Se-la 7
"Woy! dari mana aja lo?" Suara itu menghentikan langkah Upal, tanpa menoleh pun ia tahu siapa pemilik suara itu.
"Di cariin pak Ancolo tadi." lanjutnya lagi sembari merangkulkan tangannya di pundak Upal tanpa permisi, sedangkan Upal hanya menaikan sebelah alisnya saat mendengar ucapan Dave salah satu sahabatnya.
"Tanya, gimana persiapan kita buat even minggu depan." kali ini Adi ikut menimpali, pria berambut ikal cepak itu bersuara tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dia pegang.
Dua sahabat yang sudah lama sering bersama, tidak hanya itu mereka juga adalah sosok yang selalu ada untuk dirinya.
Ucapan Adi barusan membuat Upal ingat, jika minggu depan akan diadakan pameran robot antar sekolah, dan kebetulan dirinya menjadi salam ketua tim yang akan mengikuti acara tersebut, sebagai anak elektronik, kemampuannya tentu tak bisa di ragukan lagi, dia adalah tonjolan sekolahnya dalam bidang elektronik ataupun yang lainnya. dan selama dua minggu belakangan dirinya sibuk mempersiapkan segalanya, dibantu kedua sahabatnya dan tiga orang tambahan. Mereka sudah hampir selesai mempersiapkan keperluan mereka tanpa pandang bulu.
"Kenapa nggak lo aja yang jawab, lo kan tau, lagian Lo juga ikut turun biar persiapan langsung kan?"
"Udah, tadi gua cuma bilang kalo persiapan kita udah masuk 75%, tapi dasar Pak Anco aja yang maunya minta laporan langsung dari lo, kurang percaya agaknya kalo sama gue." jawab Dave melepaskan rangkulan tangannya saat ada segrombol cewek melintasi mereka. "Hay manis, abis dari mana sih, aa' Dave kok nggak di ajak?" ucapnya menggoda tiga orang cewek sambil berjalan mundur mengikuti salah satunya. Tak ayal dia juga memberi tatapan genit yang di harap mampu menarik perhatian mereka. Dasar Dave si jomblo kelamaan, terlalu lama sendiri membuat otak pria itu rada gesrek emang.
"Apasih!" Jawaban ketus salah satu dari mereka.
"Iya, sok ganteng banget!" Lagi, gadis yang terlihat paling menonjol di antara ketiganya ikut mengeluarkan kata pedas dan hal itu sukses membuat Dave terhenti, menatap tak percaya ke arah ketiga cewek itu.
"Fiyuuu." Tersenyum mengejek sebelum bibir tipis itu mengeluarkan siulan berupa pernyataan kagum kepada tiga sosok cewek yang merasa merekalah yang paling sempurna. "Gila pedes amat ya itu mulut! awas loh kena karma, jomblo baru tau rasa!" Ucap Dave setengah berteriak. Lalu tak lama setelahnya tubuh bocah blasteran itu tertarik ke belakang saat kerah seragamnya di seret oleh seseorang.
"Lo itu yang jomblo, brisik bener jadi anak!" Adi, pelaku penarikan Dave berucap kesal dengan segala tingkah laku sahabatnya yang tak pernah berubah itu, Dave selalu saja seperti itu, tak pernah menjaga prilaku, dan selalu tebar pesona yang jelas itu tak perlu, bahkan walau sudah memiliki pacar sekalipun, kelakuan yang seperti itu sangat susah untuk di hilangkan.
Upal ikut mendengus, menatap tajam kearah Dave karena merasa muak akan kelakuan sahabatnya itu, bukan karena acara menggodanya, melainkan perbincangan pentingnya tadi yang malah harus terputus karena kelakuan bobroknya. "Terus pak Ancolo mau gue ngapain?"
"Ah iya, sory khilaf barusan." jawab Dave dengan cengir tanpa dosanya. "Pak Anco' minta laporan dari lo. Sekalian minta Rincian dana yang bakal dibutuhin buat kedepannya, mungkin karena ini dia langsung mau ke Lo, secara muka gue kek kriminal banget, jadi wajar lah dia nggak percaya gue."
"Nah itu Lo sadar, kayak gitu kenapa masih sok cakep aja sama cewek-cewek." Tembak Adi dengan lirikan pelan. "Najis tau nggak."
"Dih kenapa Lo yang sewot, gue kan cuma ngomong apa adanya."
"Nah apa adanya itu makanya Lo kudu sadar diri!"
"Dih harus banget."
Soal mendengkus kasar, dia melirik dua sahabatnya itu dengan mata nyalang dan tatapan yang memincing. Tak ayal dia mendesis kecil di sana.
"Harus banget kalian ribut sekarang?" Tanya Upal dengan nada dingin. Membuat dua orang yang ada di sana langsung terdiam seketika.
"Terus itu tadi, harus sekarang banget?" Tanya Upal dengan sebelah alis terangkat. Jelas saja dia memikirkan jika tak mungkin kalau laporan itu harus di selesaikan hari ini, walau memang dia sudah memiliki rinciannya, yapi menyusun Data bukanlah hal sepele, terlebih jika ada satu komponen saja terlewat maka semua akan lebih runyam. Dan bisa jadi dia sendiri yang harus keluar dana untuk menambah kekurangannya.
"Ya nggak musti sekarang juga sih, secara si upil tadi udah nimpalin kalo ngerinci kebutuhan kita bakal lebih rumit, dan Pak Anco' ngasih waktu sampek lusa, ya kan pin?" jawab Dave sembari merangkul bahu upil yang tak lain adalah Adi.
"Iya, jadi lo santai aja, pikirin baik-baik, cek lagi list kita, apa yang kurang, lebih baik lebih dari pada kurang kan?" imbuh Adi, mencoba melepaskan lilitan tangan Dave yang jelas mengganggunya.
Upal mendengus, dia merasa jika sebentar lagi dirinya akan lebih sibuk sebentar lagi, belum lagi target pekerjaan untuk kiriman ke lampung sama sekali belum ia selesaikan, dan itu jelas akan membuatnya kerepotan, di tambah masalah seperti ini, entah akan berapa malam lagi dirinya harus begadang. Dan membayangkan saja sudah membuat kepalanya terasa berat. Namun sekali lagi tanggung jawab adalah hal berat yang harus ia kerjakan bagaimana pun kondisinya. Karena jika dirinya lalai dari tanggung jawab, maka semua kepercayaan yang dia dapatkan akan hilang.
"Tenang masalah list biar gue sama Dave bantu, lo tinggal buat laporannya aja, nanti semua berkasnya gua email." imbuh Adi saat mendengar dengusan Upal. Mendengar kalimat itu keluar dari mulut sahabatnya, beban di pundak Upal sedikit terangkat, sahabatnya ini memang selalu tahu dan bisa diandalkan. Upal mengangguk, memasang senyum tipisnya, dan sekarang segala kegiatan terlintas di dalam bayangnya, apa saja yang akan ia lakukan sekarang dan seterusnya. Dan, untuk laporan yang diminta guru pembimbingnya, dia hanya tinggal mengetik dan mengirimnya pada pak Anco', selanjutnya hanyalah tinggal menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda dan terbebas dari masa sibuknya.
=»Selaras Langkah...
Dering bel pertanda istirahat kedua baru saja berdering, di susul Bu Husnah selaku guru agamanya meninggalkan kelas dan juga tugas yang cukup banyak, Upal bisa bernafas lega saat kepalanya seolah penuh sesak dan meninggalkan rasa pening di sana. Dengan buku yang masih berserakan Upal meluruhkan kepalanya di atas meja, bertumpu pada kedua lengan, Upal mencoba menyembunyikan keberadaannya, hanya saja itu jelas tak mungkin.
"Kantin nggak lo, gue laper mau kantin." Dave yang berseru saat melihat raut badmod di wajah Upal, ucapan kerasnya itu hanya untuk memancing, siapa tau saja Upal akan tertarik dan bisa lebih ceria lagi saat mereka bercengkrama seperti biasanya di kantin
Upal menggeleng, "kenyang gue, lo duluan aja." Selera makannya entah menghilang entah kemana, kini ia hanya memikirkan kondisi Erin dan sialnya ia tak bisa berbuat banyak untuk itu. Sekolah adalah penjara bagi mereka, jelas karena mereka tak bisa berbuat banyak untuk sedekar saling sapa ataupun memperhatikan satu sama lain.
Bukan tak ingin, tapi ada batasan tersendiri kenapa mereka mengharuskan untuk itu, selain untuk menutupi status, mereka berdua juga tidak ingin jika apa yang mereka lakukan malah menjadi konflik baru untuk kedepannya.
Menghembus nafas lelah, Upal menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, setelahnya dia mendongak, menatap langit-langit kelasnya dengan kepala penuh. Selanjutnya tangannya meraih benda pipih di saku celana, ponsel keluaran terbaru yang terkenal dengan layar berponi yang ia dapat secara bekas dengan harga hanya 500ribu rupiah, tentu barang rusak, hanya saja karena keterampilan dan kemampuannya, Upal mampu memperbaikinya dan menjadikan ponsel bekas itu terasa lebih baru.
Perlahan dia mengangkat tinggi benda pipih itu dengan malas, lalu saat layar sudah menyala di sana ada pop-up sebuah pesan dari wanitanya, dan setelah membaca itu helaan nafas lega ia keluarkan, setidaknya Erin sudah kembali kerumah dan itu membuat Upal sedikit tenang.
°°°Selaras langkah...
Erin baru saja keluar dari taxi yang di tumpanginya, di bantu oleh kedua sahabatnya ia berjalan tertatih ke arah gerbang, di sana pak Amin yang melihat Erin bersama kedua sahabatnya langsung sigap membuka pintu gerbang dan terpogoh-pogoh menghampiri tiga gadis berseragam sekolah yang terlihat sedikit kesulitan menopang tubuh Erin.
"Itu Non Erin kenapa neng?" Tanya pak Amin yang melihat tubuh lunglai Erin yang tengah di papah kedua sahabatnya. Pemandangan baru yang tak pernah satpam rumah itu lihat sebelumnya, Tak biasanya nona mudanya yang terlihat ceria kini malah lemas tak berdaya.
"Lagi sakit pak, ini tolong bawain tasnya, biar saya papah ke dalem." jawan Riska mengulurkan tas Erin pada pak Amin. Dengan sigap pak amin pun menerima tas Erin, membuntuti mereka dari belakang setelah menutup pintu. Dari arah teras mbok Ipah yang kala itu tengah menyiram tanaman langsung berhenti saat melihat anak majikannya itu terlihat tengah dalam kondisi tak baik, sekonyong-konyong langsung berlari mendekat. "Si eneng kenapa non?"
"Sakit mbok, tadi banyakan muntah di sekolah makanya ijin pulang." jelas Mili dengan sabar, melihat para pekerja rumah ini begitu perhatian pada Erin membuat hati Mili menghangat. Tak seperti apa yang di rasakan saat di rumah, Erin begitu beruntung memiliki banyak orang yang begitu peduli akan sosoknya, begitu sayang dan selalu ada, walau orang tuanya jelas tidak ada di rumah namun Erin masih memiliki banyak orang yang selalu menatapnya.
Berbeda dengan dirinya, dari awal Mili memang merasa sendiri, tak di perhatikan dan dikucilkan, bahkan setelah kedua orang tuanya berpisah pun, keadaan Mili kian memburuk, ibu yang gila kerja seolah lupa akan kehadirannya, tak pernah bertegur sapa ataupun memperhatikan, bahkan bisa dibilang Mili sama sekali tak pernah bertemu dengan sang ibu yang pergi sebelum dirinya bangun dan pulang kala dia terlelap. Jujur Mili merasa iri dengan kedua sahabatnya yang tumbuh di dalam keluarga yang untuh dan penuh akan kasih sayang.
"Yaudah langsung bawa ke kamar aja neng, saya panggil nyonya dulu." Mili dan Riska mengangguk bersamaan diiringi kepergian mbok ipah.
Mereka memapah Erin yang terlihat lemas karena perjalanannya tadi, kini dengan perlahan mereka masuk kedalam kamar.
Di dalam kamar yang terkesan maskulin dengan warna yang di d******i warna hitam dan putih dan aroma manly, Mili dan Riska. memepah hingga ke sudut kamar, membaringkan tubuh Erin di atas tempat tidur. "Lo butuh sesuatu?" Tanya Mili pelan sembari memperhatikan raut wajah Erin lembut.
Erin menggeleng, dia memilih memejamkan matanya sembari bergerak untuk mencari posisi yang nyaman di sana.
"Masih mual? atau nggak gue suruh bibi buatin teh anget ya?" ujar Riska yang kini sudah duduk di sisi ranjang, menatap khawatir kearah sahabatnya yang terlihat begitu pucat.
Kembali, gelengan dari Erin membuat kedua sahabat itu terdiam, memandang sendu tanpa banyak kata. Membiarkan tubuh lemah itu beristirahat dalam diamnya. Mili menatap Riska sejenak, memberi istarat dari tatapan matanya, yang di angguki oleh Riska. "Yaudah lo istirahat aja, gue sama Riska pamit dulu ya, kalo ada apa-apa langsung kabari kita"
Erin tak lagi menjawab, hanya sebuah anggukan pelan dengan mata tertutup yang ia berikan untuk mengiyakan perkataan Mili, setelahnya Mili berlalu membiarkan sahabatnya itu beristirahat dengan tenang.
"Loh kok udah pada mau pulang?" Kedua sejoli itu sedikit terkejut saat ia baru saja keluar dari kamar Erin dan di sambut oleh lengkingan suara bernada tanya. Di sana tante Helda pemilik Rumah berdiri dengan membawa nampan berisikan toples cemilan dan tiga gelas sirup.
"Eh iya tan, kita masih ada pelajaran di skolah, ini mau langsung balik ke sekolah." jawab Mili dengan senyum tertahan, menatap tak enak pada sang pemilik rumah yang sudah menyiapkan suguhan pada mereka.
"Loh, kok buru-buru. Padahal tante baru aja buatin minuman loh."
"Aduh maaf banget ya tan, masih ada jam di sekolah sih, kita cuma ijin buat anter Erin jadi nggak bisa lama-lama." Riska sedikit merasa tak enak, tapi tetap tak bisa tinggal, pelajaran di sokolah jelas tak bisa di abaikan begitu saja.
Tante Helda mengangguk pelan seraya tersenyum maklum, "iya udah, hati-hati di jalan, dan makasih udah mau anter Erin pulang."
"Iya tan, sama-sama, Erin kan sahabat kita jadi udah sewajarnya kita khawatir sama dia." jawab Mili dengan senyum tulusnya, "yaudah kita pamit dulu ya tan, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati ya sayang!" jawab tante Helda menatap kedua gadis itu berlalu, lalu setelahnya ia masuk kedalam kamar puteranya dengan raut wajah serat akan rasa khawatir. Bergerak perlahan hingga berdiri tegap di sisi tempat tidur dengan pandangan sendu menatap tubuh tak berdaya puteri tersayangnya. tak banyak kata, ia hanya duduk diam menunggu dengan segala doa yang terucap dari mulutnya.