Se-La 12
Bel tanda berakhirnya jam pelajaran akhirmya berbunyi, menciptakan segala keriuhan dan sorakan senang dari penghuni setiap ruangan yang ada. Pun dengan Erin, wanita dengan rambut di cepol asal itu pun menghembuskan nafas beratnya, dengan malas ia memasukan semua buku kedalam tas, lengkap dengan segala jenis peralatan menggambar yang berserakan di atas meja.
Pelajaran seni budaya yang mengharuskan dirinya untuk mengacak segala jenis krayon dan juga pensil warna keluar dari tempatnya. Bahkan setelah semua benda itu masuk kedalam tas, Erin masih saja menarik nafas dalam dengan penuh lelah yang begitu terasa.
Dengan perlahan, ia menggerakan tubuh yang sedikit kaku, jelas duduk diam selama 4 jam pelajaran membuat dirinya tak bisa banyak berkutik, belum lagi kondisi tubuh yang semakin tak memungkinkan itu.
"Abis ini lo kemana, sa?" suara itu membuat Erin menoleh menatap Mili sang sahabat yang baru saja berdiri dari kursinya dan siap keluar bersama.
"Gue mau balik aja lah, capek semua badan gue" ucapnya seraya beranjak, meraih tasnya dan melangkah kaki untuk keluar.
Mendengus kesal Mili menyusul, menyamai langkah kaki Erin yang terlihat lesu itu. "Lo mah nggak asik, sa. Gue kan pengen lo ajak jalan hari ini, nggak seru ah kalo nggak ada elo"
Tersenyum membalas sapaan beberapa adik kelas yang bersimpangan dengannya, Erin menjawab tanpa menoleh, "kapan-kapan lahi deh ya, mil. Sumpah badan gue capek banget ini"
Dan setelahnya telinga Erin mendangar sebuah dengusan yang tentu berasal dari Mili. "Lo mah kapan-kapan mulu, nggak tau deh kapannya itu kapan"
Terkekeh geli, Erin menghentikan langkahnya, berbalik dan melihat Mili yang tengah mengerucutkan bibirnya, yang terlihat semakin menggemaskan. "Beneran deh, buat kali ini gue beneran nggak bisa. lain kali semisal kondisi gue memungkinkan gue janji kita jalan"
Tak ada sahutan dari Mili yang lebih memilih membuang wajahnya kearah lain, Erin memilih mendekat, dan merangkul sang sahabat untuk beranjak beriringan. "Yah, lain kali deh gua janji" rayu Erin yang malah mendapat balasan sebuah dengusan kesal dari Mili.
"Tapi lo janji ya?" tersenyum manis, Erin memamerkan gigi rapihnya, yang kemudian di susul dengan anggukan kepala.
"Iya, gue janji"
"Tapi tapi kalo lo nggak bisa, terus gue jalan sama siapa dong hari ini" Mili menghentikan langkahnya, yang mana membuat Erin pun menghentikan langkah dan menatap kearah Mili.
"Lah emang si Riska kemana geh?"
Mili terlihat menegang saat Erin menanyakan prihal Riska sahabatnya yang terlihat langsung keluar saat jam pelajaran tadi, "eh... Itu" agak gugu Mili menjawab, melarikan sepasang netranya seolah memikirkan jawaban yang pas untuk Erin. "Lagi jalan sama Adi lah, dia mana pernah bisa gue ajak jalan" melihat gelagat Mili, Erin merasa ada yang tak beres di antara keduanya.
Terkekeh pelan, Erin kembali melangkah, "yaudah sih, kenapa lo nggak sama si Dave aja, kan cocok tuh."
"Dih ogah, mending juga gue jalan sendiri"
Tawa renyah keluar dari mulut Erin yang melihat betapa lucunya wajah Mili, dan bukan rahasia umum lagi tentunya, Bagaimana keakraban Mili dan Dave si kakak kelas gedung sebelah baik di sekolah maupun di luar sekolah, bahkan sangking akrabnya, tiap kali mereka bertemu selalu saja bertengkar, entah apa yang mereka ributkan.
Lalu, sikutan pelan terasa di lengan Erin, yang membuat tawa cewek berseragam abu itu terhenti, dan melirik kearah pelaku utama. Mili, yang kini tengah menghadap kearah depan, "kak Rio otw kesini" bisikan pelan yang membuat Erin melihat arah pandang Mili, dan setelahnya terdengar helaan nafas pelan dari mulut Erin.
"Kayaknya dia liatin lo terus deh, lo ada masalah sama itu orang?" bisikan itu kembali terdengar, bahkan Mili terlihat begitu lihai membicarakan seseorang tanpa menoleh kearah Erin, yang di balas dengan helaan nafas berat saat yakin jika si Rio, kakak kelas yang akhir-akhir ini mepet padanya, terlihat mengarah padanya.
"Hai, sa. mau langsung pulang?" sapaan itu jelas tersirat akan maksud terselubung di dalamnya, yang bisa Erin tebak maksud pertanyaannya adalah berharap bisa mengantarkan pulang Cewek pemilik senyum manis ini.
"Eh iya kak, langsung pulang aja" Erin melirik kearah Mili yang kini sok sibuk dengan kukunya di sertai siulan yang mengalun, lalu kembali menatap Rio si kakak kelas yang kini tengah tersenyum manis kearahnya.
"Gimana kalo gue anter?" dan tak perlu waktu lama memberi jawaban, karena setelah ucapan itu terhenti, Erin langsung menggeleng kuat.
"Enggak deh kak, gue bawa motor soalnya"
"Enggak papa, gua bisa ngiringin lo kok, lagian rumah kita juga searah" kekeh Rio yang tak habis akal untuk mengajak cewek terpopuler di sekolahnya.
Sedangkan Erin hanya terdiam, sibuk memikirkan langkan apa yang harus ia pilih untuk menghindari sumber masalah seperti Rio, tak perlu di jelaskan, karena hampir satu sekolah tau bagaimana sifat dari kakak kelas tampan yang begitu banyak di gilai cewek seantero sekolah ini, selain playboy, cowok satu ini terkenal rusuh dan sok berkuasa. Dan Erin benci itu.
Erin mengintip Mili dari ekor mantanya, melihat sang sahabat yang tersenyum manis tanpa Erin sadari jika senyum itu mengandung banyak akan syarat. dan setelahnya ia menghempaskan nafas dengan berat, lalu menoleh kearah sang sahabat, saat telingannya mendengar suara Mili.
"Aduh, sory nih ya, kak. Kayaknya Erin nggak langsung pulang deh, secara dia aja janji sama gue" dan benar saja, senyum tadi jelas mememiliki maksud untuk menyabotase seorang Erin.
Rio yang sedari tadi tak lepas mengamati Erin pun terpaksa mengalihkan wajahnya, guna menilik siapa yang baru saja membuka suara. Dan setelahmya terdengar dengusan kesal dari mulutnya. "Bisa kan janjinya besok lagi, lo nggak liat wajah Erin aja udah keliatan capek gitu"
Tersenyum sini, Mili tak mau kalah. "Justru itu, sebagai sahabat yang memperhatikan sahabatnya dengan baik, gua mau ajak Erin meni pedi sore ini, buat nyegerin badan sebelum ulangan akhir semester"
Rio tak menjawab, memilih mengalihkan tatapannya kearah Erin yang kini tengah menatap Mili tak percaya. Apa katanya?, meni pedi?. Lalu merasa di perhatikan pun, Erin mengalihlan tayapannya, menatap Rio dan memilih mengangguk dengan setengah hati. biarlah hari ini ia habiskan dengan Mili, asalkan bisa bebas dari si cowok badboy di hadapannya ini, walau harus terganti dengan rasa lelah yang kian mendera.
??=selaras langkah »...
Sudah beberapa kali mulut Cila mengeluarkan udara dengan sedikit kasar, yang di ikuti decakan malas, Setelah kejadian tadi, kini Erin di haruskan mengikuti Mili yang kini tengah memasang senyum ceria di balik kemudi mobilnya, karena berhasil membawa Erin pergi. Entah sahabatnya ini akan membawa dirinya kemana, yang jelas karena ulah Mili, Erin pun harus merelakan waktu istirahatnya guna membalas kebaikan sahabatnya yang berhasil membebaskan dirinya dari seorang Rio.
Dengan tubuh yang kian terasa lelah, Erin memilih menyandarkan tubuh pada jok mobil, dengan tatapan mengarah keluar jendela, menatapi setiap bangunan yang di lewati oleh kendaraan yang di tumpanginya, lalu setelahnya rintik mulai turun, membasahi kaca jendela yang tengah di tatapi.
Kala rintik kian mendera, entah kenapa buliran air hujan itu membawa pikirannya melayang jauh, memutar setiap momen manis kala hujan tiba, momen yang sangat sulit ia lupakan bersama seseorang, lalu tanpa sabar, dengan senyum yang kini sudah terpahat, ia membawa tangan kanannya menyentuh perut rata miliknya. Menggelus dengan lembut di setiap ingatan yang terpampang jelas di kepalanya, dan kini senandung pelan pun ia gumangkan.
"Kita kemana hari ini?" pertanyaan dari Mili membuat Erin menghentikan gumangan senandungnya, memilih mengalihkan wajah nya guna menatap heran kearah sahabat.
"Kan lo yang ngajak, kenapa lo malah tanyak ke gue?"
Kekehan terdengar setelah ucapan sinis dari Erin, kini Mili menoleh memberikan sunggingan senyum manis kearah sahabat, yang setelahnya kembali menatap jalanan di depannya. "Sebenernya gua pengen ke suatu tempat, tapi sialnya, ujan buat kita nggak bisa kesana"
Mengerurkan kening, Erin tak paham dengan ucapan sahabatnya ini. "Terus?"
"Ck, lo ini. ya terus, berhubung gue tadi sempet liat lo yang keliatannya lagi bahagia banget itu, makanya gue tanyak lo, siapa tau aja kan, lo pengen dateng ke suatu tempat"
Mili terkekeh saat melihat tampang cengo dari sahabatnya ini, "kayaknya momennya pas deh buat lo"
Tanpa sadar, kekehan itu nyatanya mampu membuat senyum Erin kembali hadir, "lo yakin?" Tanya Erin sembari membuang tatapannya kearah luar jendela yang masih di guyur hujan yang sedikit lebat itu.
Mengedikan bahu, Mili menilik sepion kanan sebelum membelokan mobilnya tepat di persimpangan. "Kenapa enggak, asal itu bisa bikin bete lo ilang"
"Yaudah, gue lagi pengen coklat hangat nih, kita ke Cafe Egio aja" Mili mengangguk, kemudian melajukan kendaraannya kearah dimana alamat langganan Cafe Erin.
?Selaras langkah....
Tak menghabiskan banyak waktu, Erin dan Mili kini sudah duduk di sebuah caffe yang terlihat cukup simple dan nyaman, caffe yang banyak di gemari oleh anak muda jaman now ini tak pernah sepi, caffe yang terbilang cukup mudah di capai dengan harga pas kantong anak sekolah, memiliki fasilitas lengkap termasuk free wifi memang banyak di gandrungi oleh anak sekolahan.
Erin dan Mili memilih duduk tak jauh dari pintu masuk, tepat di meja dekat jendela dengan beground jalanan padat dan gerimis kecil yang menjadi penambah keindahan sore itu.
Di hadapannya Erin sudah memesan segelas coklat hangat dan sepotong ceri black cake. Kue yang memang menjadi langganannya di tempat ini, sedangkan Mili memilih milkshake dan sepotong pisang caramel. Mereka tengah asik menyesap minuman dan menikmati aroma rintik yang membasahi aspal panas, khas udara hujan di perkotaan.
"Eh, itu bukannya kak Upal ya?!" Ucap Mili setengah terpekik saat melihat sosok Upal tengah berjalan menuju sebuah panggung kecil yang di sediakan caffe, panggung yang memang di peruntukan untuk menghibur pengunjung dengan sebuah permainan musik, dan Upal adalah orang yang bekerja untuk mengisi waktu luangnya di sini, Erin tau itu. Maka saat Mili terpekik heboh melihat cowok populer gedung sebelah, Erin hanya sedikit memasang senyum. Mengikuti arah pandang Mili dan menatap pUpalya yang akan memulai permainan.
Dengan sebuah salam pembuka untuk sekedar basa basi, dan di temani sebuah gitar akustik Upal memulai permainannya. Menyanyikan sebuah band asal lampung bergendre poppunk Upal mulai mengalunkan suara serak basahnya, dengan wajah minim ekspersi namun mampu memikat banyak pasang mata yang ada di sana, tak terkecuali Mili yang malah terhanyut oleh lirik lagu berjudul pagi ku yang tertukar oleh malam salah satu lagu kesukaan Upal.
"Gila, gue baru tau kalo kak Upal yang terkenal dingin itu bisa punyak bakat sekeren itu" pekik Mili tanpa mengalihkan perhatiannya saat Upal telah selesai dengan lagu pertamanya. "Meleleh gue, sumpah. Suaranya bikin gue merinding gila!"
Erin hanya menggeleng pelan, tangannya meraih coklat hangat dan menyesapnya pelan, lalu kembali ia melarikan sepasang netranya untuk menilik kearah panggung kecil, di sana Upal memang begitu memukau Erin akui itu. Dan ini adalah tujuan Erin kenapa ia memilih caffe Egio untuk menghilangkan rasa betenya.
Mengalihkan tatapannya dari Upal ke arah Mili, Erin menatap lekat sahabatnya itu. "Lo lagi ada masalah sama si Riska?" Tanya Erin yang sudah tak tahan lagi dengan kecanggungan kedua sahabatnya ini, dan setelah menceritakan banyak hal pada Upal, Akhirnya Erin memutuskan untuk mendengar alasan dari kedua belah pihak sekaligus, dan mengambil jalan tengah agar masalah kedua bocah ini cepat berlalu.
Mendengar itu, Mili yang tengah menikmati alunan lagu bergendre poppunk itu mengalihkan pandang dan menatap Erin agak sedikit terkejut, lalu setelah sepasang netra mereka saling adu tatap, Mili membuang tatapannya kembali, menunduk dan memaikan sendok milkshake nya.
"Gue tau lo orang lagi ada masalah, dari gelagat kalian aja gue udah bisa nebak, cuma gue nggak mau ambil resiko dan langsung nembak siapa yang salah, gue mau denger dari lo, alasan kenapa kalian bisa memasang dinding pembatas masing-masing" tutur Erin sedikit tegas dengan tatapan yang tak lepas dari sosok Mili yang kini sudah terlihat tak tegang lagi.
Helaan nafas terdengar sedikit pelan, Selanjutnya Mili memberanikan diri, menatap sepasang netra milik Erin dan meluncurlah cerita tentang masalah kenapa ia menghimdari Riska beberapa hari ini. "Lo tau kan, gue udah lama suka sama dave?" Tanya Mili di sela ceritanya, Erin hanya mengangguk sebagai jawaban. "Pas lo nggak masuk kemaren gue sempet liat Dave bawa Riska ke taman belakang, gue yang menasaran langsung aja ngikutin, tapi pas gue tau apa yang mereka lakuin, gue sadar kalo selama ini Dave emang nggak pernah liat gue, sebanyak apapun gue narik perhatian dia, Dave tetep nggak noleh ke gue. Malah cowok sialan itu ada rasa sama sahabat gue sendiri" ada jeda sesaat, Mili terlihat ragu untuk meneruskan ceritanya, "disana, gue liat pake mata kepala gue sendiri, Dave ngasih bunga dan coklat ke Riska..."
Erin terdiam, tak bisa bersuara atau tepatnya tak memiliki saran ataupun komentar yang ingin ia keluarkan. Erin jelas tau bagaimana perasaan Mili selama ini pada Dave, namun si bule sialan itu malah lebih asik mengejar cewek lain ketimbang sahabatnya ini. Mengulurkan tangan, Erin menggenggam tangan Mili erat. "Gue tau gue emang nggak pantes buat dia, tapi nggak sahabat gue juga, sa... Gue nggak bisa terus-terusan mendem perasaan ini, mau gue ilangin pun tetep nggak bisa, gue... Gue... Gue, nggak tau harus gimana"
Selanjutnya Erin menarik Mili, mebawa sahabatnya itu kedalam dekapan, dekapan yang Erin harap memberikan ketenangan untuk Mili. "Lo terbaik, lo nggak boleh ngerasa lemah hanya karena ini, buktiin kalo lo juga bisa dapet yang terbaik dari Dave" bisik Erin pelan.