Se-La 14

2314 Words
Se-La 14 Satu hari setelah kepergian Upal, Erin merasa hidupnya begitu membosankan, Di mana biasanya ia memiliki sesuatu kesenangan saat pUpalya itu ada, entah itu menjahili ataupun sekedar bersandar manja ria. Sedangkan sekarang, ia hanya bisa makan tidur dan sekolah yang saat ini entah kenapa ia sama sekali tak memiliki minatan. Pun sama dengan semua makanan yang dulunya terlihat enak kini menjadi tak berselera. Mendengus kasar, Erin duduk sebuah sofa yang menghadap tv yang saat ini tengah menayangkan film anime kesukaanya, namun lagi-lagi ia sama sekali tak ada minatan untuk menatap serius kearah layar tv. Merasa bosan, Erin lebih memilih menyibukan diri dengan ponsel di tangan yang memperlihatkan beberapa foto Upal yang di ambilnya secara acak. Ada senyum kecil yang tercetak di bibirnya saat melihat beberapa ekspresi Upal yang ia ambil secara diam-diam, entah saat sibuk mengerjakan tugas, mencuci pakaian atau saat memasak, semua terlihat menggemaskan. Jangan salah, biarpun Upal seorang cowok yang sudah berperempuan, Upal adalah sosok yang tak pernah mau merepotkan orang lain, sedangkan untuk Erin pria itu bukan tak ingin merepotkan, hanya sekedar membantu, mencuci pakaian jika wanitanya sedang malas karana datang bulan, masak saat Erin malas bangun karena begadang, ataupun saling membahu saat membereskan meja makan selepas sarapan pagi. Upal adalah sosok lengkap bagi Erin, tak pernah merasa canggung atau enggan jika sudah menyangkut wanitanya. Seperti dulu sebelum di dalam perutnya bersemayam sosok keturunannya, Erin pernah melakukan satu kesalahan yang mungkin sangat malu jika di bayangkan kembali. Kala itu Erin yang lupa akan jadwal haUpal tamu bulanan dengan santainya berangkat sekolah tanpa membawa perlengkapan persiapan, yang membuat ia kaget bukan main saat tamu itu datang begitu saja tanpa di ikuti rasa, hanya mengalir dengan mudahnya. Erin kalang kabut saat itu, satu-satunya orang yang melintas di kepalanya hanyalah Upal, yang dengan cepat ia hubungi, meminta tolong untuk membelikan pengaman untuk dirinya yang tengah terkurung di toilet sekolah. Mungkin saja jika Upal menolak, Erin bisa meminta tolong pada Riska ataupun Mili, hanya saja jawaban Upal saat itu hanyalah. “Iya, lo tunggu di situ aja” dan tak lebih dari 15 menit, Upal datang membawa kantung berisi keamanan ganda yang sangat di butuhkan oleh Erin. Bahkan hal yang membuat Erin terdiam dan ternganga adalah saat ia bertanya. “Siapa yang beli?” Upal hanya menjawab dengan santainya jika dialah yang membelinya dengan nada ketus ala-ala Upal. Sejak saat itulah, Erin merasa menjadi gadis beruntung bisa memiliki sosok seperti Upal. Lalu pergerakan sofa di sebelahnya membuat Erin terhenti, menghilangkan senyum kecilnya dan menoleh kesamping dengan ekspresi bingung. “Liatin apa sih, sampek senyum-senyum sendiri gitu.” “Ah nggak kok, Mah. Ini lagi nonton anime sambil balesin chatnya si Riska.” Bohong Erin saat mendapati sang mertua duduk di sebelahnya yang kini sudah sibuk membaca beberapa majalah. “Yakin, kok kayaknya yang bikin senyum kamu itu bukan si Riska atau anime itu.” Sindir Helda tanpa menoleh, di susul senyum tipis yang mampu membuatnya bersemu dan membayangkan, mungkin saja Helda melihat foto Upal. “Ih mamah, adalah pokonya mah.” Jawab Erin malu. Lalu saat ia teringan tentang acara nanti sore, Erin langsung menoleh menatap Helda “Oh iya, mah. Nanti sore Erin keluar sebentar sama si Riska, boleh ya mah?” “Mau kemana emang? Tumben pergi sore.” Menutup majalahnya dan meletakan kembali, Helda meraih cangir teh setelahnya dan menyeruputnya pelan. “Cuma ke kafe depan kok mah, ada hal penting yang musti Erin selesain.” Ucapnya sembari membalas beberapa pesan dari Riska perihal acara nanti sore. “Mamah sih terserah aja, tapi kalo si Upal bilang enggak ya mamah nggak bisa kasih izin.” Meletakan ponsel keatas meja, Erin menatap antusias kearah Helda, terlebih memang Upal sudah memberinya izin sebelumnya. “Boleh kok, mah. Tadi Erin udah tanyak sama Upal terus asal pulang nggak kemaleman dan nggak telat minum susunya dia kasih izin.” “Yaudah kalo gitu sekarang minum susunya.” Ujar Mamah Helda saat melihat Bi Ipah membawa nampan berisi segelas s**u milik Erin. Melirik sekilas, setelahnya ia mendengus pelan saat melihat cairan kental berwarna putih itu, tak ada niatan untuk memasukan minuman itu kedalam mulutnya, selain aneh amis dan hambar, Erin memang benci s**u sejak dulu. “Nih, di minum dulu baru mamah izinin kamu keluar.” Ucap Mamah Helda sembari mengulurkan segelas s**u kehadapan Erin, yang dengan setengah hati ia terima. Melihat itu, Helda hanya tersenyum lebar sembari geleng kepala. Lucu melihat tingkah menantunya itu. “Enek, Mah.” Rengek Erin saat separuh s**u sudah masuk kedalam mulutnya. “Nggak papa dikit lagi tuh.” Tak mau menyerah, Helda membantu Erin dengan mendorong pelan gelas agar lekas di habiskan oleh menantu manjanya itu. “Nah gitu kan bagus, abis ini terserah kamu deh mau kemana juga, asal inget waktu aja.” Ujarnya saat semua s**u dalam gelas sudah bersih. Menahan rasa mual, Erin mengangguk pasrah sembari meraih satu toples biskuit yang di harap mampu menghilangkan rasa mual di mulutnya. “Yaudah Erin siap-siap dulu, mah.” Ujarnya sembari beranjak kedalam kamar untuk berbenak. -selaras langkah... Erin baru saja menginjakan kakinya di Caffe yang ada di depan komplek, sesuai janjinya dengan Riska, Erin datang tepat saat jarum jam menunjukan pukul 14.19 walau nyatanya dirinya telat hampir 20 dari janji temu namun Erin terlihat begitu santai. Baginya bertemu dengan seorang Riska tidak seperti bertemu dengan Mili yang selalu on time, karena sahabatnya yang terkenal dengan kecantikannya itu selalu saja terlambat beberapa menit dari waktu temu dengan berbagai macam alasan. Mengedarkan padangannya, Erin menyusuri tiap sudut ruangan kafe guna mencari seseorang yang tengah ia cari. Hingga di sana, di sudut ruangan terlihat seroang gadis duduk dengan anggunnya, dengan rambut terurai dan dres simpel yang mampu berpadu padan dengan sempurna. Erin menggerakan kakinya, berjalan mendekat hingga jarak di antara keduanya mengikis. “Udah lama?” Ucapnya sembari mengambil duduk di hadapan Riska. “Emm...” Menilik pada jam pink yang melingkar di tangannya, setelahnya ia menatap Erin tajam. “Hampir 20 menitan gua di sini nungguin lo.” Sungutnya saat melihat ceringat tanpa dosa dari Erin. Sedangkan Erin hanya mengedikan bahu tanpa rasa bersalah. “Halah, baru 20 menit juga, biasanya lo kan yang paling lama kalo di tungguin.” “Ya ya ya.... Terserah lo aja deh, Fis.” Membenahi posisi duduknya, kemudian Riska menghadap condong kearah Erin, menatap lekat sang sahabat yang kini tengah fokus pada buku menu di tangannya. “Btw, lo ngapain tumbenan amat ngajak gue ketemuan?” “Ya nggak papa sih, pengen aja ngafe bareng lo.” Jawab Erin dengan sebelah tangan terangkat, memanggil pelayan yang dengan sigap menghampiri meja mereka. “Pesen jus melon 1 sama jamur krispi satu juga, mbak.” Menoleh sebentar pada Riska dengan sebelah alis terangkat. “Lo ada yang mau di pesen lagi kagak?” “Nggak, ini aja, kenyang gue ngemil dari tadi sambil nungguin lunya.” “Oke.” Menoleh pada playan yang berdiri di sisi kirinya, Erin memasang senyum semanis mungkin. “Udah mbak itu aja.” “Baik mbak, mohon di tunggu.” Tak kalah dengan Erin, pelayan tadi pun memberikan senyum manis yang tak kalah dari senyum milik Erin. Menunggu sembari membalas beberapa pesan dari Upal yang baru saja mampir di ponselnya. Erin melupakan keberadaan Riska yang sedari tadi menatap heran kearahnya. Atau malah bingung, ngajak ketemuan tapi malah asik dengan hp, terus faedahnya Di mana coba. “Woy neng, gue di sini loh, asik aja sama itu hp. Yakali lo ngajak ketemu gue Cuma buat nyuruh ngeliatin lo maenan hp?” Bukan mendengarkan, Erin malah menulikan pendengaran, baginya saat ini, Upal adalah yang terpenting, terlebih jarak yang membentang membuat rindunya kian menyusup, padahal baru satu hari berlalu namun entah kenapa gejolak rindu yang ia rasakan kian membumbung. Abaikan saja makhluk di hadapanmu dan urusi manusia yang jauh di sana, kasih perhatian dikit, tanya-tanya kondisi, siapa tau kan kapan Upal pulang Erin bisa mendapat bonus lebih dari Upal. Merasa di abaikan, Riska yang bosan mulai mencari kesibukan, menoleh kekanan dan kekiri, menajamkan penglihatan guna mencari target yang mungkin bisa menjadi bahan hiduran untuk dirinya. Hingga di sana, tak jauh darinya, tepat di meja ketiga dari tempatnya duduk, terlihat dua pasang cowok yang tengah menyantap makanan dan yang satunya tengah menyesap secangkir kecil minuman, yang bisa Riska tebak itu adalah kopi. Sekilas tak ada yang aneh dari cowok yang tengah menyesap kopi itu. Hanya saja pandangan cowok itu tajam menyorot kearah mejanya, namun bukan Riska yang di tuju, melainkan sosok di sebelahnya yang kini tengah sibuk dengan ponselnya . “Stt... Cogan noh sibuk liatin lu.” Bisik Riska yang masih saja tak di anggap oleh Erin. Memutar bola malas, Riska memilih berusaha menaikan kadar kecantikannya, memasang senyum termanisnya dengan daya pikat yang hampir mencapai 76% berharap jika cowok tadi terpikat olehnya dan mau menoleh mengabaikan Erin. Namun harapan hanya tinggal harapan, nyatanya paras dan senyum terbaiknya sama sekali tak mampu menarik perhatian cowok yang lebih sibuk menatap Erin. Riska boleh saja cantik dan anggun, namun nyatanya daya pikat Erin lah yang lebih unggul dengan segala pesona yang gadis itu miliki, jangan heran walau Erin hanya memasang senyum tipis untuk sekedat membalas keramahan seseorang malah bisa membuat sosok itu baper yang berlebihan. “Besok lo sekolah?” Suara itu mengagetkan Riska dari lamunannya, menoleh pada pelaku utama yang membuatnya bosa, Riska kembali memutar bola matanya malas, nyatanya Erin sama sekali tak mengalihkan perhatiannya dari ponsel. “Sekolah.” Menjawab singkat, Riska memilih menyesap minumannya, membiarkan Erin kesal dengan sendirinya. Dari tempatnya, ia mampu melihat Erin mulai meletakan ponselnya, terlebih saat pelayan cowok datang membawa nampan berisi minuman dan cemilan yang ia pesan. “Permisi kak, Maaf udah nunggu, silahkan di nikmati sajiannya.” Sapaan ramah, senyum manis, dan sepasang netra gelap menatap lurus kearah Erin. Mendengus malas, Riska membiarkan sahabatnya menanggapi keramahan yang memiliki niat selubung lain dari sang pelayan cowok ganten itu. Membalas apa yang dilakukan mas ganteng, Erin memasang senyum terbaiknya sembari menerima minumannya “Makasih mas.” Menyesap jus melon setelah pelayan cowok itu berlalu, Erin menatap Riska tajam. Memperhatikan sahabatnya yang kini tengah memaikan sedotan di gelasnya tanpa minat. “Lo lagi ada masalah sama si Mili?” Ucap Erin langsung pada intinya. Di mode ini jangan harap Erin bisa berbasa-basi. Di mana saat kedua sahabatnya saling memasang tembok tinggi dan mengacuhkan jelas membuat Erin geram bukan main. Di tempatnya Riska yang tengah menyesap minuman langsung terbatuk, tangannya dengan cepat menyambar tisu yang ada di atas meja dan langsung ia gunakan untuk menutup mulutnya. Sepasang netranya langsung menatap tajam Erin di ikuti kening yang berkerut. “Lo apaan banget dah, ngomong asal aja” Namun sekali lagi, tatapan tajam Erin nyatanya mengalahi segala omelan milik nya membuat si empu menunduk terdiam. “Lo nggak usah ngelak, gue udah tau.” Ada jeda sesaat yang Erin gunakan untuk mendorong gelas di hadapannya dan menekuk kedua tangannya sembari menatap lekat sahabatnya itu. “So? Bisa lo jelasin ke gue sebenernya ada masalah apa lo sama si Mili.” Terdengar helaan nafa pelan sebelum wajah Riska terangkat perlahan, “gue juga nggak tau. Yang gue tau pagi itu gue liat si Mili berangkat bareng sama si Adi. Awalnya gue diem dan nggak nganggap itu, tapi tingkah Mili ke gue buat gue jadi aneh dan berasumsi kalo mereka ada apa-apa- Stop jangan potong ucapan gue!” Sentak Riska saat melihat Erin yang akan membuka mulutnya. “Gue tau, gue aneh dan terlalu negatif sama temen sendiri, tapi siapa sih yang nggak mikir aneh pas lo liat cowok yang lo taksir jalan sama sahabat lo dan parahnya lagi sahabat lo seolah ngejauh dari gue, aneh kan?” Untuk sekian kalinya Erin menghela nafas, namun tak urung senyumnya pun ikut menyertai di tiap sudut bibirnya. Ternyata masalah kedua sahabatnya ini hanyalah salah paham semata toh. Masih dengan senyum yang mengambang Erin menpuk beberapa kali punggung tangan Riska. “Lo orang itu lucu ya? Kadang gue suka mikir, lo orang itu udah sahabatan dari orok tapi masih aja nggak bisa bedain apa yang lo berdua suka dan mau.” Mengerutkan keningnya dengan sebelah alis terangkat, Riska seolah tak paham dengan apa yang di ucapkan Erin, Melihat itu membuat Erin kembali membuka mulutnya. “Lo tau? Kemaren gue sempet jalan sama si Mili, gue juga sempet introgasi itu bocah sama kayak lo ini.” Ada jeda untuk Erin menyesap minumannya. “Dan lo tau apa alasan dia ngejauhin lo?” Riska menggeleng pelan yang membuat Erin tersenyum maklum. “Dia liat lo sama si Dave di toilet yang katanya si Mili ngasih sesuatu” menjeda ucapannya guna menunggu sesuatu untuk melihat reaksi Riska, yang tak butuh lama langsung memasang raut terkejut. “Astaga dragon, gue lupa, beberapa waktu lalu si Dave ngasih titipan buat si Mili, dan gue lupa ngasih. Itu itu yang di kasih gue sebenernya titipan si Dave buat si Mili.” Benarkan apa yang di tebak oleh Erin, kedua sahabatnya ini memang salah paham satu sama lain. “Nah karena keteledoran lo itu lah yang buat Mili ngerasa Dave lebih tertarik sama lo ketimbang dia. Dan lo jelas tau kan gimana si Mili suka sama Dave?” “Dan lo malah nyangka si Mili ada apa-apa sama si Adi, yang mana arah rumah mereka itu sejalur, bisa aja kan kebetulan si Adi lewat pas Mili lagi jalan kedepan, dan mungkin karena lo sahabat deket si Mili yang membuat Adi ngasih tumpangan ke dia, karena Adi tau lo nggak akan marah kalaupun si Adi bonceng Mili ataupun gue. Dan tingkah Mili ke lo mungkin karena sebelum itu dia liat lo sama Dave. Bisa jadi kan?” Riska hanya mengangguk paham saat Erin menjelaskan perihal masalah yang tak pernah ia tau saat tiga hari tak masuk sekolah kemarin. “So, bisa jelasin ke Mili tentang semua ini dan sampein amanah dari Dave ke dia?” “Tenang gue bantu ngomong nanti.” Lanjut Erin saat mlihat gelagat ragu dari Riska yang mana langsung di angguki oleh Riska.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD