Se-la 5

1691 Words
Se-la 5 Manusia hidup tak akan pernah lepas dari suatu masalah, entah itu masalah kecil atau berat sekalipun. Rumit, berliku atau hanya sekedar masalah sepele, seperti lupa membawa membawa tugas di saat mata pelajaran dengan Kuru kiper sekalipun, atau lupa membawa pengamanan saat tanggal datang tamu bulanan, maka bisa di pastikan itu akan menjadi masalah yang berujung memalukan dan lagi saat ketahuan tak membawa buku pr maka pasti akan mendapat Omelan dan ceramah panjang ala ibu ibu kiler dan berakhir sebuah depakan tak langsung yang membawa kalian keluar dari kelas dan coretan absen. Walau sepele, jelas itu adalah masalah. Sama seperti saat ini, di saat bu Yaya menjelaskan pengertian tentang kebudayaan masa lampau, Erin yang sedari tadi merasa mual bukan kepalang akhirnya mengacungkan tangannya dan langsung mendapat respon dari dosen bertubuh gemuk yang terkenal ramah dan juga memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi. "Ya, Erin. Ada pertanyaan?" Ucap bu Yaya saat menyadari jika Erin lah yang mengacungkan tangan. Ada rasa heran sebenarnya saat Erin sosok teladan yang tak pernah mengajukan pertanyaan sekalipun di setiap pelajarannya, dan mampu menjawab tanpa kesulitan saat di tunjuk, kini malah mengacungkan tangan dengan raut kebingungan. Lalu timbullah sebuah pertanyaan. Mungkinkah penjelasannya kali ini terkesan bertele-tele hingga membuat Erin si siswi teladan mengacungkan tangan dengan raut bingung? "Anu ... bu, maaf, mau ijin ke toilet!" Ah toilet, rupanya si siswi teladan itu memiliki masalah pribadi dengan toilet. Ada raut lega saat dugaan yang di bayangkan Bu Yaya nyatanya salah, praduga yang mengesalkan hati ternyata. Tersenyum lebar bu Yaya hanya mengangguk. "Yaudah silahkan, bocor di sini bisa berabe nanti!" Seloroh bu Yaya dengan nada bercanda, sebelum mengijinkan Erin berlalu ke toilet. Mendapat ijin membuat Erin tak lagi menghabiskan banyak waktu, dengan kaki mungil ia berlari, menerjang sekumpulan anak yang tengah berdiri di depan kelas tanpa permisi. Setibanya di depan toilet, Erin memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya. Aneh, sudah hampir 2 hari ia selalu saja merasakan mual yang tak tertolong. Tak peduli tempat dan waktu. Dan itu jelas membuat Erin kerepotan. Bukan hanya muntah, nafsu dan tingkat kesensitifan Erin pun patut di pertanyakan, sudah seminggu terakhir, Erin sama sekali tak memiliki nafsu makan, bahkan saat mencium aroma menyengat pun bisa dikatakan jika itu adalah pemicu kuat akan rasa mual di perutnya, sama seperti beberapa saat lalu, perutnya mual bukan tanpa sebab, melainkan bau wangi dari parfum bu Yaya lah yang membuat perutnya bergejolak. Selama lima belas menit membuang isi perut melalui mulut, akhirnya ia bisa bernapas lega saat gejolak dalam perutnya sudah tak terasa. Beranjak dari tempatnya, Erin melangkah lesu keluar dari toilet. lemas itu pasti, karena nyatanya isi dalam perutnya keluar semua, dan itu mungkin sarapannya tadi pagi. Bukan hanya lemas, kini kepalanya pun terasa begitu berat, dengan mata yang sedikit berkunang. Masuk angin, kemungkinan pertama yang masuk ke kepalanya, belum lagi sudah hampir dua hari ini ia banyak begadang dan terlalu banyak pikiran untuk menyelesaikan proposal yang akan ia ajukan, menjelang Olimpiade yang akan di langsanakan satu minggu kedepan, mungkin menjadi pemicu dirinya masuk angin. Setibanya di kelas, dengan wajah pucat dan tubuh lemas, Erin hampir saja ambruk saat tenaga di kedua kakinya menghilang entah kemana, mungkin saat itu Erin akan ambruk menatap lantai jika saja Bu Yaya yang kala itu tak jauh dari hadapannya tak cepat tanggap, untung guru bertubuh gemuk itu memiliki refleks yang cepat dan mampu menangkap Erin yang hampir saja tak sadarkan diri. Namun lagi, karena aroma parfum yang terasa menyengat milik Bu Yaya membuat Erin kembali mengeluarkan isi perutnya yang hanya berupa cairan tanpa bisa di tahan. Satu kelas menjadi riuh akan kejadian itu. Mili dan Riska langsung berlari menghampiri Erin, sedangkan Bu Yaya langsung ambil tindakan untuk menenangkan para murid di kelas itu. "Semuanya tenang, kalian tenang dulu, oke? duduk kembali di bangku kalian." tak ada yang berani membantah, jelas karena mereka tau akan kepribadian Bu Yaya yang terkenal sadis apabila dibantah. "Kalian berdua, bawa Erin ke uks sekarang." titahnya saat fokusnya sudah kembali pada Erin yang tengah tergeletak lemas di atas pangkuan Mili. Kedua sahabat Erin itu mengangguk, lalu tanpa diprintah untuk kedua kalinya, Mili dan Riska langsung memapah Erin, membawah wanita bertubuh lemas itu keluar dari kelas. "Lo kenapa si, Rin?" Tanya Mili dengan raut sedih selama merka di koridor menuju ruang uks. Raut cemas tak lepas dari kedua sahabat Erin, mereka terlalu khawatir akan keadaan Erin yang sudah hampir dua hari ini menunjukan tingkat keanehan. Mereka sadar, dan tau. hanya saja tak terlalu menuntut akan sebuah penjelasan saat mereka bertanya, terlebih saat Erin hanya menjawab dengan sebuah senyum dan kalimat. "Gue nggak papa." malah membuat mereka tak berani untuk masuk lebih jauh. Dan kini, ketakutan akan terjadi sebuah masalah bagi sahabatnya ini pun terjadi. Dengan perasaan cemas Mili dan Riska memapah Erin. Meletakan tubuh lemas tanpa daya itu di atas ranjang ruang uks. "Lo panggil bu Tita gih, gua jaga Erin di sini." Riska mengangguk, tanpa banyak kata, cewek berambut ikal itu langsung berlalu, meninggalkan Mili yang masih berusaha menarik kesadaran Erin dengan minyak kayu putih yang ada di sana. Tak lama setelahnya Riska datang di ikuti bu Tita di belakangnya, guru bahasa yang juga menjadi guru pengawas uks itu dengan sigap langsung mendekat. "Ini kenapa?" Tanyanya pada Mili sembari memeriksa keadaan Erin. "Nggak tau bu, tadi sempet ijin sama bu Yaya ke toilet, tapi pas udah balik malah ambruk sambil muntah-muntah, laju lemes gini." terang Mili dengan raut kental akan rasa khawatir. Bu Tita mengangguk mengerti, hingga beberapa saat memeriksa, guru berhijab itu tersenyum, mencoba memberikan ketenangan pada kedua sahabat Erin. "Yaudah kalian tenang dulu, mungkin Erin cuma masuk angin, dan pingsan karena kebanyakan muntah. Biarin dia istirahat dulu." Mili mengangguk dengan netra yang masih fokus menatap Erin yang terpejam tak berdaya, pun dengan Riska yang memijak kaki Erin. "Ibu tinggal dulu, kalo Erin udah sadar kalian panggil ibu." "Makasih bu!" Jawab Mili tulus. Gadis berwajah tirus itu terus saja memandang wajah Erin, melihat betapa lemahnya sang sahabat jika seperti sekarang, sebagai sahabat Mili merasa gagal, saat di mana ia tengah terpuruk dan di rundung masalah, Erin adalah sosok yang senang hati merentangkan tangan dan membawanya keadalam pelukan, menjadi pendengar yang baik dan penceramah yang galak saat dirinya melakukan hal gila. Tapi kini, saat sahabatnya dalam keadaan yang tak baik. Mili malah tak bisa melakukan banyak hal, bertanya lebih jauh pun dia sungkan, lalu apa gunanya dia sebagai sahabat? Pemikiran dan rasa cemas dalam diri menjadi pemicu kuat bulir air mata keluar dari pelupuk matanya. Mili menangis meratapi kebodohan yang telah ia lakukan. "Udah, ini bukan salah elo kok, gue juga salah karena nyatanya gue sebagai sahabat sama sekali nggak berguna saat Erin kayak gini." elusan halus di pundak membuat Mili mendongak. Di sana Riska pun sama seperti dirinya, terlihat penuh khawatir dengan mata berkaca. Namun tak banyak yang bisa ia lakukan. Hanya bisa menatap dan menunggu. Seperti Mili, walau Riska hanya bertemu Erin di hari pertama masuk sekolah, tapi hal itu cukup untuk membuatnya merasa bergantung pada Erin. di mata Riska, Erin adalah sosok kuat dan terbuka, yang akan selalu ada untuk kedua sahabatnya. Entah seperti apa pun kondisinya, Bahkan saat dirinya terpuruk karena kedua orang tuanya bercerai, Erin adalah orang pertama yang menariknya dalam dekapan. Memberi penyemangat dan menjadi sorang yang bisa di katakan keluarga walau hanya beberapa bulan bertemu. Kini mereka hanya bisa tersengguk, menggigit bibir bawah hanya agar isakan tangis tak lolos begitu saja. Mili maupun Riska hanya bisa menunduk dengan tubuh bergetar. "Gue di mana?" Satu kalimat itu membuat Mili maupun Riska tersentak, Riska memalingkan wajahnya menutupi wajah sendu yang mungkin malah menjadi beban bagi Erin, sedangkan Mili dengan sigap menghapus bulir air mata yang lolos di pipinya. "Erin, lo sadar, mau minum, atau makan?" Rentetan pertanyaan lolos dari mulut Mili. "Eh tunggu tunggu, jangan gerak dulu, lo masih lemes." cegahnya saat Erin mencoba untuk menegakan tubuhnya. Menurut perkataan Mili, Erin kembali merebahkan tubuhnya. Netranya terpaku pada langit langit berwarna putih bersih yang terlihat terawat. "Gua kok pengen s**u ya?" gumangnya tanpa sadar, bahkan Mili yang mendengar itu hanya memandang heran. "Lo haus?" Riska bergerak mendekat, duduk di sisi ranjang sembari menatap Erin cemas. Gelengan pelan dari Erin membuat Riska dan Mili saling adu pandang, bahkan kedua alis Riska berkerut. Lalu seolah ingat sesuatu, Riska beranjak, memanggil bu Tita seperti pesan belau tadi. "Terus kalo nggak haus, lo mau apa?" Tanya Mili lembut yang di balas senyum oleh Erin yang kini tengah menoleh dan menatap Mili. "Gue nggak haus kok, gue cuma kepikiran s**u aja pas gue liat langit-langit." ucapnya sembari kembali menatap langit-langit. "Btw, kenapa gue bisa di uks?" "Lo tadi pingsan pas balik dari toilet. Makanya lo di sini sekarang, lo ini kenapa geh? Bikin gue cemas aja." Mendengar itu Erin hanya menggeleng, dirinya pun tak tau kenapa bisa seperti ini, hanya saja perutnya sangat mual dan setelah muntah tadi, Erin kehilangan kesadarannya. "Kayaknya gue masuk angin, dua hari begadang mulu." "Ck, kan udah gue bilang. Jangan makasain diri Erin, lagian itu tugas kan masih lama sih, kenapa lo maksain gini?" Mili berdecak. Menatap setengah tak percaya pada sahabatnya ini, bisa di bilang Erin adalah anak emas di kampus ini, tapi dia juga sosok gadis yang ceroboh dan tak peduli akan kesehatannya sendiri demi menyabet apa yang dia inginkan. "Lagian udah hampir seminggu juga lo kehilangan selera makan, dan di tambah lo malah begadang. Pantes aja tubuh lo drop, Rin!" Kali ini Riska yang baru saja datang setelah menemui bu Tita, sembari menenteng baki berisi bubur yang ia pesan dari kantin, berjalan sembari mengomeli Erin. Sedangkan Erin hanya bisa diam dan memasang senyum polos. Menatap Riska yang sudah kembali duduk dan mengarahkan sendok berisi bubur kemulut Erin "Ini bubur kesukaan lo, abisin nggak pake bantah." Tak membantah ataupun menolak. melihat warna putih dengan kuah beraroma harum membuat selera makan Erin tergugah, Erin hanya diam, menerima serentetan kalimat panjang ala Mili dan Riska dengan mulut yang terus mengunyah. Biarlah kedua sahabatnya itu mengomel, toh omelan itu tak menyurutkan selera makannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD