Se-la 8

2146 Words
Se-la 8 Bel berakhirnya pelajaran baru saja berdering. Upal yang sedari tadi tak fokus dengan pelajarannya dan memang sudah mengemasi bukunya sejak pertengahan jam.oelajaran langsung menyambar tasnya, berjalan tepat di belakang bu Risa, guru bahasa yang juga akan keluar dari kelasnya. dengan kaki jenjangnya, tanpa kata permisi ataupun sapaan ramah Upal mendahului gurunya, setengah berlari ia menuju tempat parkir di mana motornya tengah terparkir. Tak peduli akan tatapan aneh kedua sahabatnya yang kini hanya menatap tercengang melihat perbuatan Upal yang terbilang sembarang. "itu sahabat lo apaan coba, buru amat kayaknya?" tanya Adi menatap kearah Dave yang juga masil melihat pergerakan Upal yang terlihat aneh di sana. Mengedikan bahu, Dave berlalu dengan santainya, karena bagi Dave, terlalu memikirkan Upal sama saja dengan membuat pusing kepala kepalanya, selain pelajaran dari Bu Risa yang membuat kepalanya akan pecah, perlakuan Upal yang terk dan misterius juga bisa berpotensi membuat kepalanya pusing tujuh keliling. "tau gue. belet boker kali." ucapnya sambil lalu dengan acuh. memasang senyum terbaik tatkala seorang gadis berlalu melewatinya. "Hay Nay, mau kemana nih, balik ya? bareng gue aja yuk. Gua bawa helm khusus buat lo tau, helm pink yang gue kasih tulisan "pacar Dave" Gimana?" Ucapan Dave tentu saja membuat Dave berecih pelan seraya melirik tajam kearah sahabatnya itu. Dave selalu saja melakukan kebiasaan yang membuat Adi menatap jengah di sertai dengusan malas saat melihat itu. "Si bule nggak sadar diri, palingan bakal dapet makian bentar lagi." mengrutu pelan Adi masih mengikuti sang sahabat yang masih saja mencoba mendekati Nayla anak TKJ dengan paras ayu namun memiliki perkata pedas dan tajam. "Lo ngajak gue balik bareng?" Tanya Nayla memperlambat langkahnya, menoleh pada Dave yang tengah menebar senyum terbaiknya. Berharap dengan itu ia mampu memikat hati lawan jenisnya. Mendapat pertanyaan itu jelas Dave langsung mengangguk senang, tapi seketika dia langsung berhenti saat perkataan pedas dari Nayla menghampiri indra pendengarnya. "Sory deh, gue nggak biasa naik motor butut. Rambut gue anti debu soalnya. Mending Lo boncengin si Naya anak TKR aja dari pada nggak laku ye kan?" setelahnya Nayla berlalu begitu saja meninggalkan Dave yang memantung tak peduli jika Adi tengah terbahak setengah mati di belakangnya. "Cewek songong, belagu. sok cantik. Muka kayak p****t ayam aja bangga, dih!" "Muka lo noh p****t ayam!" ejek Adi dengan tawa yang belum mereda, merangkul Dave, Adi menarik sahabatnya itu pergi. "Kuy lah balik. Nggak usah emosi, nanti aja kalo udah dapet ijin dari nyonya negara baru lo boleh pamer!" "Sialan lu!" Dengus Dave tak urung mengikuti langkah Adi yang menariknya keluar. °°°°Selaras Langkah... Sesampainya di rumah, Upal langsung memarkirkan motor sembarangan, meninggalkan begitu saja dan memilih berlari dari halaman masuk kedalam rumah megah di hadapannya. "Loh den. udah pulang, kok nggak panggil bibi?" Upal mengacuhkan pertanyaan Bi Ipah, kakinya terus berjalan menuju kamar yang sudah lama tak ia tempati. Mengatur nafas sejenak sebelum ia membuka pintu di depannya, tak ingin jika kedatangannya terkesan terburu-buru dan menimbulkan kesan aneh yang berlebih. Barulah saat nafasnya sudah mulai teratur, perlahan tangannya mendorong pintu dengan sangat hati-hati. Di sana, di tempat tidurnya dulu, terbaring lemas sosok yang selama satu tahun terakhir menjadi pengisi harinya. Di temanin seorang yang begitu berjasa membimbingnya hingga menjadi sosok yang sekarang ini, ibunda tercintanya. Mendengar pintu terbuka, Helda menoleh, lalu saat menyadari kedatangan putra semata wayangnya, Helda segera berdiri, berjalan menghampiri sang putra dengan senyum tak lepas dari wajahnya. "Kamu udah pulang sayang?" sapanya berusaha mengeluarkan nada sepelan mungkin agar Erin tak terganggu akan suaranya, sedangkan Upal hanya terdiam menatap lekat kearah Erin, dari sorot matanya jelas tersirat penuh ke khawatiran, namun Upal tetaplah Upal, sosok yang tak ingin menunjukan semua rasa pedulinya. "Erin baik-baik aja, tadi udah di priksa sama Dokter Beni." Ada jeda sesaat di ikuti senyum bahagia dengan sepasang netra mengintip kearah Erin. "Kita ngomong di luar." setelahnya Helda berlalu, meninggalkan Upal yang masih terlihat ragu di tempatnya, tapi saat melihat nafas teratur dari Erin, Upal memilih memutar tubuh dan menyusul Helda. Sepertinya ada hal serius yang ingin dibicarakan oleh sang mamah. "Sini duduk deket mamah." ujar Helda saat melihat putranya keluar dari kamar miliknya, wanita paruh baya itu menepuk sebelah sofa yang ia duduki. Upal mengangguk, perlahan ia mendekati tubuh wanita paruh baya yang sudah melahirkannya itu. "Kamu nggak usah khawatir, Erin baik-baik aja. Kata Dokter Beni itu hal yang wajar, malah." ucap Helda setelah Upal duduk di sebelahnya. Mengerutkan kening, Upal belum mengerti arah pembicaraanya kini, wajar katanya? Apanya yang wajar? "Maksudnya mah?" Tanya Upal yang tak mengerti. Melihat itu, Helda memasang senyum bahagianya. "Iya wajar untuk seorang ibu hamil, apalagi hamil muda." jawabnya, mengelus lengan Upal dengan sabar sembari menunggu reaksi seperti apa yang di berikan oleh Upal. Terkejut seperti dirinya saat mendengar penjelasan dari Dokter Beni, hingga dengan girangnya ia melompat dan langsung menghubungi sang besan yang kala itu tengah sibuk hanya untuk memberikan kabar bahagia itu, yang tentu di sambut gembira oleh Nisa sang besannya. "Hamil?" Helda mengangguk pelan "iya hamil, usianya baru masuk bulan ke 3, besok kalo kamu senggang kamu bisa ajak Erin priksa ke rumah sakit. Takut terjadi apa-apa sama Erin dan kandungan, dokter Heni juga menyarankan untuk itu, selain kandungan yang masih sangat rentan, dokter Beni juga takut jika terjadi sesuatu dengan Erin. Cuma kamu sama Erin harus bener-bener siap sama ini. Nggak boleh asal ambil keputusan oke." masih dengan sabar Helda menjelaskan sembari menunggu seperti apa reaksi yang diberikan oleh Upal atas kabar gembira ini. "Oh. ok, minggu besok mungkin Upal nganggur." jawab Upal datar, membuat wanita paruh baya di sebelahnya mendesah kecewa, gagal sudah usahanya untuk melihat binar bahagia dari wajah anak semata wayangnya ini. Lalu setengah mati menahan rasa kesalnya, jika saja bukan kabar bahagia yang ia dapat karena akan mendapat seorang cucu. Mungkin dia akan menggetok kepala Upal yang bebal ini. Udah tau bakal jadi seorang ayah masih saja cuek. "Kami nggak kaget apa gimana gitu? Takut atau terkejut misal?" "Buat apa?" Tanya Upal polos dengan kernyitan di keningnya. "Buat apa?" Tanya Helda pelan. Upal mengangguk pelan. "Iya, buat apa emang? Kan udah wajar kalo Erin hamil. Lagian Upal emang sering kelepasan minta jatah." "Ck!' mamah Helda melirik Upal kesal. "Kamu nih! Ya udah mamah nggak mau tahu, pokoknya Erin harus segera di periksakan!" "Iya, Minggu besok kalo senggang." "Harus! Nggak ada sok sibuk. Pokonya harus! Awas aja sampek nggak bawa mantu mamah priksa, mamah getok kamu!" Sungut Helda yang memilih berlalu dari sana guna menyembunyikan rasa kesal yang malah bisa berbuntut menghajar putranya itu. Di sisi lain Upal, sekuat tenaga menahan sudut bibirnya untuk tidak terangkat dan menunjukan betapa konyolnya wajahnya saat itu terjadi. Hamil? Erin hamil dan itu anaknya, tentu saja ia akan menjadi ayah. Aneh memang, walau ia sudah menebak sebelumnya, tapi fakta ini jelas menunbuhkan rasa haru dan bahagia itu begitu susah untuk ia simpan, ingin meluapkan pun seolah gengsi akan suasana, yang baru saja ia tekan kuat agar tidak menjadi bahan olok sang mamah. Untuk itu, Upal beranjak. Melangkah lebar dengan kaki jenjangnya menuju tempat di mana wanitanya terbaring. Dengan perlahan dia membuka pintu lalu berjalan ke sisi ranjang dan duduk di sana dengan luapan aneh di wajahnya, raut yang tak pernah ia terapkan sebelumnya, namun untuk hari ini semua tak berlaku bahkan sangking bahagianya ia hampir saja menubruk dan memeluk tubuh yang tengah tertidur pulas di hadapannya. Namun egonya masih mampu ia kendalikan, untuk itu, Upal hanya meraih tangan Erin, menggenggam dengan kedua tangannya, mengecup dengan penuh kebahagiaan yang tersira. "Makasih, makasih karena lo udah mau berdiri di sisi gue selama ini." Gumannya dengan bibir yang masih menempel pada telapak tangan Erin, menjaga agar wanitanya tetap nyaman dalam posisinya. °°°Selaras Langlah... Matahari sudah bergerak, mencoba menyembunyikan diri di bagian sisi bumi, meninggalkan sebercak cahaya jingga yang menghiasi langit, cahaya redup yang mencoba menyusup masuk melalui celah fentilasi udara ruang kamar Erin. Cahaya yang mampu memaksa kelopak sayu bergerak lamat. Erin tak ingat sudah berapa lama ia terbaring di tempatnya sekarang, yang ia ingat hanya tubuh yang begitu terasa berat dan lelah, lalu saat ia ingin bergerak, pergerakannya terhambat di bagian tangan yang terasa hangat. Menggerakan sepasang netranya untuk mengintip. Hangat menyusup masuk kedalam hatinya. Di sana tepat di sampingnya Upal terbaring dengan tubuh yang masih duduk di kursi dengan tangan yang terus menggengam tangannya. Merasa gatal, tangan kira Erin bergerak menyentuh puncak kepala Upal, mengelus rambut hitam pekat yang entah kenapa menjadi begitu menarik di matanya, bahkan rasanya Erin ingin melihat rambut lembut itu tumbuh panjang. Mungkin akan semakin indah jika rambut lurus hitam pekat itu melambai indah kala tertiup angin. Tanpa sadar Erin terkikik geli saat membayangkan itu terjadi. Pergerakan tangan lentik itu terhenti saat Erin merasa pegerakan dari Upal. Niat hati ingin menyingkirkan telapak tangannya namun tertahan saat tangan Upal terlebih dahulu menangkapnya. Mendongakan kepala membawa tangan itu dan menyatukan dengan yang lain, Upal menatap lekat sepasang netra Milik Erin. Tatapan penuh haru dan berkaca yang pertama kali Erin lihat, tanpa sadar itu pun membuatnya sedikit tersipu dan berkaca. Erin di buat mematung untuk beberapa saat, ketika Upal kembali mengecup lama punggung tangannya, menyalurkan rasa bahagianya melalui kecupan lembut itu. "Makasih...." Gumangan pelan yang masih mampu di curi dengar oleh Erin, mengerutkan kening tanda tak mengerti Erin ragu dengan kata terimakasih yang Upal lontarkan. Terimakasih untuk apa? Memang Erin melakukan apa? Apa yang terjadi?. "Makasih karena lo masih ada di sisi gue, selalu betah dengan sifat aneh gue, dan makasih untuk kado terindah yang udah berhasil membuat gue kaget. Lo terbaik, Rin." Mulut Erin terbuka sempurna, setelah tak mengerti dengan maksud terimakasih Upal, kini Erin makin terbengong saat mendengar celoteh panjang yang terkesan manis. Bahkan tanpa ia sadari wajahnya merona karena itu, hatinya menghangat dan mungkin kini sudah berbunga dengan apa yang ia dengar. Kesurupan apa Upal hari ini? Kenapa begitu manis, bawa pulang boleh? "Tunggu, tunggu. Sebenernya ini ada acara apaan. nggak biasanya amat lo ngomong ginian?" Upal menggeleng dengan senyum lebar, mata berkaca dan bahagia yang tak bisa ia sembunyikan. Tangannya terulur bergerak membawa tangan Erin menyentuh perut datar Erin, "hadiah yang bakal gue kerja keras untuk bahagian dia dan bundanya." Erin terdiam. Membeku untuk sesaat guna mencerna kata-kata Upal, bahkan sepasang netranya mengikuti arah tangannya yang menyentuh perutnya. Lalu seklebet bayang ucapan Upal di uks masuk di kepalnya. Kedua bola matanya membola sempurna tak percaya "Maksud lo...?" Tak menunggu waktu Upal mengangguk menjawab pertanyaan Erin, bahkan entah kini wajahnya sudah seperti apa sangkin bahagianya. Luapan rasa yang begitu membuncah memang sulit untuk di kendalikan. "Lo hamil, dan itu anak gue." "Mampus!" Pekik Erin sepontan antara kaget dan bayangan nasib sekolahnya yang akan kandas karena kondisinya sekarang. "Maksud lo?!" Erin tersendat saat Upal sedikit menambah intonasi suaranya. "Eh. Ng... Nggak. Itu... Anu... Maksud gue, mampus, sekolah gue gimana kabarnya?" Tergagap ia menjawab. "Masih lama, lo masih bisa sekolah sebelum perut lo besar lo bebas ke sekolah, cuma kalo semua udah nggak bisa di tutupin lagi, lo home schooling." "Ilang deh kesempatan gue mengukir kenangan indah di masa putih abu". gumang Erin melarikan sepasang netra menatap pijaran sinar jingga yang mapir senyap. "Nyesel?" Erin menggeleng kuat, "nggak, gue seneng, cuma ya itu ... agak sedih aja di saat kawan gue bebas nikmatin masa muda, gue malah sibuk gendong anak." "Sama aja nyesel!" Dengus Upal, menarik tangannya, lalu menjatuhkan punggung di sandaran kursi dengan kasar. "Gue nggak nyesel suer, cuma agak sedih aja. Harus berhenti sekolah buat jalanin ini. Ngerasa nggak sih, gue masih anak-anak yang pengen bebas. Tapi kalo gin-" "Gue juga berhenti, kita sama-sama berhenti." potong Upal, beranjak dan hampir saja berlalu jika saja tangannya tak di tahan oleh Erin. "Lo mau kenama?" "Cari angin!" "Nggak, lo harus di sini temenin gue!" Mendengus napas kesal, sekuat tenaga Upal menahan semua luapan dalam tubuhnya, ingin rasanya Upal mendinginkan kepalanya yang kini begitu penuh. Kalau boleh jujur, apa yang dikatakan Erin benar, dan apa yang ditakutkan Erin pun sama seperti apa yang ia pikirkan, tapi ia pun tak bisa berbuat banyak, nasi sudah menjadi bubur, dikembalikan tak mampu, di buang tak mungkin. "Temenin gue Pal, gue nggak mau sendiri." cicit Erin menundukan kepalanya menyembunyikan ketakutan dalam dirinya. Terdengar dengusan kasar kedua kalinya yang di susul bantingan tubuh di atas kursi. Memberanikan diri Erin mendongak, menatap lekat wajah Upal yang begitu menegang. Tangannya bergerak, meraih tangan Upal, menggengam sedikit takut. "Gue seneng dia ada. Cuma gue belom siap, gue terlalu kaget buat nerima ini, gue butuh waktu. Temenin gue dan yakinin gue. Gue butuh lo di sisi gue" Upal merasa tertampar dengan kata-kata Erin. Kembali ia hanya tertunduk meremas kuat telapak tangan Erin. Betapa bodohnya ia berpikir yang tidak-tidak tentang wanitanya. Menolak? Ibu mana yang menolak hadirnya buah hati? Lalu kenapa pikiran sepicik itu bisa menyusup masuk kedalam kepalanya? Alangkah bodohnya ia. Sedetik kemudian, entah siapa yang bergerak, karena yang Erin tau tubuhnya sudah tertarik masuk kedalam rengkuhan hangat milik Upal. Menyusutkan segala gunda dan ragu yang perlahan merangkak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD