Se-la 9

2016 Words
Se-la 9 Hamil, mungkin bagi sebagian banyak wanita yang sudah menyandang setatus seorang istri akan sangat mengharapkan hal itu. Namun jika setatus istri sudah di sandang saat usia 17 tahun dan masih menyandang setatus siswa akan aneh jika masa mudanya harus di hadapkan dengan persoalan keturunan. Walau jelas ini sah dan tak menyalahi agama, namun akan sangat berbeda dan begitu berat untuk di jalanin terlebih untuk seorang wanita yang masih dalam masa labil. Erin menatap pantulan tubuhnya lewat cermin yang ada di meja riasnya, duduk termenung menerawang jauh dengan segala banyangan dan resiko yang perlahan kian menghampiri, jelas tak akan mudah apa yang akan ia hadapi kedepannya. Namun itu sudah menjadi resiko dan tanggung jawab dirinya dan juga Upal, hanya saja yang menjadi masalah adalah bagaimana ia menyembunyikan ini untuk waktu tertentu, tak mungkin kan ia langsung mencetuskan jika dirinya tengah mengandung, jelas itu akan mencoret namanya dan juga nama kakeknya yang menjadi pemilik akademi tempatnya mengenyam pendidikan. Belum lagi apa yang akan mereka katakan jika tau dirinya hamil di saat masa sekolah. Namun menyembunyikan sesuatu yang akan terus tumbuh bukan hal yang mudah, Satu, dua bulan kedepan mungkin belum terlihat begitu jelas, tapi jika sudah memasuki bulan ke tujuh, apa mungkin Erin masih mampu menyembunyikan kandungannya? Perut buncit akan sulit di sembunyikan. Jika sudah seperti itu? Haruskan ia berhenti dan melanjutkan sekolahnya di rumah, tiga bulan bukan waktu yang lama jika ia isi dengan canda dan tawa teman satu sekolahnya, tapi tiga bulan di rumah sendiri hanya ditemani oleh Upal? Alangkah sepinya hidup tanpa celoteh tak berguna para sahabat? Mendengus nafas berat, Erin menundukan kepalanya, menggerakan tangan guna mengelus perut datarnya. Ada geliat aneh yang perlahan muncul menyelimuti hatinya. Lucu, geli, dan tak masuk akal jika membayangkan di dalam perutnya kini tengah tumbuh segumpal daging yang akan terisi nyawa dan lahir kedunia sebagai keturunannya kelak, tapi percaya ataupun tidak itu jelas nyata, dan tugas Erin hanyalah menjaga dan merawat sosok yang ada di dalam perutnya kini. "Lo kenapa senyum-senyum sendiri?" Kegiatan Erin seketika terhenti saat Upal baru saja masuk kedalam kamar, dari pantulan cermin di hadapannya Erin bisa melihat Upal masuk dengan menenteng nampan berisikan makanan pesannya sore tadi. Sayur nangka muda yang di jual di rumah makan padang, hanya sayur nangka muda dengan perkedel jagung, dan untuk nasi Erin meminta mamah untuk memasakan nasi merah. Entah kenapa seleranya kali ini terlihat sangat aneh. Namun saat Upal meletakan nampan yang di bawanya di atas meja pendek yang sengaja di letakan di pojok ruangan membuat selera Erin kian tergugah, bahkan tanpa di undangpun Erin langsung menghampiri Upal. "Asik pesenan gue dateng." serunya saat dirinya sudah duduk di sebuah bantal berukuran sedang di anatara sisi meja, lesehan sembari memperhatikan Upal yang sibuk mengeluarkan segala piring dari nampam dan menatanya di atas meja. Melihat itu, senyum Upal tak lagi dapat ditahan, pria berkumis tipis itu memamerkan lekuk bibir yang selalu mampu membuat Erin terbius dan menuruti segala keinginan Upal jika di saat waktu tertentu. Seperti saat ini, Erin masih saja kalah dengan senyum milik Upal, bahkan dari tempatnya, Erin masih diam mematung. Menikmati keindahan yang kini sudah sepenuhnya menjadi miliknya. Bahkan sudah menjadi sah dan halal untuk dirinya sendiri, tidak ada dosa dan zinah mata saat menatap dengan puas wajah dan senyum milik Upal. "Makan gih, bengong aja. Laler masuk noh!" Erin terkejut akan ucapan Upal yang tiba-tiba, bahkan kini Rona merah jelas tercetak di wajahnya saat Upal memergokinya tengah terpukau oleh senyum bibir titis miliknya. "Hehehe, abisnya senyum lu bikin gue keblinger, Pal, mamah sama papah tuh pinter banget pas nyetak Lo, entah kenapa gen senyum manis ala-ala anime nurun banyak di Lo." cengir Erin menunjukan gigi putih rapih, "Ngaco!" Sentak Upal pelan, tak urung dia ikut terkekeh pelan karena ucapan itu. "Eh serius tau, Lo sih nggak tau gimana ada di posisi gue, yang ada terpukau Mulu gue!" "Halah, udah makan dulu!" Sangkal Upal pelan. "Nih makan dulu?!" Ujarnya sembari mengulurkan piring berisi makanan pesanan Erin tadi. "Ah iya, hampir lupa gue... Itu nasi merah sama sayur nangka muda. Dapet beli dimana, pal?" Tanya Erin sembari menerima piring dari Upal. "Di deket gerbang komplek." Erin hanya mengangguk, tak mau bertanya lebih banyak lagi karena isi perutnya sudah begitu riuh berdemo minta di isi. "Pelan-pelan, gue nggak akan minta." sindir Upal begitu melihat cara makan Erin yang tak seperti biasanya, begitu lahap dan tak peduli lagi dengab tata kerama cara makan yang baik dan benar, bahkan sendok garpu yang sudah disiapkan Upal sebelumnya malah tergeletak tak berdaya karena Erin anggurkan dan lebih memilih menggunakan tangan. Lebih nikmat katanya. Di tempatnya, Upal hanya bertopang dagu menatap cara baru yang di perlihatkan oleh Erin, wanita yang biasanya begitu cerewet dengan kesopanan makan kini terlihat acuh. Ingin berkomentar tapi tak sampai hati, terlebih kata Mamah Helda, wanita hamil itu begitu sensitif, melebihi masa pms yang selalu Upal rasakan tiap bulannya. Jika masa datang bulan Erin bisa berubah menjadi wanita galak dan bermulut pedas, apalagi sekarang saat tengah masa sensitif yang melebihi bocah bayi. Upal terkesiap saat melihat Erin terbatuk karena terlalu banyak menjejalkan makanan kedalam mulutnya, dengan gesit dia meraih gelas berisi air putih dan langsung di berikan pada Erin. "Di bilang nggak usah buru-buru masih aja ngeyel!" Tak mau mendengar lebih banyak celoteh dari Upal, Erin menyambar gelas itu dan langsung menenggaknya hingga kandas tanpa banyak kata dan suara, setelahnya ia melanjutkan kegiatannya tanpa mau diganggu dan tanpa peduli saat Upal menatap aneh padanya. Selaras langkah... Di sebuah sofa dan tv di hadapannya yang kini tengah memutar film favoritnya, anime yang baru saja ia download menggunakan ponsel Upal, Erin duduk tak tenang dengan dengusan malas yang keluar dari mulutnya, walau tatapan fokus pada layar led namun pikiran Erin melayang jauh, mencoba membuang rasa jenuh yang timbul saat dirinya tak memiliki kegiatan sama sekali, Jika biasanya di saat jam seperti ini Erin lebih banyak menghabiskan waktu bersama kedua sahabatnya dengan tertawa bebas, bolos pelajaran, ataupun mejeng di kantin langganan dan menikmati cowok ganteng yang lewat. Kini Erin hanya bisa menghabiskan waktunya di depan Tv, dan tak bisa melakukan hal yang lain lagi, bukan tak bisa, hanya saja larangan dari Helda membuatnya tak bisa berbuat banyak, kuasa seorang Helda di rumahnya memang tak terbantahkan, bahkan untuk Darel sekalipun yang notabenya adalah kepala keluarga di rumah ini. Dan parahnya lagi untuk pergi ke kamar mandi pun Erin harus di kawal oleh asisten rumah tangga yang baru di pekerjakan oleh Mamah mertuanya itu. Untuk kesekian kalinya Erin menghela nafas panjang, tangannya meraih ponsel yang teronggok di atas meja dengan puluhan notifikasi yang masuk kedalam ponselnya, tak ada yang menarik menurutnya, hanya kebanyakan dari para teman sekolahnya yang menanyakan prihal kenapa dirinya tak masuk sekolah hari ini. Mengabaikan puluhan chat, Dm dan inbox di media sosialnya, Erin menscroll kebawah mencari sesuatu yang mungkin menarik perhatian minatnya. Tak menemukan apa yang di cari Erin memilih membuka sebuah aplikasi chat, di sana ia menemukan sebuah chat yang mampu membuat senyumnya terbit. Mili : oy neng lo kemana dah, tumbenan amat nggak berangkat, masih ngorok apa emang lagi tepar? Riska : ngorok agaknya mah, kebiasaan dia mah palingan udah buat pulau seribu di kamar. Mili : dih biasaan, kita mah ngoyo-ngoyo buat dapet nilai bagus, dianya malah asikan tidur. Riska : tau ah gua mau lanjut belajar aja, biarin deh si anak sultan mau apa juga. Senyum tipis terukir di kedua sudut bibirnya saat membaca pesan dari kedua sahabatnya, enggan untuk membalas, Erin meletakan kembali ponsel di tangannya dan kembali menatap layar led di hadapannya. "Eh mantu kesayangan momi sendirian aja." Erin menoleh, di sana ia menemukan si Mamah mertua yang terlihat sibuk menenteng beberapa barang belanjaannya tengah berjalan kearahnya. Tatapan Erin tak lepas dari beberapa paper bag berwarna pink di tangan sang mertua. "Si Upal kemana sayang, kok kamu sendirian di sini?" Erin tersenyum sesaat, di perlakukan begitu posesif oleh mamah mertua membuat Erin sedikit aneh, bahkan jika mertuanya ini tak melihat anak lanangnya di sebelah Erin, makan Hela akan terus menanyakan keberadaanya. "Ada kok mah, dia lagi di belakang bikinin s**u buat Erin." "Oh ok." Helda kini sudah duduk tepat di sebelah Erin, meletakan barang bawaanya di atas meja, setelahnya ia menoleh menatap lekat menantunya itu. "Jadi gimana tadi cek upnya?" Erin tertegung beberapa saat. Terlebih saat banyangan di rumah sakit tadi melintas di ingatannya. Banyangan di mana ia baru saja menginjakan kakinya di ruang tunggu kehamilan seorang diri karena Upal ada panggilan telpon, rasa risih dan juga aneh langsung menyelusup kedalam dirinya saat beberapa pasang mata menatap aneh kearahnya, entah tatapan heran atau malah tatapan mencemo'oh yang ia rasakan. Ok untuk sekedar tatapan Erin bisa saja menerima dan mendiamkan mereka, bahkan Erin memaklumi apa yang mereka rasakan. Namun salahkah ia jika emosinya langsung meledak saat indra pendengarnya menangkap suara bisik-bisik dari dua ibu yang duduk tak jauh darinya dan dengan jelas tengah membicarakan hal buruk tentangnya. "Eh bu, liat deh, itu kok masih muda banget udah periksa kehamilan ya?" "Ya kayak gitu tu, kelakuan anak muda jaman sekarang, lepas dari orang tua pengawasan langsung hamil di luar nikah." ucap salah satu ibu yang memakai dres berwarna merah dengan tatapan yang tak lepas menyorot Erin. si ibu di sebelahnya mengangguk. "Iya ya, nggak kasian sama orang tua yang mati-matian nyekolahin, tapi akhlak nggak bisa di jaga". ibu dengan daster ungu itu pun tak berhenti mengangguk, mencibir tanpa rasa berdosa sedikitpun. "Kalo saya punyak anak kayak dia, nggak tau lagi deh jueng." "Ih amit-amit deh bu, jangan sampek anak kita nanti kayak gitu ya!" Bahkan emosi Erin saat itu tak bisa tertahan lagi saat ibu ber long dres merah itu menatapnya sinis sembari berkata. "Kasian anak yang di kandung ya jeung, lahir dari sebuah perbuatan haram." Jujur, jika saja Upal tak cepat datang dan menahannya dengan menekan pundak Erin yang akan beranjak itu, mungkin Erin sudah menyumpel mulut ibu itu dengan sapu tangan yang ia bawa. Erin menatap tajam kearah Upal yang saat itu malah bergeleng pelan. "Biarin aja mereka mau ngomong apa, cukup berdoa semoga keturunan mereka akan menjadi sosok baik dan tak menuruni sifat ibunya yang suka menghakimi orang tanpa tau kebenarannya." balas Upal dengan suara cukup keras yang ia yakini akan sampai di indra pendengaran kedua ibu itu. Setelah berucap seperti itu, Upal bahkan mengajak Erin untuk menjauh dari mereka, dan memilih menunggu yang tak jauh dari pintu masuk. "He, di tanyak malah bengong aja!" Erin tersentak saat Helda menampol pelan pundaknya, tubuhnya seolah tertarik kembari dari lamunan menjengkelkan tadi. Tersenyum canggung Erin kikuk melihat sang mertua yang menatap penuh rasa penasaran. "Ya gitu deh mom. Alhamdulillah kandungan Erin baik-baik aja kok" "Beneran?" Tanya Helda dengan tatapan serius seolah memastikan sesuatu dari menantunya itu. Mengangguk penuh semangat diikuti senyum yang tak pernah luntur, tangan Erin bergerak menyentuh perut datarnya dengan lembut. "Kata dokter dia baik-baik aja, sehat dan insyaallah sehat di sana, tinggal liat perkembangan kedepannya aja mah, yang pasti buat sekarang, Erin harus jaga kesehatan dan nggak boleh capek. Itu aja sih pesennya" Helda diam membisu untuk beberapa saat, namun setelah satu menit berlalu barulah teriakan bahagia keluar dari mulutnya, bahkan tanpa permisi Helda langsung memeluk Erin, dan berlari untuk menghubungi sang besan untuk menyampaikan kabar gembira itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD