Se-la 10
Erin baru saja terbangun dari tidurnya, tepat saat suara adzan berkumandang. Namun baru saja ia akan beranjak dari tempatnya, kepalanya terasa berat, mata berkunang dengan perut yang terasa begitu mual. Erin ingin segera berlari ke kamar mandi, tapi lilitan tangan Upal malah menghalanginya. Kesal karena lengan itu tak kunjung melepas lilitannya, Erin memukul beberapa kali hingga dengan sendirinya lengan itu terlepas.
"Masih pagi, lo mau kemana?" Suara serak mendayu khas bangun tidur terdengar begitu lirih dan sexy, tapi berhubung perut Erin sudah tak bisa lagi diajak berkompromi membuat Erin mengacuhkan itu dan memilih berlari ke arah kamar mandi.
dengan segera dia berlari, membuka pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar dan langsung berlutut tepat di depan closed.
"Hueeekk.....!" Seluruh isi perut Erin keluar begitu ia tiba di dalam kamar mandi, tubuhnya luruh terduduk di atas lantai dengan wajah menghadap pada closed, "hueek..!" Lagi untuk kedua kalinya Erin memuntahkan isi perutnya. Namun rasa mual itu tak kunjung hilang membuat Erin kembali mengeluarkan isi cairan lewat mulutnya.
"Lo kenapa?" Upal yang mendengar suara muntahan Erin langsung terpogoh menghampiri wanitanya, menilik tubuh lemas di atas lantai dengan wajah yang terlihat begtiu pucat. "Mual lagi?" Tanyanya sembari berjalan mendekat, memilih jongkok di sebalah tubuh Erin, Upal mengurut pelan leher Erin, dengan sabar ia menunggu wanitanya menguras segala isi perutnya.
"Gue mau jeruk." ucap Erin saat beberapa menit tak mengeluarkan muntahannya lagi. Ia menoleh dan menatap dengan raut memohon kearah Upal.
"Iya nanti." menatap sendu, Upal tak bisa berbuat banyak saat melihat wanitanya seperti itu.
"Udah mendingan?" Tanya Upal lirih yang di jawab anggukan oleh Erin di susul uluran kedua tangannya di hadapan Upal, melihat itu Upal seolah paham dan langsung menggerakan kedua tangannya, meraih ketiak Erin dan menganggkat tubuh kecil itu masuk kedalam gendongannya. Membawa tubuh lemas keluar dari kamar mandi dan mendudukannya di tempat tidur.
"Sebentar!" Ucapnya sebelum kembali masuk ke dalam kamar mandi, membersikan bekas muntahan Erin, setelahnya barulah ia beranjak kedapur untuk mengambil beberapa buah dari sana.
Tak lama berselang Upal sudah kembali membawa piring berisi potongan buah yang sudah terkupas. Sepasang matanya menatap tubuh lemah yang kini tengah terbaring di atas tempat tidur dengan mata tertutup. Upal Berjalan mendekat, meletakan piring di atas nakas, kemudian duduk di sebelah Erin.
"Katanya mau buah, bangun gih." ucapnya pelan saat tau Erin tidak tertidur.
Mengerjap mata beberapa kali sebelum kesadarannya kembali pulih, Erin beranjak dari tempatnya, duduk dengan tubuh bersandar pada sandaran tempat tidur. "Kalo lemes mending nggak usah sekolah dulu." ucap Upal meletakan piring berisi potongan buah yang ia bawa tadi.
"Gue nggak mau lo malah ambruk di sekolah, mending ijin aja, nanti gue bilangin ke mamah."
Mendengar itu Erin terkekeh pelan, tak pernah menyangkan Upal yang selama ini selalu cuek dengan keadaanya, kini begitu cerewet dan perhatian, entah itu jadwal makan, minum s**u ataupun vitamin, Upal akan selalu bawel jika berurusan dengan itu semua. Melihat betapa pedulinya Upal padanya dan itu berhasil menimbulkan gemelyar kecil dan juga hangat di d**a wanita berwajah pucat itu, lalu tanpa ia sadari tangannya sudah terulur menyentuh wajah putih bersih milik Upal.
"Ternyata lo bisa cerewet juga ya, Pal." ucap Erin dengan senyum lebar dan tatapan yang tak lepas dari sepasang netra abu milik Upal. "Gue bakal betah kayak gini terus kalo bisa liat lo cerewet saban hari." setelahnya tubuh Erin langsung menubruk tubuh Upal, memeluk erat, menhirup banyak aroma yang selalu menjadi candu untuknya.
"Betah sih betah, tapi ini lepas bentar, gue telpon mamah minta tolong ijini elu buat nggak sekolah hari ini." Erin merengut saat Upal dengan sedikit memaksa melepaskan pelukannya.
"Gue masih mau di peluk Upal...!" Pekik Erin yang sama sekali tak di hiraukan oleh Upal yang memilih beranjak pergi dari sana
°°°Selaras langkah...
"Lo mau makan apa?" Tanya Upal saat dirinya baru saja menanak nasi. Melihat kelakuan Erin pagi ini membuatnya geleng kepala. bagaimana tidak? sejak bagun tidur tadi, Erin terlihat begitu malas untuk melakukan aktifitas apapun, bahkan untuk pindah dari kamar ke ruang keluarga pun Upal harus menggendong tubuh kecil Erin, tentu di sertai rengekan manja saat Upal bersikukuh tak mau menggendong.
"Kue cubit, stok kue gue abis dan gue mau makan itu untuk sarapan. terus gue mau kue pancong buat siang nanti. Sama kue nastar untuk sore." celoteh Erin santai dengan tatapan masih tertuju pada layar led yang kini tengah menayangkan anime kesukaanya.
Mendengus kesal, Upal berusaha menahan segala emosinya saat menghadapi wanita berbadan dua yang dengan santainya menyebutkan cemilan kesukaanya, sedangkan yang di maksud Upal adalah sarapan apa yang di inginkan Erin.
"Sarapan. Lo mau sarapan apa pagi ini?"
Mengalihkan tatapannya, Erin menoleh, menatap Upal dengan tatapan tajam. "Ya itu gue mau sarapan kue cubit!"
"Sarapan nggak pake cemilan, itu peraturan." Ucap Upal tegas, tak mau lagi memperpanjang masalah sarapan. "Kita sarapan bubur ayam." Putus laki-laki itu tanpa mau di bantah sembari beranjak pergi dari sana. Perlakuan yang sukses membuat Erin menggembunkan pipinya dan kembali fokus pada acara Tv di hadapannya.
"Dia sendiri yang tanya pas di jawab kenapa malah sewot, kan gue nggak salah, dianya aja yang nanyanya nggak pas, dasar aneh!" Sungut Erin yang entah kenapa menjadi kesal sendiri saat Upal membantahnya barusan. Rasa kesal yang mudah sekali timbul itu sangat sulit untuk ia kendalikan, bahkan kini rasa kesal yang kian memucak kembali ia rasakan saat anime yang tengah ia tonton telah bersambung.
Rasa dongkol yang malah membuat rasa laparnya kian mendera. Satu toples biskuit telah kandas ke dalam perutnya, kini Erin hanya menggaruk pelan tengkuknya sembari menoleh kanan dan kiri, mencari sesuatu yang bisa menyumpal mulut dan menekan rasa kesal dalam dirinya.
Tak menmukan apa yang di carinya, Erin mendengus kesal. "UPAL!!" Dan pekikan itu keluar begitu saja, membuat sosok yang tengah sibuk di dapur berlari terpogoh-pogoh untuk menghampiri Erin. Raut yang awalnya panik saat teriakan Erin tadi ia dengar dan menduga jika terjadi apa-apa pada wanitanya, kini berubah menjadi wajah tak minat yang di tunjukannya. terlebih saat melihat posisi Erin yang sama sekali belum berubah dari tempatnya.
"Apaan sih teriak-teriak, berisik!"
Menoleh pada asal suara, Erin menunjukan cengir tanpa dosa yang di susul sebuah toples kosong di hadapannya. "Cemilan gue abis, mana mulut sepet, ati dongkol lagi. Tolong isiin dong!"
"Aelah, isi sendiri bisa sih!" Mendengus kesal, Upal berbalik berniat untuk kembali meneruskan pekerjaan yang tadi.
"Males jalanannya, Pal. Isiin dong, lo kan laki gue yang paling baik. Mau ya ya ya?!" Masih dengan suara keras Erin membujuk Upal tanpa mau beranjak dari tempatnya. Jika sudah seperti itu tak ada lagi yang bisa di perbuat oleh Upal, tak menuruti kemauan Erin bisa saja membuatnya makin rewel dan terus saja berteriak. Maka dengan raut kesal Upal menghela nafas pelan seblum bergerak mendekati Wanitanya dan meraih toples dari tangannya.
"Tunggu!" Mendengar nada kesal yang keluar dari mulut Upal membuat lekuk indah milik Erin terbentuk, ada rasa lucu dan juga puas saat melihat suaminya itu menuruti segala keinginnya, terlebih dengan ekspresi kesal khas milik Upal entah kenapa menjadi hiburan tersendiri untuknya. Ingin rasa Erin tertawa terpingkal, namun sebisa mungkin ia tahan, tak ingin Upal makin marah dengan kelakuannya.
Maka yang dilakukan Erin saat ini hanyalah menunggu dalam diam dengan senyum yang masih mengembang, walau nyatanya menikmati anime tanpa cemilan memanglah membosankan namun tak ayal Erin masih saja gembira. Di perlakukan sedemikian oleh Upal adalah hal terbaik baginya.
°°°Selaras langkah...
Sore menyapa menampilkan corak jingga dengan beberapa awan menggantung indah seolah melukis hamparan langit, sejauh mata memandang semua di penuhi dengan keindahan, pemandangan yang tak akan pernah membuat Erin bosan. Terlebih menikmati senja di bawah pohon rindang depan rumah, di temani secangkir teh dan setoples biskuit dan sebuah kursi goyang adalah hal terbaik yang ia rasakan. Penat yang ia raskan sehaUpal seolah luruh hanya dengan duduk menikmati angin yang menerjang wajahnya dengan perlahan, membawa rambut panjang lurusnya tersapu oleh angin sore itu. Matanya memejam perlahan berusaha melupakan segala jenis hal baru yang ia rasakan hari ini, entah itu ngidam yang aneh, muntah yang tak kunjung berhenti dan juga tubuh yang entah kenapa menjadi begitu malas untuk ia ajak beraktifitas, telah ia alami hari ini, dan untuk besok Erin sama sekali tak bisa membayangkannya apa yang akan terjadi.
"Lo tau, Pal? Nggak tau kenapa gue seolah nggak pernah bosan tiap kali memandang senja." ucap Erin pada Upal yang tengah duduk di sebelahnya dengan mata yang fokus pada buku tebal di tangannya, kebiasaan Upal yang selalu setia menemani Erin menikmati sore sembari membaca beberapa buku materi pelajaran ataupun sekedar bermain game kesukaanya.
"Bagi gue, senja itu keren, pergantian waktu yang selalu meninggalkan corak indah tiap waktunya, walau tiap kali berbeda tapi mereka selalu berhasil memanjakan mata gue." kali ini Erin menoleh menatap lekat pada pUpalya yang juga tengah menatap corak oranye di atasnya.
Senyum Erin tercetak perlahan. "Dan setiap gua natap senja, gue selalu aja inget momen di mana kita di persatukan. Walau dengan paksaan dari orang tua dan ke-egoisan kita dulu nyatanya kita bisa berusaha menyelaraskan tiap langkah kita. Hubungan yang kata orang hanya cinta monyet dan masih berumur jagung, nayatanya mampu menciptakan percikan kebahagiaan yang tak pernah bisa di bayar oleh apapun. Hanya karena lo ada di samping gue ini bisa terjadi." tangan Erin terulur ke samping, tepat di sebelah Upal, yang dengan cepat di sambut tanpa kata dan dengan senyum yang mengembang.
"Walau penuh derama yang nggak jelas, nyatanya lo masih betah bareng gue sampek saat ini." balas Upal dengan senyum indahnya dan hanya di bahas sebuah kekehan pelan dari Erin. tangannya perlahan menggenggam erat tangan wanita yang sudah menememani beberapa tahun lalu, dan membawanya kedalam pangkuan. Selanjutnya mereka hanya diam. menyisahkan kebisuan penuh hayat dan meresapi tiap momen yang ada dalam keindahan senja.