Se-La 11
Erin memincingkan matanya menatap kedua sahabatnya yang mengelurkan gelagat aneh, Mili yang terkesan cuek, Riska yang malah lebih sibuk dengan rambutnya. Dan satu yang pasti, kedua sahabatnya ini saling mengacuhkan dalam diam, hanya saja mata mereka tak bisa bohong, saling mengintip, namun saat tatapan mereka bertemu, buru-buru keduanya langsung membuang tatapan dan bertingkah salah tingkah.
Tanpa bertanya sekalipun, dan hanya dengan melihat tingkah laku keduanya, Erin jelas paham jika di antara kedua gadis ini jelas ada masalah, tiga haru ijin sepertinya membuat Erin tertinggal berita mengenai kedua sahabatnya itu. “Ini kalian kenapa, akreb amat kayaknya” tanya Erin sedikit terheran melihat tingkah ajaib kedua sahabatnya, bahkan setelah menanyakan itu, Mili maupun Riska malah sibuk membuang pandangannya. Tak tahan melihat kecanggungan kedua sahabatnya, Erin mendekat merangkul kedua sahabatnya. “Lo orang kenapa?, ada masalah, ada yang mau cerita?”
“Eng... Enggak ada apa-apa kok, ya kan, Ris?” Jawab Mili sedikit tergugup, Riska yang tau jika Mili membutuhkan bantuannya pun mengangguk agak ragu.
“Iya nggak papa kok, kita baik-baik aja malah” timpal Riska, berucap tanpa menoleh ke arah Mili, dan lebih memilih menatap ke lain hal.
Melihat itu, Erin hanya mengangguk ragu, mungkin belum saatnya saja ia tau akan masalah kedua sahabatnya ini, tak apalah, asal tak ada acara perang dingin saja yang membuat perteman mereka runyam. Erin memilih tak mau memperpanjang masalah, “bagus lah kalo emang nggak ada masalah mah” Erin memasang senyum manisnya menatap kedua sahabatnya bergantian, “gue laper, temenin gue makan di kantin, yuk”. Lalu tanpa menunggu persetujuan mereka, Erin sudah menyeret kedua sahabatnya itu ke arah kantin sekolah.
“Btw, selama gue nggak masuk kemaren ada tugas yang kelewat sama gue nggak?” Tanya Erin saat mereka baru saja duduk di meja paling depan dekat mamang penjual somai, dan Erin sudah memesan dua porsi yang di jadikan satu dalam satu piring, menunggu dengan tenang dan di temanin sebotol teh penghilang rasa bosan, biasanya penghilang rasa bosan Erin adalah kicauan kedua sahabatnya ini, namun kini saat suasanya masih sebeku es, mungkin tak akan ada kicau ramai selama waktu tertentu.
“Nggak ada sih kayaknya, Cuma catetan aja yang malah makin numpuk” Riska menjawab sembari mengunyah basreng yang baru saja ia ambil di atas tempat makan di atas meja.
“Terus di antara lo orang siapa yang catetannya lengkap?” Tanya Erin yang di balas tunjukan jari kedua manusia ini, Mili menunjuk Riska dengan jempol tanpa menoleh, sedangkan Riska menunjuk Mili dengan basrengnya, pun sama tak ada tolehan di antara keduanya.
Erin mendengus sedikit kasar, melipat tangannya ke atas meja di susul senderan kepala di atas lengannya. “Yaudah nanti gue pinjem punyak kalian aja” putusnya tanpa mau memilih buku milik siapa yang akan ia pinjam nanti. “Asal di kasih aja”
Mendengar itu Mili memutar kepalanya menatap lekat kearah Erin yang terlihat sudah enggan untuk melanjutkan pembicaraan. “Lo apaan si, kalo mau pake ya tinggal pake aja, nggak ada yang nggak boleh di pinjem”
“Iya, udah kayak sama siapa aja, pake acara bilang asal di kasih, gue tersungging ya” Riska menimpali.
“Iya-iya gue pakek nanti, sekarang nggak usah bahas itu dulu lah, pusing pala gue, mana laper pula, ini si mamang lama amat yak” keluh Erin memutar pandangannya, menatap kearah mamang yang tengah meracuk somai miliknya. Suasana kanti yang cukup lengang karena memang masih pagi dan masih lama bel masuk, cukup membuat Erin berselera untuk menyantap sarapannya kini, apalagi pagi ini dia belum sarapan sama sekali membuat perutnya sedikit bertabuh dengan ria.
“Udah sih sabar aja, mang ujang masih ngeracik noh, bentaran juga dateng”
“Tau, biasanya aja ketahan, kenapa jadi ngebet” ujar Riska menambahkan ucapan Mili.
Erin memasang cengirnya, terkekeh pelan “efek laper, maklumin aja sih”
Selaras langkah....
Upal menghela nafas untuk kesekian kalinya. Menatap sekumpulan buku dan beberapa alat yang sukses membuat kepalanya hampir pecah, belum lagi makalah yang harus ia setorkan siang ini masih menggantung, belum lengkap sama sekali. Ada beberapa bagian yang memang belum di masukan kedalamnya, dan itu jelas menjadi masalah untuk di rinya nanti, terlebih Pak Ancolo adalah guru yang selalu perfeksionis, tak menerima alasan barang sekecil apapun kesalahnya.
Lagi, Upal mendesah kasar, melarikan pandangannya menatap arah pintu masuk, menatap sekilas hanya untuk memastikan, selanjutnya ia menggeser segala jenis kertas dan menarik sebuah laptop yang sedari tadi ia anggurkan, memilih kembali berkutat pada program yang ada di layar laptopnya.
“Sory gue telat, nyari laporan yang keselip tadi” Adi datang terpogoh, nafas terengah dengan sebuah map kuning di tangannya, meletakan map itu di atas meja dan mencuri tatap pada laptop di hadapan Upal, melihat sang sahabat tengah mengerjakan pekerjaanya, Adi tak banyak berkomentar, segera saja ia menarik makalah dan mulai menyusun pekerjaanya membiarkan Upal berkutat dengan segala kesibukannya.
“Si bule nyasar kemana?” Upal baru saja menyelesaikan program tahap awal selama lebih dari 30 menit, bertanya tanpa membuang tatapannya dari layar pc untuk memeriksa kembali pekerjaanya.
Adi yang saat ini tengah merakit beberapa bagian robot menghentikan kegiatannya, meletakan solder di atas tempatnya dan memilih duduk di sebelah Upal. “Nggak tau gue, dari kemaren keliatan sibuk sendiri” jawab Adi apa adanya, memang sudah 2 hari ini Dave terlihat begitu menghindarinya. “Ada masalah sama si Rio kayaknya mah”
Mendengar itu Upal langsung mengalihkan tatapannya dan menatap serius ke arah Adi. “Kenapa lagi dia, ribut sama itu bocah?” Bukan masalah umum lagi, Dave dan Rio adalah satu kesatuan dalam hal pembuat masalah, Dave yang gampang meledak hanya karena sebuah ucapan, dan Rio yang selalu memiliki segudang kalimat untuk mengejek Dave, mereka tak pernah bisa diam jika bertemu satu sama lain. Dan hanya Upal orang yang selalu membuat mereka diam dalam sekejap.
Mengedikan bahu, Adi menggeleng kepala, “nggak tau, gue denger dari anak TSM, katanya mereka berantem di belakang sekolah, gue nggak tau apa masalahnya”
“Gila itu bocah, sampek muka bonyok liat aja, ini tinggal 4 hari lagi kita mulai acaranya, dan ini bukan acara keluarga yang bisa dateng dengan wajah bonyok, di kira golongan preman kali!” Sungut Upal sembari meraih ponsel yang sedari tadi ia anggurkan di atas meja. Setelah menarikan jari di atas layar untuk beberapa detik, kini Upal sudah mengapitkan benda pipih itu du telinganya.
“Dimana lo?!, ke lab sekarang!” Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, Upal memutuskan sambungan telpon, melempar secara asal benda pipih itu keatas meja. “Panggil Edo, Angga sama si Jaka. Kita bahas kerjaan kita sekarang”. Adi yang melihat galagat Upal langsung berdiri, beranjak dari tempatnya guna memanggil ketiga Siswa yang tak lain adalah anggota timnya.
Selaras langkah...
Bel berakhirnya jam pelajaran dan di gantikan dengan waktu istirahat siang mampu menghembuskan nafas lega dari beberapa murid, belum lagi perut mereka sudah begitu keroncongan karena menghabiskan 6 jam pelajaran untuk mengisi kepala mereka dengan beberapa materi. Pun dengan Erin yang sejak pelajaran pertama sama sekali tak konsen bukan hanya masalah kedua sahabatnya, tapi juga prihal Upal yang akan pergi untuk mengikuti pameran beberapa hari lagi semakin memenuhi bagian kepalanya, menyandarkan tubuh pada sandaran kursi, Erin menggerakan tangannya, mengelus bagian perut yang kian terasa aneh jika dirinya memikirkan tentang kepergian Upal.
Mendesah pasrah, Erin melirik kedua sahabatnya yang terlihat tengah terlibat perbincangan, entah membicarakan apa, yang jelas dari kedua wajah mereka jelas menampakan pembicaraan yang serius. “Lo pada langi ngomongin apaan? Serius amat itu muka” tanya Erin sembari memajukan tubuh mendekat kearah kedua sahabatnya itu
“Ehh... Bukan apa-apa, Cuma masalah sepele kok” jawab Mili sedikit tergagap.
Riska pun sama, tergagap seolah takut jika pembicaraanya terdengar oleh Erin. “Iya, bukan apa-apa kok”
“Sumpah ya kayaknya lo orang ini ngindarin gue banget tau dari pagi!” Sungut Erin dengan nada sedikit tersindir, memilih kembali menyandarkan tubuhnya, tak mau lagi ikut dalam pembicaraan kedua sahabatnya. Lalu, setelahnya ia memilih beranjak ke kantin dari pada tak di anggap.
“Fis, mau kemana lo!” kali ini Riska setengah berteriak saat melihat Erin pergi dengan wajah sedikit terterkuk.
Tak memperdulikan panggilan sahabatnya, Erin terus saja beranjak, bukan kantin sekolahnya yang ia tuju, Erin lebih memilih turun ke aras lantai satu, sembari mengetikan sebuah pesan yang di tujukan pada Upal. Erin melangkah sedikit cepat, untuk menghindari kedua sahabatnya.
Di sebrang sana, Upal yang membaca pesan dari Erin langsung beranjak, tepat saat pembahasan tentang pekerjaan di pameran nanti selesai, meninggalkan ke lima orang yang menatap aneh kearahnya. “Gue cabut, lo rapihin lagi apa yang ada” tukas Upal sebelum menghilang di balik pintu masuk, meninggalkan dengusan dan sedikit makian kecil kelima kawanan yang di berikan pekerjaan yang cukup lumayan banyak.
Selaras Langkah....
Upal mengedarkan pandangannya, menatap beberapa meja yang di penuhi murid guna mencari sosok Erin yang katanya tengah menunggu di kantin bagian lantai bawah gedungnya. Lalu tepat di sana di sebuah bangku pendek, di kedai soto Erin berada, di temani semangkuk soto dan jus alpukat. Upal melangkah cepat, menuju kearah wanitanya berada. “Udah lama?” Tanya Upal memilih duduk di sebelah Erin.
Mendengar itu, Erin langsung mendongak, menatap Upal dan menjawab dengan sebuah anggukan pelan. Melihat raut aneh di wajah Erin membuat Upal mengerutkan kening. “Ada masalah?” Tanyanya pelan, sembari menatap lekat tingkah Erin yang terlihat begitu lesu.
Erin menggeleng pelan, lalu memilih menunduk sembari memainkan sendok soto di hadapannya.
“Cerita aja!” Ucap Upal yang tak tahan melihat wanitanya murung dalam kesendirian, ia yakin jika Erin tengah menyimpan sesuatu di kepalanya.
Sedikit helaan nafas terdengar “gue kepikiran lo bakal pergi lusa, masak.”
Upal bungkam. Paham apa yang di rasakan Erin, ia pun sama cukup berat meninggalkan wanitanya yang jelas tengah membutuhkan keberadaan dirinya, namun ia tak bisa mengelak dari tanggung jawab yang harus ia pikul, terlebih jawaban beberapa bulan lalu yang langsung ia sanggupi karena tak menyangka hal ini bakal terjadi malah membuatnya merasa gamang.
Erin yang melihat kediaman Upal hanya terkekeh pelan, setelahnya ia menampol pelan lengan Upal. “Nggak usah di pikirin, gue Cuma agak galau aja pas tau lo bakal pergi. Tapi tenang, lo nggak lama kan?, santai aja gue sanggup kok”
“Tapi-“
“Nggak pake tapi, toh ada mamah kan?, nanti gue pulang kerumah mamah deh pas lo udah berangkat” ucap Erin memotong ucapan Upal, membuat cowok yang tengah dilema itu hanya memasang cengiran canggung. Tak menyangka jika Erin akan bisa seperti ini, membuatnya ragu sejenak dan setelahnya membuat semangatnya berkobar. “Lo usaha yang bener, buktiin kalo emang lo jago, menangin pameran besok, hadiahnya lumayan loh buat tabungan”
Mau tak mau Upal terkekeh mendengar ucapan Erin. Yah, Erin memang seperti itu, selalu mampu menciptakan suasana yang tak terduga. “Tapi inget jangan menelan di sana, ada gue di rumah, lagi bopong masa depan elu!” celotehnya lagi tak peduli jika si mbok soto hanya mesam-mesem mendengar celoteh abegeh yang dia kira baru mengenal cinta itu.
“Iya, nggak menel”
“Bagus, berani menel gue potong anu lu” canda Erin yang membuat Upal sedikit bergidik ngeri. Apalagi ucapan Erin tak bisa di anggap angin lalu. Melihat raut tenggang Upal seketika membuat tawa Erin pecah. Ia tertawa lepas, melupakan sesaat masalah kedua sahanatnya dan rasa sepi yang haru ia tanggung tanpa kehadiran Upal setelah ini.