmati rasa nyaman yang menyusup masuk dengan sendirinya, Mamah Helda selalu tau bagaimana memperlakukan Erin dengan kesabaran dan kasih sayangnya. “Cuma inget. Kalo ada masalah apa-apa kamu harus cerita, entah itu sama Upal, Mamah Helda ataupun Bunda Nisa. Nggak boleh di pendem sendiri nggak baik buat kandungan kamu” Tersenyum tulus, Erin menatap Mamah Helda dalam “iya, Mah, Erin janji bakal cerita kalo ada apa-apa” “Bagus, itu baru mantu kesayangan Mamah” menarik kembali tubuh Erin kedalam rengkuhan hangat miliknya. Erin termenung, bibirnya berucap syukur beberapa kali karena telah di berikan keluarga yang begitu peduli sangan sayang akan sosoknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD