se-la 6

2093 Words
Se-la 6 Upal melebarkan langkah kakinya, setengah berlari ia membelah kerumunan orang di koridor yang akan menuju kantin, walau perlakuannya jelas banyak menyenggol beberapa murid yang berpapasan dengan dirinya dan membuat beberapa dari mereka terpelanting. Upal berlalu begitu saja tanpa ucapan permisi atau maaf. Persetan dengan kata ramah yang malah menghambat langkahnya. Bukan alasan kenapa Upal melakukan ini, semua karena sebuah pesan yang membuatnya tak tenang selama 1 jam terakhir pelajarannya. Dan puncaknya saat bel istirahat berbunyi Upal langsung berlari keluar bahkan sebelum pak Juli guru matematikanya belum menutup pelajaran, membuat guru yang terkenal galak dan kumis tebal bergoyang jika marah melompong tak percaya, Upal memang sering begitu di kelas, ramah tamah yang dia miliki sangat minim hingga membuat beberapa guru harus menghela napas pelan saat dirinya mulai bertindak. Dengan langkah tergesah Upal keluar dari pelataran sekolahnya, berjalan melewati lapangan sekolah dan menuju ke sebuah pagar yang ada di sisi lapangan, di sana ada gerbang kecil yang membawa dirinya masuk ke dalam area SMA Harapan Bangsa, kakinya langsung bergerak membawa tubuh ke arah uks sekolah, tanpa bertanya dan tanpa permisi. Semua info yang ia dapat sebelumnya membuat Upal langsung tahu dimana posisi Erin saat ini. Uks sekolah yang ada di lantai dua adalah tempat di mana Erin terbaring. Maka tanpa banyak kata lagi, Upal berlari melewati tangga, menyusuri koridor dan melewati banyak murid yang heran akan kedatangan sosok Upal, cowok dingin dari gedung sebelah yang entah kenapa berlari dengan raut penuh cemas. Tak ambil pusing dengan banyak pasang menatapnya aneh, Upal terus saja melangkah, hingga tepat di belokan terakhir, Upal memperlambat langkahnya. Dia tak langsung masuk ke dalam ruangan. Alasannya jelas karena masih ada dua sosok sahabat yang begitu dekat dengan Erin, dan tindakan Upal yang dengan gegabah jelas akan membuat hubungan mereka terbongkar begitu saja. Memilih menghidar akan masalah, Upal melewati ruang uks dan menunggu di bagian samping ruangan. Tepat di koridor menuju toilet yang ada di sebelah UKS itu. Tangannya bergerak. Meraih benda pipih di saku celananya. Tak lama ia sudah mendial nomor kontak yang ada di dalamnya. Hanya butuh dua kali nada tut dan setelahnya ia bisa mendengar suara lemas milik Erin. "Halo..." Rasa cemas seakan kian menumpuk kala mendengar nada lirih tanpa tenaga dari sebrang sana. Mencengrang kuat ponsel di tangannya, Upal berusaha menetralkan luapan untuk segera berlari menghampiri Erin. "Gue di belakang uks. Suruh dua sahabat lo itu cabut dulu." nada datar keluar dari mulut Upal begitu saja, seakan mulutnya sudah biasa mengeluarkan nada seperti itu. Tak ada rasa khawatir tersirat dari kalimatnya, berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan. "Iya bentar." seukir senyum tipis milik Upal terbit tanpa diminta saat mendengar nada jengkel milik Erin yang di susul dengan putusnya panggilan telpon keduanya. tanpa melihatpun Upal sudah tau jika Erin pasti tengah menahan kesal setengah mati padanya. Bersandar pada dinding dengan sebelah kaki tertekuk dan sebelah tangan ia masukan ke dalam saku celananya, Upal mendongak menatap langit-lagit yang menggantung di atas kepalanya. Lalu rasa cemas kian menumpuk dalam dadanya, ujung kakinya terus saja menghentak lantai karena rasa cemas dan tak tahan menunggu terlalu lama, jika saja tak peduli akan situasi yang akan ia dapat nantinya, mungkin Upal tak perlu menunggu terlalu lama seperti ini. Lalu tak sampai sepuluh menit yang rasanya hampir melebihi tiga jam lamanya, ponsel di saku celana bergetar singkat, menandakan ada pesan chat masuk. Tanpa menunggu lagi Upal meraihnya, membaca kilas sebagian pesan yang masuk ke dalam setatusbar ponselnya, setelahnya kakinya langsung melangkah, menerjang pintu masuk dan mencari banker tempat Erin terbaring. Terletak di bagian ujung dekat dengan jendela, dengan hordeng pembatas yang tak tertutup sempurna, di sana Erin terbaring, dengan wajah pucat dan bibir putih membuat Upal kian memaki dirinya dalam hati. Betapa bodohnya ia hingga tak menyadari keadaan Erin pagi tadi yang sempat memuntahkan sarapannya. Tak mau terlalu lama termagu, Upal melebarkan langkahnya, ia langsung beridiri di hadapan Erin yang kala itu langsung membuka mata saat merasakan kehadirannya. "Hai...." sapa Erin sembari memaksa kedua sudut bibirnya tertekuk, mencoba mengurangi rasa cemas Upal, namun sepertinya usahanya sia-sia. Erin terlihat mulai mual, dengan mulut menggembung wanita pucat itu seolah menahan muntahannya. Upal yang ada di sana ikut panik, tangannya menyambar mangkuk bekas bubur dan mengulurkan tepat di depan mulut Erin, melihat itu, Erin langsung mengeluarkan isi perutnya. "Lo nggak papa?" Tanya Upal dengan raut cemas menghiasi wajahnya. Erin menggeleng, kemudian dengan tangan kanannya ia mengapit hidungnya dan menatap Upal aneh. "Lo bau!" Satu kalimat yang membuat kening Upal berkerut, di saat ia merasa khawatir seperti sekarang, kenapa Erin masih sempat mengeluarkan candaan yang sama sekali tidak lucu. "Jangan becanda. Lo kenapa!?" Ucap Upal sedikit tegas, sembari menatap Erin, memastikan jika wanita dalam hidupnya itu baik-baik saja. "Gue serius lo bau. Sumpah bikin perut gue enek, Upal!" Benarkah, bukankah hari ini Upal hanya berdian diri di kelas tanpa melakukan aktifitas yang mampu menguras keringat. Mengendus pakaian yang ia kenakan tak lupa bagian ketiak yang menjadi sumber bau, Upal kian mengerutkan keningnya, bagian mana yang bau, perasaan ia hanya mengenakan parfum kesukaan Erin, lalu kenapa bisa di kata bau. "Bau apa, bukannya ini parfum pilihan lo?" Tanya Upal masih tak percaya dengan kelakuan Erin. "Nggak tau, pokoknya lo bau, gue nggak tahan, Upal, lepas pokonya lep-" lagi Erin mengeluarkan isi perutnya ke dalam mangkuk yang kini sudah di pegangnya. Upal semakin tak mengerti, tapi tetap memilih menurut dan menanggalkan pakaian kemejanya, melempar jauh ke ranjang sebelah, dan hanya menyisahkan kaos putih polos di badannya. Dan yang membuat semakin aneh, setelah kamejanya menjauh, Erin berhenti dan mampu bernafas lega, tapi tunggu memang apa hubungannya bau dengan perut mual, dan kenapa hanya dengan bau Erin bisa mual seperti ini. Mengesampingkan pikiran itu, Upal beranjak membawa mangkuk bekas muntahan Erin, membawa ke kamar mandi dan membuangnya. "Lo sejak kapan muntah-muntah gini?" tanya Upal setelah kembali dari kamar mandi dan memilih duduk di sisi ranjang sebelah kanan dengan tatapan lurus menghunus. "Gue nggak tau, tadi pas bu Yaya masuk, perut gue langsung kayak di blender, belom lagi pas dia lewat di samping gue, perut gue malah kayak di tonjok, dan nggak tahan laju ke kamar mandi, keluar semua di sana." jelas Erin dengan mata terpejam mengumpulkan tenaga yang seolah terkuras barusan. "Aneh, tadi pagi Lo juga muntah kan?" ucap Upal masih menatap Erin yang terlihat tak bertenaga lagi setelah mengeluarkan isi perutnya. "Kalo tadi pagi gue nggak tau, aneh aja pas liat wortel di atas nasi goreng perut gue langsung mual aja" "Aneh." gumang Upal yang masih mampu di dengar oleh Erin. Berusaha membuka matanya, Erin menatap sorot sendu dari tatapan Upal. "Apanya." "Elonya. Muntah tapi pemicunya nggak jelas, lagian bukannya wortel makanan kesukaan Lo, ya?" "Nggak tau gue, masuk angin palingan." jawab Erin cuek mulai memejamkan matany, kini bukan hanya mulut saja yang terasa aneh, tapi kepalanya pun mulai terasa berat. "kalo masuk angin, kalo malah yang lain?" Kembali mata Erin terbuka. "Nggak usah nakutin!" "Nggak nakutin, gue cuma antisipasi aja." ada jeda sebentar saat Upal mengingat akan hal penting selama dua bulan belakangan. "Lo kapan dateng tamu?" Erin berfikir sejenak, "Nggak tau, kalo hitungan gue sih minggu besok." jawabnya saat merasa ia memang belum datang bulan "Itungan lo ngaco!" "Kok? Kan gue yang dapet tamu, bukan Lo!" "Iya lo dapet tamu, tapi udah tiga bulan gue nggak pernah puasa, lupa?!" Mata Erin membulat sempurna, kemudian ia menatap tajam Upal yanh juga tengah menatapnya. Erin terlonjak dari tempatnya. Menarik kerah kaus milik Upal hingga jarak di antara keduanya terkikis. "Nggak usah becanda lo, jangan bilang kalo gue...." "Bisa jadi!" Jawaban datar milik Upal malah membuat Erin semakin frustasi, jika itu benar adanya, maka hancur sudah harapannya untuk merasakan indahnya masa putih abu. Lalu tak ingin menelan praduga Upal mentah-mentah, Erin mengingat akan satu hal. "Tapi gue nggak pernah telat ngepil lah." "Yakin, coba di inget lagi." Mendorong kesal kaus Upal, Erin mendengus saat menyadari jika beberapa waktu lalu ia kehabisan pil pengaman miliknya. "Sial, gua inget pas kapan itu gue pernah kehabisan dan lo asal nyosor!" "Bukan salah gue!" Jawab Upal menaikan kedua tangannya. Seolah semua bukan kesalahannya. "Lah lo yang nubruk gue pake nggak mau ngaku!" jawab Erin tak terima. "Lah udah jatah gue." "Lupain, intinya sekarang gimana?" Ucap Erin sedikit mereda, membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Tak mungkin jika dirinya harus berhenti kampus. "Pastiin aja dulu, nggak usah parno. Toh kalo jadi bukan masalah besar, ortu bakal seneng juga." jawab Upal acuh, namun kini pria itu tak hanya diam, tangannya sudah mulai asik dengan ponselnya, apalagi jika bukan bermain game. "Atur semerdeka lo deh, pal. pusing gue." ucap Erin pasrah, memejamkan matanya, membiarkan hening mengabil alih, setelahnya hanya hembusan nafas berat yang begitu dominan, lalu tak lama setelahnya, suara obrolan kecil mulai terdengar, walau samar namun Upal bisa menebak asal suara itu. Tak ingin membangunkan Erin, Upal beranjak, menyambar seragam kampusnya dan masuk ke dalam ranjang urutan pertama, menarik tirai pembatas dan menunggu. Tak sampai tiga menit berselang, derap langkah kaki di ikuti obrolan kecil mulai terdengar jelas, lebih jelas hingga berlalu dari tempatnya bersembunyi. Sedikit bernafas lega, Upal mengintip dari celah Tirai, melihat Erin dengan kedua sahabatnya tengah bercengrama, bahkan salah satu dari mereka membawa makanan yang mungkin di peruntukan untuk Erin, perlahan dan tak ingin menimbulkan suara, Upal beranjak pergi. Selaras langkah... "Hei, sory lama ya? rame banget soalnya di kantin." Mili mewakili Risa, gadis berambut lurus itu menunjukan raut khawatir saat meninggalkan sahabatnya sendiUpal. Walau sekeras apapun ia ingin cepat kembali namun suasana kantin sangat tak memungkinkan baginya untuk mendapatkan bubur dengan cepat. "Iya sory banget ya beb, lo tau sendiri gimana kantin pas lagi istirahat!" Riska ikut menimpali dengan raut yang tak kalah dari Mili. Lalu senyum geli muncul di kedua sudut bibirnya sembari mengangkat tangan kanannya. "tapi tenang, gue bawa makanan kesukaan lo kok." di sana sebuah kotak sterofoam, dan dari aromanya bisa di tebak jika itu bubur mang mamat kesukaan Erin. Erin yang sedari tadi berbaring langsung terlonjak, menyambar bubur itu dengan suka Cita. "Thanks, lo tau aja kalo gue lagi laper!" Mili dan Riska langsung saling pandang, menahat senyum geli melihat betapa lucunya wajah Erin saat ini, "iyalah, kita mah tau apa yang lo butuhin sekarang ini." Mili memilih duduk di tepi ranjang dengan tatapan tak lepas dari Erin, "gimana, lo udah enakan belom, kalo belom mending kita ijin pulang aja ya?" Erin berhenti sejenak, ia menoleh, menatap kedua sahabatnya bergantian, kalau boleh jujur, keadaanya tak bisa di bilang membaik, malah semakin pusing dan mual, namun jika pulang pun tak mungkin ia pulang ke apartemen di antar oleh kedua sahabatnya, itu sama saja ia membongkar rahasianya sendiri. Lalu jika pulang ke rumah orang tuanya pun sepertinya percuma, kedua orang tua Erin tengah dalam perjalan bisnis dan itu masih minggu depan kembali. Erin menggeleng pelan, "kayaknya gue di sini aja deh, bokap nyokap lagi nggak di rumah." Mendengar itu Mili terdiam beberapa saat, bukan rahasia umum lagi bagaimana sibuknya orang tua Erin, mengelus rambut panjang Erin, Mili berusaha memberi ketenangan dari sana. "Kenapa lo nggak pulang kerumah tante Helda aja? dia di rumah kan?" Riska berucap sembari duduk di sebuah kursi yang memang tersedia di sana, setelah membersihkan sendok yang langsung di berikan pada Erin. "Iya juga, coba deh lo hubungin tante Helda, siapa tau beliau di rumah kan." Erin sedikit tak yakin, namun hanya tante Helda lah yang mungkin bisa menampungnya saat ini, toh mereka tak akan curiga jika Erin pulang kerumah tante Helda, dan rahasianya tetap aman. "Boleh deh, coba gue telpon dulu." ujarnya sembari menyambar ponsel yang ada di sisi kirinya, tak butuh waktu lama sambungan telpon terangkat, Erin langsung menceritakan keadaanya sekarang, di sana tante Helda mendengar dengan seksama, tak jarang menimpali dengan nada khawatirnya, dan setelahnya malah memaksa Erin pulang, bahkan menyuruh Upal mengantarkannya. "Yaudah, gue langsung ijin sama guru piketnya dulu." Riska langsung mengambil inisiatif, meminta ijin pada guru piket yang bertugas hari ini. "Tapi masih kuat jalan sampek depan kan?" "Tenang aja, gue kuat kok, lo kira gue cewek lemah apa!" "Yaudah lo di sini dulu, gue pesen ojol dulu sekalian ambil tas lo di kelas." Erin mengangguk, menunggu di ruangannya dalam diam, pusing di kepala kian mendera, membuatnya tak bisa berlama-lama untuk duduk, bahkan menyantap bubur pun seolah tak berselera.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD