Se-La 13
Jam baru saja menunjuk angka enam lewat, dan Upal sudah terlihat sibuk di dalam kamar dengan segala urusannya. “Rin, baju kemeja merah gue lo tarok mana!” Teriak Upal yang saat ini tengah sibuk mencari baju yang memang ia butuhkan untuk acara nanti siang. Acara, yang mana sudah ia persiapkan jauh hari bersama teman satu timnya, bergerak gelisah, Upal mengacaukan segala isi kamar demi mencari kemeja yang menjadi seragamnya hari ini.
Erin yang tengah menikmati ketenangannya dengan segelas s**u dan setoples biskuit harus mendengus kesal, melirik kearah pintu kamar dimana Upal yang kini sudah menyumbulkan kepalanya menatap Erin dengan tatapan frustasi, mungkin karena sudah lelah mencari sedari tadi namun yang di carinya sama sekali tak mampu di temukan.
Setelah mempause anime yang tengah ia tonton, Erin beranjak, bergerak malas kedalam kamar tanpa berkata sedikitpun walau mulutnya sudah gatal untuk mengomel karena melihat kamarnya yang sudah seperti kapal pecah itu. Bahkan saat berpapasan dengan Upal pun, wanita yang masih memakai seragam kebesarannya berupa gaun tidur bermotif Doraemon itu terlihat cuek berlalu begitu saja melewati tubuh Upal yang tengah menatap aneh ke arahnya. Tubuhnya bergerak mendekat pada tumpukan pakaian yang rencananya akan ia setrika siang nanti, dari sana Erin menarik sebuah kemeja panjang berwarna merah kusut dan menyerahkan pada Upal.
Menatap aneh kemeja di tangan kemudian menatap lekat wanita yang tengah mengacuhkannya dengan sebelah alis terangkat. “Seriusan, lo suruh gue pake baju kusut?”
“Setrika aja sih, gue lagi males. Capek” jawab acuh Erin sembari melanjutkan video anime yang baru saja ia download siang tadi. Tangannya meraih toples biskuit dan melanjutkan acara mengunyahnya.
“Nggak keburu, Rin. Gue masih harus ngumpulin barang yang perlu gue bawa. Tolong lah”
Kunyahan di mulut Erin berhenti, menoleh cepat dan memberi tatapan tajam ke arah Upal, sebuah tatapan yang mampu membuat Upal menelan ludahnya kasar. “Lo yang mau pergi kenapa gue yang sibuk. Urus sendiri lah, urusan lo ini. Gue capek!”
Jika sudah seperti ini, Upal hanya bisa menahan segala emosinya, kesibukan yang ia alami nyatanya sama sekali yang memunculkan rasa iba di hati wanitanya, mungkin efek kehamilan membuat Erin lebih sering terbawa suasana mood yang jelas akan menyulitkan dirinya. Menghela nafas pelan, Upal bergerak mendekat, duduk menghadap Erin sembari menatap lekat. “Please, lo tau kan ini tuh acara penting, dan gue nggak mau telat” intonasi lembut dan juga mimik memelas, nyatanya mampu membuat seorang Erin yang tadinya cuek dan enggan sampai menghentikan kunyahannya. Tanpa menoleh dan hanya diam menatap tayangan animenya.
Tangan Upal bergerak, meraih tangan Erin yang tengah memengang potongan biskuit yang sudah tergigit, dan tangan satunya meraih dagu Erin membawa wajah itu menoleh hingga tatapan mereka bertemu “Tolong ya, kasihanin lah laki lu yang super berantakan ini. Satu aja lu setrikain buat gue.”
Entah karena tak enak hati, atau karerna terpengaruh oleh mimik melas milik lelakinya, perlahan Erin mengangguk dengan senyum tipis terukir di wajahnya. “Asal nanti siang gue yang anter lo ke sekolah?”
Mendengar itu Upal sedikit menegang, “tap-“
“Itu syaratnya kalo lo mau gue setrikain baju.” putus Erin telak.
Pilihan yang sulit namun tak bisa di tolak oleh Upal, di sisi lain Upal tak ingin melihat Erin yang mudah lelah itu mengendarai mobil hanya untuk mengantarkannya, tak ingin sampai wanitanya mengalami suatu hal apapun saat di perjalanan nanti, namun di sisi lain ia pun tak bisa berbuat banyak, selain ia memang begitu membutuhkan bantuan saat ini, ia juga tak memiliki banyak waktu.
Akhirnya walau dengan nada berat Upal hanya bisa mengangguk dan berkata. “Oke”
Mendengar itu, senyum lebar tercetak jelas di wajah Erin, bahkan kini dengan cekatan ia menyambar baju kemeja di tangan Upal, membawa baju itu setengah berlari yang membuat Upal sedikit memekik saat Erin dengan lancangnya melompat tanpa permisi. “Tiati, Rin. Perut lo ada anak gue itu!” Teriakan yang sama sekali tak di anggap oleh Erin.
?Selaras langkah...
“Jadi, berapa hari lo di sana?” Pertanyaan Erin seolah memecah keheningan yang melanda selama perjalanannya, di sampingnya Upal terlihat fokus menatap jalanan padat di hadapannya, dengan wajah sedikit tertekuk dan masam terlihat jelas di sana. Efek saat dirinya kalah debat dan mau tak mau menuruti keinginan Erin.
“Pal... Halo gua tanyak sama lo ini loh, bukan ngomong sama pintu mobil, kacang mulu!” resiko memiliki pria yang irit berbicara dan juga datar ya seperti ini, jika sudah ngambek ataupun marah, pasti hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hal yang paling di benci Erin karena tak bisa berbuat banyak.
Mendengus kesal, Erin mengalihkan tatapannya ke luar ruangan, “sebasing lo aja deh, bete gue!” Gerutuan itu nyatanya masih saja tak mendapat respon dari Upal, kembali mendengus, Erin menyibukan diri bermain dengan kaca jendela di sebelahnya, bermain dengan menuliskan beberapa nama lucu yang terlintas di kepalanya, nama yang ingin ia berikan untuk anaknya kelak.
Tanpa sadar, senyum geli tercetak indah di bibirnya saat sebuah nama Ela dan Elo muncul, dua nama yang entah kenapa begitu cocok di hatinya, terlebih harapan jika ia bisa memiliki dua keturuan yang lucu dan gembul. Bahkan terlintas sebuah banyang lucu dimana ia memiliki anak yang gemuk sehat yang tengah belajar berlaUpal, berjalan dengan tingkah lucu dan menggemaskan, lalu terjatuh dan menangis mengadu seolah lantai lah yang menjadi tersangka nakal yang membuatnya jatuh, atau saat hujan turun dan anaknya langsung bermain air dan tanah di susul dengan gelak tawa khas balita, dengan gigi yang belum banyak tumbuh.
Perlahan tangannya turun, mengelus pelan sembari bersenandung pelan yang tanpa ia sadari kelakuannya sedari tadi mendapat perhatian dari Upal yang tengah menahan gemas saat memandangnya. Bagi pria yang tengah sibuk dengan kemudi itu, entah kenapa akhir-akhir ini kelakuan Erin sangatlah sulit untuk di tebak, terkadang marah, terkadang tertawa bahkan terkadang tersenyum yang entah karena apa.
Tangannya yang gatal ia gerakan, menyentuh puncak kepala Erin dan ngengacaknya pelan dengan fokus yang masih tertuju pada jalanan, perlakuan yang sukses membuat Erin memekik kaget, bahkan tak segan ia meraih tangan Upal. “Apaan sih, berantakan nih!” Pekiknya kuat dengan bibir mengerucut sebal. Kekehan yang keluar dari bibir tipis Upal malah membuat Erin geram bukan main, dengan sigap ia mengarahkan tangan Upal dan membawanya masuk kedalam mulutnya, menggigit pergelangan dengan keras.
Kaget pasti, namun Upal tak berani berteriak ataupun menyentak. Tak ingin kejadian beberapa waktu lalu terulang kembali, di mana saat Erin tengah melakukan hal yang sama, Upal yang saat itu belum siap dengan refleks menyentak dan berteriak dengan kuat, dan hasilnya Erin yang terkenal kejam dan kuat malah terisak bagaikan balita yang kehilangan ibunya. Horom lah yang membuat wanita cerewet itu menjadi lemah tak berdaya. Setelah saat itu Upal sama sekali tak berani menyentak ataupun berkata dengan nada kuat. Baginya hati wanitanya sangatlah lembut untuk menerima perkataan kasar.
Seperti saat ini, Upal hanya diam, menahan ringisan saat gigi tajam milik Erin menancap di kulit lengannya, tak tembus memang namun rasa sakit itu jelas terasa.
“Lo nyebelin banget sih, Pal, bete gue.” menyentak lengan milik Upal, Erin menekuk kedua lengannya di depan d**a, mendengus kesal dan kembali membuang tatapannya keluar jendela. Hening kembali melanda, tanda jika Erin sudah kesal parah.
Dari ekor matanya, Upal mengintip wanitanya dengan senyum tipis menghiasi bibirnya. Lalu saat sepasang netranya menangkap sebuah tempat yang menjadi kesukaan Erin beberapa hari terakhir, Upal membelokan kendaraan roda empatnya tepat di pelataran sebuah kafe langganannya.
Tanpa kata dan suara, Upal turun, beranjak mendekat. Meninggalkan Erin yang bengong tak tau maksud Upal berheti di sana. Tatapannya mengikuti langkah Upal hingga punggu pria itu menghilang di pintu masuk.
Dan jelas karena kelakuan Upal, Erin harus mengalami hal yang sangatlah membosankan. Menunggu. Untuk itu demi memecah kejenuhan Erin mulai menghidupkan mp3 player yang ada di dasbor. Menikmati lantunan musik bergendre poppunk dalam diam, dengan tangan yang sibuk dengan ponsel di tangannya. Membalas beberapa chat dari kedua sahabatnya.
Tak lebih dari 15 menit berada di dalam mobil membuatnya jengah bukan main, niat hati ingin turun dan menyusul Upal, malah pria itu sudah kembali berjalan kearahnya dengan menenteng paperbag di tangan kirinya. Sebelah alis Erin terangkat, mencoba menebak apa yang di beli Upal di dalam.
“Nggak usah bete, nih buat lo.” ucap Upal saat membuka pintu kemudi sembari memberikan bungkusan pada Erin.
“Apaan nih?” Tanya Erin aneh, tanpa mau menunggu, dengan cepat ia membuka apa yang ada di dalam kantung berwarna coklat di tangannya. Lalu saat tau apa benda di dalamnya, Erin memekik girang. “What, seriusan lu beliin gue surabi?” Menoleh dengan senyum lebar, Erin menatap Upal yang hanya di balas sebuah anggukan kecil, setelahnya Erin langsung menubruk tubuh Upal. “Thanks banget, tauan aja laki gue ini”
Entah tau dari mana, Upal bisa tau apa yang sangat Erin inginkan sejak kemari. Memasang cengiran khas dan tak mau ambil pusing persoalan Upal tak mengubris omongannya, Erin lebih memilih menikmatin surabi original dan surabi rasa coklat idamannya. Lupa tentang kemarahannya tadi, dan terhanyut akan makanan murah yang sukses meleburkan emosinya. Upal yang menyadari kelakuan Erin hanya terkekeh pelan dan senyum lucu, dasar Erin. Rip Erin yang marahnya Cuma di hargai Surabi marebuan.
Selaras langkah...
Sudah di depan mata, tinggal beberapa menit lagi dan itu menjadi waktu terakhir Erin melihat Upal sebelum kepergian pUpalya. Walau memang hanya satu minggu. Namun bagi Erin yang sudah terbiasa akan sosok Upal, itu akan sangat berat, belum lagi kondisinya yang sekarang jelas akan membuat wanita itu semakin berat melepaskan Upal. Namun mau bagaimana lagi kondisi dan tanggung jawab Upal tak bisa di permainkan di sini. Dan Erin tau bagaimana ambisinya Upal untuk menyambut hari ini. Keinginan untuk membuktikan kemampuan di kanca nasional jelas menjadi sebuah impian besar untuk Upal, dan sebagai wanitanya Erin hanya bisa mendukung segala hal yang di lakukan oleh Upal.
“Lo kenapa?” perkataan Upal menarik kesadaran Erin dari lamunannya, menoleh hingga tatapan keduanya beradu untuk beberapa saat sebelum Erin memutuskan membuang pandangannya ke sekelilingnya lalu saat tau dimana mereka berhenti, kening Erin berkerut karena sekarang mereka bukan di gerbang sekolah melainkan di sebuah halte yang tak jauh dari sekolah.
“Hey, gue tanyak loh? Lo kenapa diem aja?” lagi Upal masih dengan sabar kembali bertanya.
“Kok berenti di sini?”
Melengguh malas, Upal menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, menjadikan kedua tanyannya sebagai bantal, “masih ada waktu 30 menit sebelum gue berangat. Nggak mau lepas kangen dulu?”
Erin memutar bola mata malas, tak urung melepaskan sabuk pengaman sebelum mendekatkan diri dan menubruk tubuh Upal duduk di pangkuan pUpalya, tak peduli dengan posiai yang tak memungkinkan. Karena hanya itu lah posisi yang bisa ia lakukan sekarang ini, menyelusupkan kepalanya kedalam ketiak Upal, yang langsung di sambut oleh Upal, memeluk tubuh Erin dan mencoba memuaskan diri sebelum seminggu kedepan mereka berpisah.
“Bakal kangen berat gue, nggak ada lo.” Rutuk Erin dengan suara pelan yang jelas terdengar oleh Upal. Terdengar kekehan pelan yang keluar dari mulut Upal, di susul dengan elusan lembut di ujung kepala Erin.
“Gue juga.”
“Lo jangan aneh-aneh di sana, inget ada gue di rumah”
“Lo juga.”
“Pola makan di atur, jangan sampek drop karena nggak ada gue yang bawel ngingetin lo makan!”
“Tenang, di sana udah ada yang ngatur makan”
Erin terdiam, pun dengan Upal yang masih setia mengelus lembut rambut Erin, memperlakukan rambut seolah itu adalah berlian berharga yang tak ternilai harganya.
“Jangan kangen sama gue. Bakal nggak ketemu lama soalnya” ucap Erin kembali.
“Kalo itu gue nggak janji.”
Erin terdiam cukup lama, dan setelahnya ia mendongak menatap, Menatap Upal dalam. “Gue nggak yakin lo di sana bakal kecukupan nutrisi. Nggak yakin juga tidur lo bakal teratur. Gimana kalo gue ikut, gua nggak yakin lo bakal mampu tanpa gue!” ucap Erin seolah menunjukan tak relanya ia melepaskan Upal.
Upal terkekeh pelan. “Dan biarin mereka tau kalo kita punyak ikatan sah? Kayaknya nggak mungkin.”
Mengerucut sebal Fiaa mencubit pinggang Upal gemas. “Tapi gue nggak yakin lo bakal bisa tidur tanpa gue.”
“Gue coba bisa, Sa. Gue malah ragu lo bakal betah gue tinggal lama. Takut aja lo nyusulin gue dan bikin geger mereka.”
“Nggak lucu Upal!” sentak Erin memberikan pukulan ringan bertubi-tubi.
“Ok-ok. Gue bakal inget semua ucapan lo, toh masih bisa kontek lewat hp.” Ucap Upal “dan kayaknya gue udah di tungguin mereka.” Lanjutnua lagi saat terasa benda di saku celanya bergetar beberapa kali.
Mendengar itu, mau tak mau Erin menjauhkan diri, menatap Upal dengan sendu dan perasaan tak rela di tinggal walau itu demi kebaikan. “Seminggu doang, nggak lama.” Ucap Upal saat merasa Erin tak rela melepas kepergiannya.
Mengangguk pelan sembari berpindah posisi duduk, Erin ikut keluar saat Upal sudah turun dari mobil dan mulai menenteng tasnya. Di tepian halte mereka berdiri saling pandang satu sama lain. “Lo tiati di rumah. Inget ada gue yang berjuang demi kebaikaj kita kedepannya”
Menganggu patuh Erin mbalas ucapan Upal. “Lo juga jangan menelan di sana. Puasa dulu seminggu dan tahan! Awas aja sampek buka puasa di sana. Nggak akan gue maafin lo!” lalu setelahnya tawa renyah milik Upal menguar begitu saja. Membuat Fiaa terpaku dalam diam, menikmati indahnya ciptaan tuhan yang sudah sepenuhnya milik dirinya yang jarang sekali ia lihat, karena nyatanya Upal jarang sekali tertawa seperti itu.
“Sanggup kok. Lo tenang aja. Gue pamit jaga diri ya, jaga juga dia buat gue.”
Mengangguk lesu, Erin langsung menyambar tangan Upal. Menyalami tak lupa mencium punggung jangan Milik Upal. “Ati-ati di jalan. Gue selalu berdoa buat kebaikan lo di sana.”
Upal mengangguk setelahnya ia berbalik dan melangkah menjauh, Erin hanya bersiri memandangi punggung Upal dalam sendu. Mencegah tak mungkin dan yang bisa ia lakukan sekarang hanya diam dan mendoakan keberhasilan Upal di sana.