Se-La 15

2062 Words
Se-La 15 “Lo kenapa deh, gitu amat muka lo,kurang tidur apa gimana?” brondongan pertanyaan itu menghampiri telinga Erin, tepat saat dirinya masuk kedalam kelas dengan wajah kusut, kantung mata menghitam, dan juga bibir pucat pasi. Dengan langkah gontai, Erin tak memperdulikan Mili, yang masih saja setia mengikuti di belakang tubuhnya, “lo lagi dateng bulan apa gimana sih, kesiksa banget kayaknya.” Erin menggeleng sebagai jawaban, tepat setelah pantanya mendarat pada kursi nya, dengan tas yang sudah di letakan di atas meja, “terus kenapa?” “Gue nggak tidur semaleman.” “Lagian lu yang aneh, kenapa juga nggak tidur?” “Kalo gua bisa geh nggak bakalan gua begadang Mili, penghuni dalam perut gue semalem nggak bisa di ajak kerja sama, dan bikin gue ngeronda buat ngecengin toilet!” sentak Erin yang mampu membungkam mulut Mili. “Lo banyakan makan cabe kali, makanya mules.” Erin memutar bola mata malas, tak menjawab dan membiarkan sang sahabat menganggap demikian. Yang mana nyatanya Erin tak bisa tidur hanya karena Upal sialan yang belum juga pulang, membuat si penghuni perut yang tak lain adalah jabang bayi keturunan mereka protes dan banyak menuntut, membuat perut terasa mual tanpa henti. “Kan udah berapa kali gue bilang, stop makan cabe Erin, perut lo mana kuat nampung makanan pedes samban hari.” “Lo nggak tau aja apa yang di mau sama anak gue, kalo aja lu tau, gua jamin mingkem langsung itu mulut!” namun jelas makian itu tak akan Erin lontarkan, memilih diam dan tersenyum masam akan perhatian dari sahabatnya itu. Beruntung Erin memiliki sorang sahabat sepeti Mili, yang selalu saja peduli akan dirinya yang terkesan cuek dan tak terbuka pada sahabatnya sendiri. “Udeh, gua nggak papa. Lagian abis ulangan juga belajar biasa kan, gue bisa ngungsi di uks nanti.” Sedikit ragu, Mili mengangguk patuh dengan perasaan serat akan rasa khawatir, “yakin lo nggak papa?” Sekali lagi Erin memberi senyum terbaiknya, mungkin jika di bilang ‘nggak papa’ jelas Erin bohong, tapi, untuk mewakili kalimat “gue lagi ngidam dan sekarang pengen banget ketemu bapak nya nih anak” di balik rasa tersiksanya itu, hanya kata ‘ngak papa’ lah yang menurut Erin lebih aman. Lalu Erin memilih menyimpan banyak kebahagiaan yang selalu membuncah saat tau jika di dalam perutnya itu sudah bersarang gumpalan darah keturunannya kelak. “Iya gue ngak papa.” Kata itu akhirnya keluar, sebuah kebohongan yang begitu sulit untuk di lantunkan oleh mulut hinanya itu. Mili mengangguk, lalu memilih duduk di depan Erin saat bel di mulainya pelajaran berbunyi, “eh iya, lo udah buat tugas dari Bu Yaya yang-“ ucap Mili sembari membalikan tubuh dan menatap Erin yang hampir memejamkan matanya “lo tidur?” Erin yang sedikit terkejut itu mendongak, menatap sang sahabat dengan pandangan sayu dan mulut cengo “please ya Mil, kalo mau teriak bisa kan di lapangan? Nggak di telinga gue juga!” ujarnya sinis yang kemudian menelusupkan kepalanya kedalam lipatan kedua tangannya. “Dan, tolong biarin gue tidur sebentar. Sebelum Bu Yaya masuk.” Gumangan yang masih mampu di dengar oleh Mili, membuat gadis itu membungkam mulutnya, menurut dan kembali berbalik guna menekuri kembali pelajaran yang akan menjadi materi ujian hari ini. “Itu si Erin kenapa mil?” mendongak dan menemukan Riska salah satu sahabat yang tengah di landa kasmaran dengan cowok setengah populer di sekolah sebelah, di hadapannya. Mili mengikuti arah pandang Riska lalu kedikan bahu dengan kedua tangan terangkat menjadi jawaban Mili. “Nggak tau, gue aja heran.” Risa, membulatkan bibirnya sembari duduk di sebelah Mili dengan tangan mulai mengeluarkan buku catatan untuk sekedar membaca ulang pelajaran dari guru IPA, yang memiliki hobi mengulang pelajaran setiap seminggu sekali itu. “Lagi dapet kali.” Ucapnya tanpa menoleh. “Bisa jadi.” Jawab Mili yang masih serius dengan bukunya, pun dengan Riska yang sama sekali tak memperpanjang percakapan mereka. Canggung menjadi alasan pertama mereka, terlebih baru kemarin juga mereka mengalami masalah salah paham yang baru mereka selesaikan. Dan untuk membuat semua seolah tak terkadi apa-apa itu jelas sulit. Mili dan Riska boleh saja berkata ‘ok nggak papa, gue juga salah paham kemaren’ namun karena tembok yang mereka bangun sudah terlampau tinggi, malah membutuhkan waktu untuk keduanya menghancurkan itu dan kembali seperti sedia kala. Semua butuh peroses yang panjang, walau mereka sahabat sekalipun, sahabat yang malah dengan bodohnya bisa salah paham hanya karena cowok, mungkin dengan kejadian ini mereka harus berfikir ulang dan membenahi semua yang butuh di benahi, kepercayaan komunikasi harus mereka jaga, karena pada dasarnya sahabat adalah orang yang sudah mirip seperti saudara sendiri, ada kala kita sedih dan ada untuk membuat kita senang ataupun bahagia. “Gimana Adi?, seru pacaran sama itu bocah?” cerocoh Mili mencoba membuyarkan kecanggungan dan sikap sok serius di antara dua cewek itu, walau dengan wajah yang masih telaten mantengin buku tulis di hadapannya, tak menoleh sedikit pun. Walau sedikit ada rasa penasaran, kenapa sahabatnya ini bisa sampai berhubungan dengan orang seperti Adi, tetap saja Mili mempertahankan gerak tubuhnya agar tak terlalu terkesan menuntut akan jawaban. “Ya gitu deh, nggak ada yang sepesial sih menurut gue, B aja.” Sedikit mendengus, Mili lebih memilih tak memperpanjang ucapannya, alih-alih penasaran, malah moodnya luruh begitu saja saat mendengar intonasi suara Riska. “Oh iya-“ Mili menoleh, menatap Risa yang seolah mengangtungkan ucapannya, bahkan kini wajah nyelenehnya itu membuat Mili langsung menghujamkan toyoran di kepala Risa. Bisa menebak jika sahabatnya itu jelas akan membahas masalah Dave, terlebih barang titipan yang menjadi akar masalah keduanya, ternyata berisi boneka tady pink dengan sebuah surat yang sumpah membuat Mili malu setengah mati. “Apaan sih, Mil, gua belum selesai ngomong juga. Main toyor aja!” “Bodo amat Sa, bodo!” “Dih, beneran lo nggak mau denger nih?” Alis Riska terangkat mengejek, ekspresi yang begitu di benci oleh Mili. Mengangkat sebelah tangannya, Mili mendorong wajah Risa yang begitu dekat dengan wajahnya. “Ogah,” “Yakin?” “Bodo!” “Walau ini tentang Dave?” Kedua bibir Mili terkatup, tubunya sedikit menegang, lalu setelahnya ia melempar pandang kearah Riska yang juga tengah menatapnya serius, untuk beberapa detik tatapan mereka saling beradu, lalu setelahnya, Mili lah yang memutuskan tatapan mereka, memalingkan wajahnya kearah luar jendela dengan background lapangan futsall dengan beberapa murid yang tengah bermain di sana. “Kenapa dia?” Walau terlihat tak peduli, nyatanya Mili masih memiliki rasa ingin tau tentang Cowok kelas 12 TAV. Cowok yang sama populernya dengan Adi, pacar Riska. Dari tempatnya, Mili dapat mendengar dengusan kecil, sama seperti dirinya, Riska pun sepertinya enggan untuk membahas tentang Dave, cowok yang menjadi alasan kenapa seorang Mili menjadi sosok yang sekarang. Dan alasan kenapa Cewek ceria ini tak bisa move dari seorang Dave. “Dia pengen ketemu lo, masak.” Riska mengikuti arah pandang Mili, diam dan menunggu respon sang sahabat, yang nyatanya lebih memilih diam dan tak menanggapi. “Dia juga minta nomor elu.” Masih tak ada jawaban. Mili malah lebih memilih diam dan menekuri pikirannya, terlebih perlakuan Dave yang seolah kian mencecar untuk mendekatinya. Riska menghela nafasnya, “dia dirawat di Rs. Kata Adi, drop karena kecapean.” Lirih memang, namun masih terdengar oleh Mili, lalu tanpa melihat sahabatnya itu, Riska memilih diam, kembali menekuri buku yang ada di tangannya dan membiarkan Mili larut dalam keterbungkamannya. Tanpa peduli Mili yang kini tengah menatap kosong dengan sepasang netra yang sudah memanas dan siap menjebol bendungan air mata, yang mana sulit untuk dia tahan, namun ia mampu. =selaras langkah= “Lo nggak kantin?” tanya Riska saat melihat Erin yang lembali menenggelamkan wajahnya di antara lipatan tangan. Tepat setelah mereka menyelesaikan 4 jam pelajaran bel istirahat berbunyi, suara yang mampu menggerakan para manusia berperut kosong untuk menyerbu kantin, dan Erin sangat yakin, istirahat pertama bukan lah waktu yang tepat untuk mengisi perut, saat perutnya sendiri enggan untuk di isi. “Biarin aja, ngantuk banget kayaknya dia.” Mili yang baru saja kembali dari kantor untuk membawakan buku tugas dari siswa kelasnya itu menyela ucapan Riska, lalu setelah tangannya merangkul pundak Riska, Mili menatap Erin. “Lo juga, katanya mau ke uks, malah masih nongkrong di sini aja!” “Mager gue, masih enak diem di sini.” “Yodah, lu mau nitip apaan, biar gua sama Mili beliin nanti.” Erin menatap kedua sahabatnya itu secara bergantian di sertai dengan cengiran khas dari Erin yang membuat dua cewek yang menatapnya itu berdecak. “Somainya bang Anjar aja deh, lima rebu.” “Lima rebu doang?” Tanya Mili heran, “kenyang emang?” Lanjutnya lagi merasa heran dengan Erin yang notabenya porsi makan selalu banyak di banding kedua sahabatnya itu. “Gue lagi nggak enak makan, tau deh, lima rebu aja kayaknya gue nggak abis!” “Yodah lima rebu kan, lu disini aja, jangan kemana-mana.” Erin mengangguk, sembari menatapi kedua sahabatnya yang kini tengah berjalan keluar kelas, terlihat akrab memang, tapi di antara mereka berdua jelas ada tembok pembatas yang walau tak setinggi yang terlihat, tetap saja mampu memisahlan kedua sosok di antara Zonanya sendiri. Menghela nafas lelah, Erin memilih memperhatikan lapangan Footsal dari jendela kaca di sebelahnya, melihat betapa serunya permainan kedua tim yang tengah memakai baju olah raga yang sama, namun berbeda kelas, lalu sepasang netra itu menatap sesuatu yang janggal yang kemudian membuat kedua bola itu bergerak, mencari Di mana sosok yang tengah di harapkan kehadirannya di sekolah. Namun ia tertawa miris, melupakan sesuatu yang penting, Di mana orang yang begitu ia tunggu nyatanya masih sibuk dengan urusannya sekarang. Mengalihkan pandang dari sana, Erin memilih menatap gumpalan kapas hitam yang terlihat mengapung di anggasa, menilik awan hitam yang terlihat tengah menghampiri sekolahnya. Seukir senyum tipis tercipta di kedua sudut bibirnya, setidaknya langitpun seolah mengrti akan suasana hatinya, walau tak bisa di pungkiri, seiring rintik kian turun membasahi setapak tanah yang kini sudah terbalur oleh puluhan adonan semen, ingatan-ingatan Di mana hujan pernah menjadi bagian penting hidupnya seolah melambai, menyusup masuk bersamaan dengan rintik yang kian turun dengan derasnya. Perlahan, jari tangannya ia gerakan, menggambar sebuah pola di atas kaca yang berembun karena nafas panasnya. Pola yang tak berbentuk dengan senyum yang kian terukir indah di bibir, bagai pelangi di kala hujan menyapa. =selaras langkah= “Lo langsung pulang aja nih.” Suara Mili menghentikan kegiatan Erin yang baru saja menyelesaikan catatan tugas rumah yang di berikan bu Dina guru bahasa di kelasnya. Erin menoleh kilas kemudian kembali menatap kedepan Di mana Bu Dina si guru bawel tengah memberi arahan tentang tugas yang harus di kumpulkan dua hari kedepan. “Iya lah, mau kemana lagi.” “Yakali, lo mau mampir ke rumah gue kan, emak kangen noh sama lo, banyakan nanyain elu.” Erin kembali menoleh, namun kali ini lebih lama, lalu senyum itu terukir dengan sendirinya. “Besok deh, tapi sampein ke emak kalo gue dateng buatin gue kue cubit pandan andalannya ya.” Mencibir pelan, Mili menautkan kedua alisnya dengan kening berkerut. “dih, mau mampir aja banyakan maunya lu!” Tawa pelan milik Erin terdengar renyah, dengan mata sedikit menutup dan lesung pipi yang semakin menpercantik seorang Erin yang yang terkenal di sekolahnya. “Nggak papa lah, lagian kalo gue yang minta, emak pasti nggak banyakan protes ini.” Dari tempatnya, Erin sedikit mendengar dengusan pelan, seakan tau siapa pelakunya, cewek bercepol asal itu melarikan sepasang netranya kearah bangku di depannya, Di mana Riska tengah duduk dan sibuk dengan bukunya. Erin yakin, sedari tadi Risa jelas mencuri dengar pembicaraannya dengan Mili, dan jelas ada sedikit rasa tak enak saat tau jika Mili lebih asik dengan dirinya seorang. “Iya deh, nanti gue kasih tau emak, biar lo mau mampir.” Menghela nafas pelan, Erin menoleh keara Mili yang kini terlihat sibuk dengan penjelasan bu Dina. “Gue sih oke aja.” Memilih tersenyum untuk menuti perasaanya, Erin menoleh pada Riska. “Ya nggak ris, nanti kita kesana buat nyerbu kue buatan Emak.” Riska yang mendengar pertanyaan Erin pun hanya tergugu, diam seolah berat untuk sekedar menjawab pertanyaan ringan dari Erin, entahlah, semua terasa sulit, seolah ada batu besar yang menghalangi dirinya untuk meraih uluran tangan dari Erin. Tak ingin mengecewakan sosok yang di anggapnya sahabat, Riska hanya mengangguk pelan sembari menoleh kilas, hingga sebuah senyum cerah itu menyapa, dan seolah menohoknya begitu dalam, sanyum tulus yang selalu terukir di bibir manis itu terasa begitu tajam hingga mampu mencabik bagian terdalam di hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD